Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri paus serba pertama. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri paus serba pertama. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2022

PESAN YEHEZKIEL BUAT PARA IMAM KINI

Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku, "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan para imam, yang adalah gembala-gembala umat. Bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu. Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah imam-imam, yang menggembalakan dirinya sendiri! Seharusnya domba-domba yang digembalakan oleh mereka.

Dewasa kini banyak imam hanya menikmati susu dari dombanya, dari bulunya mereka buat pakaian, yang gemuk disembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak digembalakan. Yang lemah tidak mereka kuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak mereka balut, yang tersesat tidak dibawa pulang, yang hilang tidak dicari, melainkan diinjak-injak dengan peraturan dan kepentingan pribadi.

Dengan demikian umat-Ku berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi, tanpa ada yang memperhatikan atau yang mencarinya.”

Tiga paragraf di atas merupakan nubuat Nabi Yehezkiel versi masa kini. Kita dapat melihat versi aslinya dalam Yehezkiel 34: 1 – 6.

Nubuat Nabi Yehezkiel di atas, sekalipun disampaikan untuk para gembala umat Israel di masa Perjanjian Lama (sekitar 593 – 571 SM), akan tetapi tetap relevan untuk para gembala umat, kapan dan dimana saja. Saat ini, nubuat itu sangat mengena pada para gembala umat, yaitu Uskup dan para imam.

Rabu, 10 Februari 2021

PAUS FRANSISKUS DAN TRANSPARANSI GEREJA


Pada 11 Desember 2013, Majalah Time memberikan gelar person of the year kepada pemimpin Gereja Katolik ke-266, Paus Fransiskus. Paus “serba pertama” ini mengalahkan penggebrak dunia lainnya yang masuk nominasi anugerah ini. Mereka adalah Edward Snowden, Edith Windsor, Bashar Assad dan Ted Cruz. Memang Paus Fransiskus bukanlah paus pertama yang menerima anugerah ini. Tahun 1994 TIME memberikannya kepada Paus Yohanes Paulus II, dan tahun 1962 Paus Yohanes XXIII yang mendapatkan gelar Man of the Year.

Salah satu poin yang menjadi penilaian majalah ini adalah soal transparansi keuangan Gereja. Berkaitan transparansi, Paus Fransiskus benar-benar membuat gebrakan. Pada bulan Juni 2013 Paus Fransiskus menyerukan transparansi. Ia menghendaki supaya pusat kekuasaan agama Katolik itu transparan soal keuangannya. Karena itu, Paus meminta lembaga keuangan di Vatikan untuk membuka laporan keuangan bagi publik. Hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan sesuai dengan semangat Injil.

Menanggapi seruan Paus itu, maka dibentuklah suatu lembaga khusus untuk mengaudit keuangan. Selain itu, dan ini yang terpenting, Bank Vatikan melakukan transparansi keuangan. Pada awal Oktober lalu, Bank Vatikan mulai mempublikasikan laporan keuangannya sebagai salah satu wujud transparansi. Ini merupakan publikasi laporan keuangannya yang pertama sejak berdirinya 125 tahun lalu.

Tuntutan transparansi ini mengisyaratkan adanya korupsi di dalam Gereja, khususnya di pusat jantung kekatolikan. Hal ini tak perlu disangkal lagi. Karena itulah, Rm. Edy Purwanto, sekretaris eksekutif KWI, mengatakan bahwa Paus Fransiskus menginginkan Gereja bersih dari korupsi. Tentu saja harapan Paus akan “Gereja yang bersih dari korupsi” ini bukan hanya yang ada di Vatikan, melainkan juga di seluruh dunia.

Minggu, 29 November 2020

KATOLIK MENJAWAB SOAL KRITIKAN ATAS TRADISI BAPTIS BAYI DAN SAKRAMEN TOBAT

Sudah lumrah terjadi dimana Gereja Katolik selalu mendapat serangan dari pihak luar terhadap doktrin atau ajaran iman. Hal ini bukan saja baru terjadi abad ini, tetapi sudah sejak puluhan abad lampau. Jadi, jika sekarang ada yang melakukan hal itu, bukan hal baru lagi. Secara umum, ada dua pihak yang biasa menyerang dan menghina Gereja Katolik, yaitu pihak islam dan juga saudara-saudari kita protestan. Sebelum menyikapi serangan-serangan itu, silahkan baca kisah berikut ini.

Toni adalah siswa SD kelas 5. Sepulang sekolah, Toni mampir ke toko yang menjual aneka jenis topi. Dia mencoba satu per satu topi sambil melihat diri di cermin. Akhirnya ia menemukan topi yang pas. Ketika mengenakan topi itu dia merasa nyaman dan dirinya terlihat keren. Dia minta penjual untuk membungkusnya dengan kertas kado. Pada saat ulangtahun ayahnya, Toni menyerahkan kado itu. Ia meminta ayahnya untuk segera membukanya. Ayahnya tersenyum setelah mengetahui kado itu. Si bocah meminta ayahnya untuk memakainya, karena ia ingin melihatnya. Ternyata topi itu kecil. Tidak pas dengan kepala ayahnya.

“Ah, tak mungkin!” Ujar Toni. “Kemarin aku coba pas koq.”

“Itu kepalamu,” jelas mamanya.

“Berarti kepala ayah yang salah.”

Demikian sekilas cerita. Si anak memaksakan ukurannya kepada orang lain, sehingga jika ukurannya tidak pas dengan orang lain, maka kesalahan ada pada orang lain.

Kisah di atas hanyalah sekedar cerita. Namun di dalamnya terkandung pesan atau nilai, yaitu sering kita menyalahkan orang lain dengan menggunakan standar penilaian kita. Atau kita mengatakan orang salah hanya berdasarkan ukuran kita. Hanya karena topi tidak pas di kepala ayahnya, Toni menilai kepala ayahnya salah. Di sini terlihat adanya kesesatan berpikir atau kesesatan menilai. Toni tak sadar bahwa bagaimana jika ayahnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya; tentulah kesalahan terletak pada kepalanya.

Kisah seperti inilah yang kerap terjadi pada peristiwa serangan-serangan yang dilakukan pihak islam dan protestan terhadap doktrin atau ajaran iman katolik. Maaf, di sini kami menggunakan istilah protestan, bukan kristen, karena sebenarnya katolik juga adalah kristen. Baik islam maupun protestan sama-sama menilai doktrin ajaran katolik dengan menggunakan standar mereka. Dengan memakai standarnya (ajaran dan juga cara pandang/pikir), umat islam menilai bahwa Allah orang kristen (entah itu katolik maupun protestan) ada tiga. Dan dengan memakai standarnya (ajaran dan juga cara pandang/pikir) orang protestan menilai orang katolik menyembah Bunda Maria. Itulah kesesatan berpikir.

Gary Hoge, ketika masih sebagai seorang protestan, pernah berkata bahwa iman katolik penuh dengan ajaran-ajaran yang tidak terdapat dalam Alkitab. Sebenarnya bukan cuma Hoge saja yang berpendapat demikian. Umumnya orang protestan juga menilai Gereja Katolik seperti itu. Namun ketika Hoge mendengar sendiri teologi katolik dari sumber katolik, ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah salah, karena informasi yang didengar semua berasal dari sumber protestan. Hoge berkesimpulan bahwa para ahli protestan tidak mengerti ajaran katolik dengan baik karena mereka terus mengkritik hal-hal yang tidak diajarkan oleh Gereja Katolik. Pengalaman Hoge tak jauh beda dengan pengalaman dua teolog protestan, Scoot Hahn dan Gerry Matatics. Setelah membaca semua buku-buku katolik yang diberikan Hahn, Gerry mengatakan bahwa tidak ada satu pun doktrin Katolik yang ditemuinya tanpa dasar alkitabiah. Beberapa tokoh islam juga memiliki pendapat serupa. Mereka akhirnya menilai bahwa islam keliru menilai ajaran kristiani.

Kamis, 04 Oktober 2018

PAUS FRANSISKUS: ORANG KRISTEN HENDAKNYA MENGASIHI MUSUH MEREKA


Orang kristiani tidak ditentukan oleh baptisan mereka tetapi oleh apakah mereka menjalani hidup mereka sesuai dengan perintah Allah untuk mengasihi musuh-musuh mereka. Demikian ungkap Paus Fransiskus dalam homilinya pada perayaan ekaristi pagi di Domus Sanctae Marthae, 13 September lalu. Hal ini merupakan panggilan seorang pengikut Kristus, dan Paus ke-266 ini menyebut hal tersebut dengan istilah “kebodohan salib”. Memang tampaknya lebih mudah untuk berbicara buruk tentang musuh, namun logika Kristen berjalan ke arah yang berlawanan.
“Hanya yang berbelas kasihan yang menyerupai Tuhan sang Bapa. Berbelas-kasihlah, sama seperti Bapamu berbelas kasih. Ini adalah jalan, jalan yang bertentangan dengan semangat dunia,” ujar Paus Fransiskus. Refleksi Paus ‘serba pertama’ pagi itu diambil dari bacaan Injil hari bersangkutan, dari Injil Lukas, dimana Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk “mengasihi musuhmu, berbuat baik kepada orang-orang yang membencimu, memberkati mereka yang mengutukmu, berdoa bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Perintah untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh “adalah cara hidup seperti seorang kristiani,” yang memerlukan pencerminan kasih dan belas kasih Allah yang tak terbatas, papar Paus Fransiskus. Akan tetapi, mereka yang melakukan gosip dan “logika penghinaan” hidup “seperti seorang penyembah berhala dengan roh keduniawian” yang berusaha untuk menghancurkan orang lain.
“Di antara kita ada pendakwa besar, orang yang akan selalu mendakwa kita di depan Tuhan untuk menghancurkan kita: Setan. Dia adalah pendakwa besar. Dan ketika saya masuk ke dalam logika pendakwa, mengutuk dan mencari cara untuk melakukan kejahatan kepada orang lain, saya masuk ke dalam logika pendakwa besar yang adalah perusak, yang tidak mengenal kata ‘rahmat’, jelas Paus, yang tahun 2013 lalu meraih penghargaan person of years dari Majalah TIME.
Paus Fransiskus mengatakan bahwa alih-alih menghancurkan orang lain, orang Kristen harus melihat diri mereka sendiri dan mendakwa diri mereka sendiri sehingga mereka dapat mencerminkan belas kasihan Tuhan kepada orang lain. “Ya, menuduh diri sendiri. Itu akan baik buat kamu. Satu-satunya tuduhan sah yang kita miliki sebagai orang Kristen adalah mendakwa diri kita sendiri. Bagi yang lain, hanya ada belas kasihan karena kita adalah anak-anak Bapa yang murah hati,” pungkas Paus Fransiskus.

Rabu, 18 Juli 2018

PAUS FRANSISKUS: IMAN DIHIDUPI OLEH RASA SYUKUR


Allah selalu mencintai dan terlebih dahulu memberi dengan penuh kemurahan hati sebelum meminta kesetiaan akan semua perintah-Nya, yakni perkataan dari seorang Bapa yang penuh kasih, yang menunjukkan kepada umat manusia jalan yang benar untuk menjalani kehidupan. Demikian ungkap Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik sedunia, dalam audiensi umum di Lapangan St. Petrus, pada 27 Juni 2018. “Hidup kristiani merupakan respon penuh syukur kepada seorang Bapa yang murah hati, bukan pemenuhan yang dipaksakan dan tanpa kegembiraan atas serangkaian kewajiban.”
Sebelum audiensi itu, Paus Fransiskus bertemu dengan orang sakit dan tidak berdaya, yang duduk di aula Paulus VI, dan menyambut perwakilan Olimpiade Khusus dan menyalakan obor dari api Olimpiade Khusus itu. Kemudian Paus yang pernah meraih penghargaan majalah TIME ini melanjutkan serangkaian pembicaraan audiensi tentang 10 Perintah Allah, dengan merenungkan bagaimana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir.
“Allah tidak pernah meminta tanpa memberi terlebih dahulu. Ia menyelamatkan terlebih dahulu, lalu meminta kesetiaan atas perintah-perintah-Nya, sehingga mereka bisa menjalani kehidupan melalui jalan yang benar.” Ini adalah rahasia pendekatan kristiani, yakni pendekatan Yesus – untuk mengetahui bahwa seseorang itu dicintai oleh seorang Bapa dan kemudian untuk mencintai sesama, papar Paus yang berasal dari Argentina. “Yesus tidak memulai dengan diri-Nya sendiri, melainkan dengan Bapa.”
“Proyek atau upaya gagal jika berakar dalam keegoisan, bukan dalam rasa syukur kepada Tuhan,” jelas Paus Fransiskus. Landasan akan segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang kristiani bukan berdasarkan pada kewajiban: saya harus melakukan ini, ini, itu, ini .... “Bukan. Landasan akan tugas ini adalah cinta akan Allah Bapa, yang terlebih dahulu memberi dan kemudian memerintah,” ungkap Paus ke-266. Ini merupakan situasi berdasarkan sebuah hubungan dan pengalaman personal antara Bapa dan anak.

Senin, 05 Juni 2017

PAUS FRANSISKUS: GOSIP, MUSUH YANG MERUSAK KOMUNITAS KITA

Dosa yang seringkali dilakukan oleh umat dan kelompok kristen lainnya adalah mengeluarkan kata-kata kotor, saling menjelekkan dan menyerang satu sama lain dari belakang, yang tidak hanya memecah-belah komunitas tapi juga membuat orang yang mencari Tuhan menjauhkan diri, demikian ungkap Paus Fransiskus. “Ini benar-benar membuat saya sedih. Seolah-olah kita melemparkan batu kepada satu sama lain. Dan setan sangat senang melihatnya. Ini pesta bagi setan,” kata Paus yang serba pertama ini dalam kotbah misa sore di salah satu paroki di pinggiran kota Roma, 21 Mei 2017.
Paus Fransiskus mengingatkan umat betapa pentingnya mereka menjaga bahasa mereka. Sebagai orang yang dibaptis, setiap orang kristiani diberi karunia oleh Roh Kudus. “Sungguh menyedihkan melihat orang-orang yang menyebut dirinya kristen tapi mereka dipenuhi oleh kepahitan atau amarah,” tutur Paus Fransiskus.
Setan tahu bagaimana melemahkan upaya manusia untuk melayani Tuhan dan menjaga kehadiran Roh Kudus dalam diri mereka. “Setan akan melakukan apa saja agar kata-kata yang kita ucapkan tidak baik dan tidak menghormati,” tegas Paus Fransiskus.
“Komunitas kristiani yang tidak menjaga Roh Kudus dengan kebaikan dan rasa saling menghormati seperti ular panjang yang memiliki lidah panjang yang digambarkan dalam patung sebagai makhluk yang dihancurkan kepalanya di bawah kaki Maria,” lanjut Paus Fransiskus.
Paus yang mengungkapkan korupsi di Gereja juga mengatakan bahwa seorang imam pernah memberitahu dia tentang beberapa umat yang digambarkan memiliki lidah sangat panjang untuk bergosip ria, bahkan saking panjangnya, untuk menerima komuni pun mereka menjulurkan lidahnya dari pintu masuk hingga altar.
“Ini musuh yang merusak komunitas kita, gosip,” kata Paus Fransiskus, dan menambahkan bahwa gosip bahkan menjadi dosa paling biasa dalam komunitas-komunitas kristiani.
sumber: UCAN Indonesia

Selasa, 21 Februari 2017

KELUARGA BERWAWASAN EKOLOGIS

Pengantar
Manusia menjadi pusat dan sekaligus tujuan dari pembangunan. Pembangunan yang merusak lingkungan, juga akan merusak manusia. Dalam Evengelii Gaudium, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa alam itu rapuh dan tidak mempunyai kemampuan untuk membela diri terhadap eksploitasi yang dilakukan; oleh manusia. Paus juga mengingatkan bahwa manusia bukan hanya sebagai pengguna alam semesta, tetapi manusia juga harus sekaligus berperan sebagai penjaga dan pemelihara alam semesta. Oleh karena itu, keberhasilan suatu pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia menjadi kunci penting untuk menuju kesejahteraan hidup. Sumber daya alam yang melimpah di Indonesia akan dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar (berkeadilan dan berkeutuhan ciptaan) jika diimbangi dengan sumber daya manusia yang bermutu. Salah satu cara untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan pendidikan.
Proses pendidikan berawal dari dan dalam keluarga. Dalam pesan hari kedamaian sedunia, Sri Paus Yohanes Paulus II tanggal 1 Januari 1994 menegaskah dan mengingatkan kembali pentingnya keluarga sebagai ruang dan tempat untuk menumbuhkembangkan pendidikan yang berkualitas. Keluarga, sebagai persekutuan pendidikan yang fundamental dan esensial, merupakan sarana yang pertama dan paling istimewa untuk mewariskan nilai-nilai agama dan budaya yang membantu manusia untuk memahami realitas dirinya sebagai bagian dari seluruh ciptaan. Karena didirikan atas dasar cinta kasih dan terbuka bagi anugerah kehidupan, keluarga dalam dirinya sendiri berisikan masa depan masyarakat; dan tugasnya paling khusus ialah untuk secara efektif memberikan sumbangan untuk masa depan yang penuh damai. “Keluarga adalah sal dasar masyarakat, di mana kita meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain dengan menjadi milik satu sama lain; keluarga juga merupakan tempat di mana orangtua mewariskan iman kepada anak-anak mereka” (Evangelii Gaudium art.66).
Sejalan dengan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke-4 tahun 2015, yang merefleksikan keluarga Katolik sebagai sukacita Injil; Panggilan dan perutusan keluarga Katolik dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk, gerakan APP Tahun 2017 mengambil fokus gerakan “Keluarga Berwawasan Ekologis”, sebagai tema tahun pertama dari tema tiga tahunan Gerakan APP tahun 2017 - 2019, “Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan Demi Kesejahteraan Hidup Bersama".
Gerakan APP Tahun 2017, “Keluarga Berwawasan Ekologis” mempunyai sasaran dan tujuan untuk membangun dan mewujudkan perubahan dan pembaharuan iman umat:
1. Menghormati dan menghargai alam semesta sebagal sumber dan penyangga keberlangsungan hidup seluruh ciptaan.
2. Menyadari fungsi dan peran manusia sebagai bagian dari keutuhan ciptaan yang bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara, mengolah dan mengelola alam semesta sebagai rumah bersama.

Selasa, 19 Mei 2015

(Inspirasi Hidup) Nasehat Yehezkiel buat Para Imam

NUBUAT NABI YEHEZKIEL MASA KINI
Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku, "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan para imam, yang adalah gembala-gembala umat. Bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu. Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah imam-imam, yang menggembalakan dirinya sendiri! Seharusnya domba-domba yang digembalakan oleh mereka.

Dewasa kini banyak imam hanya menikmati susu dari dombanya, dari bulunya mereka buat pakaian, yang gemuk disembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak digembalakan. Yang lemah tidak mereka kuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak mereka balut, yang tersesat tidak dibawa pulang, yang hilang tidak dicari, melainkan diinjak-injak dengan peraturan dan kepentingan pribadi.

Dengan demikian umat-Ku berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi, tanpa ada yang memperhatikan atau yang mencarinya.”

Tiga paragraf di atas merupakan nubuat Nabi Yehezkiel versi masa kini. Kita dapat melihat versi aslinya dalam Yehezkiel 34: 1 – 6.

Nubuat Nabi Yehezkiel di atas, sekalipun disampaikan untuk para gembala umat Israel di masa Perjanjian Lama (sekitar 593 – 571 SM), akan tetapi tetap relevan untuk para gembala umat, kapan dan dimana saja. Saat ini, nubuat itu sangat mengena pada para gembala umat, yaitu Uskup dan para imam.

Apa yang dikatakan Nabi Yehezkiel, sangat nyata terlihat dalam diri para imam. Ada begitu banyak imam yang hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Pengembangan umat diabaikan. Mereka bekerja bukan untuk melayani, melainkan untuk mendapat uang dan popularitas. Umat dijadikan lahan untuk mendapatkan uang, dan jabatan dijadikan untuk menunjukkan kekuasaan.

Paus Fransiskus sendiri sudah mengungkapkan adanya gembala yang buruk. Dalam pembukaan Sinode Keluarga di Vatikan, Paus yang dikenal serba pertama ini, menyinggung soal para gembala – uskup dan para imam – yang haus akan uang dan kekuasaan. Dapat dilihat bahwa akarnya ada pada uang. Karena nafsu akan uang itulah, maka muncul keserakahan akan jabatan. Ada banyak imam yang tak puas dengan satu jabatan, melainkan rangkap jabatan. Rangkap jabatan ini bukan karena kemampuan, melainkan karena uang dan nafsu akan kekuasaan.

Oleh karena itu, nubuat Nabi Yehezkiel ini dapat menjadi bahan refleksi bagi para imam dan juga uskup. Di balik nubuat itu terkandang pesan supaya para imam, yang adalah gembala umat, benar-benar memperhatikan umat Allah. Mereka harus seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” (Mat 20: 28).
Pangkalpinang, 24 Juli 2014
by: adrian
Baca juga:

Senin, 06 April 2015

Pesan Paskah 2015 dari Vatikan

PASKAH DAN KEPEDULIAN AKAN DUNIA
Paskah tahun ini merupakan paskah ketiga bagi Paus Fransiskus sejak terpilih pada tahun 2013. Dalam perayaan paskah ini Paus serba pertama ini membaptis sejumlah orang masuk ke dalam persekutuan Gereja Katolik. Ada seorang gadis Kamboja berumur 13 tahun, dan 9 orang dewasa, termasuk seorang perempuan 66 tahun dari Kenya, negara tempat militan al Shabaab Islam menewaskan 148 orang di universitas.
Dalam perayaan itu, Paus Fransiskus mengajak umat Katolik untuk belajar bagaimana “memasuki misteri” Paskah. Paus, yang lahir pada 17 Desember 1936 ini, mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam misteri Paskah, umat harus melampaui zona kenyamanan, kemalasan dan ketidakpedulian, dan keluar mencari kebenaran, keindahan juga cinta.
Untuk bisa mencapai hal tersebut, jelas Paus, umat memerlukan kerendahan hati; kerendahan untuk merendahkan diri sendiri, kerendahan hati untuk tidak mengambil diri terlalu serius, mengakui siapa kita sebenarnya: makhluk dengan kekuatan dan kelamahan, orang-orang berdosa yang membutuhkan pengampunan.
Paskah dan Perdamaian Dunia
Dalam pesan paskahnya, Paus Fransiskus menekankan semangat perdamaian dunia di tengah situasi peperangan di beberapa negara dalam beberapa waktu terakhir ini.
“Kita mohon agar dentuman senjata bisa segera mereda sehingga tidak memakan korban manusia yang banyak. Semoga komunitas internasional aktif menjaga perdamaian sehingga tidak mengakibatkan peperangan berkepanjangan,” ungkap Paus yang pernah mendapat penghargaan The Person of the Year dari Majalah TIME.
Berkaitan dengan perang ini, Paus Fransiskus menyebut secara spesifik tempat-tempat pertempuran itu. Misalnya, di Israel, yang disebutnya sebagai “tanah suci”. Paus menyerukan agar di tanah suci ada perdamaian antara Israel dan Palestina. Ada juga disebut Libya, yang sedang berkecamuk perang saudara, atau di Afrika ada Nigeria dan Kenya, serta konflik antara Ukraina dan Rusia. Paus Fransiskusmengajak orang yang sedang bertikai untuk menghentikan perang dan bersama-sama menciptakan damai.
Selain peperangan, Paus asal Argentina ini berdoa bagi korban kriminal dan kekerasan di seluruh dunia. Termasuk di dalamnya adalah para korban kekejaman ISIS. Bapa Paus mengajak umat Katolik untuk peduli akan nasib mereka dan berdoa untuk mereka.
Tanjung Pinang, 6 April 2015

by: adrian, dari berbagai sumber

Minggu, 25 Januari 2015

Pesan Paus Fransiskus buat Keluarga Katolik

PAUS INGATKAN ANCAMAN TERHADAP KELUARGA
Pada hari kedua kunjungannya di Filipina, Paus Fransiskus memperingatkan keluarga-keluarga terkait “ancaman keluarga”. Paus, yang pernah dinobatkan sebagai the person of the year 2013 oleh Majalah TIME, memaparkan beberapa ancaman tersebut.

Pertama, adalah masalah keuangan (ekonomi keluarga). Gambaran situasi ekonomi dengan permasalahan keuangan ini terangkum dari pernyataan seorang ibu bernama Ediza Pumarada, yang suaminya bekerja di luar negeri. Kepada Bapa Paus, Pumarada mengungkapkan beban psikologis dan emosional yang dihadapinya.

Pumarada mengatakan bahwa ia terpaksa mengambil peran ganda dalam membesarkan anak dan keluarga. Ia juga harus menjaga hubungan cinta dengan suami yang jauh di sana serta membangun sikap saling percaya. Tentu masih ada kesulitan-kesulitan lain yang tak bisa diungkapkan satu per satu.

Apa yang disampaikan Pumarada merupakan gambaran umum kehidupan keluarga di Filipina. Menurut data dari kelompok migran, ada sekitar 15 juta pekerja Filipina bekerja di lebih dari 230 negara. Di antara 230 negara itu ada juga negara-negara Timur Tengah, yang notabene dikenal sebagai negara muslim, dimana tingkat intoleransinya sangat tinggi. Keberadaan di negara islam ini menjadi tantangan tersendiri. (Baca sharing pengalaman pekerja di tanah Timur Tengah).

Kedua, materialisme dan gaya hidup. Masalah pertama tadi mengungkapkan realitas kemiskinan yang masih ada di Filipina. Namun Paus, yang dikenal serba pertama ini, mengungkapkan sebuah ironisme. Sementara banyak orang hidup dalam kemiskinan parah, “keluarga lain terjebak dalam materialisme dan gaya hidup yang merusak kehidupan keluarga.”

Ancaman kedua ini terlihat dari kepemilikan dan mental pengagung-agungan harta benda. Orientasi orang yang sudah dirasuki hal ini adalah diri sendiri atau keluarganya saja. Materialisme dan gaya hidup membawa dampak yang merusak kehidupan keluarga, seperti perselingkuhan yang berujung pada perceraian, aborsi, dan anak-anak menjadi terlantar.

Bagi Paus, setiap ancaman terhadap keluarga merupakan ancaman bagi negara dan Gereja. “Dunia kita membutuhkan keluarga-keluarga yang baik dan tangguh untuk mengatasi ancaman ini,” kata Paus Fransiskus. Oleh karena itu, Paus Fransiskus menyampaikan beberapa pesan terkait masalah ini:
1.     Lindungilah keluarga dengan doa dan kasih karunia sakramen.
2.     Hormatilah kehidupan dan kelahiran sebagai sesuatu “kesucian setiap kehidupan manusia dari hamil hingga mati secara alami.”
3.     Bangunlah semangat peduli sebagai “murid misionaris Yesus” dan bersedia keluar dari rumah tangga sendiri dengan memperhatikan sesama yang membutuhkan.

Minggu, 09 November 2014

Paus Fransiskus & Pembantalan Perkawinan

PAUS FRANSISKUS AKAN PERMUDAH PEMBATALAN PERKAWINAN
Paus Fransiskus memang fenomenal. Sejak pengangkatan dirinya sebagai Paus ke-266, Paus Fransiskus, yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio, membuat banyak gebrakan. Pada misa Kamis Putih, sebagai simbol pencucian kaki para rasul, Paus Fransiskus mencuci kaki wanita, anak-anak dan lain-lain. Malahan di antara mereka ada yang muslim.

Setelah itu, Paus yang serba pertama ini, mencanangkan transparansi keuangan Vatikan. Seruan transparansi inilah yang menjadi salah satu faktor yang mengangkatnya menjadi Man of the Year 2013 versi Majalah Time. Di sini Paus bukan hanya mau membersihkan Gereja dari praktek korupsi, tetapi juga mau mengajak Gereja untuk membangun hidup sederhana.

Sabtu, 08 Februari 2014

Paus Fransiskus & Korupsi di Gereja

Pada 11 Desember 2013 lalu, Majalah Time memberikan gelar Personof the Year kepada pemimpin Gereja Katolik ke-266, Paus Fransiskus. Paus yang dikenal “serba pertama” ini mengalahkan penggebrak dunia lainnya yang masuk nominasi anugerah ini. Mereka adalah Edward Snowden, Edith Windsor, Bashar Assad dan Ted Cruz. Memang Paus Fransiskus bukanlah paus pertama yang menerima anugerah ini. Tahun 1994 TIME memberikannya kepada Paus Yohanes Paulus II, dan tahun 1962 Paus Yohanes XXIII yang mendapatkan gelar Man of the Year.

Salah satu poin yang menjadi penilaian majalah ini adalah soal transparansi keuangan Gereja. Berkaitan transparansi, Paus Fransiskus benar-benar membuat gebrakan. Pada bulan Juni 2013 Paus Fransiskus menyerukan transparansi. Ia menghendaki supaya pusat kekuasaan agama Katolik itu transparan soal keuangannya. Karena itu, Paus meminta lembaga keuangan di Vatikan untuk membuka laporan keuangan bagi publik. Hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan sesuai dengan semangat Injil.

Menanggapi seruan Paus itu, maka dibentuklah suatu lembaga khusus untuk mengaudit keuangan. Selain itu, dan ini yang terpenting, Bank Vatikan melakukan transparansi keuangan. Pada awal Oktober lalu, Bank Vatikan mulai mempublikasikan laporan keuangannya sebagai salah satu wujud transparansi. Ini merupakan publikasi laporan keuangannya yang pertama sejak berdirinya 125 tahun lalu.

Tuntutan transparansi ini mengisyaratkan adanya korupsi di dalam Gereja, khususnya di pusat jantung kekatolikan. Hal ini tak perlu disangkal lagi. Karena itulah, Rm. Edy Purwanto, sekretaris eksekutif KWI, mengatakan bahwa Paus Fransiskus menginginkan Gereja bersih dari korupsi. Tentu saja harapan Paus akan “Gereja yang bersih dari korupsi” ini bukan hanya yang ada di Vatikan, melainkan juga di seluruh dunia.

Adanya korupsi di dalam Gereja (entah itu Paroki, Keuskupan ataupun yayasan), sebenarnya bukanlah merupakan hal baru lagi. Yang terjadi selama adalah usaha menutup-nutupi sehingga terkesan Gereja merupakan lembaga yang bersih dari korupsi. Karena itu, gebrakan Paus Fransiskus menjadi tamparan yang menyadarkan kita.

Ada yang menarik dari peristiwa gebrakan Paus berkaitan dengan transparansi ini. Sekalipun Paus sadar bahwa ada korupsi di tubuh Gereja, Paus tidak terlalu berminat mengurus hal itu dengan mengobok-obok para koruptor. Bagi Paus, yang kakek moyangnya imigran Italia, korupsi itu merupakan bagian dari masa lalu. Dan yang lalu biarlah berlalu. Paus mengajak Gereja untuk menutup lembaran kelam Gereja (berkaitan dengan korupsi) dan memulai lembaran baru dengan transparansi.

Sikap Paus Fransiskus ini mirip dengan sikap Yesus terhadap perempuan yang kedapatan berbuat zinah (Yohanes 8: 2 – 11). “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang!” Itulah kata Yesus kepada perempuan itu. Yesus tidak menghakimi dan menghukum. Dia mengajak perempuan itu untuk menutup lembaran hidup lamanya dan memulai hidup baru sebagai manusia baru. Demikianlah yang dilakukan Paus Fransiskus. Dia tidak menghakimi para koruptor, tetapi mengajak (semua) Gereja untuk memulai hidup baru dengan transparansi.

Semoga seruan Paus akan transparansi dapat menggerakkan Gereja Universal dan Partikular untuk memulai hidup baru. Sehingga dengan demikian harapan Paus akan Gereja yang bersih dari korupsi dapat benar-benar terwujud, bukan saja di Vatikan tetapi juga keuskupan bahkan tingkat paroki.
Jakarta, 23 Januari 2014
by: adrian
Baca juga:
2.      Diakon Yudas dan Ternyata….
4.      Korupsi di Gereja

5.      Korupsi dan Gereja

Sabtu, 26 Oktober 2013

Paus Fransiskus & Protes Gaya Hidup Mewah

Paus Fransiskus, yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio, adalah paus yang ke-266 dalam daftar kepausan Gereja Katolik. Ia berasal dari Argentina, yang membuat dia menjadi paus pertama yang bukan berasal dari benua Eropa, sejak Paus Gregorius III (731 – 741) yang wafat tahun 741. Ada tiga hal lain yang membuat paus ini dikenal serba pertama (lih. http://budak-bangka.blogspot.com/search?q=paus+serba+pertama).

Salah satu hal yang menarik, dan yang menjadi semacam ciri khas dirinya, yaitu kesederhanaan hidup. Karena itulah ia memakai nama Fransiskus sebagai nama kepausannya. Fransiskus yang dimaksud tentunya adalah Fransiskus Asisi, tokoh besar yang dikagumi Gereja dan umat dunia. Salah satu hal yang menonjol dari Fransiskus adalah semangat miskinnya (sederhana) seturut nasehat Injil. Semangat inilah yang mewarnai ordo yang didirikannya.

Mungkin sebagian orang akan bertanya, kenapa Kardinal Jorge, yang merupakan seorang Yesuit, mengambil nama Fransiskus (Asisi) untuk nama kepausannya? Bukankah Yesuit memiliki “luka batin” terhadap Fransiskan? Padahal ada begitu banyak juga tokoh besar Gereja yang berasal dari Yesuit.

Bukan tanpa dasar Kardinal Jorge menggunakan nama Fransiskus. Semangat kemiskinan (sederhana) St. Fransiskus sudah mewarnai hidupnya. Sejak menjadi uskup, Paus Fransiskus sudah menunjukkan sikap dan gaya hidup yang sederhana. Selain itu juga, pemilihan nama Fransiskus sebagai nama kepausan dapat dilihat sebagai bentuk pewartaan hidup sederhana untuk membangun semangat solidaritas dengan kaum miskin pinggiran. Dan kebetulan kehadiran tokoh Fransiskus, dengan konggregasi yang didirikannya, menjadi bentuk protes atas gaya hidup manusia, khususnya hierarki Gereja, pada waktu itu.

Zaman sekarang manusia sudah dirasuki budaya hedonis, materialis dan konsumtivistik. Ketiga budaya ini selalu berpusat pada diri sendiri, yang membuat orang lupa akan penderitaan dan sengsara orang lain. Budaya hedonis, materialis dan konsumtivistik ini membuat imam zaman sekarang berbeda dengan imam zaman dulu. Kalau imam-imam zaman dulu: tangan kanan memegang Kitab Suci, tangan kiri pegang brevir dan di lehernya tergantung kalung salib atau rosario. Sedangkan imam sekarang: tangan kiri memegang tablet, tangan kanan pegang kamera DSLR atau handycam dan di lehernya tergantung HP Samsung Galaxi Note III atau Blackberry z10 atau Nokia Lumia 1020.

Karena itu, dengan memilih nama Fransiskus, di mana semangat hidup Fransiskus sudah ada padanya, Paus Fransiskus mau mewartakan dengan hidupnya semangat hidup sederhana demi membangun semangat solidaritas. Dia ingin menjadi inspirasi bagi umat manusia, khususnya bagi umat Katolik dan lebih khusus lagi bagi kaum religius.

Dan hal ini sudah terjadi. Di Kolombia, seorang imam menjual mobilnya, Mercedes Benz E200, dan kembali naik sepeda atau bus umum. Ini dilakukannya menyusul seruan Paus Fransiskus yang ditunjang dengan sosoknya. Dan sejalan dengan ajakan paus itu, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Kolombia, Ruben Kardinal Salazar, menghimbau para religius untuk hidup sederhana. “Kita para imam harus menyadari bahwa kita hidup bersama di tengah umat kita,” ujarnya (http://indonesia.ucanews.com/2013/07/12/paus-fransiskus-menginpirasi-seorang-imam-menjual-mercedes-nya/ ).

Gaya hidup mewah jelas-jelas bertentangan dengan semangat hidup yang hendak diusung oleh Paus Fransiskus ini. Gaya hidup mewah membuat kita, khususnya para hierarki Gereja, terpisah dari umatnya; hidup dalam istana menara gading. Karena itulah, Paus Fransiskus mau bertindak tegas berkaitan dengan ini. Salah satu korbannya adalah Mgr. Franz-Peter Tebartz-van Elst, uskup asal Limburg, Jerman.  Vatikan akhirnya menon-aktifkannya dari tugas-tugasnya sebagai uskup karena skandal gaya hidup mewahnya (http://indonesia.ucanews.com/2013/10/24/vatikan-menonaktifkan-seorang-uskup-terkait-gaya-hidup-mewah).

Pertanyaan kita: Apakah Paus Fransiskus sudah menginspirasi Anda?
Pangkalpinang, 25 Oktober 2013
by: adrian
Baca juga:
2.      Diakon Yudas dan Ternyata ….
4.      Korupsi di Gereja
5.      Korupsi dan Gereja

Jumat, 15 Maret 2013

Paus Serba Pertama

PAUS KE-266 YANG SERBA PERTAMA
Penantian umat Katolik sedunia akan paus yang baru berakhir sudah. Pada tanggal 14 Maret, pukul 01.06 WIB atau jam 19.06 waktu Roma, 115 kardinal yang mengikuti sidang konklaf akhirnya memutuskan bahwa Kardinal Jorge Mario Bergoglio (76 tahun) terpilih sebagai paus menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri pada 28 Februari lalu. Kardinal Jorge Mario Bergoglio adalah Uskup Agung Buenos Aires, kota kelahirannya.

Kardinal Jorge Mario Bergoglio lahir di Buenos Aires pada tanggal 17 Desember 1936. Beliau bersama empat saudaranya merupakan anak dari pekerja kereta api keturunan Italia. Ia Menempuh pendidikan tinggi hingga beroleh gelar master dalam bidang kimia di Universitas Buenos Aires dan kemudian masuk ke seminari untuk menempuh pendidikan imamat. Pada tanggal 11 Maret 1958 Jorge Mario Bergoglio bergabung dengan Serikat Yesus dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 13 Desember 1969 oleh Uskup Agung Ramon Jose Castellano. Selain mendalami bidang filsafat dan teologi, Jorge Mario Bergoglio mendalami juga sastra serta psikologi.

Jorge Mario Bergoglio memiliki bakat kepemimpinan. Karena kepemimpinannya yang kuat oleh Serikat Yesus, Jorge Mario Bergoglio dipromosikan sebagai provinsial Yesuit di Argentina pada tahun 1973 s/d 1979. Tahun 1980 ia menjadi rektor di Seminari San Miguel, lalu melanjutkan studi doktoral di Jerman dan kembali ke Argentina untuk melayani sebagai Direktur pengakuan dan spiritual di Cordoba. Pada tahun 1998 Jorge Mario Bergoglio diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires dan di tahun 2001 merangkap menjadi Uskup untuk Gereja Katolik Ritus Timur di Argentina yang tidak mempunyai uskup.

Dengan terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebagai paus, maka ia menempati urutan ke-266 dalam daftar kepausan. Sekalipun Jorge Mario Bergoglio merupakan paus yang ke-266, namun ada beberapa hal yang membuat Jorge Mario Bergoglio menjadi yang pertama.

Pertama, dia adalah orang Serikat Yesus yang pertama menjadi paus. Sekalipun Serikat Yesus memiliki kaul keempat, yaitu pengabdian khusus kepada paus, namun belum ada satu orang pun anggotanya yang menjadi paus sejak pertama kali serikat ini didirikan (tahun 1540).

Kedua, Kardinal Jorge Mario Bergoglio merupakan paus pertama yang berasal dari Benua Amerika. Masalah yang satu ini memang harus sedikit diluruskan. Banyak orang mengatakan bahwa Kardinal Jorge Mario Bergoglio adalah paus pertama yang berasal dari luar Eropa. Ini adalah salah, karena jauh sebelum beliau sudah ada paus lain yang bukan orang Eropa, persisnya orang Afrika. Santo Viktor I (189 – 199) adalah paus pertama yang berasal dari Afrika. Juga ada Santo Melchiades atau Miltiades (311-314) yang juga berasal dari Afrika. Paus terakhir non Eropa adalah Santo Gregorius III (731 – 741) yang berasal dari Suriah. Jadi, Kardinal Jorge Mario Bergoglio tidak bisa dikatakan sebagai paus pertama di luar benua Eropa. Tapi, jika dari benua Amerika, dialah yang pertama.

Ketiga, nama kepausan yang dipakai oleh Kardinal Jorge Mario Bergoglio nantinya adalah yang pertama: Fransiskus I. Sangat menarik kalau diperhatikan pemilihan nama dengan kepribadian Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Setidaknya ada tiga pribadi Fransiskus yang menyatu dalam diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Atau dengan kata lain, Paus Fransiskus I ini dapat menampilkan tiga pribadi nama besar Fransiskus, yaitu:

Fransiskus Xaverius
Fransiskus Xaverius merupakan tokoh penting kedua setelah Ignasius Loyola bagi Serikat Yesus, karena Fransiskus mempunyai andil dalam pembentukan serikat ini. Kekhasan dari Fransiskus Xaverius adalah semangat misionarisnya. Pastor Ludwig, sejarahwan Gereja yang terkenal, menjuluki Fransiskus Xaverius sebagai seorang “Misionaris Perintis Agama Salib” di Asia dan misionaris terbesar semenjak Santo Paulus. Dengan semangat heroiknya, ia mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa Asia (termasuk Indonesia), sambil tetap mengingatkan Gereja akan panggilannya untuk mewartakan Sabda Allah kepada semua bangsa.

Sangat diharapkan semoga paus yang baru ini, Paus Fransiskus I, juga memiliki semangat misioner, seperti pendahulunya, Yohanes Paulus II. Tentulah, sebagai anggota dari Serikat Yesus, semangat dan teladan hidup Fransiskus Xaverius akan mewarnai diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio.

Fransiskus Asisi
Fransiskus Asisi, yang nama lengkapnya Giovanni Francesco Bernadone, adalah tokoh besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Fransiskus Asisi dikenal dengan cinta damainya, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ia menjadi simbol penggerak perdamaian. Karena itu, beberapa kali aksi perdamaian selalu dikaitkan dengan sosok satu ini. Misalnya, pada tanggal 27 Oktober 2011 para tokoh lintas agama Indonesia berkumpul di Jakarta untuk menandai Hari Doa di Assisi untuk perdamaian. Acara serupa juga dilakukan oleh tokoh-tokoh agama dunia di Asisi.

Akan tetapi, yang sangat menonjol dari Fransiskus Asisi ini adalah semangat miskinnya (sederhana). Semangat miskin itu menjadi warna bagi ordo yang didirikannya, yaitu Ordo Fransiskan (tahun 1210).

Semangat Fransiskus Asisi ini ternyata dapat dilihat dalam diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Paus Fransiskus I ini. meski ia termasuk golongan konservatif dalam hal doktrinal, namun ia mempunyai komitmen untuk keadilan. Gaya hidupnya pun terbilang sederhana. Ketika masih menjadi uskup di Bueros Aries, ia selalu bepergian dengan menggunakan bus, sangat kontras dengan beberapa uskup dewasa kini yang berlomba-lomba mencari kendaraan baru dan keren. Ia memilih tinggal di sebuah apartemen kecil meski bisa diam di rumah uskup yang megah. Bahkan konon dikabarkan sering memasak sendiri makanannya. Berbeda dengan kebanyakan uskup yang membangun rumah keuskupannya bagaikan istana atau beberapa imam yang untuk makan saja harus diambili.

Jadi, bisa dikatakan bahwa semangat Fransiskus Asisi sudah ada dalam diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Semoga semangat itu tetap ada dan berkembang dalam diri Paus Fransiskus I.

Fransiskus Sales
Fransiskus Sales, yang lahir di Savoya pada 21 Agustus 1567, merupakan salah satu pujangga Gereja yang besar. Ia adalah ahli dalam filsafat dan sastra. Pada tahun 1597 ia ditahbiskan menjadi uskup. Ia dikenal sebagai uskup yang bijaksana, ramah dan sangat menyayangi umatnya.

Ternyata gambaran Fransiskus Sales ini tampak juga dalam diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Dia dikenal sebagai intelektual Yesuit yang mendalami bidang filsafat dan teologi juga sastra serta psikologi. Sebagai uskuppun ia dikenal cukup bijaksana, ramah dan sangat peduli kepada umatnya, khususnya yang miskin. Ketika diangkat menjadi kardinal, Bergoglio melarang ratusan orang Argentina yang hendak pergi ke Roma untuk merayakan pengangkatannya sebagai kardinal dan menghimbau kepada mereka yang akan pergi untuk mendonasikan uang tiketnya bagi orang miskin.
Jadi, sebelum menjadi Paus Fransiskus I, Kardinal Jorge Mario Bergoglio sudah menghidupi semangat dan teladan hidup Santo Fransiskus Sales. Semoga semangat dan teladan itu tetap ada dan berkembang dalam diri Paus Fransiskus I.

Demikianlah beberapa hal yang pertama dari paus yang ke-266 ini. Lebih dari pada itu, semoga paus baru ini dapat membawa perubahan, baik bagi Gereja Katolik maupun dunia.

by: adrian

Kamis, 20 Desember 2012

Natal & Kesederhanaan

Natal, bagi umat Kristiani, merupakan peristiwa iman. Dengan peristiwa natal umat kristen merayakan syukur atas Allah yang Maha Kasih, yang mau peduli pada nasib manusia. Kepedulian Allah itu terlihat dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia (inkarnasi). Allah mau mengangkat (baca: menyelamatkan) umat manusia dari lumpur keberdosaanya. Oleh karena itu, Allah “turun” ke dunia “dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2: 7). Bagaimana hal ini bisa dipahami, tentulah sulit untuk dicerna akal manusia. Namun tidak secara imani. Karena itulah natal dikenal sebagai peristiwa iman.
Ireneus dari Lyon, seorang bapa Gereja yang hidup abad kedua pernah berkata bahwa Allah menjadi manusia agar manusia menjadi seperti Allah (bdk. Adversus haereses, III, 10, 2). Kiranya ucapan Ireneus ini tidaklah berlebihan. Ada banyak sumber Kitab Suci yang bisa dijadikan rujukannya. Ireneus tidak memaksudkan pernyataannya sebagai bentuk pelecehan keilahian Allah. Justru dalam peristiwa inkarnasi, Allah menjadi manusia, terlihat keistimewaan Tuhan Allah: ke-Allah-an Tuhan tidak hanya tampak dalam keilahian-Nya melainkan juga terlihat dalam kemanusiaan-Nya.
Kapan persisnya Allah menjelma menjadi manusia (baca: kelahiran Yesus), tak ada satu orangpun yang tahu. Komite Para Uskup yang ditunjuk oleh Paus Julius I (337-352) sepakat bahwa natal itu jatuh pada 25 Desember, mengambil tradisi kafir akan penghormatan dewa Matahari yang tak terkalahkan (sol invictus). Maka dari itu, setiap kali memasuki bulan Desember, selalu suasana natal langsung terasa. Hal itu terlihat dari ikon-ikon natal yang ada di mana-mana, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan. Di Hongkong dan di beberapa kota besar lainnya malah pernah terjadi natal sudah dimulai pada pertengahan bulan November.
Natal kini sudah menjadi ajang konsumtivisme dunia. Dengan adanya ikon-ikon natal di setiap pusat-pusat perbelanjaan, seakan-akan ada seruan, “Mari, belanjalah! Persiapkanlah rumah Anda dengan pernak-pernik natal” Jelas, bahwa seruan ini seakan telah menggantikan seruan Yohanes Pembaptis, yang selalu didengungkan pada minggu persiapan adven pertama, “Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” (Mat 3: 3).
Yesus Lahir dalam Kesederhanaan
“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2: 6 – 7).
Inilah sepenggal catatan sejarah kelahiran Yesus, yang hanya ada dalam Injil Lukas. Memang tidak ada keterangan rinci mengenai tempat kelahiran Yesus, namun Gereja mengakui kalau Maria melahirkan bayinya di dalam kandang hewan. Tak jelas juga apakah kandang itu bekas atau masih digunakan.
Apa yang mau dikatakan dari peristiwa ini? Yesus lahir dalam kesederhanaan. Tidak ada pesta, hingar bingar musik (kecuali kidung surgawi para malaikat) atau kelap-kelip kemilau lampu hias dan kembang api. Bayi Yesus lahir hanya dibungkus dengan kain lampin, bertemankan lenguhan sapi dan dengungan nyamuk dan serangga malam; hanya cahaya pelita kecil dan jutaan cahaya bintang di angkasa. Sangat sederhana.
Itulah natal perdana. Kiranya pesan yang mau disampaikan adalah jelas, yaitu ajakan untuk hidup sederhana. Bukankah perayaan natal mengajak umat manusia untuk  bersyukur atas Allah yang peduli terhadap manusia? Bersyukur merupakan salah satu wujud atau ciri khas orang sederhana. Orang yang sederhana adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya.
Dan kini orang Kristen mau mengenangkan natal awal itu dengan sebuah perayaan; dengan sebuah pesta. Sayangnya natal sekarang sungguh bertolak belakang dengan natal perdana. Manusia jaman sekarang lebih menitikberatkan pada aspek pestanya dari pada inti natal itu sendiri. Ditambah lagi dengan budaya hedonis dan semangat konsumtif, membuat makna natal itu menjadi kabur.
Sungguh sebuah ironisme. Menjelang perayaan natal, umat kristiani sering kali diajak untuk mempersiapkan hatinya sebagai palungan bagi kanak-kanak Yesus. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Umat Kristen sibuk membuat kandang natal dengan hiasan dan kerlap-kerlip lampu natal sedangkan hatinya dipenuhi dengan nafsu hedonis-konsumtif. Ada kesan kalau manusia sekarang berkata, “Yesus, kami sudah siapkan palungan bagi-Mu dengan segala kemegahan. Tidurlah di sana. Jangan di hati kami.” Karena itu, momen natal sering menjadi ajang pamer baju baru, pohon natal baru, mobil baru dan lain-lain yang serba baru. Hati manusia dipenuhi dengan iri hati dan persaingan.
Natal dan Global Warming
Dewasa ini isu dunia yang hangat dibicarakan adalah masalah pemanasan global (global warming). Untuk itulah selalu diadakan setiap tahun pertemuan untuk membahas pengurangan gas emisi yang menyebabkan efek rumah kaca. Dampak dari efek rumah kaca ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim.
Kita sudah mengetahui kalau pemanasan global dan perubahan iklim ini dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan di muka bumi ini. Mark Lynas, jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris, dalam bukunya Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet, memberi gambaran rinci tentang dampak itu. Baginya, dampak terburuk yang bakal terjadi adalah kepunahan massal sekitar 95%. Inilah skenario “kiamat”, yang ironisnya karena ulah manusia sendiri.
Oleh karena itu, sejak munculnya isu pemanasan global ini, ada banyak seruan dan ajakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, baik dengan penanaman pohon atau penghijauan maupun dengan pembatasan penggunaan bahan bakar fosil. Pembatasan penggunaan bahan bakar fosil misalnya dapat dilakukan dengan memilih berjalan kaki dari pada berkendaraan ke tempat yang dekat atau nebeng/menggunakan transportasi umum, penghematan pemakaian listrik, dll. Pemakaian ulang bahan-bahan tertentu juga diyakini bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.
Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa seruan pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan ajakan untuk kembali kepada pola hidup sederhana dan hemat. Pada bagian inilah pesan natal mengena. Seperti dahulu Yesus datang (baca: natal) untuk menyelamatkan manusia, natal kini mengajak kita untuk hidup sederhana dan berhemat demi penyelamatan bumi yang kita diami. Penyelamatan bumi adalah juga penyelamatan manusia dan ciptaan lainnya. Natal adalah momennya.
Orang-orang kristen bisa memulainya dengan penggunaan transportasi umum saat ke gereja untuk perayaan natal atau nebeng dengan mobil tetangga. Di beberapa gereja disediakan bus jemputan. Jangan lupa untuk mematikan kegemerlapan lampu pohon natal ketika kita tidak berada di dekatnya. Lampu yang menghiasi kandang dan pohon natal diperkirakan menghabiskan sekitar 15 % dari kebutuhan listrik rumah tangga dan lampu pohon natal yang ditinggalkan menyala selama 10 jam per hari dan selama 12 hari berturut-turut akan meninggalkan jejak karbon yang cukup besar. Gunakanlah pohon natal yang hidup dan kertas daur ulang untuk kartu natal atau kertas pembungkus kado. Daur ulang bisa juga diterapkan pada hadiah natal yang diterima. Tak jarang kita mendapat kado natal yang berlebihan dan tak sesuai dengan keinginan. Dari pada dibuang alangkah bijaknya kalau diberikan kepada mereka yang membutuhkannya, misalnya seperti anak yatim.
Akhir Kata
Semoga perayaan natal tahun ini benar-benar membangkitkan semangat hidup sederhana penuh syukur sebagai langkah awal menyelamatkan bumi dan membangun dunia damai dalam persaudaraan.

Selamat merayakan natal!!!
by: adrian