Rabu, 30 Desember 2020

BEGINILAH UANG PAROKI DIKORUPSI


Korupsi sudah merajalela merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ia menjadi budaya, yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Ketika masalah korupsi Al-Qur’an muncul, seakan tak ada lagi bagian hidup manusia yang luput dari korupsi. Agama yang mengurus moral dan akhlak manusia pun sudah dirasuki budaya korupsi. Kesucian agama telah hancur karena korupsi.

Bagaimana dengan Gereja? Apakah Gereja sebagai lembaga suci bebas dari korupsi? Apakah budaya korupsi sudah merasuki para pejabat Gereja, seperti uskup dan imam? Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa itu mustahil, karena uskup dan imam sudah mengikrarkan janji (kaul) kemiskinan yang menjauhkan mereka dari kemewahan harta kekayaan. Janji kemiskinan membuat mereka dapat melawan godaan korupsi.

Bukan maksud saya untuk menuduh, tapi saya berangkat dari asumsi dasar bahwa setiap manusia rentan terhadap godaan uang; uskup dan imam itu adalah manusia. Dari asumsi ini dapatlah disimpulkan bahwa korupsi bisa juga dilakukan oleh para pejabat Gereja itu. Artinya, budaya korupsi dapat juga merasuki Gereja.

Bagaimana praktek korupsi dilakukan di Gereja? Inilah yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini. Dalam tulisan ini, Gereja yang dimaksud adalah paroki, dan saya, sebagai pastor paroki, adalah pelakunya. Karena itu, pertanyaannya adalah bagaimana saya mengorupsi uang paroki?

Yang pertama sekali saya lakukan adalah membuat sistem keuangan tertutup dan tunggal. Artinya, keuangan paroki hanya diatur dan diketahui oleh saya. Bendahara paroki hanya membuatkan pembukuaannya. Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan pastor pembantu pun tidak tahu. Mereka baru diberitahu pada laporan akhir tahun dalam rapat DPP pleno yang waktu pertemuan itu saya batasi. Tentulah mereka tidak akan mengetahui secara detail data-data keuangan selama satu tahun, karena yang saya berikan hanyalah laporan rekapitulasinya.

Untuk menguatkan sistem ini saya akan mengatakan kepada umat kutipan Injil, “Janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6: 3). Dengan pernyataan ini umat pun tidak akan berusaha untuk mencari-cari tahu soal keuangan. Selain itu mereka sudah PERCAYA bahwa semua pastor itu BAIK, karena itu tak mungkin pastor akan mencuri uang Gereja.

Dengan sistem ini, saya akan dengan leluasa mengambil uang paroki. Uang kolekte hari Minggu (misa Sabtu sore dan Minggu pagi) sesekali saya catut. Sekalipun diumumkan minggu berikutnya, saya yakin tak ada umat yang tahu kalau uang kolekte sudah dicatut. Misalnya, uang kolekte misa Sabtu sore tercatat Rp 1.525.000. Saya ambil Rp 300.000, sehingga minggu depan diumumkan bahwa kolekte misa Sabtu sore sebesar Rp 1.225.000. Pasti tidak ada umat yang tahu, bahkan petugas penghitung dan pencatat kolekte, karena mereka tidak memiliki pegangan dan sudah percaya bahwa pastor itu baik dan jujur.

Selasa, 29 Desember 2020

BENARKAH NATAL BERASAL DARI TRADISI KAFIR?


Tak sedikit umat islam yang meyakini bahwa peristiwa natal atau kelahiran Yesus Kristus, yang jatuh pada tanggal 25 Desember, berasal dari tradisi pagan atau kafir. Setidaknya 2 mualaf, Hja Irene dan Deddy Corbuzier, pernah melontarkan pernyataan terkait dengan hal tersebut. Karena mereka awalnya adalah kristen katolik, tentu saja umat islam yang mendengarnya percaya. Karena itu tak heran jika umat islam percaya bahwa orang kristen telah mengambil alih tradisi kafir menjadi perayaannya. Apa yang pernah diungkapkan oleh para mualaf ini dapat dimaknai dua hal, (1) sebuah kebenaran bahwa iman orang kristen didasarkan pada ajaran kafir; dan (2) sebagai amunisi bagi umat islam untuk "menyerang" orang kristen.
Sebenarnya masalah ambil alih atau adopsi tradisi orang lain, bahkan termasuk yang kafir, bukanlah hal yang baru dan tabu. Agama islam juga telah melakukan hal tersebut. Tradisi haji, yang dalam agama islam merupakan salah satu kewajiban bagi umat islam, adalah tradisi yang sudah ada sebelum adanya islam. Itu merupakan tradisi kafir, atau istilah halusnya, tradisi jahiliyah. Demikian pula batu kab’ah, yang diyakini umat islam sebagai makam Ibrahim, sudah menjadi pusat penyembahan dewa-dewi kaum kafir sebelum Muhammad lahir. Ini merupakan fakta sejarah.
Akan tetapi, bukan itu yang menjadi inti persoalannya. Inti persoalan ada pada KEBENARAN. Romo Yustinus Slamet berkata, “Kebohongan yang dipropagandakan akan menjadi kebenaran, tetapi kebenaran yang disembunyikan lama-lama akan terdengar sebagai kebohongan.” Apa yang dilakukan oleh Hja Irene dan Deddy terkait perayaan natal adalah sebuah propaganda kebohongan. Mereka berusaha membenarkan sebuah kebohongan.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa 25 Desember adalah pengganti festival kafir Romawi yang disebut Saturnalia. Dalam perjalanan waktu Gereja mengadopsinya menjadi perayaan natal. Benarkan demikian? Saturnalia merupakan festival musim dingin untuk memperingati titik terjauh matahari dari garis khatulistiwa, yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Perayaan festival ini dimulai dari tanggal 17 hingga 23 Desember. Dimana kaitannya dengan 25 Desember? Sama sekali tidak ada. Karena itu, festival Saturnalia tidak cocok dihubungkan dengan tanggal 25 Desember.

Minggu, 27 Desember 2020

TITIK TEMU ISLAM – KRISTEN SOAL YESUS


Selama ini sering terjadi konflik antara islam dan kristen. Konflik ini bukan hanya terjadi secara fisik, tetapi terlebih dalam argumen-argumen terkait dengan ajaran. Beberapa tokoh menyebutnya dengan istilah “perang teologis”. Tak bisa dipungkiri “perang teologis” ini terjadi dilatar-belakangi oleh perbedaan konsep, yang terutama berakar pada beda cara pandang. Padahal, jika ditelaah dengan nurani jernih, ternyata antara islam dan kristen mempunyai kesamaan atau titik temu. Salah satu titik temu itu adalah sosok Yesus Kristus, yang dalam islam lebih dikenal sebagai Isa Al-Masih.

Memang harus diakui dan juga dihormati adanya perbedaan dalam menyikap tokoh yang satu ini. Jika umat kristen melihat Yesus sebagai Allah, umat islam justru hanya melihat-Nya sebagai nabi. Sekalipun mempunyai segudang keistimewaan, yang bahkan mengalahkan nabi Muhammad SAW, tetap saja Yesus dipandang sebagai nabi. Hal ini dapat dimaklumi karena umat islam berpegang teguh pada konsep tauhid, dimana “tiada tuhan selain Allah.” akan tetapi, harus jujur juga mengakui adanya kegagalan dalam memahami kesatuan Yesus dengan Allah, sebagaimana yang dipahami kristen. Artinya, islam tak bisa memahami konsep trinitas dengan baik sehingga menilai Allah kristen itu tiga.

Namun, biar bagaimana pun, umat islam dan kristen tidak perlu terlalu memperdebatkan hal tersebut. Adalah lebih baik mencari titik temu sehingga memudahkan dialog dan komunikasi. Setidaknya ada 3 titik temu tentang Yesus atau Isa Almasih.

KRISTEN

ISLAM

Allah bekerja dalam diri Yesus (Yoh 5: 17 – 19)

Allah bekerja dalam diri Isa Almasih (QS 5: 110)

Firman Allah (Yoh 1: 1 – 3, 14)

Kalimat Allah (QS 4: 171)

Yesus dari Roh Kudus (Luk 1: 35; Mat 1: 20)                                                                      

Dari Roh Allah (QS 4: 171)

Alfa dan Omega (Why 1: 8; 21: 6; 22: 13)

Yang Awal dan Yang Akhir (QS 57: 3)

1.   Allah bekerja dalam diri Yesus

Berhadapan dengan kritikan dan amarah orang-orang Yahudi atas tindakkan-Nya menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat, Yesus berkata,

Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga. [....] Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa menerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yoh. 5: 17, 19)

Sangat menarik kalau mencermati ayat 18. Di sini dikatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak hanya sekedar marah, tetapi berusaha untuk membunuh Yesus. Titik persoalannya bukan saja karena Yesus meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Kata-kata Yesus di atas tak jauh beda dengan wahyu Allah dalam surah al-Maidah. Allah SWT menegaskan bahwa Isa Almasih dapat melakukan aneka mukjizat, seperti menyembuhkan orang buta, orang kusta, membangkitkan orang mati, setelah mendapat izin dari Allah (QS al-Maidah: 110). Dapatlah dikatakan bahwa jika tidak ada izin dari Allah, maka Isa Almasih tidak bisa melakukan mukjizat.

Ada kemiripan antara “apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” dengan mukjizat Isa Almasih yang dilakukan dengan seizin Allah. Umat islam melihat hal ini dan menafsirkan adanya, bukan saja perbedaan tetapi juga, pemisahan antara Anak dan Bapa, antara Isa Almasih dan Allah. Berbeda dengan orang Yahudi, yang melihat Yesus telah menyamakan diri-Nya dengan Allah. Dengan kata lain, Anak dan Bapa itu berbeda tapi satu. Orang kristen juga melihat seperti itu.

Karena itu, sebenarnya Al-Qur’an sudah menegaskan aspek keilahian Isa Almasih lewat teks ini. Kekuatan melakukan mukjizat hanya milik Allah. dengan melakukan mukjizat, maka Isa Almasih mempunyai aspek ilahi. Tentulah umat islam akan menyanggah bahwa sekalipun dapat membuat mukjizat, tapi semua itu terjadi atas izin Allah. Tanpa izin Allah, maka tidak akan terjadi. Demikian logikanya. Namun orang bisa bertanya, kenapa Allah tidak melakukan hal tersebut kepada Muhammad? Kenapa Allah SWT tidak memberi izin agar Muhammad bisa melakukan mukjizat?

2.    Firman Allah

Prolog Injil Yohanes sedikit filosofis. Jika dua Injil Sinoptik (Matius dan Lukas) memaparkan keallahan Yesus di awal kitab mereka melalui kisah narasi, Injil Yohanes mengungkapkannya dalam bentuk madah. Yohanes menulis,

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. [....] Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita .... (Yoh. 1: 1 – 3, 14)

Lewat prolog Injil Yohanes ini, umat kristiani memahami Yesus itu sebagai Firman Allah yang telah menjadi manusia. Konsep ini sangat mirip dengan yang disampaikan Allah SWT kepada Muhammad bahwa Isa Almasih itu adalah kalimat Allah (QS an-Nisa: 171). Dalam teks surah ini kita dapat mengetahui bahwa Isa Almasih itu adalah (1) utusan Allah, (2) Kalimat Allah, dan (3) Roh Allah. Kata “firman” tak berbeda dengan kata “kalimat” atau “sabda” atau juga “wahyu”. Sekalipun ada kesamaan konsep, yaitu bahwa Yesus (Isa Almasih) adalah Sabda Allah, namun umat islam dan kristen berbeda dalam cara pandang. Orang kristen tidak bisa memisahkan Firman dari Allah, karena “Firman itu adalah Allah”, sementara umat islam tidak hanya membedakannya tetapi juga memisahkannya.

3.    Roh Allah

Dalam kisah kelahiran Yesus, yang dinarasikan oleh Matius dan Lukas, dikatakan bahwa Yesus itu berasal dari Roh Kudus. Dalam Matius, pernyataan bahwa Yesus berasal dari Roh Kudus disampaikan kepada Yosef, sedangkan dalam Lukas disampaikan kepada Maria.

.... anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau menamakan Dia Yesus (Mat. 1: 20 – 21)

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. [....] Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus. (Luk 1: 31, 35)

Orang kristen tidak bisa memisahkan Roh Kudus dari Allah. Orang kristen memahami bahwa Roh Kudus itu adalah Allah, sama seperti Firman itu adalah Allah. Bagi orang kristen, Roh Kudus adalah pribadi lain dari Allah yang sama dan satu dengan pribadi Allah yang lain, yaitu Sang Firman. Sebenarnya konsep ini, bahwa Yesus itu adalah (atau berasal dari) Roh Allah, sama seperti konsep islam yang tertuang dalam surah an-Nisa. Di atas telah dinyatakan bahwa berdasarkan kutipan QS an-Nisa: 171, Isa Almasih itu adalah (1) utusan Allah, (2) Kalimat Allah, dan (3) Roh Allah. Karena itu, jika dalam Injil Lukas Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Yesus itu kudus, dalam QS Maryam: 19, Malaikat Jibril mengatakan bahwa Isa Almasih itu suci. (Sekedar diketahui saja, Gabriel itu sama saja dengan Jibril; yang pertama adalah sebutan dalam tradisi kristiani, sedangkan Jibril dikenal dalam islam).

4.    Alfa dan Omega

Umat kristiani memandang Yesus sebagai alfa dan omega, yang awal dan yang akhir. Gelar ini didapat dalam kitab Wahyu kepada Yohanes (1: 8; 21: 6; 22: 13). Yesus bersabda, “Aku adalah Alfa dan Omega, [....], Yang Awal dan Yang Akhir.” Sangat menarik bahwa ternyata Al-Qur’an juga memiliki istilah “Yang Awal, Yang Akhir” ini. Dalam QS al-Hadid: 3, Allah SWT berfirman, “Dialah Yang Awal, Yang Akhir....; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.“

Dalam kutipan Al-Qur’an di atas, dikatakan bahwa Allah menyebut sosok lain, yang disebut-Nya dengan kata Dia, sebagai “Yang Awal, Yang Akhir”. Dengan kata lain, “Yang Awal, Yang Akhir” bukanlah Allah yang saat itu sedang berfirman, melainkan Dia. Menjadi pertanyaan, siapa “Dia” itu? Menjadi semakin menarik bahwa sosok “Dia” ini dikatakan “Maha Mengetahui segala sesuatu”. Jika dikaitkan dengan konsep kristen tadi, maka sosok “Dia” ini adalah Isa Almasih atau Yesus Kristus.

Dabo Singkep, 10 September 2020

by: adrian

Jumat, 25 Desember 2020

ISLAMFOBIA VS FOBIAISLAM: SIAPA SEBENARNYA YANG FOBIA


Dalam situs hello sehat, fobia dimaknai sebagai ketakutan yang terus menerus, berlebihan, tidak realistis terhadap suatu objek, orang, hewan, aktivitas atau situasi. Tidak seperti ketakutan pada umumnya yang bersifat sementara, fobia adalah kondisi permanen, yang menyebabkan reaksi fisik dan stres psikologis. Sedangkan dalam situs alo dokter, fobia dipahami sebagai rasa takut berlebihan terhadap sesuatu yang biasanya tidak membahayakan. Penderita fobia biasanya akan berusaha untuk menghindari situasi dan objek yang dapat memicu ketakutan, atau berusaha menghadapinya sambil menahan rasa takut dan cemas. Sementara dalam situs psikologi hore, fobia itu adalah rasa takut berlebihan terhadap sesuatu. Pada penderita fobia, ketakutan jauh lebih besar dibandingkan bahaya yang mungkin muncul. Pemilik fobia tidak hanya mengalami takut, namun bereaksi berlebihan.
Ada satu kesamaan dari tiga pengertian fobia  di atas, yaitu ketakutan yang berlebihan. Apa yang dimaksud dengan diksi kata “berlebihan” dalam pengertian itu? Hello sehat memahaminya dengan “tidak realistis”, sedangkan 2 situs lainnya sama-sama memahaminya tingkat bahaya lebih kecil dibandingkan dengan ketakutannya. Sekalipun berbeda dalam uraiannya, namun maknanya sama. Orang yang menderita fobia mengalami ketakutan, yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Dengan kata lain, secara normal tidak ada dasar untuk merasa takut, namun bagi orang yang fobia situasinya menjadi tidak normal.
Terkait dengan islam, kita mengenal ada 2 istilah fobia, yaitu islamfobia dan fobiaislam. Akan tetapi, istilah fobiaislam sepertinya kurang populer sehingga jarang sekali kedengaran. Istilah ini tertutup oleh istilah islamfobia. Istilah islamfobia dikenakan kepada orang non-muslim yang mempunyai ketakutan terhadap islam. Ada satu hal yang ditakutkan tentang islam ini, yaitu teror. Tak sedikit orang non-muslim mengaitkan islam dengan terorisme. Teror ini bisa berbentuk kekerasan umat islam, ancaman, bom hingga pembunuhan. Semuanya menimbulkan ketakutan. Orang yang takut inilah kemudian dicap sebagai islamfobia.
Bagaimana dengan fobiaislam? Jika islamfobia dikhususkan untuk orang non-muslim, istilah fobiaislam dikenakan untuk orang islam sendiri. Di sini yang mengalami ketakutan adalah umat islam, dan yang ditakutkan bukan bersumber dari islam melainkan dari luar islam. Yang ditakutkan itu adalah ancaman terhadap islam; bahwa islam dimusuhi dan hendak dibinasakan. Orang yang mengalami ketakutan ini kemudian dicap sebagai fobiaislam. Namun sayang, mereka-mereka ini tenggelam oleh arus kampanye islamfobia.

Kamis, 24 Desember 2020

INI CARA SEDERHANA MEMEHAMI INKARNASI


Bagi orang kristiani, entah itu katolik maupun protestan, Yesus diimani sebagai Allah yang menjadi manusia. Natal diyakini sebagai titik awal peristiwa Allah menjadi manusia, atau yang biasa dikenal dengan istilah inkarnasi.

Tak sedikit orang, umumnya berasal dari kalangan islam, mempertanyakan keyakinan iman ini. Bagaimana mungkin Allah bisa dan mau menjadi manusia? Bagi umat islam hal ini tidak hanya sekedar tidak masuk akal, tetapi juga merupakan dosa berat.

Bagaimana menjelaskan soal inkarnasi ini? Ilustrasi berikut ini kiranya bisa menjadi jawaban buat kita yang sering meragukan kehadiran Yesus Kristus. Semoga ilustrasi ini bermanfaat.

Pada suatu ketika, hiduplah satu keluarga petani di sebuah desa kecil. Sang suami tidak percaya kisah tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia. Baginya tidak mungkin Allah menjadi manusia. Hal itu akan melecehkan Allah sendiri.

“Kalau saya adalah Allah, saya tidak akan mau menjadi merendahkan diri menjadi manusia,” begitu pikirnya.

Karena keyakinannya itu, dia tidak mau ikut istri dan anak-anaknya ke gereja merayakan misa malam natal. Saat itu musim dingin. Pada malam menjelang hari Natal, istri dan anak-anaknya telah pergi ke gereja untuk menghadiri misa. Dia sendirian di rumah, duduk menonton televisi sambil membaca-baca koran. Sementara di luar salju yang turun semakin deras.

Rabu, 23 Desember 2020

MEMAHAMI ADALAH KUNCI AWAL MENGHARGAI


Setiap pemeluk agama di muka bumi ini tentulah mempunyai hari-hari istimewa keagamaan. Umat muslim memiliki Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Umat Hindu ada Hari Raya Nyepi dan Galungan. Hari Raya Waisak merupakan hari istimewa bagi umat Buddha. Orang Kristen punya Hari Raya Natal dan Paskah. Konghucu atau etnis Tionghoa merayakan imlek.

Adalah kebiasaan umum bila menjelang atau pada saat hari raya yang bersangkutan sering terdengar ucapan selamat hari raya antar manusia. Bagi masyarakat plural, adalah wajar dan biasa jika ucapan selamat itu diucapan. Ketika orang islam merayakan Hari Raya Idul Fitri, ucapan selamat hari raya itu tidak hanya diucapkan oleh umat muslim saja, melainkan juga oleh umat agama lain. Demikian pula bila orang Buddha merayakan Waisak, maka akan ada ucapan selamat dari rekan, kenalan atau keluarga yang non Buddha.

Pengalaman pribadi penulis sendiri sudah membuktikan hal itu. Sekalipun penulis bukan muslim, namun ketika Idul Fitri atau Idul Adha, penulis biasa mengucapkan selamat kepada keluarga, rekan, kenalan dan sahabat. Adalah suatu kebahagiaan saat mengucapkan hal itu, apalagi bila ucapan itu dilakukan secara langsung dengan salaman dan seuntai senyum. Sungguh dunia terasa damai. Demikian saat Hari Raya Waisak (kepada kenalan) atau Imlek.

Karena itu, penulis sedikit kaget membaca berita bahwa ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Banda Aceh, Abdul Karim Syeikh, mengeluarkan fatwa haram bagi ucapan selamat Natal. Artinya, umat muslim Aceh dilarang mengucapkan selamat Hari Raya Natal kepada umat kristiani. Dikatakan bahwa larangan tersebut merupakan aqidah.

Sebenarnya, soal fatwa haram mengucapkan Selamat Hari Raya Natal bukanlah merupakan hal yang baru. Pada level nasional pun sebenarnya fatwa ini sudah ada. Pada Maret 1981, Majelis Ulama Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Haji Abdul Karim Amrullah, atau yang biasa dikenal Buya Hamka, mengeluarkan fatwa haram ucapan selamat Natal. Konon, sekalipun mendapat tekanan dari penguasa saat itu, Presiden Soeharto, yang memintanya untuk mencabut fatwa itu, Buya Hamka bersikukuh, tidak mau mencabut fatwanya. Beliau malah lebih memilih mundur dari MUI ketimbang menarik kembali fatwa haram tersebut.

Selasa, 22 Desember 2020

HAMBATAN UNTUK SEBUAH KESUKSESAN

Bagi seekor burung rajawali, satu-satunya hambatan untuk terbang lebih cepat dan nyaman adalah udara. Tetapi jika udara itu diambil dan burung tersebut dibiarkan terbang dalam kehampaan tanpa udara, burung rajawali itu segera jatuh ke tanah dan tidak dapat terbang sama sekali.

Hambatan utama yang harus diatasi oleh sebuah perahu bermotor adalah air yang menyentuh baling-baling perahu. Tetapi jika tidak ada air sebagai penahan, perahu ini justru tidak dapat bergerak sama sekali.

Hambatan utama yang harus dihadapi oleh seorang ibu yang melahirkan adalah rasa sakit yang teramat berat. Namun jika tanpa itu maka tak akan ada peristiwa alami nan luar biasa. Tuhan Yesus pernah bersabda, “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak lagi ingat akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yohanes 16: 21).

Hukum yang sama juga berlaku bagi kehidupan manusia. Hambatan adalah kondisi yang 'harus ada' bagi kesuksesan. Sebuah kehidupan yang terbebas dari hambatan dan kesulitan akan mengurangi semua kemungkinan dan daya sampai ke titik nol.

Larilah jauh-jauh dari masalah, dan kehidupan Anda akan kehilangan daya kreatif! Richard Bach pernah berkata, “Hindari masalah, dan kamu tidak akan pernah menjadi orang yang memecahkannya.”

Masalah kesehatan yang parah bisa memberikan makna pada dunia pengobatan. Masalah kekacauan sosial bisa memberi makna pada kebijakan pemerintah.

Kita semua memiliki kecenderungan ingin terbebas dari semua masalah dan tanggung jawab. Ketika masalah datang, berikanlah makna baru pada permasalahan itu. Sebuah beban kehidupan yang paling berat adalah pada saat kita tidak memiliki apapun untuk dibawa.

Yesus Kristus telah memberikan contoh teladan kepada umat manusia. Untuk mencapai kemuliaan, Dia harus menempuh penderitaan dalam salib. Karena itu, kepada para pengikut-Nya, Yesus berpesan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14: 27). Di sini Yesus mau mengajarkan kita untuk tidak takut menghadapi salib, yaitu hambatan, tantangan, kesulitan atau masalah dalam hidup kita. Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan dan berjuang sendirian menghadapi semua itu, karena Tuhan kita adalah Immanuel, yang berarti Allah beserta kita.

Karena itu, jangan lari dari masalah. Jangan pernah takut menghadapi hambatan. Hadapilah setiap masalah yang terjadi dalam hidup dengan kesabaran dan ketekunan. Rasul Yakobus berkata, “Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus1: 4).

diolah kembali dari tulisan 8 tahun lalu


Minggu, 20 Desember 2020

MELIHAT AKHIR HIDUP ISA AL-MASIH


ISA AL-MASIH merupakan salah satu tokoh besar yang sangat berpengaruh setidaknya bagi dua agama besar dunia, yaitu islam dan Kristen. Jika sebutan Isa lebih popular di kalangan islam, di kalangan kristiani dikenal dengan nama YESUS. Di mata umat kristiani, Yesus diimani sebagai Allah yang menjadi manusia. Bagaimana dan kenapa Allah menjadi manusia, memang merupakan pertanyaan teologis sekaligus menjadi misteri. Pertanyaan itu pas-nya ditujukan kepada Allah. Hanya Allah saja yang tahu kebenaran persisnya. Sementara itu, umat islam menghormatinya sebagai nabi. Dia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lain dalam islam, bahkan termasuk nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an mencatat kalau Dia adalah kalam dan Roh Allah (QS an-Nisa: 171; bdk QS Ali Imran: 45).

Bagaimana orang non islam dan non kristen melihat Isa atau Yesus? Bagi mereka siapa Yesus itu? Sekalipun tidak menganggap-Nya sebagai Allah atau nabi, namun banyak orang menghormati-Nya sebagai tokoh bijaksana, tokoh moral. Ada yang menyebut-Nya sebagai Guru Moral atau Kebijaksanaan. Ada pula yang mengaitkannya dengan Sophia, salah satu konsep filosofis, yang sederhananya dimaknai dengan kebijaksanaan dan kebenaran.

Kematian Yesus diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi. Bagaimana cerita akhir hidup Yesus? Berikut ini dikutip beberapa informasinya.

1.    Paulus

Paulus merupakan salah satu Rasul Kristus, meski baru menjadi pengikut Yesus beberapa tahun setelah peristiwa Yesus naik ke sorga. Diperkirakan ketika Yesus wafat (33 Masehi), Paulus berusia 23 tahun. Tapi tidak ada informasi apakah dia menyaksikan secara langsung peistiwa tersebut. Sejak menjadi Rasul Kristus, Paulus banyak mengadakan perjalanan dan menulis surat pastoral untuk mewartakan Yesus. Ia mati sebagai martir sekitar tahun 67 Masehi. Antara tahun 56 – 57 Masehi, Paulus menulis surat untuk jemaat di Filipi. Dalam sebuah halaman surat itu, Paulus menulis:

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2: 5 – 8)

2.    Petrus

Petrus termasuk rasul yang dipilih langsung oleh Yesus. Dia pernah hidup bersama dengan Yesus, namun saat kematian-Nya dia melarikan diri. Setelah Yesus naik ke sorga, Petrus menerima tugas sebagai pemimpin kelompok para rasul. Sama seperti Paulus, Petrus juga meninggal sebagai martir kira-kira tahun 67 Masehi. Ada dua surat yang ditulis Petrus. Surat pertama diperkirakan ditulis dalam tahun 65 Masehi. Dalam suratnya yang pertama, secara implisit Petrus mengatakan kematian Yesus di kayu salib.

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. …… Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. (1Petrus 2: 21 – 24).

Frase yang ditebalkan ini mengungkapkan peristiwa kematian Yesus (dalam surat ini dipakai kata “Kristus”) di kayu salib, karena kematian-Nya dimaknai sebagai penebusan dosa.

3.    Injil (Markus, Matius, Lukas dan Yohanes)

Jumat, 18 Desember 2020

DARI JILBAB HINGGA CADAR

Jilbab sudah selalu diidentikkan dengan pakaian untuk wanita islam. Karena itu, setiap kali melihat perempuan mengenakan jilbab, orang langsung menyimpulkan bahwa perempuan itu adalah islam. Berbeda dengan cadar. Selain diidentikkan dengan islam, cadar juga sering dikaitkan dengan islam radikal. Sementara islam radikal selalu dikaitkan dengan kelompok islam ekstrem, termasuk para teroris. Karena itu, pasca serangan islam teroris, sering muncul sebuah sosial eksperimen, dimana seorang muslimah bercadar hadir dengan pesan: “Peluklah aku, jika kau merasa nyaman.” Mereka mau membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok teroris yang menakutkan. Dengan kata lain, mereka mau menghilangkan image masyarakat bahwa muslimah bercadar adalah kelompok islam radikal yang harus dicurigai, diwaspadai atau ditakuti.
Tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang, apalagi yang non islam, menilai bahwa wanita bercadar adalah kelompok islam radikal atau fanatik. Melihat mereka, orang langsung curiga, waspada dan takut. Orang lebih bisa menerima wanita berjilbab ketimbang bercadar. Kebijakan pelarangan muslimah bercadar di kampus juga menunjukkan kecurigaan tersebut. Ada kesan bahwa pembuat kebijakan itu belum memahami dengan benar makna dan nilai dari sebuah cadar.
Akan tetapi, orang lantas bertanya kenapa wanita islam ini berbeda-beda dalam berpakaian. Kenapa ada yang berjilbab dan yang lain bercadar, padahal keduanya sama-sama bertujuan untuk menutup aurat.
Aturan jilbab untuk kaum muslimah memang berbeda-beda. Perbedaan ini didasarkan pada ajaran para tokoh pendiri empat aliran islam utama, yakni Maliki, Hanafi, Shafi’i dan Hanbali. Aliran islam Maliki kebanyakan berada di Afrika Utara, Afrika Barat dan beberapa negara teluk Persia. Kelompok aliran islam Hanafi umumnya berada di Syria, Turki, Pakistan, Balkan, Asia Tengah, Iran, Afganistan, China dan Mesir. Aliran islam Shafi’i banyak berada di Arabia, Indonesia, Malaysia, Somalia, Mesir, Maldives, Eritrea, Ethiopia, Yemen dan India Selatan. Sedangkan aliran islam Hanbali umumnya berada di Arabia. Keempat aliran islam ini tidak memiliki aturan yang sama, termasuk dalam urusan menutup aurat wanita.

Kamis, 17 Desember 2020

INSPIRASI BUAT SUAMI ISTRI


Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan dan anggota keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan,” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana mengubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia.

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Pagi harinya, ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya,” kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak disukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir.

“Maaf, apakah aku harus berhenti?” tanyanya. 

“Oh tidak, lanjutkan,” jawab suaminya. 

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan bahagia. “Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu.”

Dengan suara perlahan suaminya membuka lipatan kertasnya yang kosong putih bersih lalu berkata, “Aku tidak mencatat sesuatu pun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin mengubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satu pun dari pribadimu yang kudapati kurang."

Sang istri tersentak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memeluk sang suami. Mereka larut dalam haru. Suatu pembaharuan janji perkawinan telah tercipta lagi pagi itu.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah?

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

MELIHAT BALASAN KITA KEPADA ORANGTUA SEPANJANG MASA


Saat kita berusia 1 tahun, orangtua memandikan dan merawat kita, memberi ASI sebagai makanan dan menggantikan popok kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam, mengganggu istirahat malam mereka.

Saat kita berusia 2 tahun, orangtua mengajari kita berjalan juga naik sepeda. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.

Saat kita berusia 3 tahun, orangtua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.

Saat kita berusia 4 tahun, orangtua memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.

Saat kita berusia 5 tahun, orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus.  Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.

Saat kita berusia 10 tahun, orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos.

Saat kita berusia 11 tahun, orangtua mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.

Saat kita berusia 12 tahun, orangtua mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan, kita malah meminta orangtua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.

Rabu, 16 Desember 2020

INSPIRASI DARI YUDAS ISKARIOT


Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Batania, tempat Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan bersama Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. (Yoh 12: 1 – 6).

Uang itu memang menggoda, karena ia merupakan salah satu bentuk godaan. Uang, sebagai godaan, masuk dalam kelompok harta kekayaan. Oleh karena itu, orang yang selalu atau sering bersentuhan dengan uang (seperti kasir, bendahara, dll) adalah orang pertama yang digoda atau tergoda.

Contoh di atas sudah membuktikan. Yudas Iskariot adalah pemegang kas kelompok para murid. Dia memegang uang. Dan uang itu juga yang menggoda dia. Makanya Injil mengatakan bahwa ia sering mengambil uang dalam kas. Bahkan karena tergoda dengan uang juga dia rela menyerahkan Yesus untuk ditangkap dan lalu dibunuh.

Kita juga tentu masih ingat dengan Muhammad Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat, atau Gayus HP Tambunan, pegawai pajak yang terlibat korupsi. Mereka-mereka ini selalu bersentuhan dengan uang. Nazaruddin bersentuhan dengan uang kas partai, sedangkan Gayus bersentuhan dengan uang wajib pajak. Karenanya, uang itu juga yang menggoda mereka untuk korupsi.

Apakah korupsi terjadi karena iman yang lemah? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun harus diingat bahwa sekuat apapun iman seseorang, jika terus menerus digedor dengan godaan tadi, pastilah benteng imannya lemah juga. Tak tergantung siapa orangnya, dari awam maupun imam, pria ataupun wanita. Bayangkan, setiap hari bersentuhan dengan godaan itu. Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa sekalipun roh itu memang penurut, namun daging lemah, sehingga kita harus waspada supaya tidak terjatuh ke dalam godaan (Mat 26: 41).

Bukan lantas berarti iman itu tidak ada gunanya. Iman tetap dibutuhkan. Akan tetapi iman yang kuat ini harus ditunjang dengan adanya transparansi laporan keuangan. Iman yang dibantu dengan transparansi akan membuat orang tahan terhadap godaan uang. Transparansi merupakan salah satu langkah pencegahan agar orang tidak larut dalam godaan uang dalam tindakan korupsi. Karena korupsi itu tumbuh dalam suasana ketertutupan.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

TAWARAN MANAJEMEN PAROKI


Pelaku pencurian ikan di wilayah Indonesia bisa kita kejar, tangkap dan larang karena nyata-nyata bisa dibuktikan. Namun bagaimana dengan pencurian ide atau menjaga hal-hal yang bersifat tidak teraga seperti seni dan budaya, misalnya klaim tarian “mirip Tor-Tor”? Dalam bisnis hiburan, kita kerap melihat lagu dan film ditiru habis-habisan, dibajak dan diperbanyak. Dengan semakin canggih dan murahnya perkembangan teknologi, kita memang makin sulit mengontrol dan menghukum pencurian ide serta pembajakan karya cipta. Perusahaan-perusahaan besar memang bisa bekerja sama dengan aparat untuk menangkap pencuri perangkat lunak. Namun bagaimana dengan musisi yang tidak punya modal untuk mempersenjatai diri mengejar pencuri idenya? Kita bisa prihatin bahwa buah pikiran dan hasil karya seolah tidak dihargai. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Orisinalitas sudah tidak lagi menjadi satu-satunya kunci inovasi.

Seorang artis terkemuka yang sudah memproduksi sejumlah album mengatakan bahwa kini ia membiarkan musiknya dibajak. Ia bahkan menggratiskan orang untuk men-download karya musiknya melalui situs yang dibangunnya dengan sengaja. Tidakkah ia sadar bahwa dirinya dirugikan? Musisi ini hanya menjawab singkat, “Inilah cara pemasaran yang baru, bukan dengan menjual CD-nya lagi.” Kita lihat bahwa cara pemasaran dan cara menjual hak cipta pun sekarang sudah berganti gaya.

Perkembangan teknologi dan ekonomi diikuti dengan krisis sungguh memacu kita untuk berpikir keras mencari jalan keluar. Produk perangkat keras semakin sulit bersaing dengan perangkat lunak. Sebaliknya, bila kita pandai mengemas nilai tambah, misalnya dengan membuat kemasan yang apik dari produk atau jasa yang kita hasilkan, keuntungan berlipat ganda bisa diraih tanpa menambah modal besar. Kita memang musti berani berbeda kerena differences sangat penting untuk membuat produk dan jasa kita berharga tinggi, bahkan berlipat-lipat. Tanpa inovasi terus menerus, mustahil kita bisa unggul dalam bersaing.

Sikap Rendah Hati dan Mendengar