Minggu, 08 November 2015

Agama Tanpa Misteri Adalah Agama Tanpa Allah

AGAMA DAN MISTERI
Dari etimologinya, kata “agama” memiliki beberapa arti. Ada yang mengatakan bahwa kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata A yang berarti tidak dan GAMA yang berarti kacau. Secara sederhana agama dipahami tidak kacau; dan ini mengarah pada tradisi. Biasanya tradisi ini mengacu pada relasi manusia dengan Sang Pencipta, sesamanya dan juga alam. Jika agama ini dipelihara maka terciptalah harmoni.
Istilah lain yang sering dipakai untuk pengertian agama adalah RELIGI. Istilah ini berasal dari Bahasa Latin “religio”, yang diambil dari akar kata RE yang berarti kembali, dan LIGARE yang berarti mengikat. Jadi, religi berarti mengikat kembali; karena istilah ini biasa digunakan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, maka istilah religi dipahami mengikat kembali relasi dengan Tuhan.
Apapun pengertiannya, istilah agama ini biasanya dikaitkan dengan Tuhan. Karena itu, orang sering mendefinisikan agama sebagai penghambaan manusia kepada Tuhannya. Relasi manusia dengan Tuhan adalah relasi hamba – tuan. Dan untuk mengatur relasi itu, muncullah agama.
Ada cukup banyak agama di muka bumi ini. Agama-agama itu mengatur relasi umatnya dengan Tuhannya. Semua aturan itu tertuang dalam norma-norma agama. Hal inilah yang membuat agama dilihat sebagai suatu lembaga atau institusi yang mengatur kehidupan rohani manusia.
Berhubung agama itu menyangkut keberadaan Tuhan, maka agama memiliki cirinya, yaitu misteri. Kata “misteri” berasal dari Bahasa Latin mysterium (Yun: mysterion mystes) yang berarti tutup atau bungkam. Misteri dapat dipahami sebagai sesuatu yang keberadaannya tersembunyi dari kita atau sangat sulit dicapai. Tuhan itu diyakini sebagai suatu entitas yang ilahi, yang tak dapat dipahami oleh akal manusia yang terbatas.
Oleh karena itu, Jeremy Tailor (1613 – 1667), seorang penulis spiritual berkebangsaan Inggris, pernah berkata, “Agama yang tanpa misteri adalah agama tanpa Allah.” Di sini Jeremy mau menegaskan bahwa misteri merupakan suatu syarat mutlak agama, dalam kaitannya dengan relasi dengan Tuhan. Sebagaimana diketahui, Tuhan itu mahakuasa, yang bukan hanya mencakup alam semesta, melainkan juga semuanya. Tak mungkinlah kesemuanya itu dapat dimasukkan ke dalam otak manusia yang hanya sekepal tangan. Bagi manusia, Tuhan masih menyisakan misteri. Dan karena misteri itu, sikap yang dibutuhkan adalah iman. Jadi, iman merupakan tanggapan manusia akan misteri keilahan Tuhan.
Pernyataan Jeremy senada dengan apa yang dikatakan Mgr. Ignatius Suharyo, dalam bukunya The Catholic Way (2009: 11), “Kalau semuanya jelas, itu pasti bukan Allah dan bukan iman.” Memang iman itu perlu dipertanggungjawabkan. Seorang beriman akan berusaha mencari kebenaran atau memenuhi dambaan hati dan budinya. Namun ada saatnya pencarian dengan akal budi itu mentok. Pada titik inilah orang hanya bisa mengambil keputusan iman. Orang umumnya akan berkata, “Saya percaya meskipun saya tidak tahu segala-galanya.” Bukan lantas berarti meninggalkan iman, sebagaimana yang dilakukan oleh orang ateis. Dibutuhkan sikap rendah hati untuk mengakui keterbatasan diri.

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII, Thn B/I
Bac I  1Raj 17: 10 – 16; Bac II            Ibr 9: 24 – 28;
Injil    Mrk 12: 38 – 44;
Bacaan pertama dan Injil hari ini memiliki kesamaan dan kemiripan cerita. Kesamaan ada pada subyek cerita, yaitu janda. Kemiripannya ada pada tema, yaitu memberi. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Raja-raja yang pertama, dikisahkan bahwa Nabi Elia meminta seorang janda di Sarfat untuk memberinya minum dan makan. Awalnya janda itu keberatan karena persediaan makanan yang ada hanya cukup untuk dirinya dan anaknya sekali makan saja. Namun karena perjelasan Elia, janda itu mengikuti saja. Dan terjadilah kelimpahan dalam hidupnya. Di sini mau diajarkan untuk membangun sikap memberi. Sikap memberi berarti mengutamakan orang lain daripada diri sendiri.
Dalam Injil Tuhan Yesus memberi pelajaran tentang pemberian janda miskin. Diceritakan bahwa suatu kali Tuhan Yesus memperhatikan kotak persembahan. Dia melihat seorang janda memberikan dua peser. Sekalipun nilai nominalnya kecil, Tuhan Yesus memuji janda itu karena “janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Tindakan janda miskin ini tak jauh berbeda dengan janda di Sarfat dalam bacaan pertama. Di sini pun Tuhan Yesus mau mengajak para murid-Nya untuk berani memberi dari apa yang dipunyai.
Sikap memberi yang ada pada bacaan pertama dan Injil ini direfleksikan dengan sangat bagus oleh penulis surat kepada orang Ibrani. Yang menjadi pusat refleksi penulis ini adalah Tuhan Yesus. Dengan tema yang sama, yaitu memberi, penulis melihat sosok Tuhan Yesus sebagai Imam Agung, yang mau memberikan dirinya sebagai kurban pelunas dosa umat manusia. Kurban itu merupakan bukti cinta Allah kepada umat manusia. Tuhan Yesus benar-benar memberikan diri-Nya secara total, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk umat manusia.
Karena itu, menjadi jelas apa yang menjadi pesan sabda Tuhan pada kita hari ini. Tuhan menghendaki agar kita mau memberi apa yang ada dalam diri kita kepada sesama kita yang membutuhkan. Memberi itu bukan sebatas materi saja, melainkan juga hal-hal yang bersifat non material juga, seperti saran, nasehat, ilmu pengetahuan, dll. Memberi merupakan sikap yang berorientasi ke luar dari diri sendiri. Dengan memberi kita akan menerima dan berkelimpahan.***
by: adrian