Selasa, 19 Maret 2013

(Pencerahan) Kesombongan Di Balik Prestasi

Guru zen & seorang kristen
Seorang kristen suatu hari
mengunjungi seorang Guru Zen
dan berkata:
‘Bolehkah saku membancakan
beberapa kalimat
dari kotbah di bukit?’

“Silahkan, dengan senang hati
aku akan mendengarkannya.” Kata Guru Zen.

Orang kristen itu membaca beberapa kalimat,
lalu berhenti sejenak dan melihat Guru.
Guru tersenyum dan berkata:
‘Siapapun yang pernah mengucapkan
kalimat-kalimat itu,
pastilah sudah mendapatkan
penerangan budi.’

Orang kristen itu senang.
Ia meneruskan membaca.
Sang Guru menyela dan berkata:
‘Orang yang mengucapkan ajaran itu,
sungguh dapat disebut Penyelamat Dunia.’

Orang kristen itu gembira ria.
Ia terus membaca sampai habis.
Lalu sang Guru berkata:
‘Kotbah itu disampaikan oleh
Seorang yang memancarkan cahaya ilahi.’

Sukacita orang kristen itu
meluap-luap tanpa batas.
Ia minta diri dan bermaksud kembali
untuk  meyakinkan Guru Zen itu,
agar ia sendiri sepantasnya
menjadi seorang kristen juga  

ð  Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia berjumpa dengan Kristus di pinggir jalan.
“Tuhan,” serunya dengan penuh semangat, “Saya berhasil membuat orang itu mengaku bahwa Engkau adalah Tuhan.”
Yesus tersenyum dan berkata, “Apa gunanya hal itu bagimu, selain membesarkan ‘ego’ kristenmu?”

Orang Kudus 19 Maret: St. Yusuf

Santo Yusuf, suami maria
Semua pengetahuan kita tentang Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria dan ‘ayah piara’ Yesus, Putera Allah, bersumber pada dua bab pembuka dari Injil Mateus dan Lukas. Secara hukum, Yusuf dianggap sebagai ayah Yesus. Karena Yusuf adalah keturunan Raja Daud, maka Yesus dianggap juga sebagai turunan Raja Daud. Yesus lalu disebut Putera Daud.

Hubungan Yusuf dan Maria lebih daripada suatu hubungan pertunangan. Hubungan mereka merupakan suatu hubungan perkawinan yang yang sah, walaupun pada mulanya mereka tidak pernah hidup sebagai suati istri. Kira-kira selama satu tahun, mereka tidak pernah hidup bersama di bawah satu atap. Ketika Maria mengandung secara ajaib oleh kuasa Roh Kudus, Yusuf bingung dan bermaksud meninggalkan Maria secara diam-diam. Namun Yusuf yang saleh itu tidak percaya akan godaan kebingungan dan kecurigaan terhadap Maria yang sedang hamil itu. Mateus dalam Injilnya mengatakan bahwa Yusuf memutuskan untuk “meninggalkan Maria secara diam-diam.” (Mat 1: 19).

Sehubungan dengan itu, selanjutnya Mteus mengatakan bahwa Allah mengutus seorang malaikat untuk menerangkan kepada Yusuf bahwa anak yang ada di dalam rahim Maria sesungguhnya berasal dari Roh Kudus. Oleh kunjungan malaikat Allah itu dan setelah merenungkan pesan yang disampaikan, Yusuf tanpa ragu-ragu mengambil Maria sebagai isterinya dan mulai tinggal serumah (Mat 1: 24). Untuk menghindari salah pengertian, Mateus selanjutnya mengatakan bahwa Yusuf bukanlah ayah kandung Yesus. Mateus berkata, “Ia tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki.” (Mat 1: 25).

Kata ‘sampai’ yang digunakan Mateus menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sebelum Maria melahirkan anaknya. Kata itu pun tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, Yusuf bersetubuh dengan Maria. Kata-kata ‘anaknya laki-laki’, bahkan dikatakan ‘anaknya yang sulung’ (Luk 2: 7) juga tidak berarti bahwa Maria mempunyai beberapa orang anak. Istilah itu adalah suatu istilah yang lazim dan sah untuk menamai setiap anak laki-laki pertama yang lahir dari suatu perkawinan, meskipun anak itu tidak mempunyai saudara dan saudari. Lukas dalam bab kedua Injilnya menyebut Yusuf dan Maria sebagai orang tua Yesus (Luk 2: 27).

Menurut Mateus, Yusuf adalah seorang tukang kayu (Mat 13: 55) tentang riwayat hidupnya tudak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus tampil di depan umum untuk memulai karya-Nya. Karena ia tidak pernah disebut-sebut lagi selama kurun waktu penampilan Yesus itu. Salah satu bukti biblis untuk menunjukkan hal ini dapat ditemukan di dalam lukisan Penginjil Yohanes tentang peristiwa penyerahan Maria kepada Yohanes, murid kesayangan Yesus: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19: 26 – 27). Teks ini menunjukkan bahwa pada waktu itu Maria sudah menjanda.

Cerita-cerita apokrif purba menggambarkan Yusuf sebagai seorang lelaki yang sudah tua, bahkan tua sekali. Cerita itu mau melukiskan bahwa pada waktu itu tak seorang pun menganggap Yusuf sebagai ayah kandung Yesus. Sebaliknya, kehamilan Maria dianggap sebagai suatu peristiwa yang memalukan bahkan merupakan skandal karena Yusuf suaminya dikatakan sudah tua sekali.

Cerita purba itu pun melukiskan Yusuf sebagai duda yang mempunyai enak orang anak dari perkawinannya yang pertama. Kisah ini dimaksudkan untuk menerangkan bagian Injil yang melukiskan tentang ‘saudara-saudara Yesus’ (Mat 12: 46; Yoh 2: 12; 7: 10). Keterangan yang sebenarnya ditemukan dalam makna kata bahsa Aram yang digunakan Yesus dan murid-murid-Nya. Bahasa Aram menggunakan kata yang sama untuk melukiskan saudara-saudara dan sepupu-sepupu, dan para engarang Injil mengetahui bahwa hal ini akan berarti dan dipahami oleh umat yang menjadi tujuan penulisan Injil bila mereka menunjuk kepada ‘saudara-saudara Yesus.’

Yusuf dan Maria benar-benar menikah. Mereka memiliki hak-hak perkawinan secara penuh satu terhadap yang lain seperti lazimnya suami isteri, walaupun mereka sendiri tidak menggunakan hak-hak itu. Alasan pokok teologis kenapa Yesus dilahirkan dari seorang perawan adalah bahwa Pribadi Kedua dalam Tritunggal Mahakudus itu telah ada sejak kekal. Kelahiran-Nya sebagai manusia melalui rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi seorang anggota umat manusia dalam sebuah keluarga manusia. Yusuf – meskipun bukan ayah Yesus dalam arti fisik – dihubungkan dengan Yesus oleh persatuan rohaniah seorang ayah, kewibawaan dan pelayanan. Yesus termasuk anggota keluarga Yusuf dan hubungan itu diungkapkan dengan menggambarkan Yusuf sebagai atah piara bahkan ayah Yesus yang sah.

Devosi kepada Santo Yusuf tidak dikenal di dalam Gereja selama berabad-abad. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu kekuatiran bahwa tekanan yang berlebihan pada kedudukan Yusuf dapat menimbulkan anggapan umum bahwa Yusuf adalah ayah kandung Yesus. Dalam praktek sekarang Gereja menghormati Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus, Putera Allah.

Paus Pius IX (1846 – 1878) pada tanggal 8 Desember 1870 menetapkan Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal. Dalam litani Santo Yusuf, Yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh/karyawan, keluarga, para perawan, orang-orang sakit dan orang-orang yang telah meninggal. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapak-bapak keluarga, imam-imam dan kaum religius serta pelindung para peziarah.

Pada tahun 1937, Paus Pius XI (1922 – 1939) mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik. Dan pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII (1958 – 1963) memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf sendiri mulai dimasukkan dalam Kanon Misa pada tahun 1962.

Pada abad kedelapan dan kesembilan, tanggal 19 Maret ditentukan sebagai Hari Raya utama Santo Yusuf. Pada tahun 1955, Paus Pius XII (1939 – 1958) memaklumkan pesta Santo Yusuf Pekerja yang dirayakan pada tanggal 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai seorang pekerja dan untuk menyatakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun