Rabu, 30 September 2015

Transfigurasi Yesus: Di Tabor atau Hermon

DIMANA PERISTIWA TRANFIGURASI TERJADI
Orang Kristen tentu sudah tahu peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya atau dimuliakan di atas gunung. Peristiwa itu dikenal juga dengan istilah transfigurasi. Gereja katolik memasukkan peristiwa tersebut ke dalam kalender liturginya sebagai hari pesta (jatuh pada 6 Agustus). Sebagai sebuah pesta liturgi, Gereja Timur telah jauh lebih dahulu melakukannya. Gereja Barat baru dimulai pada tahun 1457, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Pasukan Kristen atas tentara Turki di Belgrado.
Gambaran kejadian peristiwa tersebut hanya dapat dibaca dalam Injil Sinoptik, yaitu Matius 17: 1 – 8; Markus 9: 2 – 8 dan Lukas 9: 28 – 36. Dalam peristiwa itu Tuhan Yesus, yang pakaian-Nya berkilau-kilau, tampil berdiskusi dengan Nabi Musa dan Nabi Elia. Petrus yang merasa bahagia, ingin mendirikan tiga tenda di tempat itu.
Sangat menarik kalau peristiwa ini dikaitkan dengan peristiwa sebelumnya, yaitu pengakuan Petrus (Mat 16: 13 – 20; Mrk 8: 27 – 30 dan Luk 9: 18 – 21). Peristiwa transfigurasi ditempatkan setelah pengakuan Petrus bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Peristiwa transfigurasi seakan mau menegaskan kembali jawaban Petrus tersebut, karena selain menampakkan kemuliaan dan berbicara dengan dua Nabi Besar bangsa Israel, muncul juga penyataan “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”
Akan tetapi menjadi persoalan ketika orang bertanya dimana lokasi persis peristiwa itu terjadi, di gunung Tabor atau Gunung Hermon. Kitab Suci sendiri tidak menyebutkan secara persis tempat kejadian itu. Ketiga Injil Sinoptik hanya menyebutkan bahwa Tuhan Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung (Markus dan Matius memberi tekanan pada yang tinggi). Jadi, hanya berhenti sampai di gunung saja, tanpa menyebut nama gunungnya.
Dalam pengertian biblis, ‘gunung’ sebenarnya merujuk pada apa yang kita pahami sebagai bukit. Ada terdapat beberapa bukit di Israel. Namun yang cukup penting adalah Tabor dan Hermon. Menjadi pertanyaannya, apakah peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya itu terjadi di Tabor atau Hermon? Dapat dipastikan bahwa hal ini masih menjadi sebuah misteri.
Namun, sejak abad IV, orang Kristen berpendapat bahwa kejadian itu terjadi di Gunung Tabor. Ada beberapa alasan yang mendukungnya. Pertama, bentuk Gunung Tabor yang rapi memberikan suatu aura alami yang khas, yang menjadikannya suatu tempat yang dengan mudah dianggap sebagai gunung suci. Berbeda dengan banyak gunung lainnya, gunung ini dapat dengan mudah dicapai sehingga memudahkan orang untuk membayangkan peristiwa transfigurasi.

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI - Thn I

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI, Thn B/I
Bac I  Neh 2: 1 – 8; Injil            Luk 9: 57 – 62;

Dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini seakan terdapat pertentangan. Injil hari ini memuat kisah tentang beberapa orang yang berkeinginan mengikuti Tuhan Yesus, namun mengajukan beberapa syarat. Ada yang ingin menguburkan ayahnya dahulu (ay. 59) dan ada yang mau pamitan dahulu (ay. 61). Persyaratan ini mengindikasikan masih adanya keterikatan dengan hal-hal dunia, yang seharusnya dilepaskan ketika mengikuti Tuhan Yesus. Oleh karena itu, Tuhan Yesus menasehati mereka, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (ay. 62).
Sepintas nasehat Tuhan Yesus tadi tidak selaras dengan sikap Nehemia. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nehemia, dikisahkan bahwa Nehemia hidup di istana Raja Artahsasta. Sekalipun ia hidup dalam kemewahan istana raja, hatinya masih berada di Yehuda, yang sudah porak poranda. Malah ia memohon kepada raja agar diperkenankan untuk pulang dan membangun kembali kota Yehuda, termasuk Bait Suci. Permohonan itu dikabulkan. Perlu disadari bahwa terkabulkannya permohonan itu karena penyertaan Tuhan (ay. 8).
Sekilas dua bacaan hari ini bertentangan: Injil melarang menoleh ke belakang, bacaan pertama justru menoleh ke belakang. Namun perlu disadari bahwa keduanya memiliki kesamaan, yaitu demi kerajaan Allah. Niat Nehemia untuk membangun kembali Yehuda juga demi “kerajaan” Allah, karena di sanalah bait suci berada. Jadi, persoalannya bukan soal menoleh ke belakang atau tidak, melainkan demi kerajaan Allah atau bukan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat setiap karya dan perbuatan kita. Tuhan menghendaki supaya apa yang kita pikirkan dan kerjakan semata-mata demi kemuliaan Allah.***
by: adrian

Selasa, 29 September 2015

(Refleksi) Romo Juga Manusia: Benarkah?

ROMO JUGA MANUSIA # 2
Tentulah kita sering mendengar pernyataan ini: “Romo juga manusia!” Pernyataan ini biasanya diucapkan oleh romonya sendiri atau orang lain, yang ingin “membela” romonya. Umumnya pernyataan ini diungkapkan di saat romo melakukan kesalahan, entah itu kecil ataupun besar. Tujuannya supaya orang lain dapat memaklumi kesalahan itu.
Sebagai contoh, seorang romo datang terlambat saat misa pagi. Ia bangun telat, sebab semalam ia asyik nonton sepakbola hingga jam 03.15. Menyikapi keterlambatannya itu, dengan santai romo itu berujar, “Maaf. Romo juga manusia.” Atau ketika ada imam “jatuh” karena skandal, ada umat, yang karena ingin membela imamnya itu, berkata, “Romo kan manusia juga.”
Logika dari pernyataan ini berangkat dari premis tidak ada manusia yang sempurna. No body is perfect. Setiap manusia itu punya kelemahan dan kekurangan. Ia mudah jatuh ke dalam kesalahan. Seorang imam atau romo adalah juga manusia. Karena itu, wajar kalau ia mempunyai kesalahan.
Tentulah tidak akan ada orang yang menyangkal pernyataan tersebut. Karena seorang imam adalah manusia, maka ia punya kelemahan. Kelemahan manusiawi itulah yang membuat dia kerap jatuh ke dalam kesalahan.
Benarkah imam atau romo itu manusia? Kalau berangkat dari pernyataan ini, dapat dikatakan bahwa ada romo yang memang sadar bahwa dirinya benar manusia, namun ada juga yang bukan. Ada dua tipe romo yang sadar dirinya manusia. Pertama, tipe romo yang mau membenarkan diri atas kelemahannya. Ia menggunakan pernyataan “Romo juga manusia” untuk pembenaran diri, agar umat memakluminya. Tipe kedua adalah romo yang siap menerima kritik dan saran dari siapa saja. Frase “dari siapa saja” harus benar-benar mendapat tekanan, karena umumnya imam hanya mau menerima kritik dan saran dari uskup atau rekan imam yang dia sukai. Lebih dari itu ia akan berkomentar singkat, “Sirik!”
Akan tetapi ada juga imam yang tidak sadar dirinya manusia, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.” Romo seperti ini tampak jelas dalam diri mereka yang sulit menerima kritik, nasehat, teguran dan saran dari orang lain. Perlu disadari bahwa terkadang orang lain dapat melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Salah satunya kelemahan dan kekurangan kita.
Ada banyak imam selalu merasa diri benar dalam segala hal. Ia hanya melihat kesalahan dan kekurangan pada orang lain, sehingga merasa terpanggil untuk membenahi orang lain. Nasehat, kritik atau teguran yang ditujukan kepada dirinya dilihat sebagai bentuk pelecehan harkat dan martabatnya sebagai imam, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.”
Seandainya romo sadar bahwa dirinya adalah manusia, tentulah ia akan tahu adanya kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Kerap kelemahan dan kekurangan itu tidak disadari. Ibarat, kita tidak bisa melihat noda di wajah kita sendiri tanpa bantuan cermin. Orang lain adalah cermin bagi kita untuk menyadari kelemahan dan kekurangan. Cermin itu dapat berupa kritik, saran, teguran atau nasehat. Atas semua itu, seorang imam yang sadar dirinya manusia, akan dengan mudah menerimanya sebagai bahan perbaikan diri.
Pangkalpinang, 10 Agustus 2015
by: adrian
Baca juga refleksi lainnya:

Renungan Pesta Malaikat Agung

Renungan Pesta St. Mikael, Gabriel & Rafael
Bac I  Why 12: 7 – 12a; Injil               Yoh 1: 47 – 51;

Hari ini Gereja Universal mengajak umatnya untuk bergembira merayakan pesta para Malaikat Agung. Ada tiga malaikat agung dalam tradisi Gereja Katolik. Ketiganya adalah Mikael, Rafael dan Gabriel. Bacaan pertama hari ini menampilkan sosok Malaikat Mikael. Dalam Kitab Wahyu kepada Yohanes, Malaikat Mikael ditampilkan sebagai sosok panglima perang dalam memberantas kekuatan setan dan iblis. Ia mengepalai beberapa malaikat dalam peperangan tersebut.
Sedangkan dalam Injil tidak disebutkan secara spesifik dua malaikat lainnya. Yohanes menampilkan dialog antara Tuhan Yesus dan Natanael. Dalam dialog itu Tuhan Yesus menyebut adanya malaikat-malaikat Allah. Di sini mau ditegaskan bahwa malaikat itu ada. Akan tetapi ia menjadi entitas imani. Hanya iman yang memampukan kita untuk mengakui keberadaan mereka.
Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa para malaikat itu ada. Mereka adalah abdi Allah. Akan tetapi, keberadaan mereka tidak semata-mata mengabdi pada Allah, melainkan juga berperan dalam kehidupan manusia. Mereka mempunyai peran atau tugas khusus terhadap kehidupan manusia. Seperti tiga malaikat agung yang kita rayakan pestanya hari ini. Malaikat Mikael, seperti yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu, berperan melindungi kita dari serangan iblis. Malaikat Gabriel dikenal sebagai pembawa warta gembira, sedangkan Malaikat Rafael dikenal sebagai teman perjalanan dan penyembuh. Merayakan pesta tiga Malaikat Agung ini kita diajak untuk senantiasa memohon kepada mereka sesuai dengan tugas dan peran mereka. Di samping itu, kita diajak juga untuk ambil peran serta mereka dalam kehidupan kita.***

by: adrian

Senin, 28 September 2015

Orang Kudus 28 September: St. Laurensius Ruiz

SANTO LAURENSIUS RUIZ, PENGAKU IMAN
Laurensius Ruiz lahir pada sekitar tahun 1600 di Binondo, Manila, Filipina. Ia adalah putra dari seorang keturunan China dan Filipina. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan dari para Dominikan, dan juga sering bertugas sebagai putra altar. Ketika dewasa Laurensius bergabung dengan Cofradia del Santissimo Rosario atau Persaudaraan Rosario Suci.
Laurensius kemudian menikah dengan Rosario dan memiliki dua orang putra dan satu orang putri. Pada suatu ketika, ia dituduh membunuh seorang Spanyol. Dengan bantuan seorang imam Dominikan, ia menaiki sebuah kapal yang hendak menuju Jepang, bersama dengan Antonio Gonzales, Guillermo Courtet, Miguel de Aozaraza, Vicente Shiwozuka de la Cruz dan Lazaro dari Kyoto. Meskipun dapat turun di Pulau Formosa, Laurensius memiliki ikut bersama para misionaris itu ke Okinawa, Jepang.
Tak lama kemudian, keberadaan mereka semua diketahui dan mereka ditangkap. Mereka disiksa dengan sangat keras agar menyangkal imannya, namun tidak satu siksaanpun yang berhasil mengalahkan kesetiaan pada iman mereka. Pada 27 September 1637, Laurensius dibawa ke Nagasaki dan menerima siksaan terakhirnya, yaitu digantung secara terbalik. Laurensius Ruiz meninggal dunia pada 29 September 1637 di Nagasaki. Pada 18 Februari 1981 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, dan pada 18 Oktober 1987 ia dikanonisasi oleh Paus yang sama.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Senin Biasa XXVI - Thn I

Renungan Hari Senin Biasa XXVI, Thn B/I
Bac I  Za 8: 1 – 8; Injil              Luk 9: 46 – 50;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Nabi Zakaria. Di dalam kitabnya, Zakaria menyampaikan firman Allah kepada orang Israel. Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa Tuhan Allah akan selalu memperhatikan umat-Nya. Dia akan hadir di tengah kehidupan bangsa Israel dan merawat mereka sepanjang hari. Namun dibutuhkan sikap berserah diri umat Israel hanya kepada Allah saja. Umat Israel harus bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam kesetiaan dan kebenaran.
Sikap bergantung ini kembali diungkapkan Tuhan Yesus dalam Injil. Diceritakan bahwa para murid bertengkar soal siapa yang terbesar di antara mereka. Tuhan Yesus mengambil seorang anak kecil sebagai jawabannya. “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Anak kecil tidak punya kekuatan dalam dirinya sendiri. Dia juga tak memiliki kuasa. Hidupnya hanya bergantung pada orangtua. Sikap inilah yang hendak diwartakan Tuhan Yesus. Para murid diharapkan memiliki sikap demikian, bergantung kepada Allah, karena orang yang demikianlah yang terbesar.
Tak bisa dipungkiri dewasa ini banyak orang mengejar harta dan jabatan. Kesuksesan dan kehebatan seseorang diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya, serta apa dan seberapa banyak jabatan yang dipunyainya. Gejala ini bukan hanya merasuk kehidupan masyarakat awam, tetapi juga menyentuh kehidupan kaum berjubah. Orang menggantungkan dirinya pada harta dan jabatan itu. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengubah pola pandang seperti ini. Tuhan menghendaki supaya kita bergantung kepada-Nya.***
by: adrian

Minggu, 27 September 2015

Islam Membawa Manusia Kembali kepada Tradisi Yahudi

DARI MUSA, YESUS DAN MUHAMMAD
Musa, Yesus dan Muhammad adalah tiga tokoh penting dalam tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama itu dikenal dengan istilah Agama Samawi. Dapat dikatakan bahwa Musa, Yesus dan Muhammad merupakan peletak dasar religiositas tiga agama tadi. Musa sebagai peletak dasar bagi agama Yahudi, Yesus Kristus bagi kekristenan, dan Muhammad bagi agama Islam. Akan tetapi, tiga agama ini menyatu pada sosok Abraham.
Sebagai peletak dasar religiositas, ketiga tokoh tersebut mewakili masanya. Dan kebetulan kehadiran mereka dalam sejarah kehidupan manusia tidaklah sama, namun menunjukkan garis linear. Masing-masing hidup dengan sejarahnya. Musa hidup antara tahun 1527 – 1407 SM, Yesus Kristus hidup sekitar tahun 5 SM – 33 M, dan Muhammad hidup antara tahun 570 – 632 M.
Jadi, terlihat jelas bahwa setelah Musa meletakkan dasar religiositas bagi agama Yahudi, muncullah Yesus Kristus. Kemunculan-Nya jauh setelah kematian Musa. Sama halnya dengan kemunculan Muhammad. Jauh setelah Yesus Kristus wafat, dimana kematian-Nya melahirkan kekristenan, hadir Muhammad dengan dasar-dasar keislaman.
Karena kehadiran tokoh-tokoh ini searah sejarah manusia (gerak maju), maka sangat mudah dikatakan kalau kehadiran tokoh membawa pembaharuan atas dasar-dasar religiositas tokoh sebelumnya. Hal ini mirip seperti pemikiran filsafat Yunani kuno, yang didominasi oleh tiga filsuf terkenal, yaitu Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates (469 – 399 SM) meletakkan dasar-dasar pemikiran. Ketika Plato hadir (427 – 347 SM), ia membaharui beberapa pemikiran Sokrates. Namun ketika Aristoteles hadir (384 – 322 SM), giliran dia memperbaiki beberapa pemikiran Plato.
Demikianlah dengan ketiga tokoh agama samawi di atas. Yesus Kristus memperbaiki ajaran-ajaran Musa, dan Muhammad dapat dikatakan memperbaiki apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus berhasil membawa pembaharuan atas pengajaran Musa, apakah Muhammad juga demikian?
Jika diperhatikan baik-baik, dapat dikatakan bahwa Muhammad tidak membawa pembaharuan atas ajaran Yesus Kristus. Muhammad memang memperbaiki, namun perbaikannya tidak memunculkan hal yang baru. Malah dapat dikatakan perbaikan yang dilakukan Muhammad bukannya menciptakan “garis maju” pembaharuan ajaran, melainkan “garis mundur”. Ibarat anak tangga, kehadiran Muhammad yang seharusnya menghadirkan pengajaran satu tingkat di atas pengajaran Yesus Kristus, ini malah turun di bawah Yesus Kristus. Dan kalau turun berarti pengajaran Muhammad kembali kepada pengajaran Musa.
Muhammad bukan membaharui pengajaran Yesus Kristus, tetapi mengangkat kembali pengajaran Musa. Karena itulah, dasar-dasar religiositas Islam tak jauh berbeda dengan Yahudi. Ada banyak hal dalam agama Islam yang seakan menghidupkan kembali tradisi agama/orang Yahudi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Renungan Hari Minggu Biasa XXVI - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXVI, Thn B/I
Bac I  Bil 11: 25 – 29; Bac II               Yak 5: 1 – 6;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Bilangan. Di sini diceritakan bahwa Musa menegur Yosua, yang adalah abdinya. Sudah sejak masa muda Yosua mengikuti dan mengabdi pada Musa. Karena sudah sekian lama mengabdi pada Musa membuat Yosua merasa memiliki “kuasa”. Karena itu, ketika ada laporan perihal Eldad dan Medad, Yosua merasa punya kepentingan. Ia meminta Musa untuk mencegah kedua orang itu. Namun Musa menegornya, karena Yosua menilai mereka hanya menurut kacamatanya sendiri.
Dalam Injil juga Tuhan Yesus menegur para murid. Sama seperti Yosua para murid memiliki sikap angkuh, yang bersumber dari hidup lama bersama Tuhan Yesus (Yosua dengan Musa). Mereka merasa punya kuasa menentukan. Maka ketika ada orang lain mengusir setan demi nama Tuhan Yesus, mereka mencegah orang itu. Sama seperti Musa, Tuhan Yesus menegor para murid karena mereka menilai seseorang menurut cara pandang mereka saja.
Kesamaan cerita ini bukanlah suatu kebetulan. Musa yang menegur Yosua dalam Perjanjian Lama dan Tuhan Yesus yang menegur para murid dalam Perjanjian Baru. Hal ini memiliki makna bagi Tuhan Yesus. Dia-lah Musa Baru bagi Israel. Baik Musa maupun Tuhan Yesus sama-sama mengajak muridnya untuk menanggalkan "kacamata" yang digunakan untuk menilai orang lain.
Sering tanpa disadari, kita melihat dan menilai orang lain menurut "kacamata" kita. Rekan, sahabat, teman atau siapa saja kita ukur sesuai selera kita. Mereka yang tidak kita sukai, kita singkirkan. Orang yang tidak menyenangkan, dihindari. Hanya mereka yang disukai, karena mereka bisa menyenangkan saya, yang diterima dalam lingkungan pergaulan. Dengan sikap ini kita telah “membunuh” kebenaran. Hal inilah yang direfleksikan oleh Yakobus dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua. Dalam suratnya itu Yakobus berkata, “Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.” (ay. 6). Di sini Yakobus hendak mengajak kita untuk berlaku adil dengan menanggalkan “kacamata” penilaian kita.
Melalui sabda-Nya, hari ini Tuhan menghendaki kita untuk mau dan siap menerima siapa saja yang telah berbuat kebaikan dan mewartakan kebenaran. Kita harus mempunyai konsep bahwa mereka-mereka yang berjuang demi kemanusiaan, kebaikan, keadilan dan kebenaran, apapun agama, suku, ras dan golongannya, ada dalam satu kelompok dengan kita. Karena sebagai murid Kristus, kita juga terpanggil untuk mewujudkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.***
by: adrian

Sabtu, 26 September 2015

Orang Kudus 26 September: St. Gaspar Stanggassinger

BEATO GASPAR STANGGASSINGER, PENGAKU IMAN
Gaspar Stanggassinger lahir pada 1871 di Berchtesgaden, Jerman. Ia adalah putra seorang peternak, anak kedua dari 16 bersaudara. Sejak muda ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi seorang imam. Ketika ia berusia 10 tahun ia pergi ke Freising untuk melanjutkan sekolahnya. Ia mendapati pelajaran-pelajaran yang sulit. Sementara itu ayahnya memintanya untuk meninggalkan sekolah jika ia tidak lulus ujian.
Pada tahun-tahun berikutnya Gaspar mulai mengumpulkan kelompok anak laki-laki di sekitarnya selama liburan untuk mendorong mereka dalam kehidupan kristiani, membangun sebuah komunitas di antara mereka dan untuk mengisi waktu luang mereka. Setiap hari kelompok ini pergi mengikuti perayaan ekaristi atau pergi berziarah. Suatu ketika Gaspar mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang anak laki-laki yang dalam bahaya ketika memanjat gunung.
Gaspar masuk seminari di Keuskupan Munich dan Freising pada tahun 1890, dan mulai belajar teologi. Setelah kunjungannya ke biara Redemptoris, ia terinspirasi untuk mengikuti panggilan sebagai misionaris. Meskipun ditentang ayahnya, ia masuk novisiat Kongregasi Redemptoris di Gars pada tahun 1892. Gaspar kemudian diangkat oleh superiornya sebagai wakil direktur seminari kecil Durrnberg, dekat Hellein. Setiap minggu ia menghabiskan 28 jam mengajar di ruang kelas.
Sekalipun disibukkan dengan kegiatan di seminari, Gaspar tidak pernah lalai untuk memberikan bantuan kepada gereja-gereja di desa-desa tetangga dalam pelayanan ekaristi hari Minggu. Meski aturan-aturan yang berlaku saat itu sangatlah ketat, Gaspar tidak pernah bertindak kasar, dan kapanpun ia bebuat salah maka ia akan segera meminta maaf dengan kerendahan hati.
Pada tahun 1899, Redemptoris membuka seminari baru di Gars. Gaspar dipindahkan ke tempat itu dan ditunjuk sebagai direktur. Ia hanya sempat berhomili dalam sebuah retret murid-murid dan berpartisipasi dalam pembukaan tahun ajaran. Gaspar Stanggassinger meninggal dunia pada 26 September 1899 di Gars, Jerman karena sebuah penyakit. Pada 24 April 1988 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Sabtu Biasa XXV - Thn I

Renungan Hari Sabtu Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Za 2: 1 – 5, 10 – 11; Injil           Luk 9: 43 – 45;

Bacaan pertama hari ini diambil dari kitab Nabi Zakaria. Di dalam kitabnya, Zakaria menyampaikan penglihatannya. Lewat penglihatan itu mau dikatakan bahwa Tuhan Allah akan tinggal di tengah-tengah umat-Nya (ay. 10 – 11) dan menjadi kemuliaan bagi kota Yerusalem (ay. 5). Di sini bukan hanya mau ditunjukkan keistimewaan kota Yerusalem, tetapi juga terlihat bahwa Allah mau bersolider dengan umat-Nya. Allah ada bersama umat-Nya.
Gambaran Allah yang solider dengan umat-Nya terlihat juga dalam Injil hari ini. Pada awalnya Injil mengisahkan keheranan umat atas mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, yaitu mengusir roh jahat dari seorang anak muda. Lewat peristiwa itu mereka melihat Allah yang mahabesar. Namun belum puas dengan ketakjuban itu, para murid sudah dibingungkan dengan pernyataan Tuhan Yesus yang akan menderita. “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” (ay. 44). Dengan menderita, Tuhan Yesus menunjukkan solidaritas-Nya pada penderitaan manusia. Para rasul tidak mengerti akan hal ini. Mereka tidak bisa menerima kalau Allah yang hebat itu harus menderita.
Gambaran Allah yang menderita ini bukan saja tidak bisa diterima oleh para rasul. Sampai saat ini pun masih ada orang yang tidak percaya kalau yang disalib itu adalah Tuhan Yesus. Mereka ini menggunakan cara pikir manusia, yaitu kalau Tuhan itu maha kuasa, maka Ia dapat lolos dengan mudah dari penderitaan. Hanya manusia saja yang menderita. Karena itulah, mereka menganggap bahwa yang mati di salib itu adalah orang yang menyerupai Yesus. Sabda Tuhan hari ini menghendaki agar kita tidak takut akan penderitaan. Lewat sabda-Nya Tuhan mau mengatakan pada kita bahwa di saat kita mengalami penderitaan, kita tidaklah sendirian. Dia juga pernah menderita.***

by: adrian

Jumat, 25 September 2015

Cara Masuk Sorga

Pada suatu pengajaran Sekolah Minggu. Seperti biasa kakak Pembina mengawali dengan pembacaan teks Kitab Suci. Kali itu teks Kitab Suci diambil dari Injil Matius 19: 16 – 26 tentang bagaimana masuk ke dalam kerajaan sorga.
Usai membacakan teks Kitab Suci, kakak Pembina mengajukan pertanyaan kepada anak-anak.
Kakak          : Kalau kakak melaksanakan sepuluh perintah Allah, apakah kakak akan masuk sorga?
Anak-anak   : Tidak!
Kakak         : Kalau kakak ikut perayaan ekaristi setiap hari, rajin bersih-bersih gereja dan halamannya?
Anak-anak   : Tidak juga.
Kakak          : Kalau kakak menjual harta kakak dan memberinya ke orang miskin, apakah kakak akan masuk sorga?
Anak-anak   : Tidak!
Kakak          : Kalau begitu, bagaimana supaya kakak dapat masuk sorga?
Anton          : Kakak harus mati dulu.
Kakak         : #$@%^&%$@???
edited by: adrian
Baca juga humor lainnya:

Renungan Hari Jumat Biasa XXV - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Hag 2: 1b – 9; Injil                    Luk 9: 19 – 22;

Hari ini bacaan pertama masih diambil dari Kitab Hagai. Dalam bacaan pertama ini, melalui Nabi Hagai, Allah memperkenalkan diri-Nya. Perkenalan ini berkaitan dengan Rumah-Nya yang dibangun umat Israel. Dari warta Nabi Hagai ini dapatlah disimpulkan bahwa Allah Israel itu maha hebat. Demi kemegahan Rumah-Nya, Dia dapat “menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir.” (ay. 7). Di sini terlihat gambaran Allah, yaitu maha hebat dengan segala kemegahannya.
Tema perkenalan diri juga terlihat dalam Injil hari ini. Dalam Injil, Tuhan Yesus, yang adalah Allah, memperkenalkan diri. Memang bukan perkenalan itu bukan langsung dari Tuhan Yesus, melainkan dari para murid-Nya. Mewakili para rasul, Petrus memperkenalkan bahwa Tuhan Yesus adalah “Mesias dari Allah.” (ay. 20). Akan tetapi, gambaran Allah dalam Injil berbeda dengan gambaran Allah bacaan pertama. Dalam Injil gambaran Allah, yang tampak dalam diri Tuhan Yesus adalah Allah menderita, bukan Allah maha hebat dengan segala kemegahannya.
Melalui sabda Tuhan hari ini, kita dapat mengetahui bahwa Allah kita memiliki dimensi kuat dan lemah. Kuat dengan segala kemegahannya, dan lemah dengan penderitaannya. Karena itu, sabda Tuhan mengajarkan kita untuk tidak lari dari penderitaan. Allah saja memeluk penderitaan, kenapa kita harus takut. Gambaran Allah penderita mau menunjukkan solidaritas Allah pada manusia yang mengalami penderitaan, sehingga dengan demikian manusia tidak lari dari penderitaan atau malah mengutuknya.***

by: adrian

Kamis, 24 September 2015

Kenapa Tuhan Seakan Cuek?

KETIKA TUHAN “SEOLAH-OLAH” TIDUR
Injil adalah kitab yang bercerita tentang Tuhan Yesus. Umumnya orang mengetahui kalau Tuhan Yesus adalah pribadi yang tanggap akan situasi. Misalnya, ada 6 kali dikatakan tergerak hati-Nya oleh belas kasihan ketika melihat orang, entah itu yang terlantar (Mat 9: 36; Mrk 6: 34), sakit (Mat 14: 14; 20: 34; Mrk 1: 41), maupun yang sedang berduka (Luk 7: 13). Kepada orang-orang seperti ini Tuhan Yesus segera melakukan tindakan.
Segera melakukan tindakan atau tidak menunda-nunda dapat juga kita temukan dalam pelbagai aktivitas Tuhan Yesus menyembuhkan orang. Dari sekian banyak contoh, kita ambil satu contoh ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8: 1 – 3). Ketika orang kusta datang dan berkata kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”, segera Tuhan Yesus berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dan orang itu pun sembuh. Tuhan Yesus tidak mau menunda-nunda.
Akan tetapi, ternyata pernah juga Tuhan Yesus berlaku seolah-olah menunda. Dia tidak segera melakukan tindakan, meski sebenarnya Dia tahu apa yang hendak dilakukan. Sebagai contoh, kita ambil peristiwa Tuhan Yesus meredakan badai (Mrk 4: 35 – 41). Di sini akan ditampilkan 3 ayat saja:
“Mereka meninggalkan orang banyak itu, lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu, di mana Yesus telah duduk… Lalu mengamuklah badai yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan, di sebuah tilam. Maka, murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Dikatakan bahwa ketika badai melanda dan para murid berjuang setengah mati diliputi ketakutan, Tuhan Yesus justru tidur. Tidak jelas memang apakah Tuhan Yesus benar-benar tidur atau pura-pura tidur? Namun agak sulit membayangkan dalam situasi sulit seperti itu ada orang dapat tidur, apalagi orang yang sama sekali tidak punya latar belakang kelautan.
Dapatlah dikatakan bahwa Tuhan Yesus hanya “seolah-olah” tidur. Tindakan seolah-olah ini pernah juga dilakukan oleh Tuhan Yesus. Misalnya ketika Dia memberi makan 5000 orang (Yoh 6: 1 – 15). Dikatakan bahwa Tuhan Yesus bertanya kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal ini dikatakan-Nya untuk mencobai Filipus dan para murid lainnya, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya (ay. 6). Atau pada peristiwa Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11: 1 – 44). Ketika diberitahu Lazarus sakit, Tuhan Yesus tidak segera berangkat; malah Tuhan Yesus sengaja menunda dua hari lagi (ay. 6). Contoh lain, yang menunjukkan tindakan Tuhan Yesus yang seolah-olah, dapat kita baca dalam peristiwa Emaus (Luk 24: 13 – 35). Ketika dua murid berjalan ke Emaus, Tuhan Yesus hadir bersama mereka, namun mereka tidak mengenal-Nya. Dikatakan bahwa ketika mendekati kampung yang mau dituju, Tuhan Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya (ay. 28).
Tindakan Tuhan Yesus yang seolah-olah terkesan bahwa Dia tidak peduli. Hal ini tampak dari ungkapan para murid ketika mereka menghadapi badai. Mereka membangunkan Tuhan Yesus dan berkata, “Guru, apakah Engkau tidak peduli kita binasa?” Tapi, apakah benar Tuhan Yesus tidak peduli?

Orang Kudus 24 September: St. Pasifikus

SANTO PASIFIKUS, PENGAKU IMAN
Kekudusan Pasifikus bukan karena usaha-usahanya yang luar biasa, namun karena kesempurnaannya dalam melakukan tugas-tugas hariannya yang sederhana. Orangtuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Karena hal itu ia dipelihara oleh pamannya. Hingga umur 17 tahun Pasifikus bekerja pada pamannya sebagai pelayan. Ia sangat rajin, tapi pamannya memperlakukan dia secara sewenang-wenang. Karena sifatnya yang periang, Pasifikus tetap sehat walafiat, jiwa raganya.
Pasifikus kemudian masuk tarekat Fransiskan Observan di San Severino. Setelah menjadi imam, ia ditugaskan menjelajahi dusun-dusun di pedalaman untuk berkotbah dan mengajar serta melayani sakramen-sakramen. Ia seorang imam pengkotbah yang baik dan berhasil menobatkan banyak orang. Karena suatu penyakit yang menimpanya, Pasifikus menjadi lumpuh. Meskipun begitu ia tetap riang seperti biasa.
Karena kebijaksanaan dan kerendahan hatinya, Pasifikus kemudian diangkat menjadi pimpinan biara. Ia sangat disegani oleh rekan-rekannya maupun oleh umat di San Severino. Kepada rekan-rekan dan umatnya ia selalu menekankan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama.
Pasifikus adalah seorang pendoa besar. Saat-saat terakhir hidupnya penyakit yang dideritanya semakin mengganas sehingga membuatnya sangat menderita hingga akhir hidupnya. Pasifikus meninggal dunia pada tahun 1721.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Kamis Biasa XXV - Thn I

Renungan Hari Kamis Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Hag 1: 1 – 8; Injil            Luk 9: 7 – 9;

Bacaan pertama hari ini menampilkan nubuat Nabi Hagai. Satu pernyataan kunci adalah “Perhatikanlah keadaanmu!” Dua kali frase ini diulang (ay. 5 dan 7). Di sini Hagai mau mengajak orang Israel untuk bercermin diri. Pada waktu itu umat Israel banyak yang hanya memperhatikan diri sendiri sehingga lupa apa yang terpenting, yaitu Rumah Tuhan. Padahal mereka sudah selalu menerima kebaikan Tuhan. Karena itu, lewat seruannya, Hagai mau mengajak bangsa Israel untuk tahu diri.
Bercermin diri ini juga menjadi tema Injil hari ini. Bercermin diri ini terjadi dalam diri Herodes. Dalam Injil hari ini, diceritakan bahwa Herodes gelisah dengan kehadiran sosok Tuhan Yesus, yang dikatakan orang sebagai Yohanes yang bangkit kembali. Kegelisahan Herodes ini beralasan, karena ia takut boroknya kembali diungkit. Jadi, dengan kemunculan Tuhan Yesus, Herodes seakan bercermin diri, dan di sana ia melihat borok-borok dirinya.
Salah satu sifat manusia adalah selalu merasa kurang, sehingga ia selalu berusaha memenuhi keinginan dirinya. Namun sayangnya, sekalipun sudah terpenuhi sifat tersebut membuatnya senantiasa merasa kurang. Sifat ini membuat manusia lupa untuk bersyukur. Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa kita telah begitu banyak menerima rahmat dan berkat dari Tuhan. Akan tetapi sedikit orang yang benar-benar tahu berterima kasih kepada Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan menghendaki supaya kita tahu diri dan senantiasa meluangkan waktu untuk Tuhan.***

by: adrian

Rabu, 23 September 2015

Orang Kudus 23 September: St. Padre Pio

SANTO PADRE PIO PIETRELCINA, PENGAKU IMAN
Francesco Forgione lahir pada 25 Mei 1887 di Pietrelcina, Benevento, Italia. Ia adalah putra Grazio Forgione, seorang petani, dan Maria Giuseppa de Nunzio. Sejak kecil Francesco sudah berkeinginan untuk menjadi imam. Ketika mendengar kotbah seorang imam muda kapusin, Francesco ingin mewujudkan keinginannya dengan menjadi seorang biarawan Kapusin. Bersama orangtuanya, mereka berkunjung ke biara Kapusin di Morcone, dan Francesco disarankan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi untuk dapat bergabung menjadi seorang Kapusin. Untuk itu ayahnya memutuskan untuk pergi ke Amerika agar memperoleh penghasilan yang lebih tinggi sehingga dapat membiayai pendidikan Francesco.
Francesco menerima Sakramen Krisma pada 27 September 1899. Pada tanggal 6 Januari 1903, Francesco bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin di Morcone. Ia menerima jubah dan memilih nama baru: Pio, dari nama Santo Pius V, pelindung kota Pietrelcina, pada 22 Januari 1903. Di akhir masa novisiatnya, Pio mengikrarkan kaul sementaranya, dan 27 Januari 1907 ia mengikrarkan kaul kekalnya. Pada 10 Agustus 1910, Pio ditahbiskan sebagai imam, dan karena masalah kesehatan, ia kembali ke Pietrelcina dan berkarya di sana.
Pada September 1916, Padre Pio ditempatkan pada biara Kapusin di San Giovanni Rotondo. Setahun kemudian, tepatnya Agustus 1917, Padre Pio ditempatkan pada kesatuan militer, tetapi ia kembali ke San Giovanni Rotondo pada Maret 1918. Padre Pio kemudian menjadi seorang pembimbing spiritual.
Pada 20 September 1920, ketika Padre Pio berdoa di depan salib, ia melihat Kristus dengan luka-lukanya, dan setelah itu ia menerima stigmata. Padre Pio adalah imam pertama yang mendapatkan stigmata. Selain stigmata, Padre Pio memiliki berbagai macam karunia lainnya seperti dapat membaca perasaan atau kehidupan seseorang, bilokasi dan penyembuhan. Peristiwa ini menjadi berita yang cepat menyebar. Banyak orang kemudian datang kepada Padre Pio.
Padre Pio menghabiskan waktunya setiap hari untuk merayakan misa dan mendengarkan pengakuan dosa orang-orang yang datang kepadanya. Hal ini menarik perhatian Kantor Kudus. Pada Juni 1922 kegiatan Padre Pio mulai dibatasi, terutama untuk bertemu dengan umat. Pada 9 Juni 1931 Takhta Suci bahkan memerintahkan Padre Pio untuk menghentikan semua pelayanannya kecuali mempersembahkan kurban misa. Namun pada tahun 1933, Paus Pius XI mencabut semua larangan terhadap Padre Pio.
Secara bertahap Padre Pio kembali melayani pengakuan dosa. Padre Pio kemudian mendirikan Rumah Sakit Casa Sollievo della Sofferenza atau Wisma untuk Meringankan Penderitaan pada 5 Mei 1956. Ia juga membentuk sebuah kelompok doa yang masih ada hingga kini.
Pada tahun 1960 kesehatan Padre Pio sudah mulai menurun. Pada hari-hari menjelang kematiannya, Padre Pio masih mempersembahkan kurban misa. Padre Pio meninggal dunia pada 23 September 1968 di San Giovanni Rotondo, Goggia, Italia. Pada 2 Mei 1999 ia dibeatifikasi, dan pada 16 Juni 2002 ia dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Rabu Biasa XXV - Thn I

Renungan Hari Rabu Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Ezr 9: 5 – 9; Injil             Luk 9: 1 – 6;

Bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Kitab Ezra, mengungkapkan doa Ezra, mewakili umat Israel, kepada Allah. Dalam doa itu Ezra mengisahkan kembali peristiwa pembuangan yang dialami bangsa Israel. Peristiwa itu dilihat dalam kacamata iman, yaitu sebagai hukuman dari Allah atas ketidaksetiaan umat kepada Allah. Namun yang menarik dari doa itu adalah sharing iman bahwa sekalipun dalam pembuangan dan berlaku sebagai budak, Allah tidak meninggalkan umat-Nya (ay. 9). Allah tetap menyertai mereka.
Hal ini terlihat juga dalam Injil hari ini. Dalam Injil dikisahkan bahwa Tuhan Yesus mengutus para rasul-Nya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit. Tuhan Yesus tidak mengutus mereka dalam keadaan “kosong”. Mereka dibekali oleh Tuhan Yesus tenaga dan kuasa-Nya. Ini berarti juga bahwa Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka sendirian, melainkan tetap menyertai mereka. Penyembuhan yang mereka lakukan menunjukkan kehadiran Tuhan Yesus yang menyembuhkan.
Dalam kehidupan ini, kita selalu mengalami peristiwa suka dan duka. Tak jarang kita hanya melihat Tuhan dalam peristiwa suka. Sementara saat mengalami kedukaan, kita menilai Tuhan meninggalkan kita. Melalui sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki kita untuk memiliki sikap seperti orang Israel, yang diwakili Ezra. Kita harus sadar bahwa karena cinta-Nya yang besar kepada kita, Tuhan tidak akan meninggalkan kita sendirian menghadapi kesulitan hidup. Dalam situasi duka sekalipun Tuhan tetap hadir. Persoalannya, apakah kita menyadarinya?***

by: adrian

Selasa, 22 September 2015

Antara Penting dan Bermasalah

ORANG PENTING ATAU ORANG BERMASALAH
Usai merayakan misa, rombongan suster RGS mampir sejenak di pastoran. Kebetulan ada tiga orang suster tamu. Jadi sekalian mau lihat pastoran, kenalan dengan pastor yang tadi memimpin misa.
Saya keluar menyapa mereka. Usai bersalam-salaman, kami pun mulai pembicaraan ringan. Salah satu topik pembicaraan adalah domisili saya. Seorang suster tamu, kebetulan sudah beberapa kali ke Batam, baru pertama kali bertemu dengan saya. Karena itu, ia bertanya sejak kapan tugas di Tiban.
Sadar bahwa arah pertanyaannya menyangkut domisili, maka saya segera memperbaikinya. Saya tekankan bahwa saat ini saya sedang dalam posisi tamu di Paroki Tiban. Domisili saya di Pangkalpinang, di keuskupan.
Mendengar bahwa saya tinggal di keuskupan, seorang suster langsung berkomentar, “Biasanya, yang tinggal di keuskupan itu antara dua: orang penting atau bermasalah.” Setelah ia menyelesaikan kalimatnya itu, ia menatap saya sambil tersenyum.
Saya pun langsung menjawabnya secara diplomatis, “Tidak jauh beda seperti dunia militer, Suster. Ada istilah di-Mabes-kan.”
“Jadi, romo masuk kategori pertama atau kedua?” Suster seakan tidak ingin jawaban diplomatis. Ia ingin hitam – putih.
“Saya merasa yang kedua, Suster. Karena, kalau yang pertama, kerja saya tidaklah terlalu penting. Penting pun tidak.”
Dengan jawaban ini, diharapkan suster dapat memahaminya. Saya mengatakan bahwa saya masuk kategori kedua, karena saya sendiri tidak dapat menjelaskan alasan kategori pertama. Kategori pertama mengisyaratkan saya sebagai orang penting, namun saya tidak tahu dimana letak pentingnya peran saya.
Karena tidak dapat menjelaskan letak pentingnya peran saya, maka saya akhirnya memilih kategori kedua. Akan tetapi, pilihan kategori kedua pun masih menyisahkan kebingungan, karena saya juga tidak tahu dimana letak masalah saya.
Jadi, saya tidak masuk kategori pertama, karena sama sekali peran saya tidak penting. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas harian saya selama berada di keuskupan. Amat sangat jarang sekali saya masuk “kantor” di ruang IT. Hari-hari hanya santai saja. Pelayanan paroki sama sekali tak pernah (karena tak dipakai oleh paroki). Untuk mengurus web, dapat saya lakukan dimanapun saya berada sejauh terkonek jaringan internet. Tidak masuk pada kategori pertama inilah menyisahkan pilihan lainnya, yaitu kategori kedua. Namun pilihan ini masih menyisahkan pertanyaan dalam diri saya: apa masalah saya. Saya memastikan bahwa saya ada masalah (maklum, setiap manusia pasti punya masalah), tapi saya tidak tahu masalahnya. Hanya uskup saja yang mungkin tahu.
Batam, 22 Juli 2015
by: adrian
Baca juga refleksi lainnya:

Orang Kudus 22 September: St. Mauritius

SANTO MAURITIUS, MARTIR
Informasi mengenai orang kudus ini sangat terbatas. Yang pasti Mauritius hidup pada abad III. Ia adalah perwira tinggi Romawi yang berasal dari Thebais, Mesir. Oleh kaisar Mairitius diserahi tugas memimpin sejumlah pasukan dalam Legiun Theban yang terkenal gesit dan berani. Bersama dengan beberapa kawannya, Mauritius dikenal sebagai pengikuti Kristus.
Dalam suatu upacara penghormatan kepada dewa-dewi Romawi, Mauritius bersama kawan-kawannya yang Kristen menolak untuk hadir. Sekalipun diperintahkan oleh kaisar, mereka tidak mau terlibat dalam upcara korban kepada dewa-dewi Romawi, karena hal itu bertentangan dengan iman mereka kepada Kristus. Karena itu, mereka kemudian dibunuh atas perinta Kaisar Maksimianus. Kejadian itu terjadi pada akhir abad III.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Selasa Biasa XXV - Thn I

Renungan Hari Selasa Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Ezr 6: 7 – 8, 12, 14 – 20; Injil             Luk 8: 19 – 21;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Ezra. Di sini diceritakan tentang pembangunan Bait Allah atas perintah Raja Koresh. Satu hal yang menarik adalah bahwa penyelesaian pembangunan itu “menurut perintah Allah Israel, dan menurut perintah Koresh, Darius, dan Arthasasta, raja-raja negeri Persia.” (ay. 14). Dari pernyataan ini terlihat jelas bahwa Allah mendapat posisi pertama, baru kemudian para raja. Jadi, orang Israel, dalam proses pembangunan Bait Allah itu, mengutamakan kehendak Allah.
Sikap seperti inilah yang hendak diwartakan Tuhan Yesus dalam Injil. Dalam hubungan relasional, Tuhan Yesus meminta para murid-Nya untuk mengutamakan relasi dengan Allah. Hal ini dicontohkan Tuhan Yesus sendiri dalam kaitannya dengan relasi-Nya dengan keluarga-Nya. Tuhan Yesus tidak mau hanya membatasi diri pada relasi duniawi, melainkan juga relasi spiritual. Relasi spiritual ini membuat setiap orang terhubungkan satu sama lain. Dan penghubung itu ada pada melakukan kehendak Allah.
Manusia adalah makhluk sosial. Kesosialan itu membuat manusia berelasi dengan orang lain. Akan tetapi, dalam membangun relasi itu, tak jarang manusia mendasarkan relasinya pada ikatan kekeluargaan, suku, golongan, agama atau kepentingan. Hal ini membuat manusia hidup dalam sekat-sekat. Hari ini sabda Tuhan menghendaki supaya kita mau membuka sekat-sekat relasional kita. Kita hendaknya mengutamakan kehendak Allah dalam hidup sehingga dengan demikian kita dapat membangun persahabatan dengan siapa saja. Kehendak Allah membuat kita bersatu dalam ikatan kekeluargaan.***

by: adrian

Senin, 21 September 2015

Ziarah ke Israel #19

GEREJA MARIA TERTIDUR
Setelah melaksanakan perayaan ekaristi di Taman Getsemani, kami menuju ke Gereja Maria Tertidur. Nama gereja ini untuk membedakan gereja lain yang diakui oleh saudara protestan, yaitu gereja yang diyakini tempat Maria dikuburkan.
Perbedaan ini dilatar-belakangi oleh perbedaan pandangan. Saudara protestan melihat Bunda Maria meninggal, seperti manusia lainnya. Dasarnya adalah Bunda Maria adalah manusia biasa, seperti kita. Sementara Gereja Katolik melihat Bunda Maria sebagai manusia luar biasa. Dia sangat istimewa. Karena keistimewaannya itulah Bunda Maria tidak mati, melainkan diangkat ke surga.
Ada satu gambar unik yang melukiskan tema tadi. Pada salah satu dinding ada lukisan Tuhan Yesus sedang menggendong Maria yang berwujud bayi. Tuhan Yesus sedang membawa bayi itu, yang adalah Bunda Maria ke surga. Lukisan ini berbeda dengan kebanyakan, di mana Bunda Marialah yang biasanya tampil dengan menggendong Yesus.