Senin, 04 Juni 2012

(Pencerahan) Bahaya Doa


DOA BISA BERBAHAYA

Salah seorang sahabatku senang sekali karena isterinya mengandung. Ia ingin sekali mendapatkan anak laki-laki. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan dan menjanjikan berbagai kaul dengan ujud itu.

Maka terjadilah, bahwa isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Sahabatku bergembira sekali dan mengundang seluruh penduduk kampung untuk merayakan pesta syukur.

Bertahun-tahun kemudian, sekembaliku dari Mekah, aku melewati kampung sahabatku itu. Aku diberitahu bahwa ia dipenjara.

“Mengapa? Apa kesalahannya?” Tanyaku

Tetangganya berkata, “Anaknya mabuk, membunuh orang dan kemudian melarikan diri. Maka ayahnya lalu ditangkap dan dipenjarakan.”
ð   
Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan perbuatan yang patut dipuji. Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya.

By: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya:

Mukjizat Ekaristi

Setiap hari Minggu, umat Katolik senantiasa melakukan apa yang pernah diminta Tuhan Yesus dengan mengadakan perayaan ekaristi. "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku." Demikian pinta-Nya. Dan hosti yang dibagikan itu adalah benar-benar tubuh Kristus. Sebelum ekaristi  hosti itu memang hanyalah sebuah roti tak beragi. Namun, setelah diberkati imam dalam Doa Syukur Agung, tepatnya saat konsekrasi, hosti itu menjadi tubuh Kristus. Hanya mata iman yang bisa melihatnya. Persis syair lagu Allah yang Tersamar (Puji Syukur 557): "Allah yang tersamar, Dikau kusembah// Sungguh tersembunyi, roti wujudnya//..." 
Namun masih saja banyak orang yang tidak percaya akan kebenaran itu. Bahkan dari orang Katolik sendiri belum sepenuhnya bisa menerima bahwa hosti yang disambutnya saat komuni adalah benar-benar tubuh/daging Kristus, sebagaimana yang pernah dikatakan Yesus sendiri, "Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." (Yoh 6: 55).

Berikut ini akan ditampilkan beberapa gambar mukjizat ekaristi. Empat gambar terakhir terjadi di Indonesia pada bulan April 2012 lalu. Kami tidak tahu apakah ini dapat menghapus keraguan banyak orang. Bukan maksud kami untuk membuat Anda percaya. Karena soal percaya atau tidak adalah hak Anda. Kami hanya mau berbagi cerita. Berkaitan dengan percaya atau tidak, kami mengikuti apa yang pernah dikatakan Yesus, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20: 29).

Renungan Hari Senin Biasa IX - Thn II


Renungan Hari Senin Biasa IX B/II
Bac I        2Ptr 1: 1 – 7 ; Injil             Mrk 12: 1 – 12

Kalau kita baca Injil hari ini dengan baik-baik dan dengan penuh perasaan, satu kata yang akan keluar dari mulut kita adalah: T E R L A L U! Kata “terlalu” ini bisa saja kita tujukan kepada para penggarap, tapi bisa juga ditujukan kepada Tuan yang empunya kebun. Para penggarap, yang sudah diberi pekerjaan (pekerjaan bisa juga diartikan sebagai kehidupan dan status sosial) namun balasannya kepada tuan yang telah memberikan pekerjaan itu sungguh terlalu. Para penggarap ini memang sungguh keterlaluan. Tidak tahu malu, tidak tahu berterima kasih dan tak tahu diri. Ini bisa disebabkan karena adanya sifat serakah dalam diri mereka. Sifat serakah inilah yang membuat mereka lupa diri dan tak memiliki sikap syukur.
Sang Tuan empunya kebun juga dapat kita katakan terlalu. Dia sungguh terlalu baik. Sudah tahu beberapa hambanya yang beberapa kali diutus tidak membawa hasil, malah ada yang dibunuh, masih juga mengutus putranya. Baik yang keterlaluan ini sungguh jauh dari nalar manusia. Tidak akan ada manusia bisa seperti itu. Dan inilah gambaran Allah, karena Dia memang maha baik.
Bacaan Injil dapat dijadikan cermin relasi kita dengan Allah. Sejauh mana sikap saya terhadap Allah yang maha baik. Apakah saya bersikap seperti penggarap-penggarap kebun yang tidak tahu diri itu? Dengan cermin ini kita bisa berbenah diri. Kita diajak untuk melihat ke diri kita sendiri: kekurangan dan kelemahan diri kita dalam bersikap dan berelasi dengan Tuhan. Setelah kita temukan, maka segeralah berbenah agar kita bisa tampil sempurna di hahadapan-Nya.
Bacaan Injil ini juga bisa kita jadikan cermin relasi kita dengan sesama kita. Tak jarang Allah berkarya dalam diri orang lain, yaitu sesama kita. Kita bisa merasakan kebaikan Allah dalam diri sesama kita. Nah, bagaimana sikap kita? Apakah kita juga tak tahu diri seperti para penggarap kebun itu? T E R L A L U, jika demikian.

Intinya, kita diajak untuk senantiasa menghaturkan terima kasih atas kebaikan yang kita terima; atas segala rahmat dan berkat yang kita nikmati. Untuk itu, kita hendaknya menanamkan sikap rasa syukur dan menghilangkan sifat serakah dalam diri kita.
by: adrian