Sabtu, 07 September 2013

(C E R P E N) Diakon Yudas

DIAKON  YUDAS
Dalam bilik kamar 26 Rumah Retret Puri Samadhi, diakon Yudas duduk resah dan gelisah (kayak lagu Obie Mesakh, aja!). Bukan lantaran cuaca siang itu yang membuatnya demikian, melainkan keputusan yang mau diambilnya. Yah, hari ini merupakan hari terakhir retretnya bersama empat rekannya: diakon Alex, diakon Beni, diakon Budi dan diakon Heru. Retret menjelang tahbisan. Mereka dihadapkan pada pilihan maju atau mundur.

Kertas di depannya masih terlihat bersih. Satu kertas untuk membuat surat lamaran, jika ingin lanjut menjadi imam atau surat pernyataan mundur, jika tak siap menerima tahbisan imamat. Kertas yang lain untuk menulis refleksi panggilan sebagai lampirannya. Belum ada satu rangkaian kata atau kalimat yang mengotori kertas-kertas itu.

Diakon Yudas merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Dua kakinya berselonjor ke depan. Matanya menerawang langit-langit kamar, mencari-cari jawaban di sana. Hembusan angin yang masuk lewat jendela kamar sedikit mengusir udara panas. Agak terasa sejuk. Tapi hati dan pikirannya terus berkecamuk dengan pilihan itu.

Diambilnya buku catatan yang berisi bahan retret yang diberikan romo vikjen. Bahan itu sebagian besar diambil dari dekrit Presbyterorum Ordinis, salah satu dokumen Konsili Vatikan II yang memang berbicara soal imam. Dia membaca mulai dari pertemuan pertama hingga pertemuan enam di hari ketiga kemarin. Hasil refleksi atas tiap pertemuan tak luput dari perhatiannya.

Namun semua itu tak mampu mengusir kegalauannya yang membuntukan hati dan pikiran akan jawaban atau keputusan. Akar kegalauannya ada pada tiga nasehat Injil yang harus dihidupi setiap imam: miskin, taat dan selibat.

Sebenarnya yang dibingungkan diakon Yudas bukan soal bagaimana cara menghayati tiga nasehat Injil itu, melainkan nasehat mana yang bisa dikompromi.

Lho, koq bisa begitu?

Entah kebetulan atau tidak, hal ini berkaitan dengan nama yang diberikan kepadanya. Yudas Elang Putra Bungsu adalah nama lengkapnya. Dia tidak tahu Yudas dalam namanya itu mengacu pada Yudas Tadeus atau Yudas Iskariot. Dia pun baru sadar ketika tahun pertama di seminari menengah, seorang guru menanyakan hal itu. Dia tidak bisa memberikan kepastian karena bapak dan ibunya sudah tiada.

“Paman pun tidak tahu,” jelas pamannya, yang merangkap sebagai orang tuanya sejak ia dan kakaknya berstatus yatim piatu, di suatu sore. “Yang baptis kamu itu..,  diakoonn..., waduh, sudah lupa namanya. Dengar-dengar sudah keluar dia. Entahlah di mana dia sekarang.”

“Aku tak peduli siapa yang baptis, tapi Yudas itu si Tadeuskah atau Iskariot? Kalau Tadeus, kenapa dari dulu tidak langsung dipasang saja.”

“Manalah paman tahu. Paman cuma bisa jelaskan soal Elang. Itupun karena paman yang usulkan. Paman dan juga keluarga yang lain berharap kamu kelak seperti burung Elang, yang cepat melihat dan menangkap mangsa. Ada peluang sikat. Ada kesempatan sergap. Dalam dunia bisnis orang seperti ini akan cepat kaya. Itulah yang kami harapkan darimu. Eh, malah kamu masuk seminari ingin jadi imam.”

Kaya! Memang setiap orang ingin menjadi kaya, hidup berkelimpahan materi. Apalagi bagi keluarga diakon Yudas yang berasal dari keluarga miskin di kampung kecil dan terpencil. Tak ada fasilitas umum yang memadai. Sekolah yang ada hanya satu SD. Itupun beberapa ruang kelasnya nyaris ambruk. Jangan tanya soal sarana kesehatan. Kalau mau mendapatkan layanan medis, mereka harus berjalan 5-7 jam. Itupun dengan catatan petugas atau obatnya ada. Ibu bapaknya meninggal pun karena tidak ada penanganan medis. Ibunya meninggal segera setelah melahirkan dirinya (ini menjelaskan kata ‘Putra Bungsu’ pada namanya), sedangkan bapak meninggal akibat malairia akut. Waktu itu umurnya baru dua tahun.

Mungkin keluarga merasa bosan dengan kemiskinan ini sehingga mendambakan kekayaan. Dan harapan itu diletakkan di atas pundaknya dengan menyematkan nama Elang.

Yudas termenung saja. Penjelasan pamannya soal kata “Elang” pada namanya membuat dia berpikir apakah kata itu merupakan kamuflase dari kata Iskariot? Bukankah Yudas Iskariot suka mencuri uang kas yang dipegangnya? Bukankah kepedulian kepada orang miskin dan kecil hanya sebagai kedok untuk menangkap peluang?

Akh, tak mungkin bapak memberi nama yang buruk. Dan ia segera melupakan masalah itu. Baginya dia adalah Tudas Tadeus, meski banyak teman melihat dan memanggil dia Iskariot.

Dan kini ia dihadapkan pada kompromi atas tiga nasehat Injil. Meski Yesus menuntut penghayatan yang radikal, diakon Yudas mencoba menawar-nawar. Apakah kompromi merupakan bentuk pengkhiatan atas tuntutan radikal Yesus? Jadi, benar apa yang dikatakan kawan-kawannya dulu bahwa dia ini Iskariot, si pengkhianat Yesus.

Diakon Yudas kembali membaca topik-topik permenungan berkaitan dengan tiga nasehat Injil. Selibat. Seorang imam harus menjaga kemurnian dan tidak boleh menikah. Bagaimana jika kaul ini dilanggar? Aib dan keluar. Kalau bermain-main dengan kaul ini hasilnya: Anak. Anak itu tak bisa lho disembunyikan. Banyak imam keluar karena alasan ini, dan kalaupun mau bertahan, rasa malu senantiasa menyertai. Kecuali jika ia tak punya lagi hati nurani.

Taat. Ketaatan ini bukan hanya kepada uskup tetapi juga kepada Magisterium Gereja. Jelas sekali nasehat yang satu ini tidak bisa diajak kompromi. Melawan uskup tentu akan berdampak pada pencabutan yurisdiksi atau malah dikeluarkan. Apalagi menentang atau melawan ajaran Magisterium Gereja. Bisa-bisa kena suspensi atau ekskomunikasi.

Miskin. Dekrit Presbyterorum Ordinis mengatakannya kemiskinan sukarela. Saya suka miskin, tapi tak rela, batin diakon Yudas. Ia tersenyum. Memang ada yang tak suka dan tak rela. Soal ini ada dua hal penting dari penjelasan romo vikjen. Kita dapat memiliki harta benda dengan seolah-olah tidak memilikinya dan harta duniawi digunakan untuk hidup layak.

A ha, diakon Yudas tersentak kaget. Apakah beberapa imam di keuskupannya yang mempunyai mobil, tablet super canggih, kebun atau benda-benda teknologi canggih nan mewah lainnya seolah-olah tidak memilikinya? Apakah semua yang dimiliki itu merupakan kriteria hidup layak? Dan wajar saja mereka selalu bilang, “Akh, ini kan umat beri!” Artinya, umat membantu imamnya ‘melanggar’ janji yang satu ini. Dan sampai sekarang belum ada imam yang dikeluarkan karena alasan ini. Ada kesempatan memenuhi harapan keluarga.

Tok, tok, tok! Pintu kamarnya diketuk dari luar. Sebuah suara, itu suaranya diakon Heru, memanggil dan mengajaknya makan siang. Ia melihat arlojinya. 12.35. Sial, tak sempat brevir, pikirnya sambil melirik buku brevir di sisi kanan meja. Diakon Yudas beranjak meninggalkan kamarnya, bergabung bersama keempat rekannya yang sudah sedang makan. Langkahnya terasa ringan. Apakah ia sudah menemukan keputusan?
Moro, 3 Nov 2012

by: adrian
Baca juga:
1.      Ternyata ….
4.      Korupsi dan Gereja
5.      Ketika Suara Hati Mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar