Senin, 24 Februari 2020

PAUS FRANSISKUS: KITA SEMUA MISKIN DALAM ROH


DALAM bahasa Yunani dimana Injil ditulis, berdukacita seperti itu dijelaskan oleh Bapa-bapa Gurun dengan kata Yunani “penthos” yang merupakan dukacita batin yang bisa membuat kita terbuka pada hubungan otentik dengan Tuhan dan satu sama lain. Paus Fransiskus mengatakan hal itu dalam audensi umum mingguan di Aula Paulus VI, 12 Februari 2020, ketika merenungkan Sabda Bahagia kedua, yakni “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
Menurut Paus Fransiskus, Alkitab berbicara tentang dua jenis kedukaan. Pertama, untuk “kematian atau penderitaan seseorang.” Dukacita ini “adalah jalan pahit, tetapi bisa digunakan untuk membuka mata seseorang terhadap kehidupan dan nilai sakral dan tak tergantikan dari setiap orang, dan orang pun menyadari betapa singkatnya waktu.”
Aspek lain, Paus Fransiskus menyoroti “air mata karena dosa – dosa sendiri – ketika hati seseorang berdarah kesakitan karena melukai hati Allah dan sesama.” Dengan menyebut Santo Petrus sebagai contoh dalam mengungkapkan dukacita karena dosa, Paus Fransiskus menjelaskan dukacitanya dinyatakan dengan air matanya setelah mengkhianati Yesus yang datang sebagai karunia dari Roh Kudus, Sang Penghibur.

KISAH ANAK SEKOLAH MINGGU


Adalah seorang anak bernama Toni. Dia baru pulang dari mengikuti Sekolah Minggu di aula pastoran. Hari itu pelajaran Sekolah Minggu membahas kisah penyeberangan Laut Merah, yang diambil dari Kitab Keluaran.
Setibanya di rumah, sang Ibu menyambut dan memeluk Toni. Dia bertanya kepada anaknya apa yang baru dipelajari dalam Sekolah Minggu. Tanpa ada nada antusias, Toni mengatakan, “Kisah bangsa Israel menyeberangi Laut Merah.”
“Gimana kisahnya? Tolong ceritakan, mama pengen dengar,” pinta sang Ibu sedikit antusias.
Toni menatap wajah ibunya. Setelah itu barulah dia bercerita. “Bangsa Israel meninggalkan tanah Mesir, namun Firaun bersama balatentaranya memburu mereka. Mereka akhirnya sampai ke Laut Merah dan tak dapat menyeberanginya. Sementara itu balatentara Mesir semakin dekat. Maka Musa segera mengeluarkan walkie-talkienya, dan tak lama kemudian angkatan udara Israel membomi tentara Mesir, angkatan laut Israel membangun jembatan ponton sehingga orang-orang Israel itu dapat menyeberang.”
Sang Ibu terkejut setengah mati. “Begitukah guru agamamu menceritakan kisah itu kepadamu?”
“Memang tidak,” aku Toni dengan santai. “Tetapi kalau kuulangi kisah itu kepada mama dengan cara seperti yang mereka pakai waktu menceritakannya kepada kami, pasti mama tidak akan mempercayainya.”
Diolah kembali dari Harold S. Kushner, Derita, Kutuk atau Rahmat: Manakala Kemalangan Menimpa Orang Saleh. Yogyakarta: Kanisius, hlm 73.

PAUS FRANSISKUS: LANSIA BERPERAN DALAM RENCANA KESELAMATAN ALLAH

Lansia adalah “harta berharga yang terbentuk dalam perjalanan setiap kehidupan pria dan wanita, apa pun asal usul, latar belakang, atau kondisi ekonomi atau sosial mereka. Hidup adalah karunia, dan jika usia hidupnya panjang, itu hak istimewa, untuk diri sendiri dan orang lain.” Demikian tegas Paus Fransiskus saat menerima peserta konferensi tentang perhatian pastoral para lansia dalam audensi 31 Januari 2020. Kepada para peserta konferensi Paus Fransiskus meminta agar Gereja “mengubah sikap pastoralnya guna menanggapi kehadiran begitu banyak orang lansia dalam keluarga dan komunitas” dan “perhatian para lansia, datangi mereka dengan senyum di wajahmu dan Injil di tanganmu.”
Dunia saat ini, lanjut Paus Fransiskus, menghadapi perubahan demografis yang signifikan, orang muda menjadi lebih sedikit dan jumlah lansia meningkat. Masalah yang dihadapi lansia, papar Paus Fransiskus, antara lain disorientasi sosial, dan sikap acuh tak acuh dan penolakan dari masyarakat. Untuk itu, Gereja dan masyarakat dipanggil “untuk merenung secara serius guna belajar memahami dan menghargai nilai usia lanjut.”
Merujuk tema konferensi, yang berlangsung 29 – 31 Januari, Paus Fransiskus mengatakan, “kekayaan hidup bertahun-tahun ... adalah kekayaan orang, setiap orang yang memiliki pengalaman hidup dan sejarah bertahun-tahun sebelumnya. Paus Fransiskus menyambut konferensi itu, dan meminta agar konferensi itu tidak hanya menjadi “prakarsa terpencil” tetapi boleh menjadi awal “perjalanan pendalaman dan pencermatan pastoral.” Menurut Paus Fransiskus, “Kita perlu mengubah kebiasaan pastoral kita guna menanggapi kehadiran begitu banyak lansia dalam keluarga dan komunitas kita.”