Rabu, 30 Mei 2012

Menanam Budaya Membaca

Hari Sabtu lalu saya ngobrol dengan salah seorang umat. Dia mengutarakan keinginannya akan tumbuhnya minat baca dalan diri anak-anaknya. Dia sadar akan manfaat membaca, namun dia tidak menemukan minat baca dalam diri anaknya. Dia mau menumbuhkan minat itu, namun dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Berikut ini ada artikel menarik berkaitan dengan minat baca pada anak. Semoga dapat bermanfaat.

Membaca memang sangat menyenangkan, hanya saja kita selalu malas untuk membuka-buka buku. Padahal jika kita tahu sebenarnya jawaban dari semua pertanyaan yang membelit kita ada pada sebuah buku, tetapi kita tidak tahu karena kita malas membacanya.

Mengapa membaca? Dengan membaca manusia dapat menyerap sedemikian rupa ilmu yang dapat mencerahkan dirinya. Sedangkan ilmu itu sendiri merupakan kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Membaca merupakan kebutuhan rohani, seperti halnya mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. Namun kadang membaca memberikan gizi yang lebih untuk rohani kita.

Untuk menjadi seorang penulis yang dibutuhkan bukanlah terus menerus menulis, tapi yang perlu dilakukan adalah membaca. Untuk menemukan gaya membaca. Seperti teori kendi, jika kendi yang kosong diisi secara terus menerus dengan air, maka kendi itu akan penuh dan air yang lebihnya itu akan meluber, dan luberan itulah yang kelak akan menjadi tulisan.

Sebuah survei membuktikan bahwa masyarakat di Jepang mempunyai minat baca yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan jumlah buku yang terbit di Jepang lebih dari 40.000 judul buku pertahun. Sedangkan yang terbit di Indonesia sekitar 3000 judul buku pertahun. Perbandingan yang sangat jauh. Apalagi jika dibandingkan dengan negara Super Power, Amerika Serikat. Di negara ini sekitar 100.000 judul buku diterbitkan pertahunnya. Sedikitnya jumlah buku yang terbit di Indonesia mengisyaratkan betapa rendahnya minat baca masyarakat kita. Tidak heran jika kedua negara di atas cepat berkembang bahkan sampai berhasil menguasai dunia.

Sudah jelas, kunci membangun peradaban sebuah bangsa adalah dengan membaca, begitupun seseorang yang ingin terus mengembangkan dirinya ke tingkat optimalisasi, kuncinya adalah membiasakan membaca. Sebab unggul tidaknya sebuah negara tergantung dari unggul tidaknya masyarakat yang ada di dalamnya.

Kita lebih senang menonton film apalagi untuk seputar dunia wanita  yang giat nonton sinetron, atau mendengarkan musik dari pada membaca buku, sebab ketika kita menonton atau mendengarkan musik, otak kita tidak dituntut untuk bekerja keras. Saat itu otak kita hanya mengikuti alur cerita atau alunan nada itu bergerak. Sedangkan apabila kita membaca, kita harus menggerakkan otak dan bola mata kita. Sebab jika kedua hal ini tidak dilakukan, kita akan kesulitan untuk menyerap apa yang sedang kita baca. Paradigma yang seperti inilah yang akan menyulitkan kita untuk menghafalkan puluhan halaman buku ketika kita akan dihadapkan dengan ujian. Mata akan cepat lelah, sebab kita tidak terbiasa membaca.

Membangun tradisi membaca memang tidak mudah begitu saja. Membaca penting sekali dalam seputar dunia wanita, bukan hanya cantik dari luar saja tapi menjadi wanita juga harus cerdas apalagi dihadapkan pada fenomena kehidupan saat ini. Kita harus membiasakan membaca buku, di bawah ini beberapa cara membiasakan membaca buku :
  1. Membawa buku yang kecil terlebih dahulu, usahakanlah buku itu kita pegang jangan dimasukkan ke dalam tas. Karena jika kita terus memegangnya setidaknya kita akan membaca judul dan sampul belakangnya. Bawa terus sempai pada akhirnya secara tidak langsung kita akan tertarik untuk membukanya. Hal ini dapat bermanfaat misalnya saat kita sedang terjebak macet, atau menunggu antrian panjang, kita tidak perlu menggerutu sebab ada yang dapat kita lakukan, yaitu membaca buku. Membiasakan membawa buku kemana saja juga dapat menambah wibawa kita, setidaknya orang akan menganggap kita adalah orang yang serius, orang akan segan terhadap kita apalagi kalau judul bukunya menarik.
  2. Sesekali berkunjung ke toko buku, dengan berkunjung ke toko buku orang yang asalnya tidak suka membaca buku menjadi tertarik ketika membaca judul-judul yang menarik, yang mungkin sesuai dengan kebutuhannya saat ini.
  3. Menganggap buku ibarat makanan, dengan menganggap buku seperti makanan kita dapat melakukan hal-hal seperti: Memilih buku yang memang kita sukai, sebagaimana kita memilih makanan yang kita sukai. Mencicipi kelezatan sebuah buku, sebelum membaca sebuah halaman. Kita dapat mengenali dulu siapa pengarang buku tersebut, atau membaca dahulu sinopsisnya agar kita tertarik dan penasaran untuk membaca buku tersebut. Dengan ini kita akan merasa sedang bercakap-cakap dengan penulis buku tersebut, meskipun ternyata sedang sendirian. Bacalah buku seperti ngemil, jangan pernah takut untuk melihat tebalnya sebuah buku. Sedikit demi sedikit dibaca akan menjadi lebih menarik dan bermanfaat.
  4. Ciptakan suasana yang mendukung. Di antaranya sediakan penerangan yang cukup, cari posisi duduk yang nyaman, bila perlu ruangan diberi aroma wewangian sambil menyetel lagu klasik. Hal ini dapat menciptakan suasana yang santai dan mempermudah untuk menyerap informasi dari buku yang sedang kita baca.
  5. Membuat perpustakaan pribadi, apabila kita membeli buku, jangan beranggapan kita harus membacanya saat itu juga, kita bisa menyimpannya terlebih dahulu menjadi perpustakaan pribadi. Siapa tahu suatu saat kita akan membutuhkannya. Atau jika kita tidak sempat untuk membacanya, setidaknya buku-buku itu akan bermanfaat untuk anak cucu kita.
Membaca memang menyenangkan dan untuk membangun tradisi membaca tidaklah mudah serta gampang-gampang susah, tapi apabila kita mengetahui manfaat dari membaca itu sendiri maka membaca akan jadi lebih menyenangkan lagi. Di antaranya manfaat membaca sebagai berikut :
  1. Pintar. Banyak orang pintar tetapi tidak sekolah. Hamka atau Adam Malik, misalnya. Mereka pintar dengan belajar otodidak, yaitu membaca buku. Dengan membaca kita akan menyerap informasi dan pengetahuan yang semakin banyak.
  2. Produktif dalam menulis dan mempunyai banyak ide. Seorang pembaca yang baik akan mampu menjadi penulis yang baik. Ia akan selalu melahirkan karya-karya yang bermutu.
  3. Membangun peradaban bangsa. Dengan membaca kita akan menjelajahi dunia. Untuk mengetahui kutub Utara atau kutub Selatan kita tidak perlu pergi ke sana, kita tinggal membuka dan membaca buku. Dengan peradaban yang tinggi, kita akan dapat bersaing dengan negara-negara lain yang telah unggul lebih dulu.
  4. Mengurangi kemungkinan terserang penyakit demensia atau pikun. Dengan membaca buku kita akan terus berfikir. Apabila seseorang terus berfikir maka kemungkinan untuk terserang pikun  pun berkurang.
  5. Memanfaatkan waktu. Terjebak macet atau dalam antrian yang panjang adalah suatu hal yang membosankan. Agar kita tidak merasa jenuh kita dapat memanfaatkannya untuk membaca buku. Selain menghilangkan rasa kesal kita juga dapat menambah ilmu.
Membaca juga bermanfaat dalam seputar dunia wanita, untuk menambah wawasan dan juga kita dapat mengetahui rahasia kecantikan wanita dan bagaimana merawat tubuh agar tetap terlihat cantik, itu semua dapat kita peroleh dari membaca.

sumber: seputarduniawanita.com

Renungan Hari Rabu Biasa VIII - Thn II

Renungan Hari Rabu Biasa VIII B/II
Bac I        1Ptr 1: 18 – 25 ; Injil        Mrk 10: 32 – 45

Bacaan Injil hari ini memang sedikit agak panjang. Akan tetapi, bacaan yang panjang ini bermuara pada pernyataan Yesus di bagian akhir Injil: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Pernyataan ini bukan hanya menunjukkan jati diri Yesus saja melainkan juga memiliki dampaknya pada kita umat manusia.
Soal jati diri Yesus sebenarnya sudah diutarakan pada ayat sebelumnya (ay 33-34 dan ay 38). Di sini Yesus mengungkapkan jalan hidup yang harus dilakoni-Nya. Meski secara manusiawi, jalan itu tidaklah mengenakkan. Dan secara manusiawi juga adalah wajar bila orang menghindarinya. Namun tidak bagi Yesus. Jalan itulah yang akan ditempuhnya. Dan untuk itu Dia mengambil sikap, sebagai jati diri-Nya, seperti yang terungkap dalam ayat terakhir itu.
Dengan menempuh jalan tersebut, maka manusia memperoleh keselamatan. Itulah dampaknya bagi kita. Dan itu juga yang direfleksikan oleh Petrus dalam suratnya yang pertama. Oleh darah Kristus yang tercurah di salib kita manusia memperoleh penebusan.
Apa pesan sabda Tuhan pada kita hari ini?
Lewat bacaan pertama dan Injil Tuhan menghendaki kita untuk mewujudkan kasih dan pelayanan. Sebagai buah dari penebusan, Petrus mengajak umat untuk dapat mengamalkan kasih persaudaraan dengan tulus ikhlas. “hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” (ay 22). St Petrus melihat bahwa darah Kristus yang tercurah di kayu salib adalah wujud dari kasih-Nya kepada umat manusia. Oleh karena itulah, manusia hendaknya membalas kasih itu dengan hidup saling mengasihi.
Kasih dalam bahasa Petrus diungkapkan dengan “melayani” dalam bahasa Markus. Pelayanan yang diberikan Yesus, sebagai Anak Manusia, berpuncak pada “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Oleh karena itulah, dalam pernyataan ini terkandung permintaan agar kita hidup dengan saling melayani.
Untuk dapat mewujudkan kasih dan pelayanan, sikap yang dibutuhkan adalah sikap rendah hati. Hanya orang yang rendah hati saja yang dapat dan mau mengasihi dan melayani. Sikap rendah hati ini juga yang diminta oleh Yesus dalam Injil tadi.

Oleh sebab itu, marilah saudara-saudari kita membina sikap hidup rendah hati agar kita dimampukan untuk mewujudkan kasih dan pelayanan dalam hidup kita.
by: adrian