Jumat, 18 Juli 2014

(P U I S I) Ketika Suara Hati Mati

KETIKA SUARA HATI MATI
Ketika suara hati mati
Manusia menjadi tak tahu diri
Suara kebenaran dan kebaikan menjadi basi
Tak ada artinya lagi

            Korupsi kian menjadi
            Para pejabat perkaya diri
            Tak peduli warga merintih perih
            Terus saja ia mencuri

                        Ketika suara hati mati
                        Manusia tak takut Tuhan lagi
                        Karena mungkin Tuhan juga ikut mati
                        Dan dosa menjadi suci
                                                                                    Jakarta, 16 Juni 2014
by: adrian


Baca juga:
1.      Ternyata…
2.      Diakon Yudas
3.      Bila Punya Hati

Kayak Iklan....

Minggu lalu saya liburan ke rumah adik saya. Sudah lama tidak ketemu keponakan, yang 3 bulan lagi akan masuk Sekolah Dasar. Ketika masuk, saya melihat dia lagi asyik bermain Balok Susun Bangun.

Saya    : Hai, Stella...
Stella   : Ee, om Romo.

(Setelah menyalami saya, ia kembali dengan permainannya)

Saya    : Stella lagi bikin apa?
Stella   : Ini, mau bangun rumah.
Saya    : Wah, seperti ayah neh

Stella hanya menganggukkan kepalanya. Maklum, ayahnya Stella adalah kontraktor bangunan. 

Saya    : Kayak romo dulu. Waktu romo masih kecil dulu, romo pengen seperti papa. Papa suka membaca, romo juga. Papa suka voli, romo juga. Sampai papa kena diabetes, untuk pertama kalinya romo tidak mau seperti papa.
Stella   : Lho, koq kayak iklan???

Kami berdua tersenyum dan tertawa....
Jakarta, 25 Februari 2014
by: adrian


Baca juga:

1.      Manna
2.      Biar Kena Angin
3.      Bus Farrel Merah
4.      Lewotobi Ada Tiga
5.      Generasi Teknologi

Orang Kudus 18 Juli: St. Odilia

SANTA ODILIA, MARTIR
Odilia adalah putri dari seorang penguasa Inggris. Ia bersama dengan St. Ursula dan kelompok perawannya pergi dalam sebuah peziarahan, tetapi kapal mereka karam dan mereka ditangkap di Rheine kemudian dibawa ke Cologne. Di sana mereka membela iman Kristen dan keperawanan mereka dan menjadi martir. 

Pada 1287, Yoanes Novelan de Eppa, seorang bruder biara Salib Suci di Paris mendapat suatu penglihatan. Terdorong oleh penglihatan ini ia menuju ke Köln untuk mencari relikwi-relikwi St. Odilia. Setelah ditemukan, relikwi-relikwi Santa Odilia itu secara meriah dipindahkan ke biara induk Huy, Belgia. Dan sejak zaman itu, St. Odilia dihormati sebagai pelindung Ordo Salib Suci.

Pada Revolusi Perancis, relikuinya dibawa ke Kerniel, Belgia dan tinggal di sana selama beberapa tahun, sebelum akhirnya pada tahun 1949 dikembalikan untuk dirawat oleh Ordo Salib Suci.

sumber: http://santosantagereja.blogspot.com/2011/12/st-odilia_13.html
Baca juga riwayat orang kudus 18 Juli:
     1.      St. Sinforosa
     2.      St. Frederick dari Ultrecht

Renungan Hari Jumat Biasa XV - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa XV, Thn A/II
Bac I    Yes 38: 1 – 6, 21 – 22; Injil             Mat 12: 1 – 8;

Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Yesaya, mengisahkan tentang Raja Hizkia. Dikatakan bahwa awalnya Tuhan, melalui mulut Nabi Yesaya, meramalkan kematian Hizkia yang tak lama lagi. Akan tetapi, Hizkia berkeluh kesah dalam doanya dan Tuhan mendengarkan dia sehingga Tuhan “mencabut” kembali pernyataan awalnya. Hizkia tidak jadi mati dalam waktu dekat, tetapi Tuhan menambah umurnya lima belas tahun lagi. Malahan Tuhan akan membebaskan kerajaannya dari kuasa Asyur. Di sini terlihat bahwa ada semacam ketidakkonsistenan Tuhan pada ucapan-Nya. Awalnya mau mencabut nyawa Hizkia, namun akhirnya batal setelah Hizkia berkeluh kesah. Tampak jelas kalau Tuhan lebih mengutamakan belas kasihan.

Mengutamakan belas kasihan juga menjadi tekanan Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. Dikisahkan bahwa Yesus ditegur oleh kaum Farisi karena para murid-Nya melakukan sesuatu yang dilarang Kitab Taurat. Menjawab teguran itu, Tuhan Yesus juga menggunakan Kitab Taurat. “Atau tidakkah kamu baca dalam Kitab Taurat, bahwa pada hari-hari sabat, imam-imam melanggar hukum sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?” (ay. 5), demikian jawab Tuhan Yesus. Seperti dalam bacaan pertama, Tuhan Yesus lantas menegaskan bahwa Allah menghendaki belas kasihan, bukannya persembahan (ay. 7).

Menarik bila memperhatikan cara Yesus melawan argumen orang-orang Farisi yang menyerang Dia. Yesus justru menggunakan juga “senjata” yang dipakai kaum Farisi itu. Ini merupakan contoh yang bagus untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Lewat “perdebatan” itu, atau di balik ketidak-konsistenan, terlihat nilai yang hendak diperjuangkan, yaitu kemanusiaan. Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan pada kita bahwa nilai kehidupan jauh melampaui nilai aturan belaka. Hal inilah yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, yaitu agar kita lebih mengutamakan nilai-nilai kehidupan atau kemanusiaan daripada rubrik atau aturan saja.

by: adrian