Sabtu, 28 Januari 2023

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA IV/A

 Bac I  Zef 2: 3; 3: 12 – 13;         Bac II 1Kor 1: 26 – 31;

Injil    Mat 5: 1 – 12a;

Ada banyak tema dan pesan yang hendak disampaikan Tuhan lewat sabda-Nya dalam tiga bacaan liturgi hari ini. Salah satu tema yang menarik untuk direnungkan adalah kerendahan hati. Hal ini sangat tegas disuarakan oleh Zefanya, dalam bacaan pertama, dan juga Paulus, dalam bacaan kedua. Dalam bacaan pertama, Zafanya meminta kita untuk membangun sikap rendah hati agar terhindar dari murka Allah. Dapat dikatakan bahwa sikap rendah hati merupakan pangkal dari keadilan. Dan orang yang rendah hati akan taat pada hukum Allah.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus meminta kita untuk mempunyai sikap rendah hati. Paulus melarang supaya kita tidak sombong di hadapan Tuhan. Ada banyak teks kitab suci yang menyatakan kalau Allah benci pada orang sombong. Allah justru menggunakan orang yang rendah hati untuk “menghancurkan” orang-orang sombong. Orang yang rendah hati tentulah akan selalu setia pada kehendak Allah.

Injil hari ini menampilkan kotbah Yesus di bukit, secara khusus sabda bahagia. Salah satu kebahagiaan yang disinggung oleh Yesus adalah orang yang suci hatinya. Frasa “suci hati” atau juga “bersih hati” dapat dipadankan dengan rendah hati, karena tinggi hati selalu dikaitkan dengan hati yang kotor. Orang yang rendah hati akan selalu dekat dengan Tuhan, dan karena itu ia akan melihat Tuhan.

Dewasa ini marak ditemui kejahatan. Ada kasus pembunuhan. Ada korupsi dan juga penipuan. Ada kasus perselingkuhan. Dan masih banyak jenis kejahatan lainnya. Semua itu dapat dikatakan terjadi karena manusia sombong. Kesombongan membuat manusia meninggalkan dan lupa pada Tuhan. Mereka tidak lagi takut akan Tuhan. Mereka merasa dirinya mampu mengatasi hidup ini tanpa campur tangan Tuhan.

Karena itulah, sabda Tuhan hari ini menjadi sangat relevan. Tuhan meminta kita untuk membuang kesombongan diri, dan mulai membangun sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, maka hati dan pikiran kita akan selalu terarah kepada Tuhan, dan ini akan menentukan perbuatan kita. Jika hati dan pikiran kita sudah selalu terarah kepada Tuhan, maka tidak akan ada ruang bagi perbuatan-perbuatan jahat dalam hidup.

Mari kita membangun sikap rendah hati!

Jumat, 27 Januari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-MAIDAH AYAT 41

 


Wahai rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. […] (QS 5: 41)

Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam, selain hadis. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung berbicara kepada Muhammad, yang kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, umat islam yakin dan percaya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Berhubung Allah itu diyakini sebagai maha suci, maka Al-Qur’an pun adalah suci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Allah sudah meminta kepada umat islam untuk memberi hukuman berat bagi mereka yang melakukan hal itu dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Umat islam percaya Al-Qur’an dikenal sebagai kitab kebenaran, karena sumbernya adalah Allah yang diyakini sebagai mahabenar. Allah sendiri sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51). Hal inilah yang kerap membuat umat islam menilai sesuatu di luar islam dengan menggunakan tolok ukur Al-Qur’an. Selain sebagai kitab kebenaran, Al-Qur’an juga dikenal sebagai kitab yang jelas, karena bersumber dari Allah yang maha mengetahui dan maha sempurna. Jika ditanya kepada umat islam kenapa Al-Qur’an merupakan kitab yang jelas, pastilah mereka menjawab karena itulah yang dikatakan Al-Qur’an.

Berangkat dari premis-premis ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan berasal dari Allah dan merupakan satu kebenaran. Apa yang tertulis pada kutipan di atas (kecuali yang ada di dalam tanda kurung), semuanya diyakini merupakan kata-kata Allah, yang kemudian ditulis oleh manusia. Seperti itulah kata-kata Allah saat berbicara kepada Muhammad. Karena surah ini masuk dalam kelompok surah Madaniyyah, maka bisa dipastikan bahwa Allah menyampaikan wahyu ini saat Muhammad ada di Madinah.

Kamis, 26 Januari 2023

INILAH KESALAHAN PEMIMPIN YANG KERAP TAK DISADARI

 

MAJU tidaknya suatu lembaga atau organisasi banyak ditentukan oleh pimpinan. Sekalipun bawahan atau karyawannya baik dan berkualitas, namun jika pemimpin tidak bisa menampilkan performa yang baik, kinerja lembaga akan melambat. Ada banyak hal penyebab karyawan merasa tidak nyaman bekerja. Hal yang sering tidak disadari adalah sikap atasan atau pemimpin. Apa saja sikap yang dimaksud?

Pertama, sikap tidak peduli. Pemimpin yang memandang anak buahnya layaknya robot atau peranti dalam mengenjot produktivitas tentu membuat karyawan tidak betah bekerja. Banyak atasan yang hanya melimpahkan pekerjaan pada anak buah tanpa menjalin komunikasi yang baik. Misalnya, memberi tugas atau jabatan kepada orang tanpa menjelaskan apa tugasnya atau apa yang mau dikerjakan.

Kasus lain, karyawan yang berperforma kerja baik dan berprestasi tidak diberikan apresiasi. Kerja keras karyawan tidak dilihat. Pemimpin hanya mau melihat karyawan yang disukainya saja. Hal ini membuat karyawan lain merasa tidak berharga dan bisa membuat performa kinerja menjadi tidak maksimal.

Kedua, menempatkan orang yang salah dalam tugas atau posisi yang tidak tepat. Atasan yang mempromosikan karyawan hanya karena menyukai karyawan tersebut atau hanya mendengarkan bisikan orang dalam tanpa melihat prestasi dan kinerjanya tentu membuat karyawan lain merasa dirugikan. Apalagi jika penempatan karyawan melalui “jalan belakang”. Hal ini membuat karyawan lain tidak betah bekerja di bawah atasan yang tidak “bersih”.

Lebih aneh lagi, sekalipun ada banyak kesalahan atau pelanggaran dari karyawan yang dipromosikan atasan, namun atasan seakan tidak melihatnya. Hal ini disebabkan karena relasinya bukan berdasarkan relasi fungsional, melainkan like dislike. Hal ini dapat membuat karyawan lain bersikap apatis. Jika ini diteruskan, bukan tidak mungkin perkembangan perusahaan menjadi lamban.

Minggu, 22 Januari 2023

STUDI AL-QUR'AN: SURAH ALI IMRAN AYAT 24

Salah satu ciri khas Allah islam adalah sibuk menanggapi pernyataan-pernyataan orang yang belum jelas juga kebenarannya. Dalam surah Ali Imran ayat 24 dapatlah dikatakan bahwa saat itu Allah mendengar orang Yahudi mengeluarkan pernyataan, yang dirasakan membahayakan keimanan umat islam. Setelah itu, Allah mengomentari pernyataan orang Yahudi itu. Tampak jelas secara implisit bahwa pernyataan orang Yahudi itu merupakan pernyataan resmi ajaran agama, padahal agama Yahudi sendiri tidak pernah mengajarkan soal neraka. Gambaran Allah yang sibuk mengurusi pernyataan-pernyataan orang non muslim banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Dan pernyataan orang itu belum tentu juga merupakan ajaran resmi agamanya. Orang yang ditangapi itu tidak jelas kapasitasnya atau bahwa dapat dipastikan belum terjamin keahliannya. Kalau pun yang disampaikan itu merupakan ajaran resmi, namun dengan pemahaman yang kurang tepat sehingga Allah pun salah paham dalam menanggapinya.



Jumat, 20 Januari 2023

INI BUKTI MUHAMMAD ITU GILA


 

Umat islam percaya bahwa Muhammad itu adalah nabi. Dia adalah nabi penutup. Artinya, setelah Muhammad tidak akan ada lagi nabi-nabi baru. Selain nabi, Muhammad juga dipercaya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Padanya ada suri teladan yang agung. Karena itulah, sekalipun dalam islam ada nabi yang jauh lebih hebat dan suci daripada Muhammad, tidak ada pengagungan yang sangat besar dari umat islam kepada Muhammad. Artinya, Muhammad lebih disembah dan dimuliakan ketimbang nabi-nabi yang lain. Penghinaan terhadap Muhammad akan dapat dengan mudah menyulut kemarahan umat islam daripada nabi-nabi yang lain.

Apa dasar keyakinan dan sikap umat islam ini? Jawabannya sederhana, yaitu Al-Qur’an, yang diyakini sebagai wahyu Allah. Jadi, umat islam percaya kalau Muhammad itu nabi penutup dan suri teladan sempurna karena begitulah yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Reaksi atas penghinaan terhadap Muhammad juga tertulis di sana. Artinya, Allah sudah mengatakan demikian. Untuk nabi-nabi yang lain tak tertulis, sehingga wajar jika umat islam tidak bereaksi terhadap penghinaan terhadap para nabi itu.

Akan tetapi, kenapa umat islam tak percaya jika dikatakan Muhammad itu sakit gila, meski pernyataan kegilaan Muhammad ini ada dalam Al-Qur’an? Setidaknya ada 2 alasan untuk ini. Pertama, pernyataan itu bukan berasal dari Allah, melainkan dari orang kafir. Jadi, yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang mengutip pernyataan orang kafir. Kedua, umat islam sudah terlanjur percaya Muhammad itu manusia sempurna. Mana ada manusia sempurna yang gila.

Meski pun demikian, satu hal yang perlu diketahui, khususnya oleh kaum muslim adalah bahwa pernyataan nabi Muhammad SAW itu gila bukan muncul saat kini, melainkan sudah ada sejak kemunculan Muhammad sebagai nabi. Ini terekam dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Berikut ini kami tampilkan beberapa kutipan pernyataan tersebut:

Kamis, 19 Januari 2023

SIKAP UMAT KATOLIK TERHADAP KAUM NON KATOLIK

 

Minggu lalu kami menurunkan tulisan tentang bagaimana umat islam bersikap terhadap kaum kafir. Kali ini kami mencoba menghadirkan sikap sebaliknya dari umat Kristen Katolik terhadap kaum non katolik, ternasuk islam. Namun terlebih dahulu diharapkan agar umat katolik sadar dan tahu bahwa dirinya disapa kafir oleh umat islam. Bagaimana sikap Gereja Katolik terhadap orang non katolik. Apakah orang katolik juga melihat dan menilai orang non katolik itu sebagai orang kafir?

Orang Kristen itu Kafir

Pertanyaan dasarnya adalah kenapa orang muslim memandang orang Kristen itu kafir, padahal keduanya sama-sama termasuk agama samawi? Sebenarnya, bukan cuma orang Kristen saja yang dinilai kafir, tetapi juga semua orang yang bukan islam. Akan tetapi, dalam tulisan ini, kami tidak akan menyinggung sikap agama-agama lain itu, kecuali Kristen. Jadi, fokus perhatiannya adalah kenapa orang Kristen disebut kafir oleh umat islam.

Orang Kristen disebut kafir karena Al-Quran sudah menyebutnya demikian. Bagi umat muslim, Al-Quran adalah pedoman hidup. Al-Quran berisi sabda, wahyu dan perintah Allah. Apalagi ada keyakinan bahwa Al-Quran merupakan kitab yang langsung turun dari sorga. Jadi, kalau Al-Quran sudah mengatakan bahwa orang Kristen adalah kafir, itu berarti Allah sendiri sudah menyatakannya. Dan karena Allah sudah mengatakan demikian, maka umat wajib mengikutinya. Melawan perintah Allah, berarti dosa.

Ada beberapa faktor kenapa orang Kristen disebut kafir. Pertama, kepercayaan kepada Yesus (Isa Almasih) sebagai Tuhan. QS Al-Maidah: 72 mengatakan, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al Masih (Yesus) putra Maryam.” Bagi orang Kristen Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (inkarnasi); sabda yang menjadi daging (Yoh. 1: 14). Dalam diri Yesus ada keallahan sekaligus kemanusiaan. Ini ibarat dua sisi dari uang logam. Jika hanya satu sisi saja, uang logam itu tidak bernilai. Demikian pula iman akan Yesus Kristus bagi orang Kristen. Namun, karena iman ini, orang Kristen disebut kafir.

Kedua, kepercayaan akan Allah Tritunggal. QS Al-Maidah: 73 berbunyi, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” Agama Kristen, sama seperti islam dan Yahudi, adalah agama monoteisme, percaya pada satu Allah. Orang Kristen mengakui bahwa ada tiga pribadi dalam satu Allah. Ini merupakan misteri iman. Mengenai misteri ini, Jeremy Tailor (1613 – 1667) pernah berkata, “Agama yang tanpa misteri adalah agama tanpa Allah.” Agama Kristen kaya akan misteri iman, karena tak mungkin manusia dapat memahami segala-galanya dengan menggunakan otak manusia yang terbatas. Namun, karena iman ini, orang Kristen disebut kafir.

Apakah dasar pengkafiran itu hanya pada dua ayat dari surat Al-Maidah ini? Tentulah tidak, karena jika hanya berpatokan pada dua ayat ini tentulah orang Yahudi, Buddha, Hindu dan Konghu Chu tidak termasuk kafir. Orang Yahudi, Buddha, Hindu dan Konghu Chu tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan mereka tidak memiliki konsep Allah Trinitas. Akan tetapi, mereka semua termasuk golongan orang kafir. Inilah yang menjadi faktor ketiga, tidak mengakui kenabian Muhammad dan Al-Quran.

Kafir di sini bukan hanya sekedar sebutan untuk kelompok yang berbeda, melainkan bentuk penghinaan. Jadi, karena imannya akan Yesus sebagai Tuhan, dan akan Allah Tritunggal, orang Kristen dipandang hina oleh orang islam. Bahkan dalam QS At-Taubah: 30, orang-orang Kristen, karena imannya itu, adalah orang-orang terkutuk. Jadi, karena iman akan keallahan Yesus dan trinitas, orang Kristen bukan hanya dihina, tetapi juga dikutuk.

Selasa, 17 Januari 2023

STUDI AL-QUR'AN: SURAH AN NAHL AYAT 93

Tidak sedikit umat islam menolak tudingan bahwa agama merupakan agama intoleran. Mereka selalu mengatakan bahwa islam adalah agama toleran, yang menghargai perbedaan. Sering islam moderat menyangkal kalau Allah SWT hanya menghendaki islam saja. Biasanya mereka mendasarkan argumennya pada surah an-Nahl: 93, yang sayangnya hanya dikutip sebagian saja, alias tidak utuh. Mereka mengatakan, “Jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja).” Dengan dasar ini umat islam menyatakan bahwa mereka mengakui adanya perbedaan, dan terhadap perbedaan itu islam selalu mengedepankan toleransi. Namun sayang argumentasi ini sangatlah lemah.



Jumat, 13 Januari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANAM AYAT 151

 


Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. (QS 6: 151)

Tak bisa dipungkiri bahwa umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad, yang kemudian ditulis di atas kertas. Sekalipun ada di kertas, tapi umat islam yakin bahwa itu adalah kata-kata Allah sendiri. Karena Allah itu suci, maka kertas yang ditulisi perkataan Allah adalah suci juga. Pelecehan terhadap Al-Qur’an, misalnya dengan menginjak atau mendudukinya, sama artinya dengan penghinaan terhadap Allah. Umat islam wajib membela Allah sesuai permintaan Allah, dan orang yang melakukan penghinaan tersebut, berdasarkan perintah Allah, harus dibunuh (QS al-Maidah: 33).

Dasar keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad adalah perkataan Allah sendiri. Allah sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari diri-Nya. Berhubung Allah itu mahabenar, maka apa yang dikatakannya juga adalah benar. Mana mungkin Allah yang mahabenar itu berbohong? Tak mungkin Al-Qur’an itu ciptaan manusia, karena manusia bisa berbohong. Logika pikir orang islam kira-kira begini: Al-Qur’an itu wahyu Allah karena Allah sendiri yang mengatakannya adalah benar, sebab Allah itu mahabenar yang tak bisa berbohong.

Selain itu juga umat islam melihat Al-Qur’an sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas. Ini juga didasarkan pada perkataan Allah sendiri. Allah telah mengatakan bahwa diri-Nya telah memudahkan ayat-Nya sehingga umat dapat dengan mudah memahami. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Tak sedikit ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan perkataan lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an. Seandainya pun tidak persis seperti yang tertulis, tapi maknanya tak jauh beda dengan apa yang tertulis. Penafsiran atas wahyu Allah yang berbeda bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari premis-premis di atas, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan merupakan perkataan Allah. Apa yang tertulis di atas merupakan kata-kata Allah sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Sebenarnya perkataan Allah kepada Muhammad dalam ayat 151 surah al-Anam terdiri dari beberapa kalimat. Pada intinya, pada ayat ini Allah SWT meminta Muhammad untuk menyampaikan beberapa pesan-Nya. Salah satu pesan Allah itulah yang dikutip dalam tulisan ini, yaitu “Jangan membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.” Kalimat Allah yang terakhir hendak menegaskan kalau pesan-Nya itu merupakan perintah, dan sebagai perintah maka harus dilaksanakan. Diharapkan agar umat islam dapat memahaminya.

Kamis, 12 Januari 2023

SIKAP UMAT ISLAM TERHADAP KAUM KAFIR

 

Secara umum, kata “kafir” disematkan oleh umat islam kepada semua umat non islam. Dasar penyematan ini adalah karena umat lain itu tidak mengakui Muhammad sebagai nabi, tidak terima Al-Qur’an sebagai kitab suci, tidak terima Allah swt sebagai Tuhan dan tidak memeluk islam.

Akan tetapi, dalam islam juga dikenal beberapa istilah kafir. Setidaknya berdasarkan wahyu Allah ada 4 jenis atau bentuk kafir. Keempat bentu itu adalah:

1.   Kafir Harbi, yaitu kafir yang memusuhi islam. Dasarnya adalah QS At-Taubah: 107, “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).”

Ayat ini sering dipakai umat islam untuk mencurigai itikad baik orang lain. Segala itikad baik orang selalu dinilai dusta, karena Allah sudah mengatakan demikian. Karena itu, ketika ada orang kafir mengulurkan tangan, selalu ditolak, karena itu hanyalah dusta. Ada udang di balik batu.

2.   Kafir ‘Inad, yaitu kafir yang mengenal Tuhan dengan hati dan mengakui-Nya dengan lidah, tetapi tidak mau menjadikannya sebagai suatu keyakinan karena ada rasa permusuhan, dengki dan semacamnya. Dasarnya adalah QS Hud: 59, “Dan itulah peristiwa kaum Aad mereka mengingkari ayat-ayat keterangan Tuhan mereka, serta mereka menderhaka kepada Rasul-rasulnya; dan mereka menurut perintah tiap-tiap penguasa yang sewenang-wenang menentang kebenaran.”

3.   Kafir Ingkar, yaitu yang mengingkari Tuhan secara lahir dan batin, rasul-rasulnya serta ajarannya. Ada dua dasarnya. QS Al-Baqarah: 212, “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang Dia kehendaki tanpa batas.” QS An Nahl: 107, “Yang demikian itu disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan di dunia daripada akhirat, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”

4.   Kafir Kitabi, yaitu mereka yang yakin beberapa kepercayaan pokok islam, tapi kepercayaan mereka tidak utuh, cacat dan parsial. Sederhananya, mereka yang menolak Nabi Muhammad dan Al-Quran. Iqmal tidak memberikan dasar biblis untuk kategori kafir ini.

Apapun bentuk dan jenisnya, Allah swt menuntut sikap yang sama terhadap kaum kafir ini. Dengan kata lain, sikap umat islam terhadap kaum kafir ini merupakan kehendak Allah. Berikut ini beberapa sikap islami terhadap orang kafir.

Minggu, 08 Januari 2023

STUDI AL-QUR'AN: KITAB YANG JELAS

Al-Qur'an diyakini sebagai wahyu Allah. Allah sendiri sudah mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan keterangan yang jelas. Kata "jelas" di sini mempunyai makna terang benderang. Artinya, makna wahyu Allah sudah terang benderang.



Jumat, 06 Januari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH YUNUS AYAT 56

 


Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS 10: 56)

Al-Qur’an diyakini oleh umat islam merupakan wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dipahami sebagai berikut: Allah berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad mendengarnya. Umat islam percaya hanya Muhammad sebagai penerima wahyu Allah. Dengan demikian, ia adalah lawan bicara Allah. Apa yang didengar Muhammad itulah yang kemudian ditulis dan akhirnya menjadi sebuah kitab yang diberi nama Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya dan meyakini bahwa apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah SWT sendiri. Karena itu, umat islam menaruh hormat yang tinggi kepada Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan kepada Allah SWT. Dan orang yang melakukan hal itu, berdasarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, wajib dibunuh (QS al-Maidah: 33).

Umat islam menganggap dan menilai Al-Quran sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas, karena memang demikianlah yang dikatakan Allah sendiri. Allah telah memudahkan wahyu-Nya sehingga umat bisa dengan mudah pula memahaminya. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Umumnya para ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan kata lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Sekalipun ditafsirkan, tetap saja tafsiran itu tak jauh dari apa yang tertulis. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Penafsiran atas wahyu Allah yang tidak sesuai dengan apa yang tertulis bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari pemahaman ini, maka apa yang tertulis dalam surah Yunus ayat 56 di atas merupakan perkataan langsung dan asli dari Allah SWT. Allah berbicara dan Muhammad mendengarnya. Apa yang tertulis di sana seperti itu juga yang didengar oleh nabi Muhammad SAW. Dan apa yang disampaikan Allah ini sudah jelas maknanya. Dengan sangat mudah dan sederhana ulama islam menafsirkan kutipan kalimat Allah di atas sebagai wujud kekuasaan Allah, yaitu Allah berkuasa atas hidup dan matinya manusia. Dari sini lahirlah pernyataan “hidup mati di tangan Tuhan.” Allah merupakan tujuan akhir perjalanan hidup manusia.

Pada titik ini terlihat jelas betapa indahnya tafsiran wahyu Allah ini. Dan biasanya umat agama lain langsung terpesona dan kagum dengan penjelasan dan kata-kata manis yang keluar dari para ulama, sekalipun tafsiran seperti itu terdapat juga pada ajaran agama lain. Keterpesonaan dan kekaguman atas tafsiran wahyu Allah di atas terjadi ketika kutipan kalimat Allah itu ditafsir lepas dari konteksnya. Perlu diketahui konteks wahyu Allah yang ada dalam Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengarkan. Umat islam percaya Muhammad adalah lawan bicara Allah. Karena itu, kutipan ayat di atas diyakini sebagai kata-kata Allah yang diucapkan-Nya kepada Muhammad. Berdasarkan konteks keindahan tafsiran atas wahyu Allah ini, bagi orang yang berpikiran waras, akan langsung terlihat seperti “tong kosong nyaring bunyinya”. Artinya ada masalah dalam wahyu Allah ini.

Rabu, 04 Januari 2023

STUDI ALQURAN: SURAH AL ANKABUT AYAT 12

Jika kutipan di atas ditelaah dengan menggunakan logika atau akal sehat, maka akan menemukan beberapa hal penting. Satu di antaranya adalah Allah islam sibuk menanggapi komentar-komentar orang yg belum jelas juga kapasitasnya. Gambaran Allah yang sibuk mengurusi komentar-komentar orang banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Dan komentar orang itu belum tentu juga merupakan ajaran resmi agamanya. Orang yang ditanggapi itu tidak jelas kapasitasnya atau bahwa dapat dipastikan belum terjamin keahliannya. Ini ibarat seorang profesor menanggapi debat anak TK soal 2+2=4. Sungguh merendahkan martbat.