Jumat, 05 September 2014

Penjambret Batam Kanibal

Agus, Wawan dan Togar asyik nongkrong di warung kopi. Sambil menikmati kopi dan beberapa gorengan, mereka sibuk membaca koran harian. Setelah sekian lama larut dalam bacaan, tiba-tiba Togar memecah keheningan.

Togar              : Bah, penjambret Batam nih makin biadab aja.

Agus                : Biadab gimana, bang?

Togar              : Mereka bukan cuma ambil barang korban.

Agus                : Apa lagi, bang?

Togar              : Mereka makan korbannya. Kanibal.

Wawan           : (penasaran) Apa?!

Togar              : Nih lihat halaman 25 (Batam Pos, 20 Agustus 2014 dengan judul: “Jambret Terus Makan Korban”)

Agus & Wawan : (setelah melihat) Akh, sialan si abang ini!
Batam, 21 Agustus 2014
by: adrian
Baca juga humor lainnya:
1.      Lugu
2.      Sok Kaya
3.      Aqua Galon
4.      Takut pada Api
5.      Ini Lagu Gubahanku

Pelantikan DPRD Anambas, 1 September 2014

 Dari Tanjung Pinang dengan Nusantara Air menuju Matak, Tarempa
 Gereja St. Maria Bintang Laut Tarempa dengan latar bukit nan hijau






Kota Tarempa dari balik jendela di rumah lantai dua
 Upacara salam-salaman dengan anggota DPRD Anambas setelah pelantikan






Anggota DPRD Anambas termuda bersama ibundanya
 Berkesempatan foto bareng dengan anggota DPRD termuda bersama keluarganya






Dua anggota DPRD yang baru dilantik bersama keluarganya
Dua anggota DPRD Anambas yang baru dilantik. Sama-sama bernama Julius; yang kiri Julius saja sedangkan yang kanan Julius Agi, SH

Renungan Hari Jumat Biasa XXII - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa XXII, Thn A/II
Bac I    1Kor 4: 1 – 5; Injil                 Luk 5: 33 – 39;

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara tentang penghakiman. Dalam Injil ditampilkan penghakiman orang-orang Farisi atas murid-murid Yesus berkaitan dengan sebuah tradisi atau kebiasaan. Kaum Farisi membandingkan kehidupan murid-murid Yohanes dan juga murid mereka yang sering berpuasa, sementara murid Yesus tidak. Mereka lantas menghakimi perilaku murid Yesus, yang secara tak langsung juga tertuju kepada Yesus. Dari sinilah Tuhan Yesus memberikan pengajaran-Nya tentang keterikatan pada tradisi lama dan baru, pada kebiasaan lama dan baru. Bagi Yesus, sesuatu yang baru musti juga ditunjang dengan yang baru. Kesalahan kaum Farisi adalah menghakimi yang baru dengan kacamata lama.

Paulus, dalam bacaan kedua, bersikap lebih tegas lagi berkaitan dengan penghakiman. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajak jemaat untuk tidak sibuk menghakimi orang lain bahkan diri sendiri. Lebih lanjut Paulus meminta mereka untuk menyerahkan penghakiman itu kepada Allah. Di sini Paulus mau menasehati jemaat di Korintus untuk tidak disibukkan dengan urusan penghakiman, melainkan tetap setia dalam kehendak Allah. Artinya, umat lebih mengusahakan apa yang dikehendaki Allah dalam hidupnya tanpa dipusingkan dengan penghakiman.

Tak jarang dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada pertentangan antara tradisi lama dan tradisi baru; kebiasaan lama dan kebiasaan baru. Kebanyakan kita memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kebiasaan atau tradisi lama sekalipun hal itu sudah kurang relevan lagi. Alasan yang biasa muncul adalah kemapanan dan takut dikritik atau dihakimi. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berani meninggalkan sesuatu yang lama jika memang itu sudah tak baik lagi atau jika yang baru jauh lebih baik dan berguna. Kita tak perlu takut dihakimi orang lain. Tuhan menghendaki supaya kita berani mengenakan kebiasaan baru yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita diajak untuk senantiasa berjuang melakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita tanpa dipusingkan dengan penilaian atau penghakiman dari sesama kita

by: adrian