Jumat, 30 Desember 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH YUNUS AYAT 109

 


Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik. (QS 10: 109)

Al-Qur’an diyakini oleh umat islam merupakan wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dipahami sebagai berikut: Allah berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad mendengarnya. Umat islam percaya hanya Muhammad sebagai penerima wahyu Allah. Dengan demikian, ia adalah lawan bicara Allah. Apa yang didengar Muhammad itulah yang kemudian ditulis dan akhirnya menjadi sebuah kitab yang diberi nama Al-Qur’an. Karena itu, umat islam percaya dan meyakini bahwa apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah SWT sendiri. Umat islam menilai kitab sucinya benar-benar suci, karena di dalamnya terdapat kata-kata Allah, yang adalah suci. Umat islam menaruh hormat yang tinggi kepada Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan kepada Allah. Orang yang melakukan hal itu, berdasarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, wajib dibunuh (QS al-Maidah: 33).

Umat islam menganggap dan menilai Al-Quran sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas, karena memang demikianlah yang dikatakan Allah sendiri. Allah telah memudahkan wahyu-Nya sehingga umat bisa dengan mudah pula memahaminya. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Umumnya para ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan kata lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Sekalipun ditafsirkan, tetap saja tafsiran itu tak jauh dari apa yang tertulis. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Penafsiran atas wahyu Allah yang tidak sesuai dengan apa yang tertulis bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari dua premis di atas, maka apa yang tertulis dalam surah Yunus ayat 109 di atas merupakan perkataan langsung dan asli dari Allah SWT. Allah berbicara dan Muhammad mendengarnya. Apa yang tertulis di sana seperti itu juga yang didengar oleh nabi Muhammad SAW. Dan apa yang disampaikan Allah ini sudah jelas maknanya. Dengan sangat mudah dan sederhana ulama islam menafsirkan kutipan kalimat Allah bahwa Allah adalah hakim yang terbaik, dan umat islam wajib mengikuti keputusan-Nya.

Pada titik ini terlihat jelas betapa indahnya tafsiran wahyu Allah ini. Dan biasanya umat agama lain langsung terpesona dan kagum dengan penjelasan dan kata-kata manis yang keluar dari para ulama, sekalipun tafsiran seperti itu terdapat juga pada ajaran agama lain. Setiap umat beragama punya keyakinan bahwa Allahnya adalah hakim yang bijak. Namun perlu disadari bahwa keterpesonaan dan kekaguman atas tafsiran wahyu Allah di atas terjadi ketika kutipan kalimat Allah itu ditafsir lepas dari konteksnya. Perlu diketahui konteks wahyu Allah yang ada dalam Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengarkan. Umat islam percaya Muhammad adalah lawan bicara Allah. Karena itu, kutipan ayat di atas diyakini sebagai kata-kata Allah yang diucapkan-Nya kepada Muhammad. Berdasarkan konteks keindahan tafsiran wahyu Allah ini, bagi orang yang berpikiran waras, menyisakan masalah besar bagi iman islam.

Rabu, 28 Desember 2022

STUDI AL-QUR'AN: SURAH ASY SYURA AYAT 8

 Tidak sedikit umat islam menolak tudingan agama islam agama intoleran. Mereka selalu mengatakan bahwa islam adalah agama toleran, yang menghargai perbedaan. Sering islam moderat menyangkal kalau Allah SWT hanya menghendaki islam saja. Biasanya mereka mendasarkan argumennya pada QS 42: 8, yang sayangnya hanya dikutip sebagian saja, alias tidak utuh. Mereka mengatakan, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat.” Dengan dasar ini umat islam menyatakan bahwa mereka mengakui adanya perbedaan, dan terhadap perbedaan itu islam selalu mengedepankan toleransi. Argumentasi di atas sangatlah lemah, karena seperti yang telah dikatakan tadi, kalimat di atas tidak utuh dikutip. 



Selasa, 27 Desember 2022

BUNDA MARIA SEBAGAI BUNDA ALLAH

 

Setiap tanggal 1 Januari Gereja Semesta mempersembahkannya kepada Bunda Maria sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Banyak orang sinis terhadap gelar ini. Bukankah Maria itu manusia biasa. Kenapa dia disebut Bunda Allah? Orang menilai bahwa dengan gelar tersebut Bunda Maria dilihat sebagai Allah. Dan ada yang mengidentikkan Roh Kudus dengan Bunda Maria.

Untuk memahami gelar “Bunda Allah”, pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas siapa Yesus, yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria. Injil sudah mengatakan bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1: 26 – 38 dan Mat 1: 18 – 25). Dan yang dikandung adalah Yesus Kristus. Jadi, dari sini pemahaman kita akan beralih dari siapa Yesus kepada peran Maria sebagai Bunda Yesus Kristus.

Sebagai orang katolik, kita sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melalui Maria, Yesus Kristus, yang adalah pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus, memasuki dunia ini dengan mengenakan daging manusia dan jiwa manusia. Jadi, dalam rahim Maria bersemayam Allah yang sekaligus juga manusia, yang kelak akan diberi nama Yesus. Namun kehamilan itu tidak mengubah kemanusiaan Maria menjadi ilahi. Maria tetaplah manusia biasa, tapi memiliki keistimewaan.

Gelar “Bunda Allah” yang melekat pada Maria sudah menjadi keyakinan umat sejak Gereja Perdana. Santo Yohanes Krisostomus (wafat tahun 404), misalnya, mengubah dalam Doa Syukur Agung Misanya, suatu madah untuk menghormati Bunda Maria. “Sungguh, semata-mata guna memaklumkan bahwa engkau terberkati, ya Bunda Allah, yang paling terberkati, yang sepenuhnya murni dan Bunda Allah kami. Kami mengagungkan engkau yang lebih terhormat daripada kerubim dan lebih mulia secara tak bertara daripada seraphim. Engkau, yang tanpa kehilangan keperawananmu, melahirkan Sabda Tuhan. Engkau yang adalah sungguh Bunda Allah.”

Santo Gregorius Naziansa, yang hidup akhir abad IV, menyatakan bahwa barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi, namun juga manusiawi.

Senin, 26 Desember 2022

BETLEHEM TEMPAT KELAHIRAN YESUS. INI BUKAN KEBETULAN

 

Bagi umat manusia, khususnya umat kristiani, Betlehem dikenal sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus. Jika ditanya kenapa Yesus lahir di sana, tentulah orang akan menjawab karena orangtuanya, yaitu Yosef, berasal dari sana. Di saat Maria sedang berada dalam masa kehamilan tua, Yosef dan Maria terkena kewajiban mendaftarkan diri di kota asal mereka, yaitu Betlehem. Ini sesuai dengan perintah Kaisar Agustus (lih. Luk 2: 1 – 4).

Sebagian pasti akan mengatakan bahwa hal itu sudah diramalkan nabi perjanjian lama. Tertulis dalam Kitab Mikha, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mi 5: 1). Teks inilah yang dipakai para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi ketika ditanya oleh Herodes perihal tempat kelahiran raja orang Yahudi. Pertanyaan ini sebenarnya berawal dari para majus. (lih. Mat 2: 1 – 6).

Kenapa Betlehem dijadikan tempat lahirnya Kristus? Memang, tempat kelahiran Yesus Kristus memiliki dasar biblis dan historis. Akan tetapi, ternyata tempat kelahiran itu memiliki makna yang dalam bagi Yesus sendiri. Kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan karena ada kesesuaian antara makna Betlehem dan Yesus Kristus. Kelahiran Tuhan Yesus di sana seakan menjadi makna tempat itu; atau makna tempat itu mau menggambarkan peristiwa kelahiran itu.

Sebagaimana diketahui dalam bahasa Ibrani kata “Betlehem” berasal dari kata bet, yang berarti rumah, dan lehem, yang berarti roti. Jadi, Betlehem mempunyai arti Rumah Roti. Tidak diketahui pasti kenapa tempat ini dinamakan demikian. Ada kemungkinan karena tempat ini dikelilingi oleh ladang gandum dan dari gandum itu dihasilkan roti. Di samping itu, tempat ini merupakan tempat persinggahan untuk mengambil perbekalan dalam perjalanan. Dengan kata lain, karena menghasilkan roti sebagai bekal perjalanan, maka tempat persinggahan itu dinamakan Betlehem.

Minggu, 25 Desember 2022

STUDI ALQURAN: SURAH AT TAUBAH AYAT 123

Umat islam sangat percaya kalau Alquran langsung dari Allah. Apa yang tertulis di dalamnya diyakini sebagai kata-kata Allah. Karena itu, alquran dinilai juga sebagai kalam Allah. Ada banyak bentuk wahyu Allah. Salah satunya adalah perintah. Dari perintah inilah kemudian lahir kewajiban bagi umat islam. Umat islam wajib melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Surah at-Taubah ayat 123 merupakan satu kewajiban islami, yaitu perang. Video berikut ini membahas topik ini.


Kalau mengalamai kesulitan dalam membuka video di atas, atau sama sekali tidak bisa dibuka, maka silahkan mencoba buka di channel youtube kami. Selamat belajar!!! 

Jumat, 23 Desember 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH HUD AYAT 118

 


Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (QS 11: 118)

Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam, selain hadis. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung berbicara kepada Muhammad, yang kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, umat islam yakin dan percaya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Berhubung Allah itu diyakini sebagai maha suci, maka Al-Qur’an pun adalah suci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Allah sudah meminta kepada umat islam untuk memberi hukuman berat bagi mereka yang melakukan hal itu dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Umat islam melihat Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dengan perkataan lain, Al-Qur’an dijadikan tuntunan hidup bagi umat islam, bagaimana umat islam bersikap dalam hidup. Agar tidak menimbulkan perdebatan dikemudian hari terkait kehendak Allah itu, maka Allah sendiri telah memudahkan Al-Qur’an. Kemudahan itu pertama-tama terlihat dari bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Arab (QS 19: 97 dan QS 44: 58). Umumnya para ulama menafsirkan kemudahan itu dengan kesederhanaan bahasa yang tidak membutuhkan banyak tafsir, yang bisa berdampak pada perbedaan pendapat.

Berangkat dari dua premis di atas, maka bisa dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan kata-kata Allah sendiri, yang diucapkan-Nya kepada Muhammad. Karena Allah sudah mengatakan bahwa Dia telah memudahkan ayat-Nya, maka dengan sangat sederhana ulama islam menafsirkan kutipan kalimat Allah di atas sebagai sikap Allah yang menghargai dan menghormati perbedaan. Karena jika tidak demikian, tentulah Allah hanya akan menciptakan manusia itu satu umat saja. Frasa “umat yang satu” dapat dimaknai suku, bangsa, ras, agama atau juga golongan. Umat yang satu inilah yang tidak dikehendaki Allah, sehingga dunia ini dipenuhi manusia dengan latar belakang suku, agama, ras, bangsa yang berbeda-beda.

Sikap Allah ini sekaligus menjadi sikap umat islam. Dengan demikian, umat islam diminta untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Sikap yang harus dibangun adalah sikap toleransi. Hal ini kemudian kerap dilontarkan umat islam bahwa islam adalah agama yang toleran, karena islam mengajarkan toleransi. Islam adalah agama yang menghargai perbedaan.

Pada titik ini terlihat jelas betapa indahnya wahyu Allah ini. Dan biasanya umat agama lain langsung terpesona dengan penjelasan dan kata-kata manis yang keluar dari para ulama. Padahal, jika kutipan kalimat Allah di atas dikaji dengan kritis dan dengan membandingkan dengan ayat lainnya serta realitas islam, maka dapat langsung ditemui “tong kosong nyaring bunyinya”. Artinya ada masalah dalam kutipan dan juga tafsirannya.

Rabu, 21 Desember 2022

HATI-HATI DENGAN SPIRIT KORPS

 

Tentu kita pernah dengar kata “kolegialitas” atau biasa juga dipakai istilah korps. Kata yang terakhir diambil dari bahasa Latin, dari kata corpus, yang berarti tubuh atau badan (manusia). Tubuh, sekalipun mempunyai banyak anggota, merupakan satu kesatuan. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut menderita. Misalnya, yang sakit gigi, maka seluruh badan ikut terasa sakit.

Demikian pula kolegialitas atau korps. Orang-orang yang masuk dalam kolegialitas diharapkan memiliki semangat satu kesatuan seperti tubuh. Ibarat tubuh terdiri dari banyak anggota tapi menunjukkan kesatuan, demikian pula suatu perkumpulan manusia. Gangguan terhadap salah satu anggota berarti gangguan terhadap semua anggota.

Semangat kolegialitas seperti tubuh manusia itu memang baik. Ia membangun sikap peduli, empati dan solidaritas terhadap sesama anggota. Sikap ini pula yang hendak dibangun dalam sebuah perkumpulan ketika semangat kolegialitas hendak dibangun. Akan tetapi, tidak semua semangat kolegialitas itu sempurna untuk diterapkan dalam suatu organisasi.

Semangat kolegialitas dapat membawa anggota suatu lembaga ke dalam fanatisme sempit. Fanatisme ini lahir dari kesombongan kelompok. Semangat kolegialitas membuat anggota suatu lembaga merasa bahwa lembaganya adalah segala-galanya. Kelompok lain biasa dianggap musuh. Penyerangan terhadap salah satu anggota, adalah juga serangan terhadap anggota lain, sehingga anggota lain berkewajiban untuk membela bahkan menyerang kelompok penyerang.

Selasa, 20 Desember 2022

PENDIDIKAN SEKS BUAT ANAK-ANAK

 

Kekerasan seksual terhadap anak dewasa ini memunculkan pemikiran perlunya pendidikan seks ditanamkan sejak usia dini. Banyak ahli menilai bahwa pendidikan seks yang baik dan benar, sedikitnya dapat mengatasi atau mengurangi kejahatan seks terhadap anak, karena anak sudah memiliki bekal untuk menghadapinya.

Akan tetapi, tuntutan akan pendidikan seks usia dini ini berbenturan dengan kebingungan sebagian kalangan orangtua tentang bagaimana menerapkan pendidikan seks yang tepat itu kepada anaknya. Terlebih lagi, norma dan kebiasaan yang berlaku masih menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu.

Karena itulah, psikolog Vera Itabiliana Hadiwijojo berpendapat bahwa langkah pertama untuk penerapan pendidikan seks ini adalah perubahan pola pikir, khususnya para orangtua. Seks tidak lagi dianggap sebagai tabu. Dengan perubahan ini, orangtua akan lebih nyaman menyampaikan segala sesuatu terkait dengan seks, dengan kata yang sederhana dan mudah dipahami anak.

Pendidikan seks untuk anak mempunyai 2 fungsi, yaitu internal dan eksternal. Fungsi internal bertujuan membangun kesadaran anak akan tubuhnya. Pemahaman akan tubuh di sini tidak hanya sebatas organ seksualitas saja, melainkan juga tubuh secara keseluruhan. Anak diajak untuk menjaga, menghargai dan menghormati tubuh mereka sendiri, sebelum menuntut orang lain menghargainya.

Minggu, 18 Desember 2022

STUDI ALQURAN: SURAH AT TAHRIM AYAT 9

Alquran dipercaya oleh umat islam sebagai wahyu Allah. Apa yang tertulis di dalamnya merupakan kata-kata Allah sendiri, yang diucapkan Allah kepada Muhammad. Dari sekian banyak wahyu Allah, ada beberapa wahyu yang secara langsung ditujukan kepada Muhammad. Salah satunya adalah surah at-Tahrim ayat 9 ini. Bukan lantas berarti pesan Allah itu hanya berlaku buat Muhammad saja, tetapi juga untuk semua umat islam. Studi kali ini membahas topik wahyu Allah ini.


 Apabila video di atas sulit atau tidak bisa sama sekali dibuka, silahkan coba membuka di channel youtube kami. Selamat menikmati!!!

Jumat, 16 Desember 2022

TINJAUAN LOGIS ATAS KATA GANTI ALLAH DALAM SURAH AR-RAD

 


Dewasa ini, jika dikatakan Al-Qur’an tentulah orang langsung memahaminya sebagai kitab suci umat islam yang bertuliskan bahasa Arab, yang terdiri dari 114 surah. Al-Qur’an merupakan pusat spiritualitas umat islam. Ia dipercaya sebagai wahyu Allah yang disampaikan langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Jadi, konteks keseluruhan ayat Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar. Apa yang didengar Muhammad inilah yang kemudian ditulis, dan akhirnya menjadi Al-Qur’an. Karena itu, apa yang tertulis di dalamnya dipercaya sebagai kata-kata Allah. Kepercayaan ini didasarkan pada perkataan Allah sendiri yang banyak tersebar dalam Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya bahwa kitab sucinya merupakan wahyu Allah karena Allah sudah mengatakan demikian dalam kitabnya. Hal inilah yang membuat umat islam menaruh hormat yang tinggi pada Al-Qur’an. Penodaan terhadap Al-Qur’an dilihat sebagai penodaan terhadap Allah sendiri, dan orang yang melakukan itu harus dibunuh. Ini merupakan perintah Allah, yang tertuang dalam Al-Qur’an sendiri (QS al-Maidah: 33).

Surah ar-Rad merupakan surah ketigabelas dalam kitab Al-Qur’an. Surah ini masuk dalam kelompok surah makkiyyah, artinya wahyu Allah yang turun saat Muhammad berada di Mekkah. Tidak ada info pasti kira-kira tahun berapa wahyu Allah ini turun. Surah ar-Rad hanya terdiri dari 43 ayat. Sekalipun terbilang pendek, dapat dipastikan ke-43 ayat ini tidaklah turun sekaligus. Artinya, Allah tidak langsung menyampaikan kepada Muhammad ke-43 wahyu-Nya ini. Bisa saja Allah menyampaikannya dalam 2 tahap, bisa juga lebih. Tidak ada yang tahu pasti.

Seperti surah-surah lainnya, dalam surah ar-Rad ini Allah memakai beberapa kata ganti, yang dimaknai sebagai Allah. Selain kata “Allah” sendiri, digunakan juga kata ganti “Kami”, “Dia” dan “Aku”. Jika ditelusuri dengan mata manusiawi, kata “Kami” ada 8 ayat, kata “Dia” ada 12 ayat, dan hanya ada 1 ayat dengan kata “Aku”. Ayat selebihnya ada yang menggunakan kata “Allah” ada juga yang sama sekali tidak memakai kata ganti apa pun karena memang tidak ada penggambaran peran Allah di dalamnya. Penggunaan kata-kata ganti ini bervariasi. Misalnya, pada ayat awal dipakai kata “Allah”, lalu dua ayat berikutnya pakai “Dia” untuk menunjukkan pengganti kata “Allah” di depannya. Beberapa ayat kemudian bisa saja memakai kata “Kami”, bisa juga kembali lagi ke “Allah”. Begitulah seterusnya. Terlihat pemakaian 3 kata ganti ini selalu berselang-seling. Gambaran seperti ini terulang berkali-kali sepanjang surah ar-Rad. Dalam tulisan ini akan ditampilkan penggunaan ketiga kata ganti tersebut pada ayat 30 – 43.

Sengaja diambil 14 ayat terakhir dari wahyu Allah ini karena sangat menarik untuk ditelaah. Di sini sangat terlihat tiga kata ganti yang ditafsirkan sebagai Allah dipakai secara bergantian. Harap diingat, semuanya diucapkan oleh Allah. Pada ayat 30 Allah menggunakan kata “Kami” untuk menggambarkan diri Allah, dan pada ayat 31 Allah memakai kata “Allah”. Yang menarik pada ayat 32 Allah memakai kata “Aku” untuk menyebut diri Allah, dan dalam ayat 33 – 35 kembali Allah menggunakan kata “Allah”, namun pada ayat 36 – 38 Allah menggunakan kata "Kami”. Pada ayat 39 Allah menggunakan kata “Dia” untuk menggambarkan diri Allah, dan pada ayat 40 – 41 Allah kembali memakai kata “Kami”, namun ayat 42 kembali digunakan kata “Dia”. Dalam ayat 43 sama sekali tidak ada ketiga kata ganti dan juga kata “Allah”.

Demikianlah pemaparan penggunaan ketiga kata ganti untuk Allah dalam ayat 30 – 43. Haruslah dipahami bahwa ini semua diucapkan oleh Allah; dan Allah itu hanya ada satu. Lucu bukan?

Minggu, 11 Desember 2022

STUDI ALQURAN: SURAH AL BAQARAH AYAT 216

Umat islam percaya Alquran adalah wahyu Allah karena Allah sudah mengatakan demikian dalam Alquran. Umat islam percaya Muhammad adalah nabi penutup karena Allah sudah mengatakan demikian dalam Alquran. Umat islam percaya kitab sucinya adalah kitab kebenaran karena Allah sudah mengatakan demikian dalam Alquran. Umat islam percaya babi itu haram karena Allah sudah mengatakan demikian dalam Alquran. Dan masih banyak lagi kepercayaan umat islam yang dilandasi pada perkataan Allah dalam Alquran. Dengan kata lain, karena Allah sudah berkata demikian, maka umat islam percaya dan mengikutinya. Tapi kenapa umat islam menolak bila dikatakan kewajiban islam adalah perang, sekalipun Allah sudah mengatakan hal itu dalam Alquran?


Selamat menonton video berikut ini. Apabila video di atas tak bisa dibuka, silahkan mencoba buka di channel youtube kami 

Jumat, 09 Desember 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH IBRAHIM AYAT 33

 


Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. (QS 14: 33)

Al-Qur’an diyakini oleh umat islam merupakan wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada Muhammad SAW. Hal ini bisa dipahami sebagai berikut: Allah berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad mendengarnya. Apa yang didengar Muhammad itulah yang kemudian ditulis dan akhirnya menjadi sebuah kitab yang diberi nama Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya dan meyakini bahwa apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah kata-kata Allah SWT sendiri. Dan karena Allah itu maha benar, maka apa yang dikatakan-Nya adalah sebuah kebenaran. Allah sendiri telah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51). Karena itu, umat islam menilai segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an adalah suatu kebohongan. Al-Qur’an telah menjadi tolok ukur kebenaran. Jadi, jika dalam Al-Qur’an dikatakan 1+1=5, umat islam percaya itu benar dan kitab lain yang mengatakan hasilnya 2 adalah palsu.

Umat islam menganggap dan menilai Al-Quran sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas, karena memang demikianlah yang dikatakan Allah sendiri. Allah telah memudahkan wahyu-Nya sehingga umat bisa dengan mudah pula memahaminya. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Umumnya para ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan kata lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Penafsiran atas wahyu Allah bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari pemahaman ini, maka apa yang tertulis dalam surah Ibrahim ayat 14 di atas merupakan perkataan langsung dan asli dari Allah SWT. Allah berbicara dan Muhammad mendengarnya. Apa yang tertulis di sana seperti itu juga yang didengar oleh Muhammad SAW. Memang tidak seluruh kutipan di atas merupakan asli perkataan Allah. Frasa “dalam orbitnya”, yang berada dalam tanda kurung, dapat dipastikan merupakan tambahan kemudian yang berasal dari tangan manusia. Sejatinya frasa itu tidak pernah diucapkan oleh Allah. Karena Allah sudah memudahkan wahyu-Nya, maka dengan sangat mudah pula umat islam menafsirkan kutipan kalimat Allah di atas. Mereka mengatakan bahwa Allah telah mengatur peredaran matahari dan bulan sehingga terciptalah siang dan malam. Dengan kata lain, peredaran matahari dan bulan itu membuat munculnya siang dan malam. Dan umat islam mengklaim itu sebagai kebenaran.

Klaim tersebut memang benar, tapi bukan tanpa masalah. Jika wahyu Allah di atas diletakkan pada konteksnya, maka akan muncul beberapa persoalan. Pertama, siapa yang “telah menundukkan matahari dan bulan”? Memang tafsiran atas kata ganti “Dia” adalah Allah, tapi haruslah dikatakan bahwa itu bukanlah Allah yang berbicara. Ingat, kalimat “Dia telah menundukkan matahari dan bulan …” diucapkan oleh Allah kepada Muhammad. Ibaratnya saya mengatakan kepada Anda, “Dia telah memasak kue itu.” Dapat dipastikan saya berbeda dengan dia. Yang memasak kue itu bukan saya, tapi dia. Demikian halnya dengan kutipan kalimat di atas. Allah yang telah menundukkan matahari dan bulan adalah berbeda dengan Allah yang berbicara. Karena itu, di sini terlihat ada DUA Allah.

Selasa, 06 Desember 2022

TIPS AJAR ANAK HADAPI PORNOGRAFI

 

Manusia masa kini hampir tak bisa dipisahkan dari internet. Bahkan anak kecil pun sudah terbiasa berselancar di dunia maya dengan bantuan alat bernama gadget. Kehadiran internet bukan hanya memudahkan orang untuk mengakses informasi, tetapi juga mendatangkan bahaya pada akses konten pornografi.

Riset internasional memperkirakan jumlah anak remaja yang mengakses konten pornografi bervariasi dari 43% hingga 99%. Jelas ini merupakan jumlah yang tidak sedikit; dan ini sangat memprihatinkan. Paparan pada pornografi online biasanya dimulai pada usia 11 tahun dan akan semakin sering seiring bertambahnya usia.

Penelitian menunjukkan remaja yang mengakses pornografi online mempunyai pemikiran yang tidak realistis terhadap aktivitas seksual dan hubungan. Mereka cenderung lebih menerima stereotip peran gender, serta memiliki sikap yang santai dan permisif terhadap seks.

Namun di sini lain, mereka tidak punya pemahaman yang mumpuni tentang pentingnya kesepakatan, kesenangan, kesehatan atau keamanan dalam melakukan hubungan seksual. Sebaiknya orangtua lebih terbuka dan mau berdiskusi dengan anak-anak mereka tentang pornografi dan bahayanya. Bekali juga anak tentang pendidikan seks dan kesehatan alat reproduksi sesuai usianya.

Senin, 05 Desember 2022

INI PINANGSORI, MISTER!

 

Suatu hari rombongan turis bule baru turun dari pesawat. Mereka berwisata ke daerah Sibolga dan kemudian nyebrang ke Nias. Di pintu keluar, tanpa sengaja seorang bule menginjak kaki pak sopir taksi.

Bule   : Oh, sorry, sorry. I am sorry!

Pak sopir menatap sang bule dengan kebingungan.

Sopir  : Ini pinangsori, mister! Bukan Ayamsori.

Bule   : @$#%&%!*&????

Dabo, 10 Okt 2022

Minggu, 04 Desember 2022

STUDI ALQURAN: SURAH AS SAFF AYAT 9

Alquran diyakini oleh umat islam sebagai wahyu Allah. Apa yang tertulis di dalamnya merupakan kata-kata Allah sendiri yang diucapkan-Nya kepada Muhammad. Karena itulah, Alquran biasa dikenal juga sebagai kalam Allah. Sangat menarik kalau membaca wahyu Allah dalam surah as-Saff ayat 9 ini dengan logika akal sehat. Kita bayangkan Allah itu berbicara dalam bahasa Indonesia, "Dialah yang mengutus rasul-Nya....." Kalimat ini disampaikan Allah kepada Muhammad. Kalau masih punya nalar akal sehat, tentulah langsung mengetahui bahwa kata "dia" tidak merujuk pada Allah yang berbicara, dan yang dimaksud "rasul-Nya" bukanlah Muhammad. Kalau begitu siapa "dia" dan siapa pula "rasul-Nya"?


Jika tidak bisa membuka video di atas, atau mengalami kesulitan dan proses pembukaannya, silahkan coba buka di channel youtube kami. Selamat menikmati!!!! 

Jumat, 02 Desember 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ARAF AYAT 206

 


Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud. (QS 7: 206)

Umat islam yakin bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang disampaikan langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Apa yang tertulis dalam kitab itu, mulai dari surah al-Fatihah hingga surah an-Nas, diyakini sebagai perkataan Allah sendiri. Keyakinan ini didasarkan pada firman Allah sendiri yang banyak terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Karena itu, umat islam akan marah jika ada yang melecehkan Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan terhadap Allah, dan umat islam wajib bangkit untuk melawan. Allah sudah memberi perintah agar umat islam membela Allahnya yang mahakuat dan maha perkasa. Dan terhadap pelaku pelecehan, Allah sudah menentukan hukumannya. Dalam QS al-Maidah: 33 ditegaskan bahwa hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang.

Dari pemahaman di atas dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan wahyu Allah. Apa yang tertulis di atas adalah kata-kata Allah sendiri. Umat islam sangat yakin bahwa hanya Muhammad satu-satunya penerima wahyu Allah. Dengan demikian, konteks Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar; atau Muhammad adalah lawan bicara Allah. Kutipan kalimat di atas disampaikan Allah kepada Muhammad. Dengan kata lain, kutipan kalimat tersebut didengar oleh Muhammad, yang kemudian dituliskan oleh pengikutnya. Jadi, kutipan ayat di atas dilihat sebagai wahyu Allah, yang disampaikan Allah kepada Muhammad.

Memang Allah sudah mengatakan bahwa wahyu-Nya jelas dan mudah. Sengaja Allah membuat mudah dan jelas wahyu-Nya mengingat para pengikut Muhammad umumnya dari kalangan orang bodoh. Dengan membuat jelas dan mudah, maka umat dapat dengan mudah memahami pesan yang hendak disampaikan Allah lewat wahyu-Nya. Demikian pula wahyu Allah dalam kutipan di atas: mudah dan jelas. Akan tetapi, jika ditelaah dengan kritis, dengan alat bantu ilmu bahasa, maka akan ditemukan persoalan.

Kamis, 01 Desember 2022

BENARKAH MENGKRITIK IMAM MENDATANGKAN KUTUK?

 

Hari Minggu lalu saya mengunjungi sebuah keluarga usai pelayanan misa hari Minggu. Ketika tiba di depan rumah, pasangan suami istri itu sedang sibuk melayani pelanggannya. Maklum, mereka membuka toko kelontong. Ditemani sang suami di ruang tamu, sementara istri sibuk melayani pembeli dan menjaga toko, kami ngobrol tentang kehidupan rumah tangganya, anaknya, masa lalunya hingga kehidupan umat.

Tentang kehidupan umat, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Dikatakan menarik karena hal ini benar-benar mengusik akal sehat dan iman saya sehingga menimbulkan rasa prihatin. Ceritanya begini. Pada waktu paroki itu digembalakan oleh Pastor Hape. Sikap pastor ini kurang simpatik sehingga menimbulkan banyak konflik dengan umat. Ada umat yang sampai mencela pastor itu. Umat ini sudah diperingati supaya tidak mencela pastor, karena bisa mendatangkan kutuk. Umat itu tidak menggubris. Menjelang ajal, umat itu mengalami penderitaan yang sangat hebat. Dan waktu meninggal, jasadnya meninggalkan aroma busuk.

Bapak itu mengatakan kepada saya kalau orang itu kena kutukan. “Jangan main-main dengan imamat pastor.” Demikian tegasnya. Dan ia mengatakan bahwa hal itu sudah disampaikan kepada orang itu. Baginya peristiwa seperti itu bukan baru pertama kali terjadi. Dan bagi saya pun cerita seperti itu bukan yang pertama kali saya dengar. Jauh sebelumnya saya sudah pernah mendengar cerita bahwa jangan macam-macam dengan imam atau uskup kalau tidak mau kena kutuk.

Mendengar cerita bapak itu, lengkap dengan segala keyakinannya, saya sungguh merasa prihatin. Sekalipun saya seorang imam, saya sama sekali tidak bangga. Malah saya merasa malu. Kenapa kesalahan selalu ditimpakan kepada umat; dan kebetulan pula umat itu mendapatkan “aib”. Bagaimana jika orang tersebut mati seperti biasanya, apakah berarti dia benar dan pastornya salah?

Keprihatinan saya akan cerita itu didasari pada dua hal, pertama seakan imam itu bebas salah. Sekalipun sudah menerima tahbisan imamat (atau bahkan episkopal), tidak membuat seseorang itu bebas dari dosa dan salah. Imamat tidak serta merta menghilangkan aspek kemanusiaannya yang lemah dan mudah jatuh ke dalam dosa. Kedua, cerita tadi seakan membuat gambaran imam tak bisa/boleh dikritik. Sekalipun imamnya berbuat salah, jangan coba-coba mengkritik, apalagi mencela. Berani mengkritik berarti siap menerima kutuk.

Rabu, 30 November 2022

STUDI AL-QUR'AN: SURAH AN NISA AYAT 142

Bisa dikatakan bahwa berbohong atau menipu adalah lumrah dalam agama islam. Hal ini mungkin disebabkan karena Allah SWT sendiri melakukan kebohongan. Sangat menarik kalau kita membaca dan mengkritisi surah an-Nisa ayat 142. Di sini Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka.” Terlihat jelas kalau surah ini berisi pengakuan Allah SWT bahwa Dia adalah pembohong atau penipu karena telah melakukan penipuan.



Senin, 28 November 2022

PANDANGAN KELIRU SOAL WAHABI

 


Sejak Rakernas Lembaga Dakwa PBNU selesai, 27 Oktober silam, kata atau istilah wahabi sering muncul di media sosial. Umumnya semua bernada negatif. Wahabi selalu dikaitkan dengan aksi kekerasan atas nama islam, entah itu kekerasan ringan atau juga berat, seperti terorisme. Wahabi dihubungkan juga dengan aksi intoleransi atas nama islam, kilafah dan juga pengkafir-kafiran. Soal yang terakhir ini sasarannya tidak hanya umat non muslim saja, melainkan juga dari kalangan islam sendiri. Dan biasanya yang memberi label itu adalah kalangan islam yang menyatakan dirinya moderat. Dengan mengaitkan kekerasan, intoleransi, kilafah dan pengkafir-kafiran kepada wahabi, ada kesan bahwa wahabi salah.

Bagi kami ini merupakan pandangan yang keliru. Harap diingat dan disadari klaim kaum islam moderat ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Bukan lantas berarti apa yang dikatakan kaum islam moderat tentang wahabi itu berarti bahwa kaum wahabi itu salah dan mereka adalah benar.

Kekeliruan lain adalah mengatakan bahwa wahabi itu adalah aliran dalam islam. Jika dirunut dari sejarahnya, haruslah dikatakan wahabi tak layak disebut sebagai (salah satu) aliran dalam islam. Wahabi awalnya merupakan sebuah gerakan, yang dipimpin oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab, yang mengajak umat islam untuk kembali menghidupi ajaran islam yang sebenarnya. Hal ini karena Abdul Wahab melihat ada banyak umat islam sudah tidak setia pada ajaran islam yang asli. Dengan demikian Abdul Wahab hendak mengembalikan islam yang asli dan sejati.

Pada titik ini tidaklah salah bila kaum Wahab diidentikkan dengan radikalisme. Sebenarnya kata ini tidaklah berkonotasi negatif. Akar kata radikalisme adalah radix, yang berarti akar. Secara sederhana kata radikalisme bisa dipahami sebagai gerakan kembali ke akar. Inilah yang dilakukan oleh kaum wahabi. Mereka ingin kembali ke akar ajaran islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis.

Dalam Al-Qur’an ada banyak ajaran yang berisi kekerasan terhadap non muslim. Ada perintah membunuh orang kafir dan orang musyrik. Kaum wahabi melakukan hal itu, sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an. Di sini sering kali kaum islam moderat keliru memandang kaum wahabi. Mereka mengatakan bahwa kaum wahabi salah menafsirkan wahyu Allah itu. Padahal kaum wahabi sama sekali tidak sedang menafsirkan wahyu Allah; justru kaum islam moderatlah yang melakukannya. Kaum wahabi hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana tertulis dalam kitab suci. Melakukan seperti yang tertulis berarti mengindahkan kehendak Allah. Jadi, kaum wahabi berupaya melaksanakan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an.

Selain kekerasan, dalam Al-Qur’an ada banyak ajaran yang membangun sikap intoleran terhadap orang non muslim. Orang yang bukan islam akan disebut kafir, dan orang kafir harus dibenci dan dimusuhi. Allah SWT sudah memerintahkan kepada umat islam untuk tidak berteman atau menjalin relasi dengan orang kafir, serta untuk tidak memilih orang kafir sebagai pemimpin. Kaum wahabi melaksanakan itu tanpa harus menafsirkan wahyu Allah. Kaum moderatlah yang menafsirkan wahyu Allah tersebut. Karena itu, kenapa kaum wahabi disalahkan? Janganlah karena wajah terlihat buruk, cermin yang disalahkan. Janganlah pula selalu menyembunyikan wajah buruk dibalik topeng dan menyalahkan wajah buruk orang lain.

Minggu, 27 November 2022

STUDI ALQURAN: TAURAT DAN INJIL PALSU

Umat islam percaya bahwa kitab suci orang Yahudi dan Kristen sudah tidak asli lagi, alias palsu. Mereka percaya ini karena Allah sudah mengatakannya dalam Alquran. Di sini tampak kalau perkataan Allah dijadikan tolok ukur asli atau tidaknya suatu naskah, bukan pada penelitian ilmiah. Bisa dikatakan kalau dalam Alquran Allah berkata 1+1=5, yakinlah pasti umat islam percaya saja, dan mengatakan kitab atau buku lain yang mengatakan 2 adalah salah. Kenapa Taurat dan Injil dinyatakan palsu? Video berikut ini mencoba mengulas topik ini secara logis.


Kalau mengalami kesulitan dalam membuka video di atas, silahkan coba membuka video sama di channel youtube kami. Selamat belajar!!! 

Jumat, 25 November 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ARAF AYAT 184

 


Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila. Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas. (QS 7: 184)

Al-Qur’an merupakan pusat spiritualitas umat islam. Di sana mereka tidak hanya mengenal Allah yang diimani dan disembah, tetapi juga mendapatkan pedoman dan tuntunan hidup yang akan menghantar mereka ke surga. Al-Qur’an biasa dijadikan rujukan umat islam untuk bersikap dan bertindak dalam hidup keseharian, selain hadis. Umat islam menyakini Al-Qur’an langsung berasal dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini didasarkan pada pernyataan Allah sendiri, yang dapat dibaca dalam beberapa surah Al-Qur’an. Jadi, Allah sendiri telah menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan-Nya, sehingga ia dikenal juga sebagai kalam Allah. Karena itu, Al-Qur’an dihormati sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri adalah mahasuci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Orang yang melakukan hal itu harus dihukum berat dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Selain itu juga umat islam melihat Al-Qur’an sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas. Ini juga didasarkan pada perkataan Allah sendiri. Allah telah mengatakan bahwa diri-Nya telah memudahkan ayat-Nya sehingga umat dapat dengan mudah memahami. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Tak sedikit ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan perkataan lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an. Seandainya pun tidak persis seperti yang tertulis, tapi maknanya tak jauh beda dengan apa yang tertulis. Penafsiran atas wahyu Allah yang berbeda bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari dua premis di atas, maka bisalah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan kata-kata Allah sendiri. Memang harus diakui juga bahwa apa yang tertulis itu tidaklah sepenuhnya merupakan perkataan Allah. Kata ‘Muhammad’ yang ada dalam tanda kurung (2 kali) merupakan tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Artinya, kata tersebut tidak pernah diucapkan Allah saat Dia menyampaikan wahyu ini kepada Muhammad. Melihat dan membaca teks di atas, orang langsung menemukan pembenaran wahyu Allah, yaitu wahyu Allah jelas dan mudah. Dengan sangat mudah orang menafsirkan kalimat Allah di atas sebagai berikut: “Muhammad itu tidak gila dan hanya seorang pemberi peringatan yang jelas.” Sangat sederhana.

Akan tetapi, kalau kita menempatkan kutipan kalimat di atas pada konteksnya, maka langsung ditemukan keanehan dan masalah. Konteks wahyu Allah dalam Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar. Allah menyampaikan wahyu-Nya hanya kepada Muhammad. Jadi, ketika Allah menyampaikan kutipan ayat di atas, Muhammad adalah lawan bicaranya. Karena itu, secara logika dan juga secara linguistik, tafsiran bahwa yang tidak gila dan sebagai pemberi peringatan itu Muhammad adalah salah besar. Menafsirkan dengan Muhammad itu berarti tidak sesuai dengan kehendak Allah, karena bukan itu maksud Allah. Dapat dipastikan yang tidak gila dan sebagai pemberi peringatan itu bukanlah Muhammad. Jika yang dimaksud itu adalah Muhammad, seharusnya Allah berkata, “Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa engkau tidak gila. Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”

Rabu, 23 November 2022

KIAT ATASI ANAK REWEL

 

Tentu kita berharap supaya anak-anak kita hidup tenang, menurut dan tidak rewel. Ada orangtua yang merasa kaget ketika menghadapi anaknya yang rewel, seperti suka ngambek dan teriak-teriak saat keinginannya tak dituruti. Kekagetan ini bisa saja disebabkan karena pengalaman orangtua ketika masih kanak-kanak tidak seperti anaknya saat ini. Padahal pepatah mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Karena itu, orangtua akan bertanya apa, dimana dan siapa yang salah?

Perlu disadari bahwa menjadi orangtua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hingga saat ini belum ada pendidikan khusus untuk menjadi orangtua. Menjadi orangtua merupakan suatu panggilan hidup, dan untuk menjadi orangtua yang baik merupakan suatu proses yang panjang, bahkan tak berhenti.

Untuk menjadi orangtua, kita harus memperkaya diri dengan banyak pengetahuan cara mendidik serta melakukan pengasuhan. Pengetahuan ini bisa didapat melalui bahan bacaan, bisa juga melalui pengalaman-pengalaman orang lain. Intinya, harus ada sikap terbuka untuk menerima masukan.

Mendidik dan mengasuh anak itu terkait dengan pola asuh. Tentang pola asuh ini, masing-masing keluarga punya caranya tersendiri. Namun perlu juga diingat bahwa pola asuh ini tidak selamanya bersifat permanen, kecuali sudah terbukti sahih. Bagi keluarga yang belum menemukan pola asuh yang pas, sangat terbuka untuk mengubahnya.

Dalam menghadapi anak yang rewel, orangtua perlu memberikan batasan dan pengertian mengenai hal-hal yang bisa diberikan atau tidak, lengkap dengan alasannya. Anak dapat membentuk sistem regulasi diri jika memang diberikan kesempatan lebih banyak untuk dapat melakukan yang baik dan benar sehingga hal tersebut akan terbentuk secara sempurna sesuai usia. Hal praktis yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan membuat aturan secara konsisten dan diterapkan lengkap dengan konsekuensi yang logis (bukan hukuman)

Anak yang sudah mencapai usia 6 tahun memungkinkan untuk mendapatkan penjelasan dan pemahaman secara verbal dan setiap aturan yang diberikan sebaiknya diikuti dengan contoh konkret. Misalnya, jika ingin membuat aturan kapan waktunya membeli mainan, anak diberikan pemahaman bahwa mainan itu baru dapat dibeli setiap 3 bulan sekali di tanggal tertentu; jelaskan alasannya dan mengapa perlu dilakukan pengaturan pembelian mainan.

Bila perlu, ajak anak untuk mendiskusikan keinginannya disertai contoh cerita anak-anak yang terkait dengan permasalahan yang dihadapi sehingga anak akan lebih mudah dalam memahami. Selain itu, perlu dilakuan penguatan terhadap perilaku yang akan dibentuk dengan memberikan reward atau penghargaan berupa stiker atau poin ketika anak dapat melakukan sesuatu sesuai kesepakatan.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 22 November 2022

RANGKAP JABATAN DAN KESERAKAHAN

 

Serakah atau keserakahan merupakan salah satu sifat buruk yang harus dihindari. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru terdapat 10 kali penyebutan kata ini, yaitu sekali dalam Injil (Mrk 7: 22), tujuh kali dalam surat Paulus (Rom 1: 29; Ef 4: 19; Ef 5: 3; Ef 5: 5; Kol 3: 5; 1Tim 3: 8 dan Tit 1: 7) dan dua kali dalam surat Petrus (2Ptr 2: 3 dan 2Ptr 2: 14). Semuanya menyerukan agar umat menghindari sifat serakah ini, karena orang yang serakah tidak akan mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah (Ef 5: 5).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “serakah” dipahami sebagai selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Orang yang memiliki sifat ini mempunyai perasaan tidak puas dengan apa yang sudah ada pada dirinya. Dia ingin lagi dan lagi, sekalipun ia sadar akan keterbatasan dirinya. Karena itu, kata “serakah” ini berpadanan dengan kata tamak atau rakus.

Dalam arti tertentu, kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa, ke dalam dosa disebabkan karena sifat serakah mereka. Sekalipun sudah menikmati hidup bahagia di taman Eden, namun mereka tidak puas. Mereka ingin lebih. Pada titik inilah setan masuk dan menggoda. “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej 3: 4 – 5). Manusia ingin lebih dari apa yang sudah ada, sehingga akhirnya ia menuruti godaan setan.

Keserakahan dapat terlihat dalam berbagai wujud. Perselingkuhan yang terjadi dalam dunia rumah tangga bisa dikatakan sebagai bentuk lain dari keserakahan, karena suami atau istri merasa tidak puas dengan apa yang sudah ada pada dirinya, yaitu pasangan hidupnya. Keserahakan juga dapat dilihat pada perilaku remaja yang melakukan hubungan seks sebelum nikah, karena tindakan itu hanya dikhususkan bagi mereka yang sudah resmi menjadi suami istri (makanya, hubungan seks = hubungan suami istri). Orang yang melakukan korupsi pun dapat dimasukkan ke dalam kategori serakah.

Masih banyak lagi bentuk konkret dari keserakahan. Yang akan dibahas di sini adalah soal rangkap jabatan. Ada banyak dalam kehidupan kita, baik itu dalam dunia sipil maupun dalam dunia Gereja, fenomena rangkap jabatan. Artinya, satu orang memegang beberapa jabatan. Menjadi persoalan, apakah rangkap jabatan termasuk kategori serakah?

Perlu disadari bahwa tidak semua yang rangkap jabatan itu adalah serakah. Akan tetapi, yang serakah itu pasti rangkap jabatan. Tidak ada orang yang tidak serakah hanya memiliki satu jabatan saja. Karena sifat tidak puas dengan apa yang sudah ada itu membuat orang berusaha untuk mendapatkan jabatan lain. Namun, orang yang rangkap jabatan belum bisa dikatakan sebagai orang serakah.

Senin, 21 November 2022

MENGENAL SEKILAS TENTANG SAKRAMEN TOBAT

 

Salah satu poin penting pada masa Tahun Suci Kerahiman adalah pertobatan. Umat diajak untuk bertobat, karena pertobatan merupakan sarana, yang darinya umat mendapatkan kerahiman Allah berupa pengampunan dosa. Dengan pengampunan dosa, kita memperoleh belas kasih Allah, sehingga kita berdamai kembali dengan Allah. Paus Benediktus XVI pernah berkata, “Tidak benar jika kita berpikir harus hidup sedemikian rupa sehingga kita tidak pernah membutuhkan pengampunan. Kita harus menerima kelemahan kita, tetapi terus berjalan, tidak menyerah tetapi bergerak maju dan bertobat menjadi baru kembali melalui Sakramen Pengampunan Dosa sebagai langkah awal, tumbuh dan menjadi dewasa dalam Tuhan oleh persekutuan kita dengan Dia.”

Hendaklah di tahun penuh rahmat ini umat benar-benar memanfaatkan pertobatan. Tobat ada karena ada dosa. Setiap manusia pastilah berdosa. Yohanes dalam suratnya yang pertama menulis, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1: 8). Karena itu, St. Yohanes Maria Vianney berkata, “Setelah jatuh, segeralah bangkit kembali! Jangan biarkan dosa di dalam hatimu bahkan untuk sejenak!” Pastor dari Ars ini mengajak kita untuk menggunakan sarana yang ada, yaitu Sakramen Tobat. “Allah sangat menghargai pertobatan sehingga sekecil apa pun pertobatan di dunia, asalkan itu murni, menyebabkan Dia melupakan segala jenis dosa, bahkan setan pun akan diampuni semua dosanya, jika saja mereka memiliki penyesalan,” demikian kata St. Fransiskus de Sales.

“Pertobatan yang tulus adalah menghindari kesempatan untuk berbuat dosa,” ujar St. Bernardus Clairvaux. Dengan bertobat, kita diminta untuk tidak mengulangi dosa-dosa yang telah diakukan. Yang penting kita mau datang ke ruang pengakuan dengan rasa sesal dan niat untuk bertobat. Jangan suka menunda. Yohanes Maria Vianney menasehati, “Kita selalu menunda pertobatan kita lagi dan lagi sampai ajal tiba. Tapi siapa bilang bahwa kita masih akan memiliki waktu dan kekuatan untuk itu?” Karena itu, bertobatlah sekarang!

Mgr Ignatius Suharyo, dalam bukunya The Catholic Way (2009: 25), mengatakan ada tiga proses pertobatan. ketiga proses itu adalah [1] Pengakuan Pujian. Proses tobat diawali dengan menyadari dan mengalami kebaikan/anugerah Allah dalam hidup. Namun anugerah ini tidak ditanggapi dengan baik. Kita sering gagal dan jatuh. Pengakuan inilah yang diungkapkan dalam [2] Pengakuan Mengenai Hidup. Kita sadari dan akui kegagalan dan kejatuhan kita. Namun, sekalipun sering jatuh, kita tetap percaya bahwa kasih setia dan kerahiman Allah tanpa batas. Inilah yang dinyatakan dalam [3] Pengakuan Iman. Dengan demikian Sakramen Tobat pertama-tama membantu kita untuk mengalami kasih setia dan kerahiman Allah, bukan untuk menuduh diri kita.