Jumat, 01 Juni 2012

Menanamkan Budaya Membaca Sejak Dini

Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin sharing sesuatu yang sebenarnya bukan inovasi. Tapi, harus atau memang sudah seharusnya dilakukan oleh kita sebagai orang tua. Kita sadar, pendidikan yang diterima di sekolah sejatinya kurang memadai. Di antara kita, mungkin ada yang mencoba  untuk membantu anak untuk mengoptimalkan kemampuan dalam meningkatkan prestasi belajar.

Salah satunya adalah menanamkan budaya membaca anak sejak dini. Sebab dengan rajin membaca, minat dan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan secara umum akan meningkat. Itulah yang kita kawal jika memang kita concern dan peduli akan masa depan pendidikan anak.

Inilah langkah-langkah awal yang dianjurkan :
  1. Bawalah anak untuk mengunjungi perpustakaan terdekat. Dengan demikian akan tertanam dalam benaknya bahwa perpustakaan baginya adalah tempat terbaik di dunia ini untuk dikunjungi. Perpustakaan merupakan gudang ilmu pengetahuan.
  2. Pilihkan untuknya buku-buku yang sesuai dengan usia dan kemampuannya dalam menyerap ilmu pengetahuan. Untuk model yang kita pilih ini, buku yang cocok tentu saja untuk anak TK di mana bukunya tidak begitu padat dengan tulisan, tetapi banyak gambar.
  3. Jika selama ini Anda jadi panutan baginya, perkenalkan juga tokoh di luar rumah yang juga memiliki kegemaran yang sama dengan orang tuanya. Misalnya tokoh dalam foto di bawah ini. Dalam pikirannya akan tertanam bahwa ternyata hobi membaca itu adalah hobi yang positif dan universal.
  4. Menanamkan disiplin, di sini diberi contoh bahwa peminjaman buku pustaka dibatasi dalam waktu tertentu.Dengan demikian, anak menyadari dari awal tentang kedisiplinan, otomatis dia akan berusaha menamatkan isi buku sebelum waktu peminjaman habis.
  5. Mintalah anak untuk belajar menceritakan isi buku yang telah dibaca, untuk melatih dirinya dalam mendapatkan pesan yang terkandung dalam sebuah buku. Tak usah panjang-panjang, cukup apa yang diserapnya saja, meski satu kalimat. Ini untuk melatih daya ingat dan membentuk kebiasaan mengambil intisari dalam sebuah buku.
  6. Jika sudah mahir membaca, latihlah dia untuk menuliskan apa yang sudah dibaca. Minimal,buatlah pertanyaan sederhana dan anak akan menjawab dalam kalimat singkat, minimal satu kata.
Mungkin tidak semua uraian di atas dapat dilakukan  mengingat situasi dan kondisi yang berbeda, tapi paling tidak langkah-langkah itu sudah lazim. Upayakan juga agar anak tidak cepat jenuh, dengan mengajaknya bermain dan bercerita.

Mudah-mudahan bermanfaat.

by: Efri Yaldi, kompasiana.com

Orang Kudus 1 Juni: St. Yustinus


SANTO  YUSTINUS,  MARTIR
Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad kedua kira-kira pada kurun waktu meninggalnya santo Yohanes Rasul.

Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran filsafat untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup ini dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenungkan berbagai soal. Ia bertemu dengan seorang orang tua. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan berbagai soal yang sedang direnungkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi serta tentang agama kristen. Ia dinasehati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi.

Di samping filsafat, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudian dipermandikan dan menjadi pembela iman kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan di zaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, terutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman kristen.

Yustinus bangga bahwa ia menjadi seorang kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenannya dengan hidupnya. Dalam bukunya "Percakapan dengan Tryphon Yahudi", Yustinus menulis, "Meski kami orang kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, atau disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh."

DI Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir lainnya dihadapkan ke depan penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. peristiwa itu terjadi tahun 165. Yustinus dikenal sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Jumat Biasa VIII - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa VIII B/II
Bac I       : 1Ptr 4: 7 – 13 ; Injil       : Mrk 11: 11 – 26

Bacaan Injil hari ini memuat 3 kisah. Kisah pertama dan ketiga berkaitan, yaitu kisah Yesus dan pohon ara. Kisah kedua adalah peristiwa pembersihan Bait Allah. Ada ahli, misalnya Karen A Barta, yang melihat penempatan kisah pembersihan Bait Allah yang diapiti kisah Yesus dan pohon ara memiliki kesamaan pesan. Karena itulah, mungkin, Gereja menjadikannya satu kesatuan bacaan liturgi.
Namun yang menarik untuk direnungkan adalah pernyataan bahwa "Yesus merasa lapar." (ay 12b). Lapar menunjukkan sifat dan aktivitas setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Setiap manusia pasti pernah merasa lapar. Jadi, lapar itu bisa dikatakan manusiawi. Manusia yang lapar akan didorong oleh nalurinya untuk segera menghilangkan rasa lapar itu.
Jadi, dengan mengatakan "Yesus merasa lapar", itu berarti Yesus mau menunjukkan aspek kemanusiaan-Nya. Pada bagian ini Yesus benar-benar tampil sebagai manusia 100%, berbeda dengan bagian lain di mana Dia memperlihatkan diri-Nya sebagai Tuhan. Nah, sebagaimana manusia lain yang lapar akan didorong untuk menghilangkan rasa laparnya, demikian juga dengan Yesus.
Di dunia ini, selain rasa lapar akan makanan, masih ada banyak rasa lapar melanda manusia, dan hanya terjadi pada manusia. Rasa lapar, baik yang positip maupun yang negatif ini melanda semua manusia tanpa pandang bulu; tanpa membedakan ras, jabatan, status sosial, jenis kelamin, dll.
Ada merasa lapar akan kekuasaan. Untuk menghilangkan rasa lapar ini orang terpaksa "sikut sana sikut sini", menjegal lawan agar tidak menghalangi atau merongrong kekuasaannya. Segala cara dihalalkan demi mendapatkan kepuasan kekuasaan, seperti yang diungkapkan oleh filsuf Prancis Niccolo Machiavelli dalam karyanya Il Principe.
Ada rasa lapar akan uang dan kekayaan. Untuk menghilangkan rasa lapar ini orang memakai juga prinsip Machiavelli, menghalalkan segala cara. Namun sayangnya, rasa lapar ini tidak akan bisa hilang selagi manusia diliputi nafsu serakah, tidak punya rasa syukur atas apa yang ada. Konon sifat serakah dan tak punya rasa syukur adalah penyakit bawaan manusia sejak diciptakan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa juga karena hal ini.
Ada rasa lapar akan pengetahuan. Orang yang dilanda rasa lapar ini akan senantiasa belajar terus untuk meredakan rasa laparnya itu. Rasa lapar ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan gelar akademis. Sekalipun sudah mendapat gelar tertinggi, orang akan tetap merasa lapar dan terus menggali ilmu. Orang kudus yang hari ini diperingati, St. Yustinus Martir, adalah salah satu contohnya. Setelah belajar filsafat, ia belajar lagi Kitab Suci, lalu teologi.
Ada rasa lapar akan rohani. Hal-hal rohani ini tampak dalam doa, novena, ekaristi, devosi, sabda Tuhan yang ada di dalam Kitab Suci,dll.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa dua rasa lapar yang pertama bersifat negatif, sedangkan dua rasa lapar berikutnya bersifat positip. Baik yang negatif maupun yang positip, sama-sama memiliki kecenderungan untuk tidak pernah merasa puas. Akan tetapi dampaknya berbeda.
Apa pesan Tuhan berkaitan dengan hal ini? Rasa lapar yang negatif tertuju hanya pada dirinya. Pemuasan rasa laparnya hanya diperuntukkan pada dirinya sendiri. Ini terjadi karena dalam dirinya ada nafsu serakah dan tak ada rasa syukur. Untuk itulah Tuhan senantiasa mengajak umat manusia untuk menghilangkan rasa lapar ini dengan cara menumbuhkan sikap syukur dan melenyapkan sikap serakah itu. Tuhan juga mengajak manusia agar berorientasi pada sesama. Inilah yang diutarakan oleh Petrus dalam suratnya yang pertama. Dalam bacaan pertama tadi Rasul Petrus menulis, "...kuasailah dirimu..." (ay 7), "... kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain," (ay 8), " Layanilah seorang akan yang lain," (ay 10), "... bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat.." (ay 13).

Berbeda dengan rasa lapar negatif, pada rasa lapar positip manusia memiliki kecenderungan cepat puas sehingga merasa tak perlu lagi mencari dan memenuhi rasa laparnya itu. Justru dalam kesempatan inilah Tuhan mau mengajak kita untuk senantiasa menumbuhkan rasa lapar akan hal-hal rohani. Dan pemuas rasa lapar rohani ini ada pada Yesus. Dialah santapan jiwa dan rohani manusia.
by: adrian