Profil Kami


Lahir di Pangkalan Susu pada 30 Oktober 1971. Orangtuanya memberi nama ADRIANUS. Hanya itu saja. Tak ada nama keluarga, marga atau embel-embel lainnya. Cuma satu kata. Sederhana dan mudah diingat.

ADRIANUS lahir dari keluarga blasteran “Floba”: ayah dari Flores dan ibu dari Batak. Anak kedua dari lima bersaudara (3 cowok; 2 cewek) ini menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya, Pangkalan Susu, Sumatera Utara.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya (1983), pria yang suka bermain basket ini, melanjutkan pendidikannya di kampung halaman ayahnya, di Umauta, Maumere (Flores). Di Flores juga ia menghabiskan masa remajanya. Pendidikan menengah pertama ditempuh di SMP Katolik Watukrus, Bola (1983 – 1986). Selama masa ini, tumbuh minat membaca. Setiap buku bacaan, apapun jenisnya, selalu dilahap. Waktu itu di kampung belum ada listrik. Penerangan hanya dari lampu pelita. Namun, keterbatasan sarana ini tidak menghalangi minat membaca tersebut.

Sesudah menamatkan SMP-nya, pria yang punya hobi hiking dan camping ini melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikutnya di Seminari Menengah San Dominggo, Hokeng, Flores Timur (1986 – 1990). Di sini dari minat membacanya tumbuh tunas minat baru, yaitu menulis. Awalnya minat tulis menulis ini hanya dalam bentuk diary atau catatan harian. Apa yang ada di dalam pikiran, dituangkan dalam tulisan yang hanya dikonsumsi sendiri. Namun, menginjak kelas dua, barulah minat ini go public. Beberapa tulisannya menghiasi MADING (Majalah Dinding) dan juga majalah seminari.

Dari seminari menengah, cowok yang pernah menaklukkan gunung tertinggi kelima di Indonesia (Gunung Kerinci), melanjutkan ke Seminari Tinggi St. Petrus, Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kuliah filsafat ditempuh di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi St. Yohanes, Pematangsiantar (1991 – 1995). Skripsinya membahas salah satu pemikiran Bung Karno, yaitu Marhaenisme. Kuliah teologi ditempuh di Sekolah Tinggi yang sama (2000 – 2003).

Awal tahun 2012 cowok, yang biasa disapa Adrian, ini baru berkenalan dengan dunia blog. Akan tetapi, baru pada Maret mimpinya diwujud-nyatakan dengan mengelola sendiri sebuah blog. Bagi pria yang pernah bertugas di Jayapura ini, blog selain menjadi sarana komunikasi dan media penyaluran minat tulis menulis, bisa juga dijadikan tempat penyimpanan data pemikiran yang relatif aman. Maklum, pengalaman sudah membuktikan, ada begitu banyak hasil tulisan, baik dalam bentuk artikel maupun cerpen, yang disimpan di komputer atau disket (waktu itu) hilang dengan berbagai alasan.

Saat ini pria yang pernah menangani anak jalanan di Jakarta (1998 - 2000) tetap eksis mengelola budak-bangka.blogspot.com. Melalui media ini, beberapa pemikiran coba dilontarkan untuk memberi pencerahan kepada pembacanya. Apa yang disampaikan hanyalah berupa tawaran. Setuju atau tidak setuju dengan isi tulisan-tulisan dalam blog ini terletak di tangan pembaca. Penulis sama sekali tidak memaksa. Apalagi penulis, yang merasa dirinya buka apa-apa dan bukan siapa-siapa, tidak punya hak mengatur orang. Semua berpulang kepada pembaca.

3 komentar: