Kamis, 31 Desember 2015

Memahami Maria sebagai Bunda Allah

MARIA BUNDA ALLAH
Setiap tanggal 1 Januari Gereja Semesta mempersembahkannya kepada Bunda Maria sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Banyak orang sinis terhadap gelar ini. Bukankah Maria itu manusia biasa. Kenapa dia disebut Bunda Allah? Orang menilai bahwa dengan gelar tersebut Bunda Maria dilihat sebagai Allah. Dan ada yang mengidentikkan Roh Kudus dengan Bunda Maria.
Untuk memahami gelar “Bunda Allah”, pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas siapa Yesus, yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria. Injil sudah mengatakan bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1: 26 – 38 dan Mat 1: 18 – 25). Dan yang dikandung adalah Yesus Kristus. Jadi, dari sini pemahaman kita akan beralih dari siapa Yesus kepada peran Maria sebagai Bunda Yesus Kristus.
Sebagai orang katolik, kita sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melalui Maria, Yesus Kristus, yang adalah pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus, memasuki dunia ini dengan mengenakan daging manusia dan jiwa manusia. Jadi, dalam rahim Maria bersemayam Allah yang sekaligus juga manusia, yang kelak akan diberi nama Yesus. Namun kehamilan itu tidak mengubah kemanusiaan Maria menjadi ilahi. Maria tetaplah manusia biasa, tapi memiliki keistimewaan.
Gelar “Bunda Allah” yang melekat pada Maria sudah menjadi keyakinan umat sejak Gereja Perdana. Santo Yohanes Krisostomus (wafat tahun 404), misalnya, mengubah dalam Doa Syukur Agung Misanya, suatu madah untuk menghormati Bunda Maria. “Sungguh, semata-mata guna memaklumkan bahwa engkau terberkati, ya Bunda Allah, yang paling terberkati, yang sepenuhnya murni dan Bunda Allah kami. Kami mengagungkan engkau yang lebih terhormat daripada kerubim dan lebih mulia secara tak bertara daripada seraphim. Engkau, yang tanpa kehilangan keperawananmu, melahirkan Sabda Tuhan. Engkau yang adalah sungguh Bunda Allah.”

Orang Kudus 31 Desember: St. Silvester

SANTO SILVESTER, PAUS
Paus Silvester adalah Paus dan orang kudus pertama yang wafat bukan sebagai martir. Informasi tentang kehidupannya sangat terbatas. Silvester menjadi Paus antara tahun 314 – 335, pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung. Pada masa itu, sesuai ketetapan kaisar di dalam Edikta Milano, agama Kristen menjadi agama resmi yang berlaku di seluruh kekaisaran. Dengan itu, orang-orang Kristen mulai keluar dari tempat persembunyiannya di katakombe-katakombe dan tidak takut-takut lagi melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan di hadapan umum.
Posisi hukum Gereja menjadi sangat kuat di bawah Kaisar Konstantin Agung. Istana Lateran dihadiakan kepad Takhta Suci oleh Konstantin. Oleh Paus Silvester, istana itu diubah menjadi Gereja Katedral Keuskupan Roma. Gereja Katedral ini menjadi lambing kemerdekaan Gereja dari penguasaan kaisar-kaisar Romawi semenjak kelahirannya. Pada masa kepemimpinannya, Silvester juga mendirikan Gereja Santo Petrus di Vatikan dan rumah-rumah ibadat lainnya di seluruh kota Roma.
Bersama kaisar, Silvester mengambil bagian juga di dalam penyelenggaraan Konsili Ekumenis Pertama di Nicea pada tahun 325 untuk menghukum ajaran sesat Arianisme. Selama masa pontifikatnya, buku “Para Martir Romawi” (Martyrology Romanum) dikerjakan. Ia juga berjuang memajukan kehidupan liturgy dan mendirikan sekolah seni suara di Roma.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini: