Selasa, 03 September 2013

Orang Kudus 3 September: St. Gregorius Agung

SANTO GREGORIUS AGUNG, PAUS & PUJANGGA GEREJA
Gregorius lahir di Roma pada tahun 540. Ibunya Silvia dan dua orang tantenya, Tarsilla dan Aemiliana, dihormati pula oleh Gereja sebagai orang kudus. Ayahnya, Gordianus, tergolong orang kaya raya: memiliki banyak tanah di Sicilia, dan sebuah rumah indah di lembah bukit Coelian, Roma. Selama masa kanak-kanaknya, Gregorius mengalami suasana pendudukan suku bangsa Goth, Jerman, atas kota Roma; mengalami berkurangnya penduduk kota Roma dan kacaunya kehidupan kota. Meskipun demikian, Gregorius menerima suatu pendidikan yang memadai. Ia pandai sekali dalam pelajaran tata bahasa, retorik dan dialektika.

Karena posisinya di antara keluarga-keluarga aristokrat (bangsawan) sangat menonjol, Gregorius dengan mudah terlibat dalam kehidupan umum kemasyarakatan dan memimpin sejumlah kecil kantor. Pada usia 33 tahun ia menjadi prefek kota Roma, suatu kedudukan tinggi dan terhormat dalam dunia politik Roma saat itu. Namun Tuhan menghendaki Gregorius berkarya di ladang anggur-Nya. Gregorius meletakkan semua jabatan politiknya dan mengumumkan niatnya untuk menjalani kehidupan membiara. Ia menjual sebagian besar kekayaannya dan uang yang diperolehnya dimanfaatkan untuk mendirikan biara-biara. Ada enam biara yang didirikannya di Sisilia dan satu di Roma. Di dalam biara-biara itu, ia menjalani kehidupannya sebagai rahib. Namun ia tidak saja hidup di dalam biara untuk berdoa dan bersemedi; ia juga giat di luar, membantu orang-orang miskin dan tertindas, menjadi diakon di Roma, menjadi Duta Besar di istana Konstantinopel. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi abbas di biara Santo Andreas di Roma. Di sana ia berjuang membebaskan para budak belian yang dijual di pasar-pasar kota Roma.

Pada tahun 590, dia diangkat menjadi Paus. Dengan ini ia dapat dengan penuh wibawa melaksanakan cita-citanya membebaskan kaum miskin dan lemah, terutama budak-budak dari Inggris. Ia mengutus Santo Agustinus ke Inggris bersama 40 biarawan lain untuk mewartakan Injil di sana. Gregorius adalah paus pertama yang secara resmi mengumumkan dirinya sebagai kepala Gereja katolik sedunia. Ia memimpin Gereja selama 14 tahun dan dikenal sebagai seorang paus yang masyhur, negarawan dan administrator ulung pada awal Abad Pertengahan serta Bapa Gereja Latin yang terakhir. Karena tulisan-tulisannya yang berbobot, dia digelari Pujangga Gereja Latin. Meskipun begitu ia tetap rendah hati dan menyebut dirinya sebagai ‘Abdi para abdi Allah’ (Servus servorum Dei). Julukan ini tetap dipakai hingga sekarang untuk jabatan paus di Roma. Setelah memimpin Gereja Kristus selama 14 tahun, Gregorius meninggal dunia pada tahun 604. Pestanya dirayakan juga pada tanggal 12 Maret.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

(Pencerhan) Berbuatlah Kebaikan

KEBAIKAN & KEBAJIKAN

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

sumber: Surat Paulus Kepada Jemaat di Roma 12: 9 – 16 

Renungan Hari Selasa Biasa XXII-C

Renungan Hari Selasa Biasa XXII, Thn C/I
Bac I   : 1Tes 5: 1 – 6, 9 – 11; Injil         : Luk 4: 31 – 37

Tuhan, melalui sabda-Nya hari ini, mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menghendaki umat manusia bahagia, bukan sebaliknya. Dalam bacaan pertama hal ini dengan tegas dikatakan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat Di Tesalonika. “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan.” Keselamatan merupakan kata lain dari kebahagiaan.

Hal ini juga ditampilkan dalam bacaan Injil, lewat peristiwa Yesus mengusir setan dari seseorang yang kerasukan. Setan datang membawa kebinasaan, tetapi Yesus datang justru hendak membebaskannya. Kedatangan Yesus dilihat setan sebagai ancaman. Ini terlihat dari pernyataan setan, “Engkau datang hendak membinasakan kami?” (ay. 34). Tapi Yesus menunjukkan kuasa-Nya, yang menunjukkan juga kuasa Allah, dengan mengusir setan itu, agar orang itu terbebas dari kebinasaan setan.

Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa Tuhan tidak menghendaki kita menderita, melainkan bahagia. Namun untuk itu hendaknya kita selalu mengikuti kehendak-Nya. Kita harus datang kepada Yesus dan membiarkan Dia menyingkirkan dari dalam diri kita kuasa-kuasa kegelapan yang justru akan menghancurkan diri kita sendiri.

by: adrian