Kamis, 31 Desember 2015

Memahami Maria sebagai Bunda Allah

MARIA BUNDA ALLAH
Setiap tanggal 1 Januari Gereja Semesta mempersembahkannya kepada Bunda Maria sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Banyak orang sinis terhadap gelar ini. Bukankah Maria itu manusia biasa. Kenapa dia disebut Bunda Allah? Orang menilai bahwa dengan gelar tersebut Bunda Maria dilihat sebagai Allah. Dan ada yang mengidentikkan Roh Kudus dengan Bunda Maria.
Untuk memahami gelar “Bunda Allah”, pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas siapa Yesus, yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria. Injil sudah mengatakan bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1: 26 – 38 dan Mat 1: 18 – 25). Dan yang dikandung adalah Yesus Kristus. Jadi, dari sini pemahaman kita akan beralih dari siapa Yesus kepada peran Maria sebagai Bunda Yesus Kristus.
Sebagai orang katolik, kita sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melalui Maria, Yesus Kristus, yang adalah pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus, memasuki dunia ini dengan mengenakan daging manusia dan jiwa manusia. Jadi, dalam rahim Maria bersemayam Allah yang sekaligus juga manusia, yang kelak akan diberi nama Yesus. Namun kehamilan itu tidak mengubah kemanusiaan Maria menjadi ilahi. Maria tetaplah manusia biasa, tapi memiliki keistimewaan.
Gelar “Bunda Allah” yang melekat pada Maria sudah menjadi keyakinan umat sejak Gereja Perdana. Santo Yohanes Krisostomus (wafat tahun 404), misalnya, mengubah dalam Doa Syukur Agung Misanya, suatu madah untuk menghormati Bunda Maria. “Sungguh, semata-mata guna memaklumkan bahwa engkau terberkati, ya Bunda Allah, yang paling terberkati, yang sepenuhnya murni dan Bunda Allah kami. Kami mengagungkan engkau yang lebih terhormat daripada kerubim dan lebih mulia secara tak bertara daripada seraphim. Engkau, yang tanpa kehilangan keperawananmu, melahirkan Sabda Tuhan. Engkau yang adalah sungguh Bunda Allah.”

Orang Kudus 31 Desember: St. Silvester

SANTO SILVESTER, PAUS
Paus Silvester adalah Paus dan orang kudus pertama yang wafat bukan sebagai martir. Informasi tentang kehidupannya sangat terbatas. Silvester menjadi Paus antara tahun 314 – 335, pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung. Pada masa itu, sesuai ketetapan kaisar di dalam Edikta Milano, agama Kristen menjadi agama resmi yang berlaku di seluruh kekaisaran. Dengan itu, orang-orang Kristen mulai keluar dari tempat persembunyiannya di katakombe-katakombe dan tidak takut-takut lagi melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan di hadapan umum.
Posisi hukum Gereja menjadi sangat kuat di bawah Kaisar Konstantin Agung. Istana Lateran dihadiakan kepad Takhta Suci oleh Konstantin. Oleh Paus Silvester, istana itu diubah menjadi Gereja Katedral Keuskupan Roma. Gereja Katedral ini menjadi lambing kemerdekaan Gereja dari penguasaan kaisar-kaisar Romawi semenjak kelahirannya. Pada masa kepemimpinannya, Silvester juga mendirikan Gereja Santo Petrus di Vatikan dan rumah-rumah ibadat lainnya di seluruh kota Roma.
Bersama kaisar, Silvester mengambil bagian juga di dalam penyelenggaraan Konsili Ekumenis Pertama di Nicea pada tahun 325 untuk menghukum ajaran sesat Arianisme. Selama masa pontifikatnya, buku “Para Martir Romawi” (Martyrology Romanum) dikerjakan. Ia juga berjuang memajukan kehidupan liturgy dan mendirikan sekolah seni suara di Roma.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Selasa, 29 Desember 2015

Orang Kudus 29 Desember: St. Daud

SANTO DAUD, RAJA ISRAEL YANG TERBESAR
Daud (Yunani: Dauid; Ibrani: Dawid) artinya “Yang terkasih” adalah Raja Israel kedua dan yang terbesar sekitar tahun 1010 sampai 970 SM (1Sam 16; 1Raj 2; Kis 7: 45). Tanggal kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi ia meninggal dunia di Israel pada tahun 973 SM. Ia seorang Efrata dari Betlehem, dan anak bungsu Isai (1Sam 16: 11; 17: 12; 1Taw 2: 15; Mat 1: 5 – 6; Luk 3: 31). Kecintaan umat Israel kepada Daud terutama karena ia berhasil membunuh Goliath, panglima perang bangsa Filistin.
Sebagai seorang pejuang muda, Daud diagungkan sebagai seorang pahlawan. Cinta dan puji-pujian rakyat ini membangkitkan amarah dan kecemburuan Raja Saul, yang kemudian berusaha membunuh Daud. Namun Daud tetap tenang dan bersikap jantan menghadapi rencana jahat Saul. Ia mengungsi ke padang gurun Yudea dan berhasil memikat hati suku-suku bangsa yang berdiam di sana. Ia menikahi Aninoam, Abigail dan akhirnya dengan Mikhal. Dari sana ia menyusun rencana untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk menggulingkan Saul yang dianggap sebagai ‘orang yang diurapi Tuhan’.
Setelah Saul meninggal dunia, Daud diurapi sebagai raja atas Yudea di Hebron, sektor selatan Israel. Sekitar tujuh tahun kemudian, setelah Abner meninggal dunia, Daud diakui sebagai raja untuk seluruh Israel sampai ia mati. Manuver politik pertama yang dilancarkan Daud sebagai raja ialah menaklukkan suku bangsa Yebusi dan merebut Yerusalem yang dikuasai oleh suku itu. tempat tinggal raja dipindahkan ke Yerusalem. Di sana ia menikah dengan Batsyeba.
Untuk mempertahankan kedudukannya, ia harus menaklukkan setiap kota Kanaan atau mengintegrasikannya ke dalam suku-suku Israel. Sebaliknya Daud juga harus mempersatukan suku-suku yang masih berdiri sendiri-sendiri, terutama suku-suku Utara dan Selatan, menjadi satu bangsa. Oleh sebab itu, ia bersikap lunak sekali terhadap keluarga Saul (2Sam 1: 1 – 16; 3: 13 – 16), memilih tempat tinggal di daerah yang tidak dikuasai oleh bangsa Israel, memindahan Tabut Perjanjian Allah (2Sam 6: 1 – 9), membuat persiapan untuk membangun kenisah pusat (2Sam 7; 24: 18 – 25), dan membentuk suatu pasukan yang tangguh (1Taw 27: 1 – 15).
Hamper seluruh daerah Barat sungai Yordan dikalahkan oleh Daud. Para bangsa Edom, Aram, Moab dan Ammon ditaklukkannya. Tetapi kerajaannya yang begitu gemilang dikeruhkan oleh kejadian-kejadian dan intrik-intrik pribadi: tingkahnya sendiri terhadap Uria dan Batsyeba (2Sam 13: 1 – 22); pemberontakan dan kematian Absalom (2Sam 15; 18: 1 – 19: 9) dan intrik-intrik untuk mewarisi takhta.
Kitab Raja-raja mengisahkan keinginan Daud untuk mendirikan satu kediaman yang pantas untuk menyimpan Tabut Perjanjian Allah, namun ia meninggal dunia sebelum melaksanakan niatnya itu. kemudian Salomo, puteranya sendiri merealisasikan rencananya yang luhur itu dengan mendirikan sebuah kenisah. Daud meninggal dunia dalam keadaan sakit tua pada tahun 973 SM, kira-kira dalam usia 70 tahun. Makamnya masih dikenal pada zaman Nehemia (2Sam 3: 16), dan pada zaman Yesus Kristus (Kis 2: 29). Daud adalah leluhur Yesus melalui Yusuf. Ia juga seorang nabi karena dalam Mazmur-mazmur yang diciptakannya, ia menubuatkan kedatangan Kristus (Sir 47: 8; Kis 1: 16; 2: 25, 34; 4: 25; Rom 4: 6; 11: 9; Ibr 4: 7), serta kebangkitan Kristus (Kis 2: 29 – 36; 13: 34 – 37)
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 29 Desember: Kaspar del Bufalo

SANTO KASPAR DEL BUFALO, PENGAKU IMAN
Kaspar del Bufalo, yang dikenal sebagai pendiri Kongregasi Misionaris Darah Mulia, lahir pada tahun 1786 di Roma, Italia. Pada tahun 1808 ia ditahbiskan menjadi imam di Roma. Pada waktu tentara-tentara Napoleon I menduduki kota Roma, Kaspar ditangkap dan dipenjarakan, tetapi ia kemudian berhasil meloloskan diri dari penjara dan melarikan diri dari Roma.
Dengan dukungan kuat dari Kardinal Cristaldi dan Paus Pius VII (1800 – 1823), Kaspar mendirikan Kongregasi Misionaris Darah Mulia pada tahun 1815 di Giano. Sambil mendirikan pusat biara di Albano Laziale, dekat Roma, dan di seluruh Kerajaan Napoli, Italia Selatan, kongregasi itu berjuang membangun kembali Italia yang diporak-porandakan oleh perang dan berbagai pertikaian. Kaspar dikenal sebagai seorang pengkotbah yang berhasil terutama di daerah-daerah pedesaan.
Selain aktif dalam karya pewartaan dan karya karitatif untuk menolong orang-orang miskin, Kaspar mendirikan perkumpulan-perkumpulan doa untuk adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia meninggal dunia di Roma pada tanggal 28 Desember karena terserang penyakit kolera yang menyerang kota Roma. Pada tahun 1954, Kaspar digelari ‘kudus’ oleh Paus Pius XII.

sumber: Iman Katolik

Minggu, 27 Desember 2015

Renungan Hari Minggu Oktaf Natal III - C

Renungan Pesta Keluarga Kudus, Thn C
Injil    Luk 2: 41 – 52;
Hari ini Gereja Semesta mengajak kita untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus, Yusuf, Maria dan Yesus. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengambil tema tentang keluarga dengan penekanan yang berbeda-beda. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Samuel yang pertama, berbicara mengenai keluarga Elkana, Hana dan Samuel. Bagi Hana Samuel merupakan anugerah dari Tuhan. Sebagai ungkapan syukurnya, Hana mempersembahkan putranya itu kepada Tuhan. Di sini penekanannya adalah anak sebagai anugerah Tuhan, sehingga umat diajak untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan.
Injil mengangkat keluarga kudus, yaitu Yusuf, Maria dan Yesus. Ada dua penekanan dalam bacaan Injil ini. Pertama, Yusuf dan Maria mau menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai orangtua terhadap anak. Wujud tanggung jawab itu terlihat dari kecemasan dan perjuangan mencari anak mereka. Di sini tekanannya pada keluarga inti-duniawi. Kedua, Tuhan Yesus menunjukkan status-Nya sebagai Anak Allah, sehingga harus berada di rumah Bapa (ay. 49). Di sini Tuhan Yesus mengangkat nilai keluarga inti-duniawi ke keluarga Allah.
Penekanan Tuhan Yesus mengenai keluarga Allah, kembali ditegaskan oleh Yohanes dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama Yohanes menyatakan bahwa oleh kasih karunia Allah kita menjadi satu keluarga. Kita adalah anak-anak Allah. Jadi, oleh kasih kita tidak lagi hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi, melainkan juga keluarga Allah. Yohanes menegaskan bahwa satu wujud konkret sebagai keluarga Allah adalah kasih. Sebagai anak-anak Allah, kita hendaknya “saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” (ay. 23).
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa kita tidak hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi (suami, isteri dan anak), melainkan juga sebagai keluarga Allah. Keluarga-keluarga inti-duniawi membentuk keluarga Allah oleh karena kasih. Tuhan menghendaki supaya kita menghidupi kasih itu dalam keluarga inti kita dan kita terapkan kepada keluarga-keluarga lainnya. Akan tetapi, Yohanes pernah mengatakan bahwa Allah itu adalah kasih (1Yoh 4: 8). Jadi, jika dalam keluarga semua anggota keluarga hidup dalam kasih, maka keluarga itu dapat disebut sebagai keluarga Allah.***
by: adrian

Sabtu, 26 Desember 2015

Cara Kuno Matikan Lampu

Suatu hari pace dan mace pergi ke kota mengunjungi anak mereka. Setiba di rumah, pace dan mace ini disambut hangat oleh keluarga anak mereka. Setelah ditunjukkan kamar tempat mereka menginap, mereka bergabung dengan anggota rumah di ruang keluarga.
Saat mau tidur, mace minta ke pace untuk mematikan lampu, karena mereka tak biasa tidur dalam situasi terang. Maklum, di kampong belum ada listrik. Hanya pakai lampu pelita.
Pace berdiri di bawah lampu lalu meniupnya. Namun lampu tak padam. Sudah berkali-kali ia coba, lampu tetap terang benderang. Kemudian pace ambil kursi dan berdiri di atas kursi sehingga lebih dekat lagi dengan lampu. Dia tiup, tapi lampu tidak mau padam.
Pace           : Mace, lampu tak mau padam. Saya sudah coba berkali-kali, tetap dia masih terang. Kau urus dulu dia.
Mace emosi. Dia bangun lalu ambil gagang sapu. Kemudian mace jolok lampu itu hingga pecah. Dan kamar menjadi gelap
edited by: adrian, dari cerita Polly Pape
Baca juga humor lainnya:

Orang Kudus 26 Desember: St. Stefanus

SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA
Hari ini tidak sama dengan hari kemarin (25 Desember). Sukacita dan kegembiraan hari kemarin karena kelahiran Yesus Kristus, seolah sirna seketika dengan tragedi iman, yaitu pembunuhan atas Diakon Stefanus. Hari ini kemartiran Stefanus dirayakan Gereja.
Satu-satunya sumber informasi terpercaya tentang Stefanus adalah Kisah Para Rasul bab 6 dan 7. Di dalamnya Stefanus ditampilkan sebagai orang beriman yang kokoh dan penuh Roh Kudus, dan salah satu orang yang diangkat oleh keduabelas Rasul untuk memangku jabatan diakon atau pelayan meja, barangkali sebagai pengurus rumah tangga jemaat. Ia seorang Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem, dan bisa berbahasa Yunani.
Stefanus pandai berpolemik dan sangat radikal dalam pandangannya mengenai tradisi-tradisi serta lembaga-lembaga Yahudi. Ketika berada di hadapan Sanhendrin, ia dengan tegas membantah semua tuduhan kaum Farisi, dan membuka karya misionernya di antara orang-orang Yahudi. Pembelaannya diperkuat dengan mengutip kata-kata Kitab Suci yang melukiskan kebaikan hati Yahweh kepada Israel dan ketidaksetiaan Israel sebagai “bangsa terpilih” kepada Yahweh. Oleh karena itu, ia diseret ke luar tembok kota Yerusalem dan dirajam sampai mati oleh pemimpin-pemimpin Yahudi yang tidak mampu melawan hikmatnya yang diilhami oleh Roh Kudus.
Senjata utama untuk melawan musuhnya ialah cintanya akan Tuhan. cinta itu demikian kuat mendorongnya untuk bersaksi tentang Kristus, meskipun ia harus menghadapi perlawanan yang kejam dari musuh-musuhnya. Bahkan sampai saat terakhir hidupnya di dalam penderitaan sekian hebatnya, ia masih sanggup mengeluarkan kata-kata pengampunan, “Tuhan, janganlah dosa ini Engkau tanggungkan kepada mereka itu.”
Laporan tentang pembunuhan Stefanus itu menyatakan bahwa Saulus (yang kemudian menjadi Paulus, Rasul bangsa kafir) hadir di sana dan memberi restu terhadap pembunuhan itu. namun apa yang terjadi atas Saulus di kemudian hari? Sebagai pahala besar bagi Stefanus ialah bahwa Saulus musuhnya yang utama serta penghambat ulung Gereja, bertobat dan menjadi Paulus, rasul terbesar bagi kaum kafir. Stefanus mati sebagai martir kira-kira tahun 34.
sumber: Iman Katolik

Kamis, 24 Desember 2015

Renungan Malam Natal - Thn C

Renungan Malam Natal, Thn C/II
Bac I  Yes 9: 1 – 6; Bac II                   Tit 2: 11 – 14;
Injil    Luk 2: 1 – 14;
Malam hari ini kita mengakhiri peziarahan kita selama masa adven. Penantian kita sudah berakhir. Tuhan Yesus sudah lahir. Injil mala mini mengisahkan tentang peristiwa tersebut. Dikatakan bahwa Bunda Maria melahirkan di Betlehem, karena ada program sensus. Maria tidak melahirkan di sebuah rumah, melainkan di sebuah kandang. Tuhan Yesus terbaring dalam palungan. Terdengar seperti menyedihkan, suram dan hina. Namun penginjil menutup kisahnya dengan berita sukacita, meski lokasi kejadiannya berbeda. Terlihatlah “sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah.” (ay. 13)
Gambaran seperti Injil terlihat juga dalam bacaan pertama. Yesaya, dalam kitabnya, mengungkapkan adanya dua situasi berbeda dalam kehidupan manusia. Ada orang yang mengalami situasi suram atau “berjalan dalam kegelapan.” (ay. 2). Akan tetapi, Yesaya menegaskan bahwa manusia tidak selamanya hidup dalam kesuraman atau berjalan dalam kegelapan. Akan ada sorak-sorai dan sukacita yang besar (ay. 3). Semua itu karena kelahiran seorang anak, yang adalah Raja Damai (ay. 6). Di sini Yesaya mau menubuatkan kelahiran Tuhan Yesus.
Bacaan kedua, yang diambil dari Surat Paulus kepada Titus, seakan merefleksikan bacaan pertama dan Injil. Apa yang diungkapkan Yesaya dalam bacaan pertama merujuk pada Tuhan Yesus. Dia-lah yang dimaksudkan Yesaya sebagai Raja Damai. Dia-lah Terang bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan; dan orang yang telah mematahkan kuk dan gadar dari umat manusia. Paulus melihat semua ini sebagai bentuk kasih karunia Allah yang mau menyelamatkan manusia. Jadi, kelahiran Yesus Kristus merupakan wujud kasih Allah kepada umat manusia.
Tuhan sudah lahir. Malam ini kita diajak untuk bersukacita atas kelahiran-Nya. Sukacita kita bukan semata-mata karena peristiwa kelahiran, melainkan karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Karena itu, sabda Tuhan malam hari ini menyadarkan kita bahwa Allah mengasihi kita lewat kelahiran seorang anak di palungan. Namun, kita juga disadarkan, sebagaimana pesan Paulus dalam bacaan kedua, bahwa lewat kasih-Nya kita diajak untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingian duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah.” (ay. 12). Tuhan juga menghendaki supaya kita “rajin berbuat baik.” (ay. 14)***
by: adrian

Memang Betlehem Harus Jadi Tempat Kelahiran Yesus

KENAPA BETLEHEM MENJADI TEMPAT KELAHIRAN YESUS?
Bagi umat manusia, khususnya umat kristiani, Betlehem dikenal sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus. Jika ditanya kenapa Yesus lahir di sana, tentulah orang akan menjawab karena orangtuanya, yaitu Yosef, berasal dari sana. Di saat Maria sedang berada dalam masa kehamilan tua, Yosef dan Maria terkena kewajiban mendaftarkan diri di kota asal mereka, yaitu Betlehem. Ini sesuai dengan perintah Kaisar Agustus (lih. Luk 2: 1 – 4).
Sebagian pasti akan mengatakan bahwa hal itu sudah diramalkan nabi perjanjian lama. Tertulis dalam Kitab Mikha, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mi 5: 1). Teks inilah yang dipakai para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi ketika ditanya oleh Herodes perihal tempat kelahiran raja orang Yahudi. Pertanyaan ini sebenarnya berawal dari para majus. (lih. Mat 2: 1 – 6).
Kenapa Betlehem dijadikan tempat lahirnya Kristus? Memang, tempat kelahiran Yesus Kristus memiliki dasar biblis dan historis. Akan tetapi, ternyata tempat kelahiran itu memiliki makna yang dalam bagi Yesus sendiri. Kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan karena ada kesesuaian antara makna Betlehem dan Yesus Kristus. Kelahiran Tuhan Yesus di sana seakan menjadi makna tempat itu; atau makna tempat itu mau menggambarkan peristiwa kelahiran itu.

Rabu, 23 Desember 2015

Pencuri di Gerbang Sorga

Suatu ketika seorang pencuri menghadap takhta Santo Petrus. Pencuri itu ingin masuk ke dalam sorga. Namun, melihat catatan hidupnya, Santo Petrus tidak mengizinkannya masuk. Terjadilah perdebatan sengit.
Mendengar keributan di gerbang Sorga, Tuhan Yesus memanggil Santo Petrus ke dalam. Di sana Santo Petrus ditanya perihal keributan itu.
Yesus          : Siapa orang itu?
Petrus         : Dia pencuri, Tuhan. Terakhir tercatat dia mencuri mur baut jembatan untuk dikilokan.
Yesus          : Waduh, gawat! Berarti dia bukan hanya sekedar mencuri, tetapi membahayakan keselamatan orang lain. Cepat kau ke depan.
Segera Santo Petrus ke depan untuk menjumpai orang tadi. Tapi belum sampai semenit, Santo Petrus sudah kembali menghadap Tuhan Yesus.
Yesus          : Gimana, masih ngotot juga dia?
Petrus         : Aduh Tuhan…, ampun. Gerbang depan hilang dicuri.
edited by: adrian
Baca juga humor lainnya:

Orang Kudus 23 Desember: St. Yohanes Kanty

SANTO YOHANES KANTY, PENGAKU IMAN
Yohanes Kanty lahir di Kety, Oswiecim, Polandia pada 23 Juni 1390. Ia adalah putera dari Stanislaus dan Anne. Yohanes memperoleh pendidikan pertamanya di kota asalnya, kemudian ia dikirim untuk belajar di Universitas Krakow. Yohanes belajar filasafat dan teologi sampai dengan memperoleh gelar doktor. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang imam.
Setelah ditahbiskan dan memperoleh gelar doktornya, Yohanes menjadi dosen pengajar teologi. Kecermelangannya membuat beberapa rekannya iri hati dan dengan berbagai cara berhasil membuat Yohanes dipindahkan. Yohanes kemudian bertugas sebagai pastor paroki di Olkusz. Ada sebuah ketakutan yang dirasakan oleh Yohanes terkait dengan jabatan yang ia jalani.
Setelah beberapa tahun berkarya, Yohanes berhasil menjalin hubungan yang sangat baik dengan umat-umatnya. Ia kemudian dipindahkan kembali ke Krakow untuk mengajar Kitab Suci sampai dengan akhir hidupnya.
Yohanes sangat menaruh perhatian kepada orang-orang miskin. Ia membagikan barang-barang miliknya sampai dengan menyisakan barang-barang yang dibutuhkan Yohanes saja. Selain itu Yohanes juga mau untuk membawa pengemis untuk makan bersama dengannya.
Yohanes sempat melakukan peziarahan ke Yerusalem dan ia bahkan berharap menjadi martir di tangan orang-orang Turki. Yohanes juga berziarah ke Roma dan dikisahkan bahwa ia sempat dirampok, tetapi dilepaskan karena ia tidak memiliki uang. Ketika melanjutkan perjalanan, Yohanes menyadari memiliki sekeping emasnya. Ia kembali kepada perampok tadi untuk memberikan keping emasnya, dan hal itu membuat para perampok menjadi malu dan tidak mau menerima pemberiannya.
Yohanes Kanty meninggal dunia pada 24 Desember 1473 di Krakow, Polandia. Pada 28 Maret 1676 ia dibeatifikasi oleh Paus Klemen X, dan pada 16 Juli 1767 ia dikanonisasi oleh Paus Klemen XIII.
Baca juga orang kudus hari ini:

Selasa, 22 Desember 2015

Asah Otak: Gambar Wajah Orang Tua

SATU GAMBAR DARI ANEKA GAMBAR
Berikut ini akan disajikan 4 gambar dengan tema kakek – nenek. Sekilas, jika dilihat dari jauh, gambar-gambar ini memang satu kesatuan; mau menampilkan apa yang terlihat, yaitu wajah nenek dan satu gambar nenek dan kakek. Akan tetapi, jika diperhatikan baik-baik ternyata gambar-gambar itu dibentuk dari beberapa gambar. Dapatkan kamu menguraikan gambar-gambar yang membentuk nenek dan kekek ini?

Senin, 21 Desember 2015

(Pencerahan) Baik Buruk Kolegialitas

HATI-HATI DENGAN KOLEGIALITAS
Tentu kita pernah dengar kata “kolegialitas” atau biasa juga dipakai istilah korps. Kata yang terakhir diambil dari bahasa Latin, dari kata corpus, yang berarti tubuh atau badan (manusia). Tubuh, sekalipun mempunyai banyak anggota, merupakan satu kesatuan. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut menderita. Misalnya, yang sakit gigi, maka seluruh badan ikut terasa sakit.
Demikian pula kolegialitas atau korps. Orang-orang yang masuk dalam kolegialitas diharapkan memiliki semangat satu kesatuan seperti tubuh. Ibarat tubuh terdiri dari banyak anggota tapi menunjukkan kesatuan, demikian pula suatu perkumpulan manusia. Gangguan terhadap salah satu anggota berarti gangguan terhadap semua anggota.
Semangat kolegialitas seperti tubuh manusia itu memang baik. Ia membangun sikap peduli, empati dan solidaritas terhadap sesama anggota. Sikap ini pula yang hendak dibangun dalam sebuah perkumpulan ketika semangat kolegialitas hendak dibangun. Akan tetapi, tidak semua semangat kolegialitas itu sempurna untuk diterapkan dalam suatu organisasi.
Semangat kolegialitas dapat membawa anggota suatu lembaga ke dalam fanatisme sempit. Fanatisme ini lahir dari kesombongan kelompok. Semangat kolegialitas membuat anggota suatu lembaga merasa bahwa lembaganya adalah segala-galanya. Kelompok lain biasa dianggap musuh. Penyerangan terhadap salah satu anggota, adalah juga serangan terhadap anggota lain, sehingga anggota lain berkewajiban untuk membela bahkan menyerang kelompok penyerang.

Minggu, 20 Desember 2015

Cara Sederhana Edukasi Seks pada Anak

PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK-ANAK
Kekerasan seksual terhadap anak dewasa ini memunculkan pemikiran perlunya pendidikan seks ditanamkan sejak usia dini. Banyak ahli menilai bahwa pendidikan seks yang baik dan benar, sedikitnya dapat mengatasi atau mengurangi kejahatan seks terhadap anak, karena anak sudah memiliki bekal untuk menghadapinya.
Akan tetapi, tuntutan akan pendidikan seks usia dini ini berbenturan dengan kebingungan sebagian kalangan orangtua tentang bagaimana menerapkan pendidikan seks yang tepat itu kepada anaknya. Terlebih lagi, norma dan kebiasaan yang berlaku masih menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu.
Karena itulah, psikolog Vera Itabiliana Hadiwijojo berpendapat bahwa langkah pertama untuk penerapan pendidikan seks ini adalah perubahan pola pikir, khususnya para orangtua. Seks tidak lagi dianggap sebagai tabu. Dengan perubahan ini, orangtua akan lebih nyaman menyampaikan segala sesuatu terkait dengan seks, dengan kata yang sederhana dan mudah dipahami anak.
Pendidikan seks untuk anak mempunyai 2 fungsi, yaitu internal dan eksternal. Fungsi internal bertujuan membangun kesadaran anak akan tubuhnya. Pemahaman akan tubuh di sini tidak hanya sebatas organ seksualitas saja, melainkan juga tubuh secara keseluruhan. Anak diajak untuk menjaga, menghargai dan menghormati tubuh mereka sendiri, sebelum menuntut orang lain menghargainya.
Terkait dengan fungsi internal ini, ada 3 hal yang perlu diperhatikan untuk disampaikan kepada anak:
1.    Tidak Merusak Tubuh
Orangtua perlu mengatakan kepada anak bahwa tubuh merupakan anugerah Tuhan. Orangtua bisa membuat perbandingan dengan hadiah orangtua kepada anak. Tanyakan kepada anak, apa perasaan orangtua jika hadiahnya dirusaki oleh anak? Pastilah jawabannya kecewa. Nah, demikian pula Tuhan akan kecewa jika kita merusak tubuh kita.
Hal-hal yang dapat merusak tubuh adalah seperti merokok, narkoba, implan, dll. Orangtua perlu menjelaskan bahaya-bahaya merokok, narkoba, silikon bagi tubuhnya. Dengan penjelasan ini, akan terbangun kesadaran anak untuk menjaga tubuhnya sendiri.
2.    Tidak Mencemarkan Tubuh
Di sini orangtua perlu kembali menjelaskan soal tubuh sebagai anugerah Tuhan. Harus dijelaskan siapa “pemilik” tubuh sebenarnya. Hal ini bertujuan supaya anak tidak mudah memberikan tubuhnya kepada orang lain untuk disalahgunakan demi kepentingan komersial atau pribadi.
Hal-hal yang dapat dikategorikan mencemarkan tubuh adalah seperti foto-foto telanjang, narsisme dan eksibisionisme. Jadi, kepada anak perlu juga dijelaskan soal pornografi yang ada di media sosial. Dengan penjelasan ini akan terbangun kesadaran anak untuk tidak “telanjang di depan kamera”.
3.    Merawat Tubuh
Di sini lebih pada soal kesehatan organ seks. Kepada anak dijelaskan bahwa yang pertama sekali bertanggung jawab atas tubuhnya adalah dirinya sendiri. Hal ini berkaitan juga dengan urusan organ seksnya seperti vagina dan payudara untuk anak putri, dan penis untuk anak putra. Kepada anak harus dijelaskan kaitan antara kebersihan dan kesehatan. Ini bisa menggunakan juga perbandingan kiasan lainnya. Intinya, anak diajak untuk paham dan mau menjaga kebersihan organ seksnya.

Rabu, 09 Desember 2015

Orang Kudus 9 Desember: St. Bernardus Maria Silvestrelli

BEATO BERNARDUS MARIA SILVESTERLLI, PENGAKU IMAN
Casare Pietro Silvestrelli lahir di Roma, Italia pada 7 November 1831. Ia adalah putera dari keluarga bangsawan Silvestrelli. Casare memperoleh pendidikan dari para imam. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Collegio Romano yang dijalankan oleh Imam Yesuit. Akan tetapi, Casare lebih tertarik untuk bergabung dengan Kongregasi Passionis.
Pada 25 Maret 1854, Casare masuk novisiat di Monte Argentario, dan memperoleh nama Aloysius dari Hati Kudus Maria. Satu bulan kemudian, Aloysius meninggalkan novisiat karena alasan kesehatan, tetapi ia tetap tinggal bersama para biarawan pasionis untuk melanjutkan pendidikannya dalam bidang teologi.
Tanggal 22 Desember 1852 Aloysius ditahbiskan menjadi imam, dan diizinkan untuk kembali masuk novisiat di Morrovalle. Casare kembali menggantikan namanya menjadi Bernardus Maria dari Yesus. Pada masa novisiatnya, ia seangkatan dengan Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita. Pada 28 April 1857 Bernardus mengikrarkan kaulnya.
Bernardus kemudian belajar berkotbah, dan ditunjuk sebagai direktur serta pembimbing para novis. Pada tahun 1869 ia ditunjuk sebagai rektor biara Scala Santa. Tanggal 19 September 1870 Paus Pius IX mengunjungi biara scala santa untuk menaiki Tangga Suci. Bernardus menuntunnya, dan ikut menaiki Tangga Suci.

Sabtu, 05 Desember 2015

Memahami Kata "Kafir" menurut Islam

POLEMIK “KAFIR” DI FACEBOOK
Menarik mengikuti polemik kata “kafir” antara Sdr. IQmal Putra Hayat Bsl (IPH) dan Sdr. Fajar Ali Susanto (FAS) di Facebook. Polemik ini bermula dari tanggapan Sdr. IQmal terhadap komen Purwanto Brahmantyo, yang menanggapi status Sdr. Gunawan Budi Utomo di grop Facebook AHOK 4 DKI 1. Status Sdr. Gunawan sendiri, yang dikirim 24 September 2015, pukul 16: 12 (tepat hari raya Idul Adha), sebenarnya merupakan komen dia atas tulisan di ISLAMTOLERAN.COM, dengan judul “Fantastis! Gubernur Yang Suka Diteriaki Kafir Oleh FPI Ini Berkurban 30 Ekor Sapi”
Atas artikel situs Islam Toleran itu, Sdr. Gunawan menulis status yang sama dengan judul artikel, lalu menambah satu frase “Silahkan Like”. Sebelum Sdr. Purwanto menuliskan komennya, ada beberapa orang menanggapi status Gunawan tersebut. Akhirnya Sdr. Purwanto memberikan tanggapannya. Tercatat tiga kali Sdr. Purwanto memberikan komen; dan ketiga komen itu sama saja (semacam copy paste). Adapun komen Sdr. Purwanto berbunyi, “semua merasa jadi tuhan sehingga dengan mudahnya mengecap seseorang di anggap kafir! Hebat betul.” Komen ini diposting pada tanggal 24 September, pukul 17: 27.
Jika disimak dari nada tulisan Sdr. Purwanto, tampak jelas kalau komennya bukan hanya ditujukan untuk menanggapi status Sdr. Gunawan, tetapi juga komen-komen sebelumnya. Intinya, Sdr. Purwanto merasa miris melihat orang yang begitu mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda. Sdr. Purwanto menilai orang yang dengan mudah mengkafirkan orang lain sudah identik dengan Tuhan.
Dari komen Sdr. Purwanto inilah akhirnya muncul polemik antara Sdr. IQmal dan Sdr. Fajar. Sekedar diketahui, pada bagian lain, masih dalam topik yang sama, Sdr. IQmal menanggapi komen Mariani Sukaejie dengan menulis, “memang situs ISLAMTOLERAN sesat dan menyesatkan karena adminnya sendiri bukan islam tp Kristen.” Berikut ini akan saya tampilkan komen-komen diskusi mereka. Jadi, atas komen Sdr. Purwanto. Sdr. IQmal memberi tanggapan, yang kemudian ditanggapi oleh Sdr. Fajar sehingga terjadilah diskusi menarik di antara keduanya. Kami akan menyingkat nama keduanya.

Orang Kudus 5 Desember: St. Bartolomeus Fanti

BEATO BARTOLOMEUS FANTI, PENGAKU IMAN
Bartolomeus Fanti lahir di Mantua, Italia. Pada tahun 1452 ia ditahbiskan sebagai imam Ordo Karmel di Mantua. Selama 35 tahun ia berkarya di Mantua dan juga menjadi pembimbing rohani serta rektor Ikatan Persaudaraan Santa Perawan Maria, yang statute dan aturannya dibuat olehnya. Bartolomeus juga adalah pembimbing spiritual Yohanes Baptis Spagnuolo. Ia dikenal akan homily dan penyembuhan, serta devosi yang sangat kuat kepada Ekaristi.
Bartolomeus Fanti meninggal dunia pada tahun 1495. Pada tahun 1909 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X.
Baca juga orang kudus hari ini:

Jumat, 04 Desember 2015

Orang Kudus 4 Desember: St. Adolph Kolping

BEATO ADOLPH KOLPING, PENGAKU IMAN
Adolph Kolping lahir pada 8 Desember 1813 di Kerpen, Cologne, Jerman. Ia adalah putera dari Peter Kolping, seorang penggembala miskin. Adolph merupakan seorang siswa yang cerdas, tetapi karena faktor ekonomi, ia harus berhenti sekolah dan bekerja sebagai pembuat sepatu.
Ketika berusia 23 tahun, Adolph kembali melanjutkan pendidikannya dan merasakan panggilan Tuhan pada dirinya. Ia belajar teologi di Munich, Bonn dan Cologne, sampai akhirnya pada 10 April 1845 ia ditahbiskan di Gereja Minorite di Cologne. Ia ditempatkan di Paroki St. laurensius di Elberfeld, Jerman. Di sini ia membimbing sebuah organisasi kepemudaan, dan menemukan panggilannya bagi para pemuda dan pekerja.
Pada tahun 1894 ia dipindahkan ke Cologne dan bertugas di katedral. Di sini Adolph memperluas karya organisasi yang ia bimbing. Ia banyak menulis dan bepergian untuk mengembangkan organisasi ini. Usahanya melahirkan banyak organisasi buruh.
Tahun 1862 Adolph ditepatkan di Gereja St. Maria Empfangnis. Kerja kerasnya membuat kesehatannya menurun. Adolph meninggal dunia pada 4 Desember 1865 di Cologne, Jerman. Pada 27 Oktober 1991 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 4 Desember: St. Yohanes Damsyik

SANTO YOHANES DAMSYIK, PENGAKU IMAN
Yohanes lahir pada sekitar tahun 676 di Damaskus, Syria. Ia adalah putera dari Sargun bin Mansur, seorang menteri keuangan Kalifa Abdul Malek. Pada saat itu kota Damaskus sudah dikuasai oleh orang-orang muslim, tetapi keluarga Yohanes menghormati para penguasanya dengan tetap beriman Kristen secara taat. Pada suatu hari ayah Yohanes membebaskan seorang biarawan Kristen yang tertangkap oleh bajak laut muslim bernama Kosmas.
Kosmas kemudian menjadi pembimbing Yohanes, sementara Yohanes bersekolah di sekolah muslim di kota itu. Hal ini membuat Yohanes terdidik sangat tinggi. Yohanes kemudian menggantikan ayahnya dengan jabatan dan kedudukan yang lebih tinggi.
Pada saat itu muncullah ajaran sesat ikonoklasme. Mungkin berkembangnya ajaran ini dipengaruhi oleh ajaran islam. Yohanes terdorong untuk melakukan pembelaan terhadap penggunaan patung dan gambar-gambar kudus dengan membuat sebuah apologi. Yohanes harus menghadapi Kaisar Byzantium yang menolak penggunaan patung dan gambar-gambar kudus.
Suatu ketika Yohanes dituduh berkhianat dalam suratnya, yang sebenarnya surat itu telah dipalsukan oleh seseorang yang dapat menulis mirip dengan tulisan Yohanes sehingga surat itu sangat meyakinkan. Atas tuduhan itu, Yohanes menerima hukuman potong tangan. Akan tetapi, Bunda Maria mengunjunginya dan mengembalikan tangannya seperti semula. Melihat hal itu, Kalifa menyadari bahwa Yohanes tidak bersalah dan menawarinya jabatan yang semula miliknya. Yohanes menolak dan memilih menjadi biarawan, mengikuti jejak Kosmas, dan kemudian menjadi imam di biara St. Sabas.
Bersama seorang biarawan lainnya, Yohanes menciptakan banyak syair dan madah pujian. Karya ini dicemooh oleh para biarawan yang lebih tua, karena pada masa itu, pekerjaan menulis syair dianggap sebagai pekerjaan tercela, meskipun karya-karya itu bernafaskan nilai-nilai keagamaan. Meski demikian, Yohanes terus saja mencipta dan beberapa madah pujian yang diciptakannya masih tetap dinyanyikan hingga kini.
Yohanes Damsyik meninggal dunia pada tahun 749. Setelah kematiannya, ia sempat dikutuk oleh sinode Konstantinopel pada tahun 754, karena menentang ikonoklasme. Ia kemudian dibela pada Konsili Nikea II pada tahun 787. Pada tahun 1890 ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Leo XIII.
Baca juga orang kudus hari ini:

Kamis, 03 Desember 2015

Cara Ajari Anak Bahaya Pornografi

ANAK, ORANGTUA & BAHAYA PORNOGRAFI
Manusia masa kini hampir tak bisa dipisahkan dari internet. Bahkan anak kecil pun sudah terbiasa berselancar di dunia maya dengan bantuan alat bernama gadget. Kehadiran internet bukan hanya memudahkan orang untuk mengakses informasi, tetapi juga mendatangkan bahaya pada akses konten pornografi.
Riset internasional memperkirakan jumlah anak remaja yang mengakses konten pornografi bervariasi dari 43% hingga 99%. Jelas ini merupakan jumlah yang tidak sedikit; dan ini sangat memprihatinkan. Paparan pada pornografi online biasanya dimulai pada usia 11 tahun dan akan semakin sering seiring bertambahnya usia.
Penelitian menunjukkan remaja yang mengakses pornografi online mempunyai pemikiran yang tidak realistis terhadap aktivitas seksual dan hubungan. Mereka cenderung lebih menerima stereotip peran gender, serta memiliki sikap yang santai dan permisif terhadap seks.
Namun di sini lain, mereka tidak punya pemahaman yang mumpuni tentang pentingnya kesepakatan, kesenangan, kesehatan atau keamanan dalam melakukan hubungan seksual. Sebaiknya orangtua lebih terbuka dan mau berdiskusi dengan anak-anak mereka tentang pornografi dan bahayanya. Bekali juga anak tentang pendidikan seks dan kesehatan alat reproduksi sesuai usianya.
Penelitian menunjukkan, anak-anak yang menerima pendidikan seks sejak usia dini akan lebih mungkin untuk:

Rabu, 02 Desember 2015

Mari Belajar pada Anjing: Berbagi

ANJING SAJA MAU BERBAGI
Film di atas benar-benar menggugah kesadaran kita. Seekor anjing mau berbagi makanan dengan rekannya. Sungguh, tayangan yang sangat indah, karena bukan hanya menampilkan kebaikan melainkan kerukunan.
Film ini memberikan dua pelajaran pada kita. Pertama, kita diajak untuk mau berbagi dengan orang lain. Anjing saja mau berbagi. Hendaklah kita pun demikian. Kita diajak untuk mau berbagi apa yang kita punya kepada sesama yang kekurangan. Berbagi ini bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga non materi, seperti saran, nasehat, ilmu, peran, tugas, dll.
Kedua, kita diajak untuk tidak serakah. Dengan berbagi, kita terpanggil untuk tidak serakah. Orang yang serakah hanya memikirkan dirinya sendiri. Anjing dalam film di atas benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia melihat ada temannya. Karena itu ia berbagi. Hendaklah kita pun meninggalkan sikap serakah, yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Orang Kudus 2 Desember: St. Maria Angela Astorch

BEATA MARIA ANGELA ASTORCH, PENGAKU IMAN
Jeronima Maria Agnese lahir pada 1 September 1592 di Barcelona, Spanyol. Maria kehilangan kedua orangtuanya ketika berusia 5 tahun. Dikisahkan juga, ketika ia berumur 7 tahun, Maria menderita penyakit, yang bahkan sampai dikatakan Maria meninggal dunia. Maria memperolah mukjizat kesembuhan atau kebangkitan melalui doa dari Muder Angela Margaret Seraphina.
Melalui sebuah dispensasi khusus Maria bergabung dengan Ordo Klaris Kapusin di Barcelona pada usia 11 tahun, di mana saudarinya sudah terlebih dahulu bergabung. Maria menjalani masa postulant selama 5 tahun, sebelum ia memasuki masa novisiat pada 7 September 1608. Maria mengikrarkan kaulnya pada 8 September 1609.
Bersama dengan lima biarawati lain, Maria memulai pendirian komunitas baru di Zaragosa. Pada tahun 1614 – 1623 Maria menjadi pembimbing para novis, dan setelah tahun 1623 ia menjadi direktur formasi. Tahun 1626 Maria ditunjuk sebagai Abdis. Maria mengusahakan agar aturan bagi para biarawati Klaris Kapusin di Spanyol memperoleh pengesahan dari Takhta Suci. Perjuangannya mendapatkan hasil ketika tahun 1627 Paus Urbanus VII mengesahkan aturan tersebut.
Ketika biara di Zaragosa sudah berkembang, Maria mulai berkeinginan untuk membuka sebuah komunitas baru. Berdasarkan permintaan, Maria memutuskan membuka biara baru di Murcia pada tahun 1645. Biara ini dipersembahkan kepada penghormatan Sakramen Mahakudus. Kesulitan cukup dialami Maria dalam mendirikan komunitas baru ini. tahun 1647 terjadi wabah penyakit, dan tahun 1651 dan 1653 terjadi bencana banjir.
Dikisahkan juga ketika terjadi bencana banjir, muncul tuduhan kepada biarawati Klaris Kapusin memiliki hubungan yang tidak pantas dengan imam-imam Yesuit. Hal ini terjadi ketika para biarawati mengungsi ke tempat para Yesuit. Maria dan vikarisnya harus menerima hukuman, yang kemudian dianulir karena semua tuduhan itu tidak terbukti. Terhadap para biarawatinya, Maria mengusahakan supaya mereka hidup seturut aturan yang dibuat Santa Klara. Selain itu Maria menerapkan agar ibadat harian selalu dilakukan, begitu juga dengan usaha agar para biarawati dapat menerima komuni setiap hari.
Maria Angela Astorch meninggal dunia pada 2 Desember 1665 di Murcia, Spanyol. Pada 23 Mei 1982 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 2 Desember: St. Robertus Southwell

SANTO ROBERTUS SOUTHWELL, MARTIR
Robertus Southwell lahir pada tahun 1561 di Norfolk, Inggris. Ia adalah putera dari Richard Southwell dan Bridget, yang merupakan keluarga katolik. Robert dikirim untuk memperoleh pendidikan di Douai, Perancis. Di sana ia memperoleh pendidikan di Kolese Yesuit. Karena situasi politik, Robert sempat mengungsi ke Paris.
Robert kemudian melanjutkan pendidikan pada sebuah kolese Inggris di Roma. Ia berkeinginan untuk bergabung dengan Serikat Yesus, tetapi ditolak pada awalnya. Robert kemudian memohon untuk dapat diterima melalui sebuah surat. Pada 15 Oktober 1578, Robert bergabung dengan Serikat Yesus dan menyelesaikan masa novisiatnya di Tournai pada tahun 1580. Ia melanjutkan studinya di Roma, dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1584.
Setelah tahbisan, Robert bertugas sebagai Prefek Studi untuk kolese Inggris di Roma. Ia juga dikenal sebagai seorang penyair. Pada tahun 1586 Robert dikirim ke Inggris bersama Henry Garnet atas permintaannya sendiri. Di sana ia melayani keluarga-keluarga katolik yang setia secara sembunyi-sembunyi. Ia juga menjadi imam bagi Ann Howard, isteri dari Philips Howard. Selama enam tahun Robert bermisi di Inggris dan ia hidup dengan bersembunyi di rumah umat secara berpindah-pindah.
Tahun 1592 Robert tertangkap di Uxendon Hall, Harrow, setelah Anne Bellamy, puteri salah satu umat yang rumahnya digunakan Robert, tertangkap dan mengakui keberadaan Robert. Robert disiksa dengan kejam dan setelah dipenjara selama 3 tahun, ia dijatuhi hukuman mati dengan digantung.
Robertus Southwell meninggal dunia pada 21 Februari 1595 di Tyburn, Londong, Inggris. Pada 15 Desember 1929 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, dan pada 25 Oktober 1970 ia dikanonisasi oleh Paus Paulus VI.
Baca juga orang kudus hari ini: