Rabu, 03 Oktober 2012

Tentang Global Warming

GLOBAL CLIMATE CHANGE
oleh : Annisa Fitriana
Perubahan Iklim atau Climate change dapat diartikan sebagai variasi dan perubahan yang terjadi pada iklim dunia secara global sepanjang kurun waktu tertentu. Hal tersebut menunjukkan perubahan dalam rata-rata variasi atmosfer dalam skala waktu satu dekade hingga jutaan tahun. Perubahan ini dapat disebabkan oleh proses internal Bumi dan kekuatan external seperti Variasi Matahari. Perubahan Iklim global yang terjadi tidak terlepas dari perilaku manusia dalam memanfaatkan alam dan lingkungan.

Pemanasan Global merupakan suatu proses menghangatnya permukaan Bumi selama beberapa kurun waktu. Ini adalah gejala alam yang normal sebenarnya. Kalau tidak mendapat pemanasan maka suhu di Bumi bisa menjadi dingin membeku. Pemanasan global dapat mengakibatkan perubahan iklim. Hal ini disebabkan adanya gas efek rumah kaca yang berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca utama seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4 (Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.

Bagaimana keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim? Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global.

Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.

Hutan memberikan pengaruh pada sumber daya alam lain melalui tiga faktor yang berhubungan, yakni iklim, tanah dan pengadaan air di berbagai wilayah. Apapun bentuk yang dimiliki hutan, pada hakekatnya hutan selalu merupakan perpaduan lima unsur pokok pembentuknya, yaitu bumi (tanah), air, alam hayati, udara dan sinar matahari. Tanpa adanya salah satu dari unsur-unsur tersebut, secara mutlak mengakibatkan tidak adanya hutan. Sebaliknya, apabila hutan ditebang, pengaruh hutan dan belukar terhadap iklim mikro amat terasa. Hutan juga berpengaruh terhadap struktur tanah, erosi dan pengadaan air di lereng-lereng.


Oleh karena berbagai hubungan timbal balik antara hutan dan kehidupan di bumi, maka kelestarian hutan harus dipertahankan sedemikian rupa sehingga bukan hanya hutan yang lestari, tetapi juga kehidupan bumi. Hutan mempunyai fungsi ekologi yang penting. Fungsi Hidrologi hutan bersifat lokal dan regional, dan fungsi pengaturan iklim, khususnya pemanasan global dan sebagai sumberdaya hayati, bersifat global. Kerusakan hutan tidak saja merugikan secara fisik dan ekonomis, tetapi yang paling penting adalah terhadap keseimbangan ekonomi dan ekologi. Lingkungan hutan merupakan suatu ekosistem tertentu dengan fungsi tertentu pula, di mana di dalam ekosistem tersebut memiliki peran masing-masing. Apabila terjadi kerusakan, maka akan menggangu keseimbangan ekosistem di dalam hutan tersebut. Terganggunya keseimbangan ekosistem tersebut akan menyebabkan dampak ikutan terhadap seluruh sistem yang ada di dalam hutan tersebut. Kerusakan hutan dalam hubungannya dengan ekologi dapat dijelaskan misalnya terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca serta pergeseran musim, khususnya di daerah tropik. Pemanasan global terjadi akibat dari menurunnya jumlah hutan. Hutan memegang peranan yang sangat besar dalam proses pembersihan udara serta mengurangi pemanasan global bumi. Apabila pengelolaan hutan dilakukan secara bijaksana dengan tetap menjaga kelestariannya, maka kita telah ikut serta memperbaiki keseimbangan lingkungan hidup dan iklim di bumi.

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

DAFTAR PUSTAKA:
Stott, Peter A., et al. (03-12-2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): 4079–4093.
Stocker, Thomas F.; et al. 7.5.2 Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Otto Soemarwoto, Peranan Hutan Tropika Dalam Hidro-orologi, Pemanasan Global dan Keanekaragaman Hayati. Dalam Melestarikan Hutan Tropika, Permasalahan, Manfaat Dan Kebijakannya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1992.

Orang Tua & Anak

JANGAN PAKSAKAN KONSEP KITA KEPADA ANAK

Saya mempunyai teman, seorang ibu dengan 3 orang putri. Suatu hari ia memanggil saya dan bercerita tentang kehidupannya, secara khusus dalam menghadapi putri pertamanya. Ia mengungkapkan kalau ia sudah kehabisan akal dalam menyikapi putrinya itu. Sebagai teman, saya turut prihatin. Dan keprihatinan itu saya ungkapkan lewat surat ini. Ceritanya waktu itu memang tidak teratur, lompat sana sini. Tapi saya coba berusaha untuk merunut sedemikian rupa sehingga agak teratur.

Sebelum saya menceritakan permasalahannya, ada baiknya saya berikan gambaran singkat teman saya tersebut. Dalam uraian saya ini, nama subyeknya sudah saya samarkan.

Gambaran Sang Ibu
Dessy adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang putri. Umurnya saat itu sekitar 35 tahun. Ia berasal dari latar belakang keluarga yang harmonis dan disiplin. Sejak kecil ia diajarkan untuk hidup teratur, tertib dan tahu tata krama. Sedikit berbeda dengan suaminya. Meski berasal dari keluarga yang harmonis, tapi penanaman nilai-nilai disiplin terlihat kurang. Bisa dikatakan kalau Dessy berasal dari latar belakang keluarga konservatif, sementara suaminya berasal dari keluarga demokrat.

Di mata Dessy, suaminya amat sangat baik terhadap anak-anak. Hal ini diperlihatkan juga oleh keluarga sang suami, saat mereka masih tinggal di rumah keluarga besar suami Dessy. Waktu itu, mereka baru memiliki satu putri. Dessy tinggal bersama mertua sampai putrinya berusia sekitar 2 tahun. Yang dimaksud dengan “sangat baik” adalah suka membela anak bila anak jelas-jelas berbuat kesalahan, tidak pernah menghukum dan memarahi anak. Sedangkan Dessy selalu bersikap tegas terhadap anak, suka (atau sering) memarahi anak bahkan tak jarang juga ia menghukum anaknya yang salah.

Dan bila menghukum, terlihat kalau Dessy tidak tanggung-tanggung (hal ini sudah diketahui oleh umum). Pernah sekali peristiwa, Dessy menyeret putrinya itu. Peristiwa itu disaksikan oleh umum. Hukuman “berat” pertama yang diterima Lala adalah saat dia berusia 3 tahun. Waktu itu, karena kesalahan Lala, dia akhirnya dikurung di dalam kamar mandi, dari sore hingga malam. Lala menangis meraung-raung minta maaf. Tapi tak digubris. Seorang tetangga datang “mengingatkan” Dessy, tetap tak digubris. Sampai malam, sang suami akhirnya mengeluarkan Lala, yang sudah terlihat lemas.

Dessy mempunyai harapan yang sangat besar terhadap Lala. Dessy mau agar Lala dapat bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil (agar bisa memberi teladan pada kedua adiknya). Dessy juga ingin supaya putrinya itu disiplin (seperti dirinya waktu kecil dulu), tahu menghormati, menghargai dan menyayangi ortunya. Dessy memang tidak terlalu mengharapkan agar Lala dapat berprestasi dalam bidang pendidikan. Bagi Dessy, cukuplah Lala naik kelas tanpa ada nilai merah.

Gambaran Putri Bermasalah
Dari hasil perkawinannya, Dessy memiliki 3 orang putri. Yang pertama, Lala, usia 10 tahun. Yang kedua berusia 3,5 tahun dan yang bungsu berumur 1 tahun. Dari ketiga putrinya, Lalalah yang menjadi topik permasalahan.

Permasalahannya adalah sebagai berikut: Lala sering (bahkan selalu) menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan orang tua. Perilaku (simptom) itu adalah sebagai berikut:
a.   Suka melawan orang tua. Kalau Dessy omong 1 kata, Lala sudah 10 kata. Anehnya, perilaku ini hanya dilakukan kepada orang tuanya; kepada orang baru sama sekali tidak. Dessy mengatakan kalau kepada orang yang baru, Lala berlaku amat manis. Hal ini memang terbukti saat saya berkunjung.

b.   Sering bicara atau bertindak tanpa pikir panjang atau perhitungan (impulsive?). Suka berbicara berlebihan. Artinya, Lala tak bisa diam. Selalu saja ada topik yang akan dibicarakan.

c.   Tidak punya rasa tanggung jawab, terlebih sebagai anak pertama. Selain itu ia juga sulit mengikuti perintah yang telah diberikan orang tuanya. Lala mudah lupa atau sengaja menjadi pelupa. Dan karena lupanya itu, ia selalu berbuat kesalahan yang sama saja.

d.   Tidak punya perasaan bersalah. Tapi, anehnya pernah sekali ketika ia mendapat hukuman, Lala menulis surat kepada orang tuanya. Inti surat itu adalah permintaan maaf dan pernyataan cintanya pada kedua orang tuanya.

e.   Sulit untuk tetap duduk tenang. Kalau makan, ia suka pindah-pindah tempat duduk. Di mata Dessy, hal ini mungkin karena “didikan” ibu mertua atau neneknya Lala, sewaktu mereka tinggal bersama.

f.   Prestasi belajarnya menurun drastis. Hal ini mungkin karena Lala sulit untuk berkonsentrasi. Ada sikap anggap remeh terhadap pelajaran.

Inilah gambaran perilaku Lala yang membuat Dessy sedih, kecewa, bingung dan stress. Menurut Dessy, perilaku ini sudah terlihat sejak Lala berusia 3,5 tahun. Hal ini hanya tampak pada diri Lala saja. Kedua adiknya menunjukkan sikap yang menyenangkan kedua orang tuanya. Anehnya lagi, prilaku Lala ini hanya terjadi di rumah. Di sekolah Lala dikenal sebagai siswa yang baik, mudah bergaul dan menyenangkan. Tidak pernah sedikitpun ia membuat ulah. Guru-guru pun punya pendapat demikian.

Berbagai cara sudah ditempuh Dessy untuk “mendidik” putri pertamanya. Misalnya mulai dari mengomeli, menghukum fisik sampai pada penerapan punishment and reward. Tapi, tetap saja Dessy menemukan kesia-siaan. Dessy seakan berbenturan sendiri dengan tembok keras. Lala tidak menunjukkan perubahan apapun.

Akan tetapi ada hal aneh yang sering ditunjukkan oleh Lala kepada ibunya. Di satu sisi ia sering membuat sakit hati ibunya, namun di sisi lain Lala sangat sayang pada ibunya itu. Ia tak mau melihat ibunya sakit atau menderita (tapi ia tak melihat kalau perbuatannya itu membuat ibunya menderita). Misalnya, pernah Dessy sakit. Lalalah yang sibuk duluan. Dan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Lala jauh melebihi siapapun.

Pertanyaan Refleksi
Berdasarkan uraian singkat di atas, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan.
1.    apa yang sedang dialami oleh Lala? Apakah Lala yang bermasalah atau malah justru Dessy yang bermasalah.

2.  apakah perilaku Lala ini bisa terbawa sampai ia remaja dan dewasa kelak? Apa dampak buruknya di kemudian hari?

3.  bagaimana mengatasi persoalan ini? Apa yang harus dibuat agar Lala dapat berubah menjadi “anak manis”? Pola didik dan pola asuh yang bagaimana dapat diterapkan untuk Lala ini?

Jawaban: Lala adalah Lala
Dalam ilmu psikologi, Lala menderita Gangguan Perilaku. Gangguan perilaku ini apabila tidak segera diatasi, maka di masa dewasa kelak akan tumbuh menjadi pribadi anti sosial. Orang-orang ini akan secara aktif menggangu masyarakat dengan tindakan anti social, yang bisa terarah pada tindak kriminal.

Ada dua faktor penyebab, yaitu faktor biologis dan faktor psikologis. Yang termasuk biologis adalah adanya kelainan dalam struktur otak; saat hamil, ibu punya kebiasaan buruk seperti merokok atau mengkonsumsi minuman beralkohol; saat lahir memiliki berat yang tidak normal. Ada dua hal berkaitan dengan faktor psikologis, yaitu pola asuh dan modeling. Aspek kedua banyak kurang diterima di kalangan psikolog. Karena itu, faktor pola asuhlah yang dominan. Lala berperilaku demikian karena pola asuh di rumahnya adalah otoriterian. Sang ibu menerapkan aturan dan disiplin yang sangat keras. Dan sang ibu bertindak sangat otoriter.

Mengapa sang ibu bertindak demikian. Ada kesan kalau sang ibu terobsesi pada masa lalunya. Ia mau agar Lala sama seperti dirinya: tertib, menurut, teratur. Bukankah dulu si ibu berasal dari latar belakang keluarga yang tertib, disiplin dan teratur. Saat kecil, Dessy sangat disiplin, tahu mengatur waktu, tertib dan “sopan” tidak ngeyel. Nah, Dessy mau agar Lala jadi seperti dia. Inilah awal “bencana” tersebut. Dessy tidak mau menerima Lala sebagaimana adanya Lala, tetapi mau menjadikan Lala menjadi Dessy.

Lala merasa dirinya tidak diterima. Sementara itu ada kemungkinan keotoriteran sang ibu sangat membebani dirinya. Karena itu, Lala berontak. Hanya ada satu hal yang diinginkan Lala: terimalah diriku apa adanya. Dan cuma itulah yang harus dilakukan Dessy. Harus disadari kalau tiap manusia adalah unik. Lala adalah Lala dan Dessy adalah Dessy. Lala bukanlah Dessy, demikian pula sebaliknya, Dessy bukanlah Lala.

Hal ini terbukti dengan kehidupan Lala di sekolah. Apa yang dialami Dessy di rumah, yang membuatnya stress, sungguh bertolak belakang dengan kehidupan Lala di sekolah. Di sekolah Lala justru sangat disenangi, baik oleh guru maupun teman-temannya. Perilaku Lala sangat baik sehingga banyak orang suka padanya. Kenapa ini bisa terjadi? Alasannya adalah karena mereka mau menerima Lala sebagai Lala. Atau Lala dapat menjadi dirinya sendiri.

Apa yang harus dibuat Dessy? Pertama sekali adalah Dessy harus menerima Lala apa adanya. Jangan berusaha menjadikan Lala seperti orang lain, yang bukan dirinya. Untuk sedikit mengubah perilakunya, Dessy bisa menerapkan punishment and reward secara tegas dan konsisten.

Lebih dari itu, Dessy harus juga berkomunikasi dengan sang suami. Segala kebijakan yang diambil harus juga diketahui oleh suami sehingga sebagai suami-isteri mereka dapat seiya-sekata dalam menerapkan kebijakan tersebut.

by: adrian

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI - Thn II

Renungan Hari Rabu Pekan Biasa XXVI B/II
Bac I  Ayb 9: 1 – 12, 14 – 16; Injil       Luk 9: 57 – 62

Mendengar sabda Tuhan dalam Injil hari ini dapat membuat orang menjadi bimbang dan takut untuk mengikuti Kristus. Karena orang itu harus menanggalkan kenyamanannya dan melupakan orang tua juga kelurganya.

Itukah yang dikehendaki Tuhan?

Lewat Injil-Nya hari ini Tuhan mau mengatakan kepada kita bahwa mengikuti Dia harus menjadi prioritas utama. Artinya, masih ada prioritas lain dalam hidup kita; dan itu masih diperkenankan. Akan tetapi, janganlah prioritas itu mengalahkan prioritas utama tadi. Hal ini sama seperti sikap iman Ayub dalam bacaan pertama. Bagi Ayub, percaya kepada Allah merupakan segalanya sehingga ia berserah diri secara total pada-Nya.

Oleh karena itu menjadi jelas bagi kita bahwa Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk menjadikan Dia sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Tuhan memanggil kita. Bila kita menjawab panggilan-Nya itu, maka mengikuti Dia harus menjadi prioritas utama, mengalahkan prioritas-prioritas lain dalam hidup kita.

by: adrian

Orang Kudus 3 Oktober: St. Fransiskus Borgia

SANTO FRANSISKUS BORGIA, PENGAKU IMAN
Fransiskus lahir di Spanyol pada 28 Oktober 1510. Putera bangsawan tinggi Italia ini masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga kerajaan Spanyol. Ayah neneknya adalah Paus Aleksander VI (1492 – 1503) yang sebelum dipilih menjadi paus sudah mempunyai beberapa anak. Ia adalah putera sulung dari pasangan Juan Borgia, pangeran dari Gandia dan Yohanna dari Aragon. Setelah dididik di dalam istana Kaisar Karel V, ia dinobatkan menjadi Raja Muda Katalonia. Sebagai penguasa yang beragama kristen, ia tampail bijaksana dan saleh. Ia menunjukkan teladan hidup yang baik terhadap rakyatnya sesuai keutamaan kristiani. Ia bersikap tegas terhadap semua bangsawan yang korup. Oleh karena itu banyak orang tidak enyukai dia.

Ketika Ratu Isabela meninggal dunia, jenazasahnya harus dibawa ke Granada. Raja Muda Fransiskus Borgia ditugaskan untuk mengawal jenasah itu. Sebelum dimasukkan ke liang lahat peti jenasah harus dibuka untuk membuktikan bahwa jenasah ratulah yang akan dimakamkan. Ketika peti jenasa dibuka, Fransiskus hampir pingsan oleh bau busuk yang sangat menusuk hidung. Ia menyaksikan kehancuran mayat ratu yang dulu begitu cantik, bahkan dipujanya. Sejak saat itu ia berjanji untuk tidak lagi mengabdi seorang raja duniawi, yang dapat mati dan hancur tubuhnya. Ia bertekad menyrahkan dirinya kepada Tuhan sambil berjanji akan mengubah cara hidupnya sesuai dengan kehendak Allah.

Tatkala istrinya meninggal dunia tahun 1546, ia memutuskan masuk Serikat Yesus. Segala hartanya diwariskan kepada anaknya yang sulung. Di dalam Serikat Yesus Fransiskus ditahbiskan menjadi imam pada usia 41 tahun. Cara hidupnya sederhana dan lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh banyak orang. Imam Fransiskus dikenal saleh. Kotbah-kotbahnya sangat menyentuh hati umat sehingga dapat membawa kembali banyak orang kepada pertobatan.

Keberhasilannya menarik hati Ignasius Loyola, pendiri Serkat Yesus. Oleh karena itu ia ditunjuk menjadi pembesar Yesusit di Spanyol. Empat tahun kemudian ia menggantikan Ignasius Loyola sebagai pemimpin tertinggi Serikat Yesus. Ia sangat berjasa pada universitas Gregoriana. Cita-citanya sebagai pemimpin Serikat Yesus ialah menjiwai ordonya dengan semangat hidup Ignasius serta memperluas wilayah apostolatnya ke seluruh dunia. Banyak imam Yesusit dikirimnya ke luar negeri seperti Polandia, Mexico, Peru dan Brasilia. Jumlah kolese diperbanyak untuk mendidik kader-kader yang dapat melanjutkan karya Gereja. Ketika ia berusia 61 tahun, ia mendapat tugas dari Paus Pius V (1566 – 1572) untuk mempersatukan para raja kristen guna menghadapi ancaman bangsa Turki yang islam atas wilayah-wilayah kristen. Fransiskus Borgia akhirnya wafat karena sakit pada 30 September 1572. Jenasahnya dimakamkan di Madrid, Spanyol. Pada tahun 1931 mkam itu dirusak dan dibakar oleh kaum atheis.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun