Sabtu, 08 Juni 2013

(C E R P E N) Kuda Lumping

KUDA LUMPING
Tak disangka kalau acara kuda lumping yang dibawakan oleh anak-anak tingkat tiga akan membawa diskusi yang menjurus pada perdebatan banyak kalangan. Malam itu kampus Samir mengadakan acara Dies Natalis. Banyak pertunjukan digelar. Masing-masing tingkat tampil dengan bawaannya. Ada yang serius, ada pula yang sempat mengocok perut. Tak ketinggalan pula para karyawan turut unjuk kebolehannya. Dan pada acara puncak tampillah anggota tingkat tiga dengan kuda lumpingnya.
Awalnya sih sebenarnya pertunjukan itu tidak serius. Rada lawak. Bagaimana mau dibilang serius kalau personilnya saja sudah dikenal sebagai pelawak harian di kampus. Makanya saat mereka masuk penonton sudah pada tertawa; ditambah lagi dengan tingkah gerakan mereka. Belum lagi bila dilihat latar belakang etnis pemainnya. Ada Flores, Batak, Jawa dan Karo. Atau juga alat musiknya yang cuma mengandalkan empat potong bambu kering dengan ukurannya masing-masing dan dua ember yang disatukan sebagai gendang.
Yang pertama muncul adalah Marten, si Flores hitam yang seharian dikenal suka guyon. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam (bayangkan, kulit sudah hitam, pakaianpun hitam. Kalau listrik padam, jelas susah mencarinya.) Ia bertindak sebagai dukun yang memperkenalkan acara disertai ‘ancaman’ kepada para penonton agar tidak macam-macam. (Ancaman itu bukannya membuat penonton takut, tapi justru malah tertawa.) Ia menaburkan serbuk putih di arena pentas membentuk lingkaran. Lalu ia bersemedi di tempat yang ditentukan di mana sudah ada semacam sesajian lengkap dengan asap menyannya. Acarapun digelar. Enam orang pemain masuk dan bermain seperti biasa. Lucu.
Namun memasuki menit kesepuluh tiga orang mulai kesurupan. (Atau pura-pura kesurupan?) Pertunjukan terus berlangsung. Tiba-tiba dari arah penonton seorang mahasiswa tingkat satu berteriak histeris dan kesurupan. Beberapa orang menggotongnya ke arena pentas dan membiarkannya menari sesuka hati. Penonton mulai tegang. Tak lama kemudian seorang lagi dan lagi. Mereka kesurupan. Mereka sama-sama berstatus penonton. Ketiganya dibiarkan menari di pentas. Penonton makin tegang. Beberapa staf dosen yang duduk di depanpun ada yang mulai cemas dan takut.
Akhirnya pertunjukkan berubah menjadi serius, malah bisa dikatakan sedikit kacau.  Setidaknya itulah pendapat beberapa penonton. Ini tentu didasari adanya tiga mahasiswa dari tingkat lain yang ikut menari. Yah kesurupanlah istilahnya atau trance. Padahal mereka mulanya sebagai penonton. Ada pula penonton yang masih menganggap itu hanyalah sebuah permainan. Sebuah lelucon.
“Yang semalam itu sungguhan, kan?” Ungkap Poltak. “Mereka benar-benar kesurupan.”
“Cuma main-mainnya itu.” Samir coba menyangkal. Memang malam itu ia banyak mengejek teman-temannya yang terlihat takut. Umumnya mereka dari Flores. Mungkin ini kali pertama mereka menyaksikan pertunjukkan kuda lumping
“Apa alasanmu bahwa itu cuma main-main saja?”
“Sudah banyak kali saya nonton kuda lumping. Dari semua itu, aku bisa ambil kesimpulan bahwa yang mempengaruhi orang mengalami trance adalah musik dan juga dukun dengan mantranya. Nah, apa yang saya liat malam itu sungguh jauh beda. Jauh sekali. Lha, dukunnya saja si Marten, orang Flores, sementara kuda lumping itu budaya Jawa. Mana ngerti dia soal mantra-mantra Jawa. Belum lagi musiknya.”
“Kau jangan cuma liat musiknya, “ bela Poltak. “Memang harus diakui alat musik mereka sederhana. Jauh dari resminya. Tapi musik dengan irama tetap, konstan bisa membuat orang hanyut dan akhirnya mengalami trance. Nggak peduli apapun jenisnya.”
“Betul. Saya setuju!”
“Dengan botol saja, kalo melahirkan bebunyian yang konstan, orang bisa trance. Aku pernah menyaksikan.”
“Saya nggak nolak itu.”
“Lalu?”
”Yang semalam itu tidak demikian. Kita mesti mengerti dulu arti kata tetap di sini. Irama yang berubah-ubah, dari keras ke rendah atau kencang menjadi pelan, juga bisa dikategorikan tetap. Tetap berubah. Bahwa adanya perubahan itulah yang tetap. Tetap yang lain adalah tanpa perubahan. Sama terus,” jelas Samir sedikit berfilosofis. “Yang saya alami selama ini, orang trance saat tempo musik meninggi dan makin cepat, meski iramanya tetap. Hal ini tidak terjadi malam itu. Iramanya saja berubah-ubah. Gimana orang bisa trance?”
“Tapi kenapa Basuki sibuk ngurusi mereka yang kena? Dia kan orang Jawa tentu tau benar akan hal ini. Demikian pula si Wiro dan Pendi.”
“Saya pun bisa sebut beberapa orang Jawa lain. Si Kentul atau Pak Budi dan Pak Antono. Kok mereka tenang-tenang saja? Malah kulihat mereka tertawa saat orang lain panik.”
Poltak terdiam. Mungkin lagi menyusun strategi untuk mematahkan argumen Samir sekaligus memenangkan diskusi (emangnya perang, nih?). Samir pun terlihat demikian. Tapi ia tidak kelihatan tegang seperti si Poltak. Ia malah tersenyum memperhatikan si Poltak lagi menguras pikiran. Dahinya berkerut. Samir yakin dan sungguh yakin bahwa kuda lumping semalam sekedar main-main.
“Begini,” ungkap Poltak memecah kebisuan mereka. “Secara psikologis, kita mengakui setiap manusia punya alam bawah sadar. “ Poltak mulai berteori. “Alam bawah sadar ini tempat pembuangan atau penampungan energi yang berasal dari perasaan-perasaan yang ditekan. Ada benci, senang, marah, jengkel, cinta, dendam, sayang, iri, dan lain-lain. Emosi atau perasaan ini terkadang tak mampu diungkapkan keluar tapi ditahan, ditekan dan dipendam di alam bawah sadar. Ini suatu saat bisa menjadi energi kekuatan yang dahsyat.
“Pada waktu orang sedang rileks atau persisnya rilaksasi, tutup alam bawah sadar itu terbuka sehingga energi tadi keluar. Itulah yang dinamakan saat trance. Musik dengan irama yang tetap, mampu menciptakan saat rilaksasi.”
“So?”
“So what?”
“Penjelasanmu benar. Saya sependapat.”
“Jadi, benarkan kalo mereka itu serius. Kena.”
“Tidak!”
Poltak terperanjat. Dia menyangka omongan Samir berarti mengakui kebenaran pendapatnya. Poltak berpikir sudah memenangkan “perang” mulut dia dengan Samir.
“Kenapa tidak?”
“Karena mereka main-main saja. Itulah yang dinamakan acting. Sama seperti kalo kita nonton film. Kita merasa itu sungguh-sungguh terjadi, padahal cuma acting saja.”
“Kalo main-main, kenapa si Marten yang berperan sebagi dukun kebingungan. Cemas. Rekan-rekan setingkatnya pun pada ketakutan. Si Basuki juga cemas sampai ia marah-marah. ‘Siapa yang bertanggung jawab atas semuanya ini?’ katanya malam itu.  Marten dan rekan-rekannya melihat bahwa pertunjukkan itu sudah diluar skenario.”
“Itulah taktik si Giman, otak dari pertunjukan itu. Dialah yang mengatur semuanya. Dia sudah menghubungi orang lain yang bukan anggota tingkatnya untuk menyusup di acara mereka. Kita bisa bertanya kenapa Giman nggak kesurupan. Dia kan orang Jawa, ngerti betul masalah Kuda Lumping.”
“Jadi, skenario dalam skenario?”
“Begitulah kira-kira. Dugaanku, Giman mau menampilkan ketegangan pada penonton selain aspek seni. Dan menurutku dia berhasil. Dan bisa dibilang sangat luar biasa. It’s suprise, bukan saja buat penonton tetapi juga rekan-rekan setingkatnya yang juga ikut main.”
“Nggak mungkin!” Poltak tetap pada keyakinannya. “Kita kenal baik si Eko dan Joko. Dua orang ini terkenal pendiam dan alim. Tapi malam itu mereka terlihat ganas. Ini karena mereka sedang tranceTrance membuat orang lupa akan jati dirinya.”
“Lagi-lagi Giman berhasil dengan taktiknya membuat orang tegang. Seandainya ia pilih orang-orang liar, pasti penonton akan berpikir sudah biasa. Lumrah dan wajar. Demikian pula tampilnya Basuki di arena pentas. Dia sudah masuk dalam permainan Giman. Singkatnya begini. Giman mau agar pertunjukannya bisa membuat penonton jadi tegang. Karena itu, setelah buat skenario permainan untuk tingkatnya, ia membuat juga skenario lain tanpa sepengetahuan anggota tingkatnya. Ia menghubungi Eko dan Joko dari tingkat satu dan Tomo dari tingkat empat untuk menyusup di sela-sela acara. Sebelumnya mereka bertindak sebagai penonton. Lalu tiba-tiba mereka satu per satu pura-pura histeris dan trance sehingga digotong ke arena pentas. Giman juga menghibungi Pendi dan Wiro untuk nanti masuk sebagai penolong. Menenangkan mereka yang kesurupan. Semuanya persis seperti yang kau saksikan malam itu.
“Saya sebenarnya punya rencana lain. Saya ingin menyuruh Basuki dan dua orang lain untuk menyusup. Ikut-ikutan trance. Saya yakin Giman pasti kebingungan. Ia pasti kaget dan otomatis jadi tegang sendiri. Ini di luar skenarionya. Dia pikir, jangan-jangan mereka benar-benar trance.
“Apa Giman sudah bilang sama kau kalo ia sudah hubungi orang lain?”
“Saat ini ia harus jaga wibawanya di hadapan rektor dan para staf. Soalnya pertunjukan malam itu kan rada kacau. Kalo rektor tau ini cuma main-main, dia bisa dipanggil. Bisa-bisa kena sanksi atau malah De-O. Jadi, untuk selamatkan diri dia mesti katakan bahwa pertunjukan itu sungguh-sungguh. Bahwa anak-anak benar-benar kesurupan atau trance.

Poltak tetap belum yakin. Hati kecilnya masih mengatakan bahwa para pemain kuda lumping malam itu benar-benar mengalami trance. Sementara Samir cengar-cengir saja memperhatikan temannya. Ia juga tetap pada pendiriannya. Inilah resiko dua orang lain suku berbicara tentang budaya dari suku lain, pikir Samir.
Sinaksak, 24 Peb 2001
by: adrian
Baca cerpen lain juga:
1.      Diakon Yudas
3.      Cita-cita Warni
5.      Pasien Kamar 14
6.      Ternyata ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar