Selasa, 22 September 2015

Antara Penting dan Bermasalah

ORANG PENTING ATAU ORANG BERMASALAH
Usai merayakan misa, rombongan suster RGS mampir sejenak di pastoran. Kebetulan ada tiga orang suster tamu. Jadi sekalian mau lihat pastoran, kenalan dengan pastor yang tadi memimpin misa.
Saya keluar menyapa mereka. Usai bersalam-salaman, kami pun mulai pembicaraan ringan. Salah satu topik pembicaraan adalah domisili saya. Seorang suster tamu, kebetulan sudah beberapa kali ke Batam, baru pertama kali bertemu dengan saya. Karena itu, ia bertanya sejak kapan tugas di Tiban.
Sadar bahwa arah pertanyaannya menyangkut domisili, maka saya segera memperbaikinya. Saya tekankan bahwa saat ini saya sedang dalam posisi tamu di Paroki Tiban. Domisili saya di Pangkalpinang, di keuskupan.
Mendengar bahwa saya tinggal di keuskupan, seorang suster langsung berkomentar, “Biasanya, yang tinggal di keuskupan itu antara dua: orang penting atau bermasalah.” Setelah ia menyelesaikan kalimatnya itu, ia menatap saya sambil tersenyum.
Saya pun langsung menjawabnya secara diplomatis, “Tidak jauh beda seperti dunia militer, Suster. Ada istilah di-Mabes-kan.”
“Jadi, romo masuk kategori pertama atau kedua?” Suster seakan tidak ingin jawaban diplomatis. Ia ingin hitam – putih.
“Saya merasa yang kedua, Suster. Karena, kalau yang pertama, kerja saya tidaklah terlalu penting. Penting pun tidak.”
Dengan jawaban ini, diharapkan suster dapat memahaminya. Saya mengatakan bahwa saya masuk kategori kedua, karena saya sendiri tidak dapat menjelaskan alasan kategori pertama. Kategori pertama mengisyaratkan saya sebagai orang penting, namun saya tidak tahu dimana letak pentingnya peran saya.
Karena tidak dapat menjelaskan letak pentingnya peran saya, maka saya akhirnya memilih kategori kedua. Akan tetapi, pilihan kategori kedua pun masih menyisahkan kebingungan, karena saya juga tidak tahu dimana letak masalah saya.
Jadi, saya tidak masuk kategori pertama, karena sama sekali peran saya tidak penting. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas harian saya selama berada di keuskupan. Amat sangat jarang sekali saya masuk “kantor” di ruang IT. Hari-hari hanya santai saja. Pelayanan paroki sama sekali tak pernah (karena tak dipakai oleh paroki). Untuk mengurus web, dapat saya lakukan dimanapun saya berada sejauh terkonek jaringan internet. Tidak masuk pada kategori pertama inilah menyisahkan pilihan lainnya, yaitu kategori kedua. Namun pilihan ini masih menyisahkan pertanyaan dalam diri saya: apa masalah saya. Saya memastikan bahwa saya ada masalah (maklum, setiap manusia pasti punya masalah), tapi saya tidak tahu masalahnya. Hanya uskup saja yang mungkin tahu.
Batam, 22 Juli 2015
by: adrian
Baca juga refleksi lainnya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar