Senin, 13 Oktober 2014

(Pencerahan) Curiga dan Iri Hati

CURIGA, TAK SELAMANYA KARENA IRI
Curiga merupakan salah satu sifat manusia. Hampir setiap manusia memiliki sifat ini. Bahkan orang yang suka menasehati sesama untuk tidak curiga sering juga curiga. Kecurigaan muncul biasanya berawal dari rasa tidak percaya atas apa yang dilihat dan apa yang didengar. Misalnya, saya melihat seseorang yang tidak saya kenal dengan tampang seram. Saya tidak percaya padanya. Dari sini muncul kecurigaan orang tersebut dapat mencelakakan saya.

Bahkan curiga terjadi atas sesuatu yang belum diketahui atau belum pasti. Sebagai contoh orang yang mempunyai fobia pada orang asing. Ketika orang asing menawarkan makanan kepadanya, dia langsung mencurigai bahwa orang asing itu hendak meracuni dirinya. Ada tidaknya racun dalam makanan itu belumlah diketahui dengan pasti. Namun karena ketakutan tadi membuat ia curiga.

Kata “curiga” seringkali dijadikan alat pembelaan diri. Kata ini sering disematkan kepada orang yang suka mengusiki kehidupan orang lain. Tentulah kita tak ingin hidup kita diusik. Tak jarang pula kita benci pada orang-orang seperti itu. Nah, untuk menangkal mereka yang gemar mengusik, orang-orang seperti itu dikenakan kata curiga. Kata ini biasanya memiliki konotasi negatif, sehingga orang yang disematkan kata ini memiliki label negatif (jelek atau jahat secara moral). Dan tentulah setiap orang tak suka dikatakan negatif.

Orang yang suka mengusiki kehidupan orang lain dengan sikap curiganya itu biasanya disebabkan karena iri hati. Inilah yang selalu dilontarkan orang yang hendak membela diri melawan orang-orang yang suka mengusik tadi. Sebagai contoh, Nikolaus tak mau kehidupannya diketahui oleh orang lain, sementara ada orang yang ingin tahu. Karena tak memperoleh akses, maka yang dapat dilakukan orang adalah mencurigai kehidupan Nikolaus itu. Akan tetapi, Nikolaus dapat berkelit dengan mengatakan bahwa orang-orang yang mencurigai dirinya itu karena iri hati.

Curiga selalu diidentikkan dengan iri hati. Karena iri melihat kesuksesan orang lain, maka seseorang curiga bahwa kesuksesan itu didapat dengan cara illegal. Karena iri melihat kekayaan orang lain, maka seseorang curiga bahwa kekayaan itu diperoleh dari hasil korupsi. Karena iri melihat kedekatan relasi orang lain, maka seseorang curiga bahwa telah terjadi perselingkuhan. Sifat curiga muncul karena iri hati.

Tapi apakah curiga itu muncul hanya karena iri hati saja? Seperti yang telah disebut di atas, pernyataan bahwa curiga karena iri hati sering dijadikan senjata pembelaan diri. Saya tidak mau supaya orang tidak mengutak-atik kehidupan saya, maka saya menyatakan bahwa siapa saja yang mencoba mengusik kehidupan saya (curiga) itu pasti karena iri hati. Padahal tidak selamanya sikap curiga itu karena iri hati. Bahkan bisa dikatakan bahwa tak selamanya sikap curiga itu buruk.

Sikap curiga dalam artian tertentu bisa dimengerti sebagai sikap waspada dan sikap kritis. Sebagai contoh, ketika memasuki sebuah rumah, saya melihat ada seekor anjing besar. Saya belum pernah bertemu dengan anjing itu, dan anjing itu pun belum pernah berkenalan dengan saya. Adalah wajar jika saya mencurigai bahwa anjing itu galak dan dapat mencelakai diri saya. Sikap curiga ini dimengerti sebagai sikap waspada. Dan sikap ini tidaklah salah; malah bisa dikatakan sebagai sikap yang wajar dan baik.

Contoh sikap curiga sebagai sikap kritis dapat dilihat dari ajakan komisionaris KPK, Busyro Muqoddas, yang mengajak warga untuk “mencurigai” kehidupan setiap pegawai negeri. Artinya, jika ada seorang pegawai negeri biasa tapi memiliki kekayaan luar biasa, patutlah dicurigai bahwa kekayaannya didapat dari cara yang tidak halal. Bukan lantas berarti bahwa warga yang mencurigai itu adalah warga yang iri hati melihat pegawai negeri itu kaya.

Atau contoh lain adalah soal permintaan transparansi dalam hal keuangan paroki. Ada umat yang curiga berkaitan dengan penggunaan uang paroki oleh pastor parokinya. Ia menemukan beberapa kejanggalan, seperti laporan keuangan hanya diketahui oleh pastor kepala paroki dan bendaharanya saja, pastor kepala paroki salalu menghindar jika diminta laporan keuangan, bendahara mengerjakan laporan keuangan bukan dikantor, melainkan di kamar pastornya, dan lain sebagainya. Kecurigaan yang muncul bukan karena umat iri hati. Kecurigaan itu lahir dari sikap kritis serta tuntutan akan akuntabilitas keuangan paroki.

Jadi, curiga yang dilakukan kebanyakan orang janganlah dimaknai sebagai sikap iri hati. Tak selamanya sifat curiga itu muncul karena iri hati. Sifat curiga dapat juga muncul karena kewaspadaan dan juga sikap kritis. Sifat curiga yang lahir dari sikap kritis merupakan salah satu bentuk pertanggung-jawaban moral akan hidup bersama. Selain itu tak selamanya sifat curiga itu buruk atau jahat. Selagi memiliki dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan, sifat curiga adalah baik. Sifat curiga menjadi buruk jika tidak ada dasar, alias curiga membabi-buta.
Johor Baru, 22 September 2014
by: adrian

3 komentar:

  1. "Bahkan orang yang suka menasehati sesama untuk tidak curiga sering juga curiga." Tepat sekali.

    BalasHapus
  2. kenapa niat baik kita selalu dicurigai?

    BalasHapus
  3. curiga yang disertai dasar adalah tindakan waspada dan kritis

    BalasHapus