Rabu, 22 April 2020

PENTINGNYA MEMBACA BAGI KEHIDUPAN


Orang bijak bilang, buku adalah gudang ilmu. Dapatlah dikatakan, siapa yang mempunyai buku, dia memiliki gudang ilmu. Ilmu pengetahuan itu ada di dalam gudang. Orang yang hendak mengambil ilmu itu harus terlebih dahulu membuka gudangnya. Dikaitkan dengan buku, membuka gudang berarti membaca. Dengan membaca buku, maka ilmu yang ada di dalamnya dapat diketahui. Semakin banyak buku dibaca, semakin banyak pula ilmu diketahui.
Mengingat pentingnya membaca bagi kehidupan manusia, maka alangkah baiknya menanamkan kebiasaan membaca buku sejak usia dini. Membaca merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang anak. Ketika anak sudah mulai mengenal huruf dan membaca, sangatlah baik jika kepadanya diberikan buku.
Akan tetapi, membaca di sini bukanlah sekedar menghasilkan bunyi-bunyian dari sekumpulan huruf-huruf yang membentuk kata dan kalimat. Anak harus dapat memahami apa yang dibacanya. Untuk itu, anak juga perlu mengerti setiap kata yang dibacanya. Inilah yang dinamakan literasi. Jika tanpa pengertian dan pemahaman, itu ibarat masuk ke dalam gudang yang gelap gulita. Kita sama sekali tidak tahu apa saja yang ada di dalam gudang itu; lebih parah lagi kita tak tahu benda apa yang ada di depan kita. Literasi merupakan penerang “gudang ilmu”.

Selasa, 21 April 2020

JANGAN ABAI UNTUK MENDENGARKAN


"Kepemimpinan bagi saya berarti tugas, kehormatan dan negara. Itu berarti karakter dan itu berarti mendengarkan dari waktu ke waktu." Kutipan ini berasal dari George W. Bush, Presiden Amerika Serikat ke-43.
Kebanyakan orang cenderung lebih senang membicarakan dirinya sendiri dibandingkan mendengarkan. Hanya orang-orang  berpengaruh yang memahami nilai luar biasa jadi pendengar yang baik. Seperti yang dikatakan senator Amerika Serikat, Lyndon B. Johnson, “Anda tidak akan pernah belajar apa-apa jika Anda terus bicara.”
Kemampuan mendengarkan secara cerdas merupakan kunci untuk dapat mempengaruhi orang lain. Mendengarkan dapat memberikan manfaat dalam membangun hubungan, meningkatkan pengetahuan, membangkitkan ide, membangun loyalitas dan menunjukan rasa hormat kepada orang lain.
Sekilas mendengarkan orang lain tampak hanya menguntungkan mereka yang didengarkan. Akan tetapi, dengan menjadi pendengar yang baik, kita sebenarnya menempatkan diri pada posisi membantu diri sendiri. Menjadi pendengar yang baik membutuhkan kerendahan hati dan kesabaran.

Senin, 20 April 2020

PAUS FRANSISKUS: TUHAN TIDAK BOSAN MENGANGKAT KITA BILA KITA JATUH

“Minggu lalu kita merayakan kebangkitan Tuhan. Hari ini kita menyaksikan kebangkitan murid-Nya.” Inilah kalimat pembuka Paus Fransiskus dalam misa Minggu Kerahiman Ilahi di Gereja Roh Kudus di Saxony, sekitar 200 meter dari lapangan Santo Petrus, pada 19 April 2020. Karena langkah-langkah keamanan covid-19, misa dirayakan tanpa kehadiran umat beriman.
Paus Fransiskus menceritakan satu minggu setelah Yesus bangkit dari mati, para murid masih “bersembunyi ketakutan di tempat dengan pintu-pintu terkunci.” Tanggapan Yesus terhadap ketakutan mereka adalah “Damai sejahtera bagi kamu!” Yesus memulai dari awal, jelas Paus Fransiskus. Kebangkitan murid-Nya dimulai dengan kesetiaan, belas kasihan yang sabar. Dengan cara itu kita belajar bahwa Allah tidak bosan mengangkat kita kalau kita jatuh. Allah seperti seorang ayah yang mengizinkan kita mengambil langkah-langkah tentatif dan mengangkat kita setiap kali kita jatuh.
“Tangan yang selalu membuat kita berjalan kembali adalah belas kasihan”, papar Paus Fransiskus. Allah tahu kita akan terus jatuh. Tetapi Dia akan selalu mengangkat kita karena “Dia ingin kita melihat kepada-Nya” bukan kegagalan kita. “Tuhan menunggu kita memberikan kepada-Nya kegagalan-kegagalan kita agar Dia bisa membantu kita mengalami kerahiman-Nya,” tegas Paus Fransiskus.
Semua murid telah meninggalkan Yesus. Mereka semua merasa bersalah. Tetapi, bukannya “memberi mereka kotbah panjang,” Yesus menunjukkan luka-luka-Nya kepada mereka, dimana Thomas tidak ada di tempat saat pertama kalinya. Namun ketika dia menyentuh luka-luka itu, “dia melewati para murid lainnya. Dia bukan hanya percaya pada kebangkitan,” tetapi juga pada kasih Allah yang tak terbatas.