Kamis, 15 November 2018

JANGAN UBAH IRAMA PERMAINANNYA


Masa kampanye pemilihan presiden 2019 sudah berlangsung sejak September lalu. Hingga kini sudah dua bulan berlalu. Selama dua bulan ini dua kubu calon presiden belum juga menawarkan program atau gagasan untuk memperbaiki kondisi bangsa dewasa ini. Hal inilah yang menjadi bahan kritik para pengamat politik dan juga aktivis media, baik cetak maupun elektronik.
Para pengamat menilai bahwa selama dua bulan masa kampanye ini dua kubu calon presiden, baik Capres Jokowi maupun Capres Prabowo, lebih banyak perang diksi. Kubu Probowo menyerang kubu Jokowi terkait soal kebijakan pemerintah selama ini, yang di mata mereka gagal, sedangkan kubu Jokowi balas balik menyerang kubu Prabowo. Selama ini publik lebih disajikan soal isu ingkar janji, politik kebohongan, tempe setipis ATM dan lain sebagainya. Intinya, dua bulan ini rakyat hanya menyaksikan dua kubu ini saling serang menyerang, bukan dalam konteks program atau gagasan, melainnya soal yang remeh temeh.
Karena itu, para pengamat mengkritik kedua kubu ini. Mereka menilai bahwa pola kampanye selama dua bulan ini bukannya mencerdaskan warga, tetapi justru membuat warga bingung. Ada juga pengamat yang menilai bahwa pola kampanye selama ini bersifat kekanak-kanakan. Maka kebanyakan pengamat meminta supaya kedua kubu calon presiden menampilkan gagasan dan program yang akan mereka terapkan ketika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.
Satu pertanyaan kecil adalah benarkah rakyat bingung dengan pola kampanye selama ini, atau jangan-jangan itu hanya kebingungan para pengamat politik yang hasrat nalarnya tak terpuaskan.

Selasa, 13 November 2018

PAUS FRANSISKUS: KEMISKINAN DISEBABKAN OLEH KESERAKAHAN DAN KETIDAK-ADILAN

Bagaimana mungkin Allah mau mendengar jeritan orang miskin, di saat bersamaan begitu banyak orang di dekatnya tidak mau peduli, tanya Paus Fransiskus. Orang harus melakukan “hening kembali ke hati nurani yang dalam untuk memahami apakah kita benar-benar mampu mendengarkan jeritan orang miskin,” ungkap Paus Fransiskus dalam pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia.
Peringatan Paus Fransiskus ini menjadi momen refleksi disertai tindakan konkret memberi orang Kristen kesempatan untuk mengikuti teladan Kristus dan secara konkret pula berbagi momen cinta, harapan dan rasa hormat bersama dengan orang-orang yang membutuhkan di tengah masyarakat, ujar Paus Fransiskus pada perayaan pesta St. Antonius Padua, pelindung orang miskin.
Hari Orang Miskin Sedunia diperingati setiap tahun pada Minggu Biasa XXXIII yang akan dirayakan pada 18 November tahun ini dan berfokus pada Mazmur 34, “Orang miskin ini berseru dan Tuhan mendengar.”
“Kita bisa bertanya pada diri sendiri, bagaimana tangisan ini, yang menjangkau sampai ke Tuhan, tidak mampu menembus telinga kita dan membuat kita tidak peduli dan tidak tergerak hati?” Paus Fransiskus bertanya lebih lanjut dalam pesannya. Untuk menyadari penderitaan sesama dan tahu cara terbaik untuk menanggapi dengan cinta, orang harus belajar untuk diam dan mendengarkan, jelas Paus Fransiskus.
“Jika kita banyak berbicara sendiri, kita tidak akan dapat mendengarnya,” urai Paus Fransiskus. Itulah yang sering terjadi ketika inisiatif yang penting dan dibutuhkan dilakukan lebih sebagai cara untuk menyenangkan diri sendiri “daripada benar-benar mengakui jeritan orang miskin,” ungkapnya.

Senin, 12 November 2018

KAUL KEMISKINAN DARI MASA KE MASA

Para imam, suster dan bruder terikat pada janji atau kaul kemiskinan. Ketika hendak ditahbiskan atau mengucapkan kaul kekal, orang-orang ini akan mengikrarkan kaul kemiskinan. Kaul kemiskinan ini dihayati sebagai bentuk penghayatan akan nilai-nilai Injili; atau dengan kata lain, ingin menyamai Kristus Yesus. Sebab Yesus yang diikuti adalah Yesus yang miskin. Karena itu, mengikuti Kristus berarti juga ambil bagian dalam kemiskinan-Nya.
Akan tetapi, sangat jamak ditemui dewasa ini kaum religius dan juga biarawan-biarawati yang bergelimpangan harta kekayaan duniawi. Ada imam dengan tunggangan motor pribadi yang mahal. Ada imam memiliki mobil. Ada suster atau bruder dengan HP android mahal di tangan kiri dan laptop di tangan kanan serta kamera DSLR tergantung di lehernya. Di beberapa tempat ada imam punya rumah atau tanah pribadi. Apakah ini bertentangan dengan janji atau kaul kemiskinannya?
Tulisan “Perjalanan Kaul Kemiskinan” mencoba menjawab pertanyaan di atas. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi atas kaul kemiskinan dalam perjalanan waktu. Dari sana kita akan dapat memahami situasi penghayatan kaul kemiskinan dewasa kini, yang jelas berbeda dengan penghayatannya di masa lampau. Setiap sejarah punya kisahnya.
Akan tetapi, tulisan ini juga, karena merupakan sebuah refleksi, menyajikan satu pertanyaan refleksi untuk kaum muda dewasa kini yang hendak menjawab panggilan Tuhan. Lebih lanjut mengenai isi tulisan ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!