Rabu, 03 April 2019

MEMBANGUN DIALOG ISLAM DAN KRISTEN


Dari antara sekian banyak agama di dunia ini, kiranya agama islam dan Kristen saja yang kerap bergesekan. Padahal keduanya masuk dalam satu rumpun, yaitu agama Samawi; para pemeluknya masih saling bersaudara dengan Abraham sebagai bapak pemersatunya. Ada yang mengatakan kalau gesekan yang terjadi sekarang ini tak lepas dari sejarah perang salib pada ribuan tahun lalu.
Namun ada juga yang melihatnya secara sederhana, yaitu tidak dapat saling memahami. Masalah inilah yang diangkat blog budak-bangka dua tahun lalu, persisnya pada 3 April 2017 lewat judul tulisan “Ini Alasan Kenapa Umat Islam dan Kristen Tak Bisa Saling Memahami”. Tulisan tersebut merupakan hasil pengamatan dan permenungan penulis, yang adalah juga admin blog ini.
Dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan ringan sehingga tulisan tersebut dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca mana pun. Pembaca tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan isi pesan tulian tersebut, karena tulisan itu diurai dengan singkat, padat dan jelas.
Tulisan tersebut sangat berguna bagi umat islam dan juga Kristen (protestan dan katolik). Dengan membaca tulisan tersebut, maka akan terbangunlah “jembatan” komunikasi di antara dua anak-anak Abraham ini. Nah, apa saja alasan sehingga umat islam dan kristiani tidak dapat saling memahami? Untuk menemukan jawabannya, langsung saja klik dan baca di sini. Selamat membaca!!!

ANAK DAN TELEVISI


Pada hari ini, enam tahun lalu, persisnya 3 April 2013, blog budak-bangka menurunkan tiga tulisan dengan tema anak dan televisi. Jaman sekarang televisi, bahkan gadget, bukanlah merupakan barang mewah. Dapat dipastikan bahwa setiap keluarga mempunyai televisi, malah ada yang memiliki lebih dari 1 televisi. Benda kotak yang dapat menampilkan gambar dan suara ini biasa dijadikan sarana hiburan. Akan tetapi, tidak semua hiburan itu selalu sehat.
Masalah inilah yang diangkat blog budak-bangka enam tahun lalu. Tulisan-tulisan tersebut merupakan kutipan dari berbagai media (dapat dilihat di bagian akhir tulisan). Dari judul-judulnya, sepertinya tulisan-tulisan tersebut mau berangkat dari realitas keluarga dengan ayah ibu sibuk sehingga tidak punya waktu luang bersama anak. Supaya anak tidak merasa sendirian, maka dihadirkanlah televisi.
Namun, mengingat ada juga dampak buruk televisi bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak, maka ditawarkanlah beberapa solusi. Dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan ringan sehingga sungguh menarik untuk dinikmati. Untuk dapat membaca tulisan-tulisan tersebut, langsung saja klik di judul-judul berikut ini:

Senin, 01 April 2019

HAL SEPELE PEMBENTUK KARAKTER ANAK DI MASA DEPAN

Bung Karno, presiden pertama Indonesia, pernah berkata, “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang.” Pernyataan Bung Karno ini mau menggambarkan bagaimana kita memaknai masa lalu sebagai cermin di masa kini, bahkan masa depan.
Karena itu, jangan anggap sepele peristiwa yang terjadi di masa lampau. Dan jangan pernah membuang atau melupakan pengalaman masa lalu. Dalam hal ini Bung Karno pernah juga mengatakan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”; sebuah pernyataan yang dikenal dengan slogan jasmerah.
Terkait dengan kepribadian, ternyata pengalaman atau peristiwa masa lalu dapat menjadi faktor pembentuk kepribadian masa depan. Setidaknya ada tujuh hal sepele di masa kecil yang dapat memprediksi karakteristik anak saat dewasa nanti.
1.   Anak yang “tidak patuh” pada aturan dan orangtua, akan mempunyai pendapatan lebih besar. Menurut para ahli, anak-anak yang mempunyai sifat “pemberontak” biasanya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani membela apa yang menurutnya benar. Sedangkan anak-anak yang “penurut” ternyata punya pendapatan yang lebih rendah dari mereka yang “pemberontak”.
2.   Anak yang melihat orangtua menyelesaikan pertengkaran akan menjadi lebih baik. Menyelesaikan konflik dengan baik akan membuat anak belajar mengerti bahwa setelah berdebat (bertengkar), orangtua dapat berbaikan dan terlihat lebih bahagia. Hal ini akan membuat anak mampu menyelesaikan masalahnya dan menjadi lebih baik.