Renungan Hari Senin Biasa XXVI, Thn II
Bac I
Ayb 1: 6 – 22; Injil Luk 9: 46 – 50
Zaman dulu ada pandangan bahwa
orang yang hidupnya mapan dan nyaman adalah tanda orang yang mendapat berkat
dari Tuhan. Kesejahteraan hidup menjadi tolok ukur dari berkat Tuhan. Berkat
itu selalu dikaitkan dengan hidup yang berkenan di hadirat Allah. Karena itu, ketika
orang mendapatkan kemalangan dan penderitaan, itu dilihat sebagai kutukan. Dan kutukan
itu dilihat bersumber dari Tuhan. Maka tak jarang orang marah kepada Tuhan di
saat dirinya mendapat kutuk. Ayub, dalam bacaan pertama hari ini, mencoba
membantah pandangan tersebut. Dalam bacaan itu secara implisit dikatakan bahwa
Ayub adalah sosok yang hidupnya jauh dari kejahatan sehingga ia mendapatkan
berkat dari Tuhan. Namun dia mendapatkan kemalangan (ay 13 – 19). Kemalangan itu
bukan dari Tuhan melainkan dari iblis (ay 12). Nah, ketika mendapat kemalangan
ini, Ayub tidak marah dan mengutuk Tuhan, melainkan memuji Allah (ay 21)
sehingga terlihat jelas “Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah
berbuat yang kurang patut.” (ay 22). Sikap yang mau ditunjukkan Ayub di sini
adalah sikap berserah diri kepada Tuhan.
Sikap seperti itu juga yang
mau diajarkan Yesus. Dalam Injil hari ini dikisahkan para rasul bertengkar
tentang siapa yang terbesar di antara mereka (ay 46). Mungkin di antara mereka
ada yang memakai pola pikir yang lama, bahwa yang terbesar adalah orang yang
terhebat, terkaya, terdekat dengan Tuhan, dll. Menyelesaikan pertengkaran
mereka itu Yesus mengambil sosok anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Yesus
menjadi sosok anak kecil sebagai model beriman. Sikap anak kecil adalah sikap
bergantung, berserah diri kepada orangtuanya. Demikian pula dalam hal beriman,
para murid harus berserah diri kepada Tuhan. Itulah yang terbesar.
Sikap berserah diri kepada
Tuhan merupakan salah satu indikasi beriman. Orang yang memiliki sikap berserah
diri adalah orang yang menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam penyelenggaraan
ilahi. “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” menjadi prinsip hidupnya. Yang terjadi
bukan kehendakku, melainkan kehendak Allah. Ini sangat sulit, mengingat manusia
mempunyai kecenderungan mengedepankan keinginannya. Maka ketika yang terjadi
tidak sesuai dengan keinginannyam dia akan kecewa, marah bahkan meninggalkan
Tuhan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk seperti Ayub yang berserah diri
kepada Tuhan sekalipun kemalangan melanda.
by: adrian