Senin, 21 Mei 2018

BELAJAR DARI KELUARGA KUDUS – 1

Keluarga kudus itu adalah Yosef, Maria dan Yesus. Mereka ini dijadikan contoh keluarga ideal. Orang katolik yang menikah diajak untuk membangun rumah tangga dengan semangat yang dimiliki oleh keluarga kudus. Apa saja yang harus diikuti?
Kesediaan untuk mendengarkan. Matius 1: 18 – 24 menampilkan teladan Yosef yang mau mendengarkan suara Tuhan. Yosef tidak mengikuti egonya. Sikap ini juga tampak dalam diri Yesus (Lukas 2: 41 – 52). Sikap mau menang sendiri sering menjadi akar konflik rumah tangga. Sebagai pemimpin rumah tangga, seorang suami biasanya lebih suka didengarkan, dan tak mau mendengarkan. Karena itu, tak salah jika para suami mau bersikap seperti Yosef, untuk mau juga mendengarkan suara dari luar dirinya. Dengan kesediaan untuk mendengarkan, konflik tidak akan terjadi.
Perhatian. Lukas 2: 41 – 51 menampilkan sikap perhatian Yosef dan Maria kepada Yesus, anak mereka. Mereka begitu peduli, dan kepedulian itu mereka wujud nyatakan. Mereka tahu Yesus tidak ada, dan langsung mencarinya. Mereka tidak membiarkan Yesus tumbuh berkembang begitu saja.
Menjaga dan melindungi. Matius 2: 13 – 15 dan 19 – 23 menampilkan teladan Yosef yang setia menjaga dan melindungi keluarganya dari kejahatan. Dia tidak mau membiarkan keluarga, khususnya putranya, mendapat celaka. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh buruk di luar rumah tangga yang berusaha menghancurkan keluarga. Pengaruh buruk itulah yang harus dihindari, dan ini menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua.
Demikianlah beberapa teladan keluarga kudus yang dapat diterapkan dalam keluarga-keluarga katolik.
by: adrian

Jumat, 18 Mei 2018

FENOMENA TERORIS SATU KELUARGA: INI MOTIVASI PARA TERORIS

Sejak kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, 9 Mei lalu, sejumlah aksi terorisme terjadi secara simultan. Hari Minggu, 12 Mei ada aksi teroris di Cianjur, di tiga lokasi gereja di Surabaya, dan di Sidoarjo. Keesokan harinya Surabanya kembali diguncang aksi teror. Kali ini terjadi si Malpotabes Surabaya. Hingga sehari menjelang Bulan Suci Ramadhan, masih terjadi beberapa aksi teror di daratan Sumatera.
Indonesia memang sudah tak asing dengan aksi teror. Namun aksi teror di Surabaya memunculkan satu fenomena baru dalam aksi terorisme Indonesia, yaitu munculnya satu keluarga inti sebagai pelaku terorisme. Selama ini para teroris itu adalah personal yang tidak terkait dalam ikatan keluarga utuh. Peristiwa bom Bali memang menampilkan dua tokoh kakak beradik sebagai pelaku teror, namun itu tidak utuh seperti yang terjadi di Surabaya. Kejadian terorisme di Surabaya dan Sidoarjo menampilkan keluarga utuh: ayah, ibu dan anak-anak.
Munculnya pelaku teror dari satu keluarga utuh ini membuat orang kembali mempertanyakan apa alasan atau motivasi orang mau terlibat dalam terorisme. Selama ini banyak orang menilai bahwa mereka yang terlibat dalam terorisme, bahkan hingga menjadi pelaku bom bunuh diri, hanya bertujuan ekonomi. Dengan ikut dalam aksi teror, mereka akan mendapat uang. Seandainya pun mereka mati dalam aksi bom bunuh diri, keluarga yang ditinggalkan akan mendapat santunan. Artinya, masih ada yang menikmati keuntungan ekonomi tersebut. Karena itu, orang mengatakan bahwa para pelaku terorisme itu umumnya berasal dari latar belakang keluarga ekonomi kurang mampu.
Akan tetapi, alasan ekonomi tersebut di atas tidak dapat diterapkan pada pelaku teror yang berasal dari satu keluarga utuh. Misalnya seperti yang terjadi di Surabaya, pada aksi teror di tiga lokasi gereja dan di Malporestabes. Jika demi alasan ekonomi, apa yang didapat para pelaku bila semuanya (satu keluarga) meninggal akibat aksi bom bunuh diri. Sama sekali mereka tidak mendapat sedikit pun keuntungan ekonomi, karena ayah, ibu dan semua anaknya meninggal dunia.
Karena itu, apa yang menggerakkan orang untuk terlibat dalam aksi terorisme?

Foto Pertemuan dengan OMK Air Semut & Kamp. Baru