Selasa, 27 Desember 2016

PENISTAAN AGAMA: BAGAIMANA UMAT KRISTEN MENYIKAPINYA


Tahun 2016 ini ditutup dengan berita panas tentang masalah penistaan agama. Tokoh utamanya adalah Basuki Tjahaya Purnama, atau biasa disapa Ahok. Berawal dari keselip lidah dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, yang mana videonya yang telah diedit diunggah di dunia maya, Ahok difatwa telah melakukan penistaan agama. Protes, kecaman dan demo pun mulai menyeruak di negeri ini, bukan hanya di Jakarta melainkan juga di beberapa daerah Indonesia.
Sekalipun Ahok sudah menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa tidak ada niatnya untuk menghina agama islam (Al Quran), sekalipun Nusron Wahid dan beberapa tokoh islam sudah menyatakan tidak ada kata-kata yang menghina Al Quran dalam pidato Ahok, umat islam sudah keburu marah. Mungkin sudah didasari oleh fatwa MUI bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama dan ulama. Mereka tidak memperhatikan isi dan konteks pidato Ahok.
Soal penistaan agama sebenarnya bukan baru kali ini saja terjadi. Penistaan agama juga sebenarnya bukan hanya dialami oleh umat islam saja. Penistaan agama juga dialami oleh umat dari agama mana pun, dan sudah terjadi sejak dulu. Salah satunya adalah umat kristen.
Ini Kisah Nyata
Seorang anak SD berkata kepada pastornya, “Romo, apa benar yang di salib itu bukan Tuhan Yesus?” Ketika pastor bertanya darimana info itu didapat, siswa itu menjawab dari guru agama islam. Kemudian anak itu mengatakan bahwa yang sebenarnya mati di kayu salib itu adalah orang yang menyerupai Yesus. Dengan tersenyum, pastor itu berkata, “Itu keyakinan mereka. Kita harus menghormatinya. Keyakinan kita adalah bahwa yang mati di salib adalah Tuhan Yesus. Itu tertulis dalam kitab suci.”
Pengalaman anak SD di atas bisa terjadi juga di tempat lain. Ada banyak siswa Kristen, yang karena kekurangan tenaga guru agamanya, terpaksa ikut pelajaran agama islam. Tentu publik ingat akan Aria Desti Kristiana, seorang mualaf, yang menjadi islam sejak kelas 1 SD. Bukan tidak mungkin, di sekolahnya ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dia jawab. Misalnya, kenapa Tuhan harus disalib? (baca kisahnya di sini: Kisah Mualaf)
Di tempat lain, seorang pemuda yang sudah jadi mulaf, mengatakan kepada teman-teman kristennya bahwa ajaran Kristen selama ini sudah salah. Secara tidak langsung, memakai cara tafsir MUI terhadap pernyataan Ahok, pemuda itu mau mengatakan bahwa para imam dan uskup, sebagai pemegang kuasa mengajar, telah melakukan pembohongan kepada umat. Ketika ditanya kenapa ajaran Kristen selama ini salah, dengan tegas pemuda itu berkata bahwa Alkitab sudah dipalsukan. Sekali lagi, dengan memakai cara tafsir MUI terhadap pernyataan Ahok, pemuda itu mau mengatakan bahwa Alkitab orang Kristen saat ini membohongi umat.
Sebenarnya ada banyak kisah penistaan terhadap agama Kristen. Para mualaf banyak melakukan penistaan terhadap agama Kristen. Akan tetapi, belum pernah terdengar ada kemarahan, protes terbuka dan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh umat Kristen. Berbeda dengan umat islam.
Jika ditanya apakah umat islam, terlepas apakah sengaja atau tidak, telah menistakan agama Kristen? Tentulah jawabannya tidak. Alasannya karena mereka melaksanakan ajaran agamanya. Apakah agama islam mengajarkan menistakan agama lain, khususnya Kristen? Silahkan jawab sendiri. Akan tetapi, sebagai umat beragama yang wajib mengikuti ajaran agamanya, mau tidak mau umat islam akan berkata bahwa kitab suci orang Kristen palsu, dan bahwa yang mati di salib bukan Yesus tetapi orang yang menyerupai Yesus.
Jadi, guru agama islam bagi anak SD di atas tidak salah, karena dia hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh surah An-Nisa ayat 157. Demikian pula pemuda mualaf di atas tidak salah, karena dia hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh surah Ali Imran ayat 78. Juga umat islam lainnya tidak salah kalau mereka mengatakan bahwa tempat bagi orang Kristen adalah neraka, sekalipun hidupnya baik dan saleh, karena mereka hanya meneruskan apa yang disampaikan surah At Taubah ayat 73 dan surah Al Maidah ayat 72. Atau jika umat islam mengatakan bahwa orang Kristen itu kafir, karena Al Quran mengajarkan demikian (baca surah Al Maidah ayat 72 dan 73).
Dengan demikian terlihat jelas bahwa agama Kristen sudah mengalami penistaan oleh umat islam sejak terbentuknya Al Quran, yang menjadi pedoman hidup umat islam. Hingga kini pun penghinaan itu masih sering terjadi. Tapi, kenapa umat Kristen diam saja?
Umat Kristen Menyikapi Penistaan Agama

Senin, 26 Desember 2016

CARA ORANGTUA MENGHADAPI REMAJA


Menghadapi remaja saat ini memang tak semudah yang dikira. Orang dewasa terkadang tak habis pikir dengan perilaku anak remaja. Psikolog remaja Elisabeth Santosa mengatakan, remaja umumnya memiliki karakter yang suka berargumen. Mereka berani protes terhadap hal yang tidak disukainya atau tidak sependapat, termasuk nasehat orangtua. Namun, remaja sebenarnya seringkali belum paham betul mengenai hal yang mereka kritisi, karena fungsi kognitifnya belum sempurna.
Karena itu, jangan heran dengan sikap remaja yang suka berargumen tersebut. Perubahan hormonal yang terjadi saat memasuki usia remaja turut mempengaruhi pola pikir mereka. Lantas, bagaimana orangtua menghadapi sikap remaja seperti ini?
Elisabeth mengatakan, ketika ingin menasehati anak, orangtua harus bisa menjelaskan alasannya dengan logika. Sebab remaja saat ini merasa mengetahui banyak hal, karena mudah mendapatkan segala informasi di internet. Apalagi dengan fasilitas gadget yang dimilikinya, sementara orangtua masih dengan HP jadul-nya.
“Orangtua harus bisa jelaskan secara logika. Dengan cara berpikir yang baik dari orangtua, biasanya mereka yang akan skak mat. Punya anak zaman sekarang enggak bisa mengandalkan pola asuh seperti dulu. Anda harus pintar karena lawan Anda itu Mbah Google,” jelas Elisabeth.
Dengan penjelasan yang logis, anak remaja pun secara perlahan dapat menerima nasehat atau pendapat orangtua, meski mungkin pada awalnya akan merasa marah. Selain itu, orangtua sebaiknya juga mengerti istilah bahasa yang kerap digunakan anak remaja.
“Orangtua harus lebih pintar, harus tahu bahasa yang mereka gunakan. Menurunkan gaya bahasa otoriter, jadi teman. Jangan pakai kata “pokoknya”, itu menunjukkan Anda sebagai orangtua otoriter,” imbuhnya.
sumber: Kompas Health

Minggu, 25 Desember 2016

Natal Adalah Peristiwa Iman & Syukur

Orang kristiani umumnya tahu bahwa tanggal 25 Desember adalah hari raya natal. Dan natal itu dikenal sebagai peristiwa kelahiran Tuhan Yesus, atau biasa juga dikenal dengan peristiwa inkarnasi. Memang tentang waktu kelahiran Tuhan Yesus tak ada data historis yang pasti. Tanggal 25 Desember hanyalah sebuah tanggal kesepakatan, meski di balik tanggal itu ada juga terkandung makna dan pesan.
Merayakan hari raya natal sebenarnya bukan hanya sekedar melahirkan hari kelahiran Tuhan Yesus. Di balik peristiwa kelahiran tersebut  ada dua hal penting bagi kehidupan umat manusia, khususnya umat kristiani. Dikatakan bagi umat manusia karena kedatangan Tuhan Yesus bukan hanya untuk orang-orang nasrani, melainkan untuk semua umat manusia dengan segala latar belakang agama, suku dan bangsanya. Yesus Kristus adalah juruselamat umat manusia.
Dua hal penting yang ada dalam peristiwa natal adalah iman dan syukur. Karena itu, tulisan ini mengambil judul “Natal Adalah Peristiwa Iman dan Syukur”. Di sana ditegaskan bahwa syukur merupakan salah satu ungkapan iman. Kenapa natal dilihat sebagai peristiwa iman dan syukur? Lebih lanjut dapat temukan jawabannya di sini: Budak Bangka: Natal Adalah Peristiwa Iman & Syukur