Selasa, 09 Agustus 2016

MENGELOLA PERAN, MEMBUAT DIRI BERHARGA

Masing-masing kita tentulah mempunyai peran dalam hidupnya. Peran itu melekat erat dengan kemanusiaan kita. Jadi, jika kita dikenal sebagai makhluk individual dan sosial, peran juga memiliki dimensi tersebut. Dimensi positif dan negatif pun ada dalam peran, mengingat hal itu ada dalam diri kita. Namun, peran positif akan membuat diri kita berharga.
Peran yang melekat pada diri kita tidak hanya tunggal. Peran itu bersifat multi. Seseorang bisa memiliki lebih dari satu peran. Dan kepada kita dituntut supaya menampilkan peran yang terbaik. Sekalipun peran itu diarahkan keluar dari diri, efeknya kena juga kepada kita.
Begitu banyaknya peran yang kita miliki, membuat kita terkadang mengalami kegagalan dalam berperan. Misalnya, seorang ibu gagal menampilkan dirinya sebagai seorang isteri, tapi sukses sebagai ibu. Salah satu kegagalan ini disebabkan oleh keterbatasan yang kita miliki.
Tulisan ini berusaha menampilkan bagaimana mengelola peran-peran yang kita miliki. Untuk mengetahuinya, langsung saja membuka di: Budak Bangka: (Inspirasi Hidup) Mengelola Peran

Senin, 08 Agustus 2016

TAK ADA YANG ANEH DENGAN PENGAKUAN FREDDY BUDIMAN

Setelah kematiannya, Jumat (29/07/2016) lalu, Freddy Budiman, terpidana mati kasus narkoba, masih menyisahkan persoalan. Pengakuannya kepada ketua KONTRAS, Harris Azhar, membuat kalangan kepolisian dan TNI gerah. Bukan tidak mungkin masih ada aparat lain yang belum disebut, seperti misalnya hakim, jaksa dan petugas bea cukai.
Pengakuan atau testimoni Freedy kepada Harris kemudian dibuka ke publik lewat media sosial. Hal inilah yang membuat aparat hukum itu seperti kebakaran jenggot. Tak mau semua mata rakyat tertuju kepada mereka, akhirnya 3 institusi, yang merasa diserang oleh testimoni itu, menggunakan senjata ampuh mereka, yaitu pencemaran nama baik. Dan korbannya adalah Harris Azhar.
Karena itulah, situasi negara ini menjadi runyam. Melihat fenomena ini, seorang mantan hakim, mengomentari Freddy Budiman, berkata bahwa Freddy Budiman hidup saja sudah bikin masalah, mati pun bikin masalah. Ini seakan-akan mau mengatakan bahwa Freddy Budiman adalah pribadi bermasalah, entah hidup entah juga mati.
Saya tidak tertarik dengan diskusi soal waktu atau media penyampaian testimoni itu atau juga soal isi testimoni itu sendiri. Saya lebih tertarik dengan substansi dari testimoni itu, yaitu adanya keterlibatan aparat dalam bisnis narkoba. Upaya 3 institusi mempidanakan laporan Harris membuat publik menilai bahwa aparat bersih dari narkoba, dan bahwa aparat tidak terlibat.
Ada juga yang merasa kaget mendengar pengakuan Freddy itu. Padahal perlu diketahui bahwa bisnis narkoba, kapan dan dimanapun, mempunyai 3 pilar utama. Tanpa ketiga pilar bisnis tersebut cepat atau lambat akan mati dengan sendirinya. Ketiga pilar itu adalah:

Minggu, 07 Agustus 2016

Orang Kudus 7 Agustus: St. Kasianus

BEATO KASIANUS, MARTIR
Orang kudus ini terlahir dengan nama Cassian Lopes Netto. Ia lahir pada 14 Januari 1607 di Nates, Perancis. Ia adalah putera dari Juan Lopes Netto dan Guida d’Almeras. Keluarganya merupakan keluarga pedagang dari Portugal. Kasianus biasa juga dipanggil dengan sebutan Vesener. Ia bersekolah di Kolese St. Klemen, dan ketika berusia 9 tahun ia sudah mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang kapusin.
Vasener diterima sebagai novis di Angers ketika berusia 15 tahun. Ia memperoleh jubah dan juga nama Kasianus. Ia kemudian belajar filsafat dan teologi di Renners. Setelah ditahbiskan sebagai imam, wabah penyakit melanda Ranners pada sekitar tahun 1631 – 1632. Kasianus membantu para penderita wabah tanpa terluka sedikitpun.
Kasianus kemudian dikirim ke Alexsandria, Mesir pada tahun 1633. Di sini ia bertemu dengan Beato Agathangelus. Misi mereka berjalan cukup baik. Mereka kemudian memutuskan untuk melanjutan misi menuju Abyssina, Ethiopia. Akan tetapi mereka ditangkap karena hasutan seorang Lutheran bernama Pier Leone, kepada pihak Koptik. Pada 7 Agustus 1638 Agathangelus dan Kasianus diadili dan mereka membela iman katolik. Mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung, namun pelaksanaannya berubah dengan cara dirazam.
Kasianus meninggal dunia sebagai martir Kristus pada 7 Agustus 1638 di Gondar, Ethiopia. Pada 1 Januari 1905 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X bersama dengan Agathangelus.
Baca juga orang kudus hari ini: