Kamis, 28 Januari 2016

Orang Kudus 28 Januari: St. Manfredus

SANTO MANFREDUS, PENGAKU IMAN
Informasi mengenai orang kudus ini sangat terbatas. Yang pasti Manfredus hidup pada abad XV. Sejak masa muda, Manfredus gemar membaca riwayat hidup para petapa dan rahib, sehingga sesudah ditahbiskan menjadi imam, dengan berkat uskupnya ia menjadi petapa di sebuah gua di pegunungan Alpen. Ia berpuasa keras dan berdoa terus menerus sehingga banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Manfredus meninggal dunia pada tahun 1430.
Baca juga orang kudus hari ini:

Rabu, 27 Januari 2016

Orang Kudus 27 Januari: St. Alberik Citeaux

SANTO ALBERIK CITEAUX, ABBAS & PENGAKU IMAN
Alberik adalah salah seorang biarawan di Collan, Chatillon-sur-Seine, Perancis. Setelah para biarawan dipimpin oleh Santo Robertus Molesme, mereka pindah ke biara baru yang didirikan oleh Santo Robertus. Alberik menjadi prior pada biara itu, dan ketika Santo Robertus memutuskan untuk pergi meninggalkan biara itu karena biara sudah terkorupsi dengan hal-hal duniawi, ia ikut pergi meninggalkan biara itu.
Bersama dengan Santo Robertus dan Santo Stefanus Harding, mereka mendirikan biara di Citeaux, dan Ordo Sistersian (O.Cist) pada 21 Maret 1098. Alberik menjadi prior, sementara Robertus menjadi Abbas.
Pada tahun 1100 Santo Robertus kembali ke biara Molesme karena ia sangat dibutuhkan oleh para biarawan di Molesme. Kepergian Robertus membuat posisi Abbas di Biara Citeaux dipegang oleh Alberik. Tanggal 26 Januari 1109 Alberik meninggal dunia di Citeaux, Perancis.
Baca juga orang kudus hari ini:

Selasa, 26 Januari 2016

Kesalahan Pemimpin yang Tak Disadari

KESALAHAN PEMIMPIN YANG SERING TAK DISADARI
MAJU tidaknya suatu lembaga atau organisasi banyak ditentukan oleh pimpinan. Sekalipun bawahan atau karyawannya baik dan berkualitas, namun jika pemimpin tidak bisa menampilkan performa yang baik, kinerja lembaga akan melambat. Ada banyak hal penyebab karyawan merasa tidak nyaman bekerja. Hal yang sering tidak disadari adalah sikap atasan atau pemimpin. Apa saja sikap yang dimaksud?
Pertama, sikap tidak peduli. Pemimpin yang memandang anak buahnya layaknya robot atau peranti dalam mengenjot produktivitas tentu membuat karyawan tidak betah bekerja. Banyak atasan yang hanya melimpahkan pekerjaan pada anak buah tanpa menjalin komunikasi yang baik. Misalnya, memberi tugas atau jabatan kepada orang tanpa menjelaskan apa tugasnya atau apa yang mau dikerjakan.
Kasus lain, karyawan yang berperforma kerja baik dan berprestasi tidak diberikan apresiasi. Kerja keras karyawan tidak dilihat. Pemimpin hanya mau melihat karyawan yang disukainya saja. Hal ini membuat karyawan lain merasa tidak berharga dan bisa membuat performa kinerja menjadi tidak maksimal.
Kedua, menempatkan orang yang salah dalam tugas atau posisi yang tidak tepat. Atasan yang mempromosikan karyawan hanya karena menyukai karyawan tersebut atau hanya mendengarkan bisikan orang dalam tanpa melihat prestasi dan kinerjanya tentu membuat karyawan lain merasa dirugikan. Apalagi jika penempatan karyawan melalui “jalan belakang”. Hal ini membuat karyawan lain tidak betah bekerja di bawah atasan yang tidak “bersih”.
Lebih aneh lagi, sekalipun ada banyak kesalahan atau pelanggaran dari karyawan yang dipromosikan atasan, namun atasan seakan tidak melihatnya. Hal ini disebabkan karena relasinya bukan berdasarkan relasi fungsional, melainkan like dislike. Hal ini dapat membuat karyawan lain bersikap apatis. Jika ini diteruskan, bukan tidak mungkin perkembangan perusahaan menjadi lamban.