Selasa, 10 September 2019

ADA JIN KAFIR DI KANTOR MUI

Dalam ceramah keagamaan di salah satu masjid di Pekanbaru, yang membuat heboh, Ustadz Abdul Somad mengatakan bahwa malaikat tidak masuk ke dalam rumah jika di dalamnya ada simbol patung. Lebih lanjut UAS mengatakan ada jin kafir di patung. Pernyataan ini dikatakan sebagai aqidah islam. Apa dasarnya?
Aqidah itu ada dalam hadis sahih Muslim. Sebenarnya bukan hanya patung yang menghalangi malaikat masuk ke dalam rumah, tetapi juga gambar atau foto. Berikut ini kita tampilkan kutipan hadis tersebut (diambil dari spoken Islamic center).
HS Muslim 24: 5246, “…. for we (angels) do not enter a house in which there is a dog or a picture.” Perkataan ini berasal dari Malaikat Gabriel dan ditujukan kepada Nabi Muhammad.
HS Muslim 24: 5248“He said: Yes, but we do not enter a house in which there is a dog or a picture.” Kata “He” di sini merujuk pada malaikat Gabriel.
HS Muslim 24: 5249, “Angels do not enter a house in which there is a dog or a picture.” Ini merupakan kutipan kata-kata Nabi Muhammad yang dilaporkan Abu Talha.
HS Muslim 24: 5250, “Angels do not enter a house in which there is a dog or a statue.” Ini merupakan perkataan Nabi Muhammad yang dilaporkan oleh Abu Talha. Mungkin inilah yang dijadikan dasar aqidah islam dalam ceramah keagamaan UAS.
HS Muslim 24: 5254, “Angel do not enter a house in which there is a picture or a portraits.” Ini merupakan perkataan Nabi Muhammad sebagaimana dilaporkan Abu Talha Ansari.
HS Muslim 24: 5266, “He then said: Angels do not enter a house in which there is a picture.” Kata “He” di sini merujuk pada Nabi Muhammad.

Rabu, 28 Agustus 2019

MARI MEMAHAMI KAJIAN USTADZ ABDUL SOMAD


Tiga tahun lalu, dalam sebuah tausiyah di Masjid Annur di Pekanbaru, Ustadz Abdul Somad menyampaikan pandangan islam tentang salib, yang kini menjadi heboh. Pada waktu itu, Sang Ustadz menyampaikan pernyataannya ketika menjawab sebuah pertanyaan dari seorang wanita, yang mengatakan bahwa hatinya menggigil saat melihat salib. Dalam jawabannya itu terungkap pernyataan “di salib itu ada jin kafir” dan “di dalam patung itu ada jin kafir.”
Pernyataan tersebut dirasakan sungguh melukai hati umat kristiani, baik protestan maupun katolik, karena dinilai telah menghina agama Kristen. Bagi orang Kristen, salib merupakan lambang keselamatan, karena melalui salib Yesus Kristus telah menebus dan menyelamatkan umat manusia. Karena itu, umat kristiani merasa dilukai dengan pernyataan bahwa ada jin kafir di salib, seakan hendak menyamakan Yesus Kristus dengan jin.
Akan tetapi, reaksi umat kristiani beragam dalam menyikap pernyataan Ustadz Abdul Somad (UAS). Beberapa tokoh agama Kristen, baik KWI maupun PGI, mengajak umatnya untuk tetap tenang dalam menyikapi kasus UAS. Ada tokoh terang-terangan meminta agar kasus UAS tidak dibawa ke ranah hukum. Namun ada juga umat yang marah dan menuntut Sang Ustadz ke polisi.
Kami tak mau jatuh dalam persoalan reaksi atas kajian islam UAS terkait salib. Kami hanya mau berusaha memahami pernyataan Sang Ustadz bahwa ceramahnya tentang salib itu sudah sesuai dengan aqidah islam. Hal ini dibenarkan juga oleh MUI. Jika MUI dinilai sebagai otoritas islam di Indonesia, maka dapatlah dikatakan bahwa memang kajian islam soal salib itu sesuai dengan ajaran islam.

PENGHINAAN AGAMA USTADZ ABDUL SOMAD DAN CERMIN AGAMA ISLAM

Ketika kami membuat tulisan yang membahas ujaran kebencian dalam ceramah keagamaan (08 Juli 2017), kami sudah menegaskan betapa sulitnya menangani kasus ujaran kebencian dalam ceramah keagamaan islam. Alasannya adalah bahwa ujaran kebencian itu ada dalam ajaran islam atau dapat dikatakan merupakan akidah islam. Dengan kata lain, ada akidah islam, yang bila disampaikan dalam ceramah keagamaan, mau tidak mau pasti akan bernuansa kebencian atau penghinaan.
Ada beberapa contoh untuk membuktikan hal itu. Pertama, ketika membahas surah an-Nisa: 157, tentulah penceramah akan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah disalibkan di kayu salib. Yang mati di kayu salib itu adalah orang yang menyerupai Yesus. Bukan tidak mustahil, dengan gaya ‘guyon’ si penceramah akan berkata, “Orang Kristen sudah dibodohi Injil.”
Kedua, ketika mengulas surah al-Maidah: 41, mau tidak mau penceramah akan mengatakan bahwa Alkitab sudah dipalsukan. Bukan tidak mungkin penceramah akan mengutip juga surah al-Baqarah: 75 untuk menguatkan argumennya. Berbagai ekspresi tentu akan ditampilkan untuk menjelaskan kajian tersebut, termasuk dengan mengatakan, “Orang Kristen memang sudah bodoh, mau-maunya dibohongi Alkitab.”