Jumat, 21 September 2018

BULAN MADU

Angin tepi laut bertiup manja, sepanjang sungai, masuk ke dalam pedalaman, menyalami pohon nyiur, menyalami pohon-pohon di pedalaman, serta meliuk dengan usapan tanpa ragu, mengiringi gerak perahu. Dan ketika perahu berhenti di suatu tambatan, angin senja meneruskan langkahnya. Seorang lelaki berwajah kurus, dengan alis mata tebal, berjalan bersama perempuan, yang mengikuti tangannya.
Lelaki kurus itu beberapa hari yang lalu telah membuat seluruh pandangan kampung menatap ke arahnya. Suatu hari yang panas, lelaki itu ditemui, di tepi pantai. Memeluk Mursiti – perempuan yang bergantung di genggamannya. Sebenarnya, penduduk setempat sudah lama mengincar lelaki itu, sejak ayah Mursiti, kepala warga di pedalaman, secara berbisik-bisik mengancam akan membunuh Mursiti, bila mana sampai dengan munculnya bulan baru, tidak ada lelaki yang mengawininya.
Mursiti ketahuan bunting, ketika berkata kepada ibunya. Dan ibunya pingsan ketika harus mengatakan ini kepada suaminya. Kepala kampung mendengar sambil mengelus tombaknya, yang menemani dirinya setiap hari ketika pergi berlayar.
“Aku pasti membunuhmu, esok atau nanti atau lusa.”
“Bunuhlah aku sekarang, Ayah.”
“Katakan siapa lelaki yang membuntingimu, dan aku ingin membunuh kalian berdua.”
“Ayah tak akan menemukan dia. Dia sudah lenyap, telah pergi.”

Jumat, 14 September 2018

MENGENAL KARAKTER ORANG ISLAM DALAM ALKITAB


Islam, Yahudi dan Kristen dikenal sebagai agama Samawi. Dari etimologinya, kata samawi (kata adjektif) memiliki arti “berhubungan dengan langit”. Jika ditambahkan dengan kata agama, menjadi agama samawi, maka dapat dimengerti sebagai agama dari langit. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa ketiga agama itu dibangun berdasarkan wahyu Allah melalui para malaikat (dari langit) dan diteruskan oleh para nabi.
Agama samawi dikenal juga dengan sebutan agama Abrahamik. Hal ini didasarkan pada peran Abraham (Islam: Ibrahim), sebagai bapak kaum beriman. Sebagaimana diketahui, Abraham dikenal sebagai orang yang memulai kepercayaan monoteistik. Dari dialah lahir keturunan anak-anak bangsa, yang kemudian dikenal sebagai penganut agama Islam, Yahudi dan Kristen.
Dari Kitab Kejadian, kita dapat mengetahui bahwa Abraham mempunyai dua orang putera dari dua wanita yang ada padanya. Dari Sarah, isterinya yang sah, Abraham mendapat Ishak, dan dari Hagar, budaknya, ia mendapat Ismail. Diketahui, Hagar berasal dari Mesir (Kej 16: 3).
Salah satu perdebatan yang tak pernah selesai antara orang Kristen dan Islam adalah siapa yang dipersembahkan Abraham di Bukit Moria. Dan ini menjadi sebuah lelucon anak cucu Abraham. Orang Islam mengatakan bahwa Ismail yang dipersembahkan, meski dasarnya sangat lemah. Sementara orang Kristen mengatakan Ishak-lah yang dipersembahkan, karena dia merupakan anak sah. Hanya orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini, karena mereka tahu bahwa yang dipersembahkan Abraham adalah seekor kambing.

Rabu, 12 September 2018

SIKAP TERHADAP TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Sering umat mengeluh terkait “aturan” liturgi yang berbeda-beda antar imam yang satu dengan yang lainnya. “Romo ini bilang begini, Romo lain bilang begitu,” demikian keluh umat. Menghadapi hal ini, tak jarang umat bingung: mana yang harus diikuti. Umat jadi serba salah, ibarat dimakan mati ibu, tak dimakan mati ayah. Kebingungan ini disebabkan karena umat menerima saja apa yang disampaikan oleh imam sebagai suatu kebenaran. Maka, ketika mendengar pernyataan imam lain, yang berbeda dari sebelumnya, umat seakan berada pada dua kebenaran.
Kebingungan ini sebenarnya bisa dihindari jikalau umat mau berpegang pada kebenaran umum, bukan kebenaran imamnya (meski sering terjadi, ketika menyampaikan itu, imamnya selalu mengatas-namakan kebenaran umum). Kebenaran umum itu ada pada pedoman yang dikeluarkan oleh otoritas Gerejawi. Terkait dengan liturgi, khususnya soal Ekaristi, ada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Semua orang, imam atau awam, tunduk pada pedoman ini. Semua imam, pastor paroki atau pembantu, harus taat pada pedoman ini. Sangat menarik bahwa dalam pedoman ini ada himbauan agar “imam hendaknya mengutamakan kepentingan rohani umat. Janganlah memaksakan kesukaannya sendiri.” (no. 355).
Salah satu kebingungan yang dihadapi umat adalah soal sikap tubuh ketika, setelah kata-kata konsekrasi atas hosti, imam mengangkat hosti (Tubuh Kristus); demikian pula terhadap piala (Darah Kristus). Ada umat menundukkan kepala sambil kedua tangan terkatup diangkat ke atas lebih tinggi dari kepala. Ini merupakan sikap menyembah. Akan tetapi, ada imam menyalahkan sikap tersebut. Imam ini mengatakan bahwa ketika Tubuh Kristus dalam hosti diangkat, demikian juga piala (Darah Kristus), umat harus melihat atau memandang-Nya. Nah, atas dua sikap ini, mana yang benar?