Angin
tepi laut bertiup manja, sepanjang sungai, masuk ke dalam pedalaman, menyalami
pohon nyiur, menyalami pohon-pohon di pedalaman, serta meliuk dengan usapan
tanpa ragu, mengiringi gerak perahu. Dan ketika perahu berhenti di suatu
tambatan, angin senja meneruskan langkahnya. Seorang lelaki berwajah kurus,
dengan alis mata tebal, berjalan bersama perempuan, yang mengikuti tangannya.
Lelaki
kurus itu beberapa hari yang lalu telah membuat seluruh pandangan kampung
menatap ke arahnya. Suatu hari yang panas, lelaki itu ditemui, di tepi pantai. Memeluk
Mursiti – perempuan yang bergantung di genggamannya. Sebenarnya, penduduk setempat
sudah lama mengincar lelaki itu, sejak ayah Mursiti, kepala warga di pedalaman,
secara berbisik-bisik mengancam akan membunuh Mursiti, bila mana sampai dengan
munculnya bulan baru, tidak ada lelaki yang mengawininya.
Mursiti
ketahuan bunting, ketika berkata kepada ibunya. Dan ibunya pingsan ketika harus
mengatakan ini kepada suaminya. Kepala kampung mendengar sambil mengelus tombaknya,
yang menemani dirinya setiap hari ketika pergi berlayar.
“Aku
pasti membunuhmu, esok atau nanti atau lusa.”
“Bunuhlah
aku sekarang, Ayah.”
“Katakan
siapa lelaki yang membuntingimu, dan aku ingin membunuh kalian berdua.”
“Ayah
tak akan menemukan dia. Dia sudah lenyap, telah pergi.”


