Selasa, 28 Februari 2017

KONVALIDASI PERNIKAHAN DALAM GEREJA KATOLIK

Definisi Konvalidasi Perkawinan
Konvalidasi pernikahan artinya adalah menjadikan suatu pernikahan yang sudah ada, diakui (diberkati) oleh Gereja Katolik. Pasangan yang memohon diberikannya konvalidasi pernikahan adalah karena pasangan itu Katolik (minimal salah satu Katolik) namun menikah di luar Gereja Katolik. Ketentuan Gereja Katolik adalah agar sebuah pernikahan diakui oleh Gereja Katolik, pernikahan itu harus dilakukan di Gereja (kecuali jika sudah diberikan dispensasi ataupun izin) agar pernikahan dapat dikatakan sebagai sah dan sesuai dengan ketentuan (licit) menurut hukum Gereja Katolik.
Apa Maksud Diadakan Konvalidasi Pernikahan?
Di mata Gereja Katolik, jika minimal salah satu dari pasangan adalah Katolik, namun pernikahan dilakukan di luar Gereja Katolik, maka pernikahan tersebut tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai pernikahan yang sah secara kanonik. Untuk memperbaiki keadaan ini, pasangan perlu menghadap pastor paroki. Pasangan perlu membuktikan bahwa mereka memasuki pernikahan yang non-kanonik itu tanpa maksud mengelabui/mengakali. Kedua pihak perlu menunjukkan kesungguhan hati/pertobatannya atas kesalah-pahamannya dan perbuatannya yang keliru dan bahwa mereka menghendaki agar ikatan pernikahan tersebut “berlaku selamanya dan eksklusif (hanya melibatkan pasangan suami dan istri itu saja)” dan yang melaluinya mereka “dikuatkan dan sebagaimana seharusnya, dikuduskan bagi tugas-tugas dan martabat status mereka [sebagai pasangan suami istri] oleh sakramen yang khusus” (KHK Kan. 1134). Inilah maksud diadakannya konvalidasi pernikahan
Konvalidasi pernikahan ini ada, karena Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi makna pernikahan yang merupakan penggambaran kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Karena itu, pasangan yang menikah selayaknya mengesahkan pernikahan mereka menurut ketentuan Gereja yang digambarkannya, agar mereka sungguh mengambil bagian dalam memberikan kesaksian kepada dunia akan ikatan kasih Kristus kepada Gereja, yang sifatnya monogam dan tak terceraikan. Dengan disahkannya pernikahan menurut ketentuan Gereja Katolik, maka pihak yang Katolik dapat kembali menerima sakramen-sakramen Gereja.
Di Hadapan Siapa Konvalidasi Pernikahan Diadakan?

Senin, 27 Februari 2017

KONTRADIKSI DALAM HIDUP

Semua orang tentu sepakat bahwa hidup manusia itu tidaklah selalu berjalan mulus. Dalam kehidupan pasti ada pertentangan, dimana pertentangan itu bukan hanya berasal dari luar saja melainkan juga dari dalam. Pertentangan dari dalam itu terjadi pada diri setiap manusia. Sumbernya ada dalam diri manusia. Mungkin dalam dunia freudian ini disebut dengan istilah pertarungan antara id dan superego.
Di dalam dunia religius (agama), hal ini dikenal dengan sebutan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan; antara kebenaran dan ketidak-benaran; antara setan dan malaikat. Pertarungan ini tidak hanya terjadi di luar diri manusia, tetapi juga di dalam hidup manusia itu sendiri.
Inilah yang dimaksudkan dengan kontradiksi dalam hidup. Dalam hidup setiap manusia selalu terjadi kontradiksi antara keinginan dan realitas; antara harapan dan fakta. Misalnya, seorang pelajar tentulah berkeinginan menjadi siswa teladan dan berprestasi dalam pendidikan. Akan tetapi, dalam kenyataannya keinginan itu tidak diwujud-nyatakan dengan tindakan. Atau dengan kata lain, tindakannya bertentangan dengan keinginannya. Contohnya, malas belajar, sibuk bermain, bergaul dengan orang-orang yang tak benar, dll.
Contoh lain lagi. Seorang bapak berharap supaya anaknya bisa sekolah sampai tingkat yang tinggi. Namun, dalam kehidupan hariannya ia sibuk berjudi, mabuk-mabukan, hidup boros, dan ditunjang dengan tidak adanya perhatian terhadap pendidikan anaknya. Hal ini bisa dikatakan bahwa tindakan-tindakannya dalam hidup bertentangan dengan harapan dan keinginannya.

Jumat, 24 Februari 2017

Kedekatan dengan Pemimpin

Setiap orang tentu punya keinginan untuk bisa dekat dengan pemimpin, orang yang berkuasa. Pemimpin di sini selalu dikonotasikan dengan kekuasaan. Karena itu, dekat dengan pemimpin dimengerti juga dengan dekat dengan kekuasaan. Ada banyak alasan orang berkeinginan untuk dekat dengan pemimpin ini. Salah satunya adalah mendapatkan privilese atau keistimewaan.
Tulisan “Kedekatan dengan Pemimpin” mencoba mengulas masalah ini. Sangat menarik bahwa penulis tidak hanya merefleksikan topik ini dari sudut pemimpin duniawi saja, melainkan juga mengaitkannya dengan pemimpin spiritual seperti Gereja. Hal ini terlihat dari gambaran awalnya, yaitu pengalaman perjumpaan dengan orang yang mengutarakan soal kedekatan dengan pemimpin daerah (baca: bupati).
Tak bisa dipungkiri, masalah kedekatan dengan penguasa ini terjadi juga dalam kehidupan menggereja. Banyak umat berusaha untuk dekat dengan “penguasa” Gereja, baik di tingkat keuskupan, yayasan keuskupan maupun paroki. Di sini mau dikatakan bahwa kehidupan Gerejawi tak jauh beda dengan kehidupan duniawi.
Lebih jauh mengenai tulisan ini, silahkan baca di: Budak Bangka: Kedekatan dengan Pemimpin