Senin, 23 Desember 2013

Renungan Hari Senin Adven IV - A

Renungan Hari Senin Adven IV, Thn A/II
Bac I   : Mal 3: 1 – 4, 4: 5 – 6; Injil         : Luk 1: 57 – 66

Sabda Tuhan hari ini berpusat pada Yohanes Pembaptis yang datang untuk mempersiapkan manusia akan kedatangan Tuhan Yesus. Kehadiran Yohanes ini sudah diramalkan oleh Kitab Maleakhi. Dalam bacaan pertama, dikatakan bahwa utusan yang mendahului Tuhan itu akan memurnikan manusia supaya pantas dan layak. Pemurnian itu dilakukan melalui pertobatan.

Injil hari ini mengisahkan tentang peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis. Kelahirannya disambut sukaria keluarga dan sanak kenalan. Namun bukan sukaria itu yang menjadi titik utama pesan Injil ini hari, melainkan tanda yang menyertai kehadiran Yohanes dalam keluarga Zakaria dan Elisabeth. Menyaksikan peristiwa itu, semua orang benar-benar merasa bahwa “tangan Tuhan menyertai dia.” (ay. 66).

Masa adven adalah masa penantian. Kita sedang menanti kedatangan Tuhan, baik untuk masa yang akan datang (eskatologis), maupun saat kini (perayaan natal). Dalam masa penantian ini, kita selalu disuguhi penampilan Yohanes Pembaptis. Ini mau mengatakan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis tidak bisa dilepaskan dari masa penantian itu. Yohanes selalu mengajak kita untuk bertobat, menyucikan dan mentahirkan diri, agar kita pantas dan layak menerima kehadiran Tuhan Yesus.

by: adrian

Minggu, 22 Desember 2013

Natal & Global Warming

Natal, bagi umat Kristiani, merupakan peristiwa iman. Dengan natal umat merayakan syukur atas Allah yang mau peduli pada nasib manusia. Kepedulian Allah itu terlihat dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia (inkarnasi). Allah mau mengangkat (baca: menyelamatkan) manusia dari lumpur kedosaanya. Untuk itulah Allah “turun” ke dunia “dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2: 7). Bagaimana hal ini bisa dipahami, tentulah sulit untuk dicerna akal manusiawi. Namun tidak secara imani. Karena itulah natal dikenal sebagai peristiwa iman.

Kapan persisnya Allah menjelma menjadi manusia (baca: kelahiran Yesus), tak ada satu orangpun yang tahu. Orang Kristen sepakat bahwa natal itu jatuh pada 25 Desember, mengambil tradisi kafir akan penghormatan dewa Matahari. Maka dari itu, setiap kali memasuki bulan Desember, selalu suasana natal langsung terasa. Hal itu terlihat dari ikon-ikon natal yang ada di mana-mana, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan.

Natal kini sudah menjadi ajang konsumtivisme dunia. Dengan adanya ikon-ikon natal di setiap pusat-pusat perbelanjaan, seakan-akan ada seruan, “Mari, belanjalah!” Jelas, bahwa seruan ini telah menggantikan seruan Yohanes Pembabtis, yang selalu didengungkan pada adven pertama, “Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” (Mat 3: 3).

Yesus Lahir dalam Kesederhanaan
“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2: 6 – 7).

Inilah sepenggal catatan sejarah kelahiran Yesus, yang hanya ada dalam Injil Lukas. Memang tidak ada keterangan rinci mengenai tempat kelahiran Yesus, namun Gereja mengakui kalau Maria melahirkan bayinya di dalam kandang hewan. Tak jelas juga apakah kandang itu bekas atau masih digunakan.

Apa yang mau dikatakan dari peristiwa ini? Yesus lahir dalam kesederhanaan. Tidak ada pesta, hingar bingar musik (kecuali kidung surgawi para malaikat) atau kelap-kelip kemilau lampu hias dan kembang api. Bayi Yesus lahir hanya dibungkus dengan kain lampin, bertemankan lenguhan sapi dan dengungan nyamuk malam; hanya cahaya pelita kecil dan jutaan cahaya bintang di angkasa. Sangat sederhana.

Itulah natal perdana. Kiranya pesan yang mau disampaikan adalah jelas, yaitu ajakan untuk hidup sederhana. Bukankah perayaan natal mengajak umat manusia untuk bersyukur atas Allah yang peduli terhadap manusia? Bersyukur merupakan salah satu wujud atau ciri khas orang sederhana. Orang yang sederhana adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya.

Dan kini orang Kristen mau mengenangkan natal awal itu dengan sebuah perayaan; dengan sebuah pesta. Sayangnya natal sekarang sungguh bertolak belakang dengan natal perdana. Manusia jaman sekarang lebih menitikberatkan pada aspek pestanya dari pada inti natal itu sendiri. Ditambah lagi dengan budaya hedonis dan semangat konsumtif, membuat makna natal itu menjadi kabur.

Natal dan Global Warming
Dewasa ini isu dunia yang hangat dibicarakan adalah masalah pemanasan global (global warming). Berbagai pertemuan diselenggarakan untuk membahas rencana pengurangan gas emisi yang menyebabkan efek rumah kaca. Dampak dari efek rumah kaca ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim.

Kita sudah mengetahui kalau pemanasan global dan perubahan iklim ini dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan di muka bumi ini. Mark Lynas, jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris, dalam bukunya Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet, memberi gambaran rinci tentang dampak itu. Baginya, dampak terburuk yang bakal terjadi adalah kepunahan massal sekitar 95%. Inilah skenario “kiamat”, yang ironisnya karena ulah manusia sendiri.

Oleh karena itu, sejak munculnya isu pemanasan global ini, ada banyak seruan dan ajakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, baik dengan penanaman atau penghijauan maupun dengan pembatasan penggunaan bahan bakar fosil. Pembatasan penggunaan bahan bakar fosil misalnya dapat dilakukan dengan memilih berjalan kaki dari pada berkendaraan ke tempat yang dekat atau nebeng/menggunakan transportasi umum, penghematan pemakaian listrik, dll. Pemakaian ulang bahan-bahan tertentu juga diyakini bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa seruan pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan ajakan untuk kembali kepada pola hidup sederhana dan hemat. Pada bagian inilah pesan natal mengena. Seperti dahulu Yesus datang (baca: natal) untuk menyelamatkan manusia, natal kini mengajak kita untuk hidup sederhana dan berhemat demi penyelamatan bumi yang kita diami.

Selamat merayakan natal!!!

by: adrian

Orang Kudus 22 Desember: St. Chaeremon

SANTO CHAEREMON, MARTIR
Sangat terbatas informasi mengenai orang kudus ini. Chaeremon adalah Uskup Nilopolis, Mesir. Ketika dijatuhi Hukuman oleh Kaisar Trajanus Decius, Chaeromon sudah terbilang tua. Dia dan beberapa sahabat melarikan diri ke padang pasir Arab dan tidak pernah terlihat lagi. Para uskup dan teman-temannya diakui sebagai martir.