Umat islam sangat memuji surah pertama Alquran. Mereka menyebutnya sebagai the mother of quran. Istilah ini bisa dimaknai dengan mengambil salah satu peran ibu, yaitu melahirkan. Karena itu, dapatlah dikatakan kalau dari Surah al-Fatihah lahirlah surah-surah lainnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa surah-surah lainnya mengacu dan menginduk pada surah al-Fatihah ini. Jika memang demikian, maka haruslah dikatakan bahwa surah al-Fatihah merupakan wahyu Allah yang pertama kali turun. Bisakah dikatakan demikian?
Minggu, 25 September 2022
Jumat, 23 September 2022
KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANBIYA AYAT 111
Dan aku tidak tahu, boleh
jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan. (QS
21: 111)
Umat islam yakin bahwa Al-Qur’an merupakan firman yang berasal dari Allah
sendiri. Firman itu disampaikan secara langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 –
632 M). Berhubung Muhammad adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis,
maka setelah mendapatkan firman Allah itu dia langsung mendiktekan kepada
pengikutnya untuk ditulis. Semua tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan, dan
jadilah kita yang sekarang dikenal dengan nama Al-Qur’an. Karena itu, apa yang
tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah sendiri. Tak heran
bila umat islam menganggap kitab tersebut sebagai sesuatu yang suci, karena
Allah sendiri adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qr’an adalah juga
penghinaan terhadap Allah, dan orang yang melakukan hal tersebut wajib dibunuh.
Ini merupakan kehendak Allah sendiri, yang tertuang dalam Al-Qur’an (QS
al-Maidah: 33).
Keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah didasarkan
pada firman Allah sendiri. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an, yang merupakan
perkataan Allah, yang mengatakan hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan agar
menjadi petunjuk bagi umat islam. Setiap umat islam wajib mengikuti apa yang
dikatakan dalam Al-Qur’an. Untuk kemudahan ini maka sengaja Allah mudahkan
Al-Qur’an untuk peringatan (QS al-Qamar: 17). Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah
kitab yang sudah jelas dan mudah dipahami.
Berangkat
dari keyakinan umat islam ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas
haruslah dikatakan merupakan perkataan Allah. Apa yang tertulis di atas
merupakan kata-kata Allah sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Kutipan di
atas hanya terdiri dari 1 kalimat majemuk. Jadi, sesuai konteksnya, waktu itu
Allah berbicara kepada Muhammad, “Dan aku tidak tahu, boleh
jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.”
Kalimat Allah inilah yang kemudian diminta Muhammad ke pengikutnya untuk
ditulis.
Bagi yang punya akal sehat, ketika membaca ayat ini, yang diyakini kata-kata Allah kepada Muhammad, langsung menemukan keanehan dan ketidak-jelasan. Pertama-tama orang langsung bingung makna dari kalimat Allah ini. Orang kesulitan menemukan maknanya, sekalipun sudah mengaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Kamis, 22 September 2022
ISLAM SEBAGAI SIMBOL KEMUNDURAN
Musa, Yesus dan Muhammad adalah tiga tokoh penting dalam tiga agama besar
dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama itu dikenal dengan istilah
Agama Samawi. Dapat dikatakan bahwa Musa, Yesus dan Muhammad merupakan peletak
dasar religiositas tiga agama tadi. Musa sebagai peletak dasar bagi agama
Yahudi, Yesus Kristus bagi kekristenan, dan Muhammad bagi agama Islam. Akan
tetapi, tiga agama ini menyatu pada sosok Abraham.
Sebagai peletak dasar religiositas, ketiga tokoh tersebut mewakili masanya.
Dan kebetulan kehadiran mereka dalam sejarah kehidupan manusia tidaklah sama,
namun menunjukkan garis linear. Masing-masing hidup dengan sejarahnya. Musa
hidup antara tahun 1527 – 1407 SM, Yesus Kristus hidup sekitar tahun 5 SM – 33
M, dan Muhammad hidup antara tahun 570 – 632 M.
Jadi, terlihat jelas bahwa setelah Musa meletakkan dasar religiositas bagi
agama Yahudi, muncullah Yesus Kristus. Kemunculan-Nya jauh setelah kematian
Musa. Sama halnya dengan kemunculan Muhammad. Jauh setelah Yesus Kristus wafat,
dimana kematian-Nya melahirkan kekristenan, hadir Muhammad dengan dasar-dasar
keislaman.
Karena kehadiran tokoh-tokoh ini searah sejarah manusia (gerak maju), maka sangat mudah dikatakan kalau kehadiran tokoh membawa pembaharuan atas dasar-dasar religiositas tokoh sebelumnya. Hal ini mirip seperti pemikiran filsafat Yunani kuno, yang didominasi oleh tiga filsuf terkenal, yaitu Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates (469 – 399 SM) meletakkan dasar-dasar pemikiran. Ketika Plato hadir (427 – 347 SM), ia membaharui beberapa pemikiran Sokrates. Namun ketika Aristoteles hadir (384 – 322 SM), giliran dia memperbaiki beberapa pemikiran Plato.
