Rabu, 01 Agustus 2012

Selingkuh dari Kacamata Wanita

PERSELINGKUHAN DARI SUDUT PANDANG WANITA
Selingkuh adalah kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Kata ini sering melanda relasi manusia. Karena itulah, kata ini sangat ditakuti saat orang hendak membangun sebuah relasi. Perselingkuhan bukan hanya terjadi pada relasi suami-istri atau relasi pacaran saja, melainkan relasi koalisi dalam dunia politik. Perselingkuhan yang terjadi menunjukkan adanya ketidak-setiaan pada komitmen. Hal ini bisa saja disebabkan adanya kepentingan. Orang atau partai politik yang selingkuh pasti karena adanya kepentingan.

Pendapat umum berkata bahwa kaum pria memang suka selingkuh. Karena itu selingkuh lebih diidentikkan dengan kaum laki-laki. Tapi apakah selingkuh itu monopoli kaum Adam?

Minggu lalu kita sudah melihat ulasan selingkuh dari aspek kaum laki-laki: alasan laki-laki selalu diidentikkan sebagai tukang selingkuh; konsep selingkuh bagi laki-laki; sikap pria jika pasangannya yang selingkuh. Hari ini kami akan menurunkan tulisan soal selingkuh dilihat dari perspektif kaum perempuan.

1.    Wanita Lebih Sering Selingkuh daripada Pria

Bahagia atau tidak bahagia dengan pasangannya, pria cenderung berselingkuh. Begitu menurut tinjauan psikologis para peneliti. Namun, bila membicarakan soal selingkuh, wanita ternyata bukan cuma sama bengalnya dengan pria, tetapi juga lebih parah.

Sebuah studi yang dilakukan belum lama ini menunjukkan bahwa wanita lebih sering berselingkuh daripada pria. Demikian dilaporkan harian Daily Telegraph di London. Fakta ini didapat berdasarkan jajak pendapat yang diikuti lebih dari 3.000 wanita. Dari 3.000 wanita itu, 40 persennya mengaku pernah memiliki affair dengan pria lain. Secara detail dijelaskan, sebanyak 40 persen wanita yang selingkuh mencium orang lain saat dugem, 1 dari 4 wanita "main-main" dengan rekan kerja saat ada acara kantor, dan seperlima wanita mengaku merasa deg-degan (tetapi excited) saat mengkhianati pasangannya, dan ingin melakukannya lagi. Di lain pihak, hanya 30 persen pria (atau 3 dari 10 pria) yang mengencani wanita lain saat masih mempunyai pasangan. 

Studi ini memang tidak 100 persen ilmiah karena diadakan oleh sebuah teater di Inggris untuk menciptakan "demam" dalam pembukaan lakon komedi terbarunya yang berkisah tentang perselingkuhan. Jajak pendapat ini juga menetapkan definisi selingkuh yang longgar, ada wanita yang hanya pergi berdua dengan pria lain sudah dikategorikan selingkuh. Namun, ada pula yang dikategorikan demikian bila telah berciuman.

Terungkap juga bahwa "main-main" atau flirting juga dianggap urusan kecil buat yang melakukannya. Soalnya, risiko ketahuan pasangan sangat minim (hanya sepertiga yang pernah kepergok pasangan).

Bagaimanapun juga, hasil jajak pendapat iseng ini di luar dugaan karena menyangkut fakta baru tentang kebiasaan seksual wanita.

2.    Makin Banyak Perempuan yang Berselingkuh

Ketidak-setiaan sering kali diasumsikan sebagai sifat alami kaum pria. Namun, statistik menunjukkan peningkatan jumlah perempuan yang berselingkuh dari pasangannya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah ini, antara lain, meningkatnya kesamaan penghasilan dan lebih banyaknya peluang yang terbuka karena para perempuan yang bekerja lembur.

Sebagai pakar hubungan dari Inggris, Keren Smedley juga memerhatikan meningkatnya frekuensi ketidaksetiaan perempuan. Menurutnya, selama ini perempuan memang merasa dibebani keharusan untuk mempertahankan perkawinan yang tidak sehat. Namun, akhir-akhir ini mereka tidak lagi merasa tak berdaya dan memaksa diri untuk bertahan.

Ketika mereka terjebak dalam suatu perkawinan yang tidak bahagia, seorang pria baru bisa menjadi semacam pelarian. Kesetaraan juga memberikan perempuan suatu kecenderungan dan kemampuan untuk sama tidak setianya dengan suami mereka.

Menurut survei yang digelar oleh Sexual Attitudes and Lifestyle pada tahun 2001, tercatat sebanyak 14,6 persen pria mengaku tidak setia pada pasangannya. Persentase perempuan ternyata tidak jauh berbeda. Hampir 1 dari 10 perempuan mengaku pernah berselingkuh.

"Menurut saya, alasan perempuan saat berselingkuh tidak jauh berbeda dari pria," ujar Paula Hall, konselor hubungan di firma Relate. "Mereka mencari perhatian dan rasa sayang, dan seks termasuk di dalamnya."

Sementara itu, hasil survei terbaru yang diprakarsai website Netmums menyatakan, hampir 25 persen istri tidak setia kepada suaminya. Para istri melakukannya ketika anak-anak mereka masih berusia balita. Survei di Inggris yang melibatkan 4.000 wanita ini juga menyebutkan, sepertiga dari para istri yang tidak setia juga melakukan one-night stand.

3.    25 Persen Istri Berselingkuh

Sebuah hasil survei terbaru menyatakan, hampir 25 persen para istri tidak setia kepada suaminya. Yang lebih mengejutkan, sekitar 64 persen para istri ini melakukan perselingkuhan dengan pria lain sebelum memiliki anak.

Setelah melahirkan anak, kesempatan untuk melakukan affair juga tetap terbuka. Para istri melakukannya ketika anak-anak mereka masih berusia balita. Jumlah istri yang berselingkuh menurun drastis pada saat anak-anaknya mulai beranjak dewasa.

Ini adalah hasil survei di Inggris melibatkan 4.000 wanita yang diprakarsai website  Netmums. Survei juga menyebutkan, sepertiga dari para istri yang tidak setia juga melakukan one-night stand. Dua perlima dari mereka mengaku memiliki teman kencan, sedangkan seperlima lainnya mengaku pernah jatuh cinta.

Pria yang menjadi selingkuhan para istri ini beragam. Sekitar 37 persen dari mereka  memilih mantan pacar, 31 persen memilih tidur bersama pria yang baru dikenalnya, dan 12 persen memilih teman dekatnya di masa kanak-kanak. Lima persen dari kalangan istri nakal ini mengaku berselingkuh dengan teman suaminya dan 2,5 persen memilih sobat dari temannya.

Pemicu dari ketidak-setiaan ini disinyalir adalah krisis di usia pertengahan serta absennya sosok suami pada saat dibutuhkan.

Namun, para suami pun sama-sama harus berintrospeksi karena menurut hasil survei, jumlah suami yang berselingkuh justru mencapai dua kali lipat—di mana 40 persennya suka "main" perempuan.

Hasil studi juga menunjukkan, 63 persen hubungan pada pasangan yang berselingkuh kerap kali gagal. "Pengkhianatan selalu menjadi gejala dari masalah ini. Banyak pasangan yang berhasil melewatinya dengan kepedihan dan berakhir dengan bahagia," ungkap konselor dari Netmums, Chris Bannigan.

4.    Kenapa Perempuan Ingin Selingkuh?

Pernahkah Anda menatap seorang pria yang baru Anda kenal dan merasa berdebar-debar setelahnya? Anda lalu mulai memberanikan diri saling mengirim SMS, e-mail, dan tiba-tiba membayangkan bagaimana bila Anda menjadi kekasihnya?

Bila Anda tidak berusaha mengendalikan perasaan Anda, bisa jadi bayangan mengenai selingkuh ini menjadi kenyataan. Jangan terlalu percaya dengan pertahanan diri Anda karena perempuan pun punya kemampuan untuk berselingkuh, sama besarnya dengan pria.

Ketika Anda sudah terjebak dalam pesona pria baru ini, Anda mungkin tak akan mampu lagi melihat alasan yang jelas mengapa Anda ingin berpaling dari pasangan. Untuk itu, coba lihat beberapa alasan berikut, dan kenali apakah salah satunya terjadi pada Anda. Bila mengetahui alasannya, Anda akan tahu bagaimana cara mengatasi atau memperbaiki hubungan Anda dengan pasangan.

Bosan dengan hubungan saat ini. Ketika hubungan sudah berjalan lama, perasaan berbunga-bunga itu sudah lenyap. Waktu senggang diisi dengan hal yang itu-itu saja, seks hanya menjadi kewajiban, bahkan kadang-kadang Anda sudah tidak tahu apa lagi yang ingin dibicarakan.

Untuk mengatasi hubungan yang mulai membosankan, Dr Patti Britton, penulis The Art of Sex Coaching, menyarankan untuk mengubah pola sentuhan dan hubungan seks Anda. "Apa yang Anda lakukan sebelumnya, lakukan kebalikannya. Variasi akan mendorong respons dopamin pada otak kita, dan menyebabkan kita merasa ada sesuatu yang baru."

Tidak mendapat perhatian dari pasangan. Ada hari-hari ketika pasangan mencurahkan perhatian pada segala hal, kecuali Anda. Anda ingin ada orang yang bertanya pada Anda, apa saja yang terjadi pada diri Anda hari ini. Atau, seseorang yang memijat punggung Anda ketika pulang dari kantor dalam keadaan letih, tanpa diminta.

Butuh konfirmasi mengenai daya tarik Anda. Seperti telah disebut tadi, ketika hubungan sudah berjalan lama, kecantikan tak lagi menjadi satu-satunya perhatian pasangan. Akibatnya, Anda sudah lupa bagaimana rasanya dipuji dan diinginkan oleh seorang pria (dan bukan karena Anda yang harus memasak, membantu mencari nafkah, atau mengasuh anak-anak).

Anda mencari sensasi. Apakah Anda tipe orang yang selalu mencari risiko yang "membahayakan" dalam setiap tahap kehidupan Anda? Musibah yang mungkin akan terjadi dari suatu affair akan mengancam keharmonisan hubungan Anda.

"Kenapa Anda tidak mencoba berbagi sensasi dengan pasangan Anda?" kata Ian Kerner, konselor relasi yang juga penulis buku Sex Recharge. "Nonton film horor, naik roller coaster, atau sama-sama bolos kerja untuk menyisihkan waktu untuk berdua, pokoknya cari cara untuk melakukan variasi dari rutinitas Anda. Nikmati sensasi yang akan Anda rasakan."

Anda mulai "ilfil" dengan pasangan. Jika pasangan sudah mulai menggendut, atau tidak lagi memedulikan penampilannya seperti dulu, akan sulit bagi Anda untuk memandangnya secara seksual. Yang bisa Anda lakukan adalah menyediakannya menu sehat, berolahraga bersama, termasuk belanja bersama untuk me-makeover penampilannya. "Dorongan secara positif akan membantunya kembali ke sisi dirinya yang terbaik," kata Dr Britton.

Anda menikah muda dan minat Anda telah berubah. Ketika menikah pada usia awal 20-an, Anda tidak terpikir bahwa diri dan kepribadian Anda akan berkembang sejalan dengan bertambahnya usia. Begitu pula dengan suami Anda. Akhirnya, prioritas Anda berdua mulai berubah. Ketika Anda bertemu pria baru yang merasa bergairah dengan sesuatu yang juga menarik minat Anda, wajar bila Anda jadi tertarik padanya.

Anda ingin keluar dari relasi perkawinan. Perkawinan Anda mungkin telah lama bermasalah dan Anda sudah tidak tahan lagi, tetapi Anda belum siap untuk memulai pembicaraan dengan suami. Mungkin saja ada bagian dari diri Anda yang ingin tertangkap basah dengan pria lain, atau, Anda terlalu takut untuk mengakhiri perkawinan dan merasa sendiri. Namun, lari ke pelukan pria lain tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan menambahnya. Anda harus jujur pada diri Anda sendiri dan pasangan.

Anda berada dalam situasi baru. Entah itu sukses menurunkan berat badan, memulai pekerjaan baru, atau melakukan hobi baru. Anda merasa bergairah dengan fase baru dalam hidup Anda ini, dan, entah disengaja atau tidak, suami Anda jadi tergantikan oleh seseorang yang Anda temui dalam gaya hidup Anda yang baru.

"Perubahan baru akan membawa tantangan-tantangan baru, dan Anda menganggap pasangan tidak akan mengerti hal ini. Ajak pasangan menjadi bagian dari kehidupan Anda," saran Kerner. "Anda tidak tahu kan, kalau ternyata pasangan mungkin justru akan memahami, mendukung, dan memberi masukan?"

Pasangan tidak bergairah lagi untuk bercinta. Ketika suami dan istri memiliki tingkat libido yang berbeda, hal ini bisa menimbulkan masalah. Ketika yang satu tidak pernah ingin berhubungan intim, akan muncul keretakan dalam hubungan Anda, dan menyebabkan Anda ingin berpaling ke orang lain.

Anda menjalani "long distance relationship". Pasangan yang berbagi rumah yang sama saja akan menghadapi banyak masalah, apalagi bila berada di kota yang berbeda. Anda akan merasa kesepian dan mulai mencari seseorang untuk mengisi kekosongan itu. Menurut Kerner, ketidakhadiran pasangan sebenarnya bisa diatasi dengan aktivitas seperti phone-sex dengan pasangan, mengirim pesan-pesan erotis melalui SMS atau e-mail (yang bisa dibaca berulang-ulang), apa saja yang bersentuhan dengan relasi seksual.

Karena pasangan pernah berselingkuh. Pasangan pernah selingkuh di masa lalu, tetapi Anda belum mampu melupakannya sama sekali. Anda mungkin ingin membalas dendam, atau tanpa sadar melakukannya karena sakit hati. Namun, balas dendam tidak akan memberikan kehidupan yang Anda inginkan. Menurut Britton, balas dendam adalah tindakan reaktif, bukan proaktif. Jadi, fokuslah pada apa yang Anda inginkan lagi dalam hubungan Anda. Bila tidak, Anda mungkin memang harus berpisah darinya.

Anda berusaha memuaskan hasrat. Mungkin hubungan Anda dengan kekasih atau suami baik-baik saja. Namun, muncul pria baru di kantor atau di lingkungan pergaulan Anda, yang berhasil menarik perhatian Anda dan membuat Anda berdebar-debar setiap menemuinya. Hati-hati bila persahabatan yang dihiasi aktivitas flirting ini berjalan di luar kendali. Anda boleh saja berfantasi tentang pria lain (bahkan ketika Anda sedang berhubungan intim dengan pasangan), tetapi jangan mengubah fantasi itu menjadi kenyataan.

5.    Lima Langkah Pemulihan Diri Paska Perselingkuhan

Perselingkuhan merusak kepercayaan yang sudah dibangun bersama pasangan, bahkan rasa percaya diri bisa terkoyak. Menurut Asosiasi Terapi Pernikahan dan Keluarga Amerika (American Association for Marriage and Family Therapy), seseorang yang menjadi korban perselingkuhan mengalami gangguan psikis yang sama dengan gejala traumatik akibat stres. Seperti mudah gelisah, berilusi, dan selalu melihat masa lalu.

Sebaiknya pulihkan diri Anda dari perasaan menyakitkan paska perselingkuhan melalui cara ini:

Percayalah, ini bukan salah Anda
Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan Anda. Meskipun Anda menyadari tak sepenuhnya sempurna dalam menjalani hubungan, namun bukan berarti Anda berhak dipersalahkan atau mempersalahkan diri karena pasangan berselingkuh. Ingatkan diri Anda bahwa pasangan yang berselingkuh telah berlaku tidak adil terhadap komitmen dan perasaan Anda.

"Pasangan berselingkuh karena telah mengabaikan Anda dan komitmen serta perasaan yang dibangun, jadi jangan salahkan diri Anda karenanya," kata Janis Abrahms Spring, psikolog dan pengarang buku After the Affair.

Luangkan waktu untuk lebih mengenal diri
Cobalah kenali kembali diri Anda, dengan belajar dari pengkhianatan dan pupusnya hubungan. Michele Weiner-Davis, Direktur Pusat Penyelesaian Perceraian Colorado, mengatakan rasa sakit karena perselingkuhan memberikan pengalaman lain. Dari perasaan inilah, Anda bisa belajar mendorong kembali sensitivitas diri, empati, rasa menyayangi, dan membekali diri agar tak terjebak dalam hubungan serupa di kemudian hari.

Menjalin hubungan baru setelah diri Anda pulih
Tak perlu terburu-buru menjalin hubungan baru usai mengalami perselingkuhan. Jika Anda terbawa emosi, lalu mulai berkomitmen dengan seseorang padahal perasaan sakit dari pengalaman lalu belum teratasi, ini akan mengganggu hubungan yang baru dibangun tersebut.

"Lebih baik pulihkan diri Anda lebih dahulu sampai siap untuk memulai kembali membangun hubungan baru," kata Rich Nicastro, psikolog spesialisasi pernikahan dan hubungan berpasangan.

Eksplorasi pengalaman baru dalam hubungan
Cobalah keluar dari zona nyaman dalam memilih pasangan. Anda tak perlu mematok tipe pasangan yang sama seperti sebelumnya. Sebaiknya eksplorasi berbagai tipe orang dalam menjalani hubungan. Anda bisa memulainya dengan mengenal berbagai karakter pasangan sebelum memutuskan membangun komitmen bersamanya. Carilah juga kualitas diri dari pasangan yang tidak Anda temukan pada pasangan yang mengkhianati sebelumnya.

"Tanda hubungan yang sehat di antaranya lebih spontan dan lebih terbuka satu sama lain," kata terapis hubungan berpasangan, Jef Gazley. Anda bisa menggali karakter pasangan dari kriteria yang diberikan Gazley ini.

Belajar membangun kembali rasa percaya
Pengkhianatan dari orang yang Anda cintai memang menyakitkan, namun Anda perlu mengatasi perasaan ini dengan tidak mencurigai setiap lawan jenis yang mulai mendekati Anda. Jika Anda tak bisa membangun kembali rasa percaya terhadap orang lain, Anda cenderung akan berperilaku tanpa alasan yang jelas. Gazley menambahkan, hubungan baru yang akan dibangun juga terganggu tanpa adanya rasa percaya. Berikan kesempatan kepada pasangan baru untuk menunjukkan bahwa dia bisa dipercaya. Caranya, bangun rasa percaya dalam diri Anda lebih dulu, dan jangan pernah bandingkan dengan mantan yang mengkhianati Anda.

6.    Menata Hubungan Setelah Selingkuh

Tertarik kepada orang lain mungkin sulit dihindari, tetapi seyogianya tidak dilanjutkan sebagai permainan, atau menjadi hubungan lebih dalam. Perselingkuhan sering menghancurkan kepercayaan pasangan dan dapat mengacaukan hidup keluarga.

N seorang ibu berusia 32 tahun menulis:
”Dua tahun lalu suami saya berselingkuh dengan pembantu. Begitu terguncang saya karena tidak pernah berpikir suami akan melakukan hal itu. Perbuatan suami sangat meluluhlantakkan setiap sendi kehidupan saya.

Saya terpojok karena gosip ini menyebar ke seluruh kompleks perumahan. Belum lagi ibu-ibu usil membicarakan, menyalahkan, bahkan sampai ada yang memusuhi saya. Tekanan masyarakat sekitar tertuju kepada saya karena saya dianggap tidak becus mengurus suami sampai harus pergi ke pelukan pembantu.

Saya tertekan karena selama ini saya korbankan semua hidup saya, kesempatan untuk berkarier, sampai kesempatan bersekolah ke luar negeri demi keutuhan rumah tangga dan keberhasilan suami dan anak-anak. Saya merasa ditikam dari belakang.

Suami minta maaf dan memohon saya untuk tidak meninggalkan dia karena pertimbangan anak. Akhirnya saya mau bertahan walaupun hari-hari dipenuhi dengan ke-bete-an yang entah kapan berakhir. Bayang-bayang perselingkuhan itu selalu tergambar dalam benak saya.

Dua tahun ini saya berusaha untuk menumbuhkan kepercayaan lagi. Tetapi, apa yang terjadi, minggu lalu saya menemukan SMS di HP suami dengan mantan teman tapi mesranya. Saya marah dan merasa dikhianati karena seharusnya sudah tidak ada kebohongan di antara kami. Saya berpikir hubungan ini harus diakhiri dengan perceraian karena saya sudah tidak percaya kepada suami dan saya tidak melihat dia berniat untuk berubah. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak kami? Saya tidak ingin anak-anak bernasib seperti ayahnya (anak korban perceraian).”

Meneliti kehidupan perkawinan
Perasaan N mungkin dialami oleh orang lain yang pasangannya berselingkuh. Marah dan terkejut, belum sembuh dari luka yang lama, dan mendapati pasangan ternyata masih menjalin hubungan dengan orang lain.

Untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik di antara berbagai pilihan yang tidak ideal, kita perlu meneliti kehidupan perkawinan dan relasi dengan pasangan. Sisi apa dari pasangan yang dulu menarik atau membuat jatuh hati? Apakah sisi-sisi itu merefleksikan tanggung jawab dan kematangan ataukah justru kekurangmampuan bertanggung jawab? Misal: genit, tebar pesona; menarik tetapi sangat tergantung dan rapuh; atau sebaliknya, memaksakan kepentingan sendiri dan egois?

Bagaimana N melihat tanggung jawab suami saat ini sebagai suami dan ayah, selain perselingkuhannya? Apakah ia bertanggung jawab dan jujur soal nafkah, bersedia berbagi peran mendidik anak? Bagaimana karakteristik pribadi N dan suami, dan bagaimana gambaran relasi yang ada? Apakah N selalu berkorban dan mengalah, sementara suami justru mempersepsi N mendominasi dan kurang menghargai? Apakah suami sungguh menyesal atau hanya di mulut saja?

Terlepas dari karakteristik pribadi pembantu, kita perlu menyadari posisi pembantu yang tidak memiliki posisi tawar dan sangat rentan: mudah mengalami eksploitasi seksual (mungkin dari majikan pria) dan jadi kambing hitam. Sudah jadi korban masih dipersalahkan (mungkin oleh majikan perempuan ataupun majikan laki-laki).

Mengapa suami sampai berhubungan dengan pembantu? Apakah merefleksikan karakteristik pribadi suami yang sangat lemah (misal: merasa diri kecil dan tak berharga karena mempersepsi istri sangat dominan), atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan seksual dan egoisme sebagai laki-laki? (memang terobsesi mencari kesenangan seksual, mengobyekkan dan tidak menghormati perempuan, tidak peduli norma serta tanggung jawab).

Menata masa depan
Memprihatinkan bahwa kegagalan rumah tangga cukup sering dipersalahkan kepada pihak perempuan atau istri, termasuk ketika suami melakukan tindakan tidak pantas terhadap (dengan) pembantu. Tetapi kita juga perlu merefleksi, apakah memang benar orang-orang lain menyalahkan dan memusuhi ataukah itu perasaan kita sendiri yang sangat malu dengan kejadian yang dianggap aib sehingga jadi sensitif dan mudah curiga?
Mungkin teman dan tetangga mendengar kasus itu, sangat terkejut dan bingung harus bereaksi bagaimana karena takut menambah persoalan. Sementara itu kita sendiri minder dan bingung sehingga hubungan yang sebelumnya akrab berubah kaku bahkan tak berlanjut.

Setelah meneliti diri sendiri, pasangan, relasi dengan pasangan, serta semua pihak terkait (kepentingan anak dan lainnya), kita lebih mengerti dan dapat mengambil keputusan. Seyogianya kita melanjutkan hubungan karena menganggap ada cukup banyak hal baik yang masih dapat dipertahankan dan terus dikembangkan. Terlalu cepat memutuskan berpisah belum tentu merupakan solusi yang baik, tetapi mempertahankan perkawinan yang terlalu buruk juga belum tentu positif bagi kepentingan anak.

Bagaimana anak dapat belajar dengan tenang, mengembangkan rasa bangga dan aman dalam keluarga, jika relasi ayah-ibu tidak memberikan contoh pembelajaran yang baik? Keputusan harus diambil dengan kepala dingin setelah mempertimbangkan berbagai hal penting terkait, jika perlu dengan melibatkan pihak yang dianggap bijaksana dan dapat memfasilitasi kita menemukan solusi yang tepat.

Perselingkuhan menghancurkan berbagai hal indah yang pernah dibangun bersama. Semua pihak perlu bersabar dan memberi waktu bagi diri dan pasangannya untuk dapat menyatukan kembali keping-keping yang pecah. Suatu hal sulit, tetapi masih mungkin dilakukan apabila ada ketulusan dan niat baik dari semua.

7.    Penutup

Kita sudah melihat soal selingkuh dari aspek wanita. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua wanita ternyata menyukai selingkuh. Ada yang menginginkan kesetiaan. Selingkuh menunjukkan adanya sikap egois dalam hidup. Karena itu, untuk menghindari terjadinya perselingkuhan, langkah awal yang harus dilakukan adalah menghilangkan sikap egois tersebut.

Perselingkuhan dapat membawa kehancuran bagi kepercayaan pasangan dan keluarga serta kehancuran bagi keluarga itu sendiri. Karena perselingkuhan selalu berujung pada perceraian. Keindahan dan kebahagian yang pernah dibangun seakan musnah tak berguna.

Sikap yang harus dibentuk dalam diri kita bila mengetahui pasangan kita selingkuh adalah memaafkan atau mengampuni. Memang untuk membangun sikap memaafkan membutuhkan kekuatan yang sangat luar biasa besar. Memaafkan itu merupakan ciri ilahi, bukan manusiawi. Karena itulah, agar bisa memaafkan, kita perlu minta bantuan kekuatan dari Tuhan.

Dari seluruh uraian tentang selingkuh ini (25 dan 18 Juli) dapatlah dikatakan bahwa selingkuh membawa sengsara. Tulisan-tulisan ini bukan mau mengajak pembaca untuk berselingkuh, melainkan bertujuan agar pembaca benar-benar sadar dan melihat akan bahayanya selingkuh itu. Selingkuh tidak ada gunanya. Oleh karena itu, seruan akhir dari tulisan ini adalah: JANGAN PERNAH SELINGKUH.

editor: adrian

Sumber Bacaan:
1.      Felicitas Harmandini, “Wanita Lebih Sering Selingkuh daripada Pria?” dalam http://perempuan.kompas.com/read/xml/2009/09/03/18510369%20/wanita.lebih.sering.selingkuh.daripada.pria
2.      Felicitas Harmandini, “Makin Banyak Perempuan yang Berselingkuh”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/06/08/19332244/Makin.Banyak.Perempuan.yang.Berselingkuh
3.      Asep Candra, “Wah, 25 Persen Istri Berselingkuh”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/04/06/15095890/Wah.25.Persen.Istri.Berselingkuh
4.      Felicitas Harmandini, “Kenapa Perempuan (Juga) Ingin Selingkuh?” dalam http://female.kompas.com/read/2010/08/21/10403724/Kenapa.Perempuan.Juga.Ingin.Selingkuh.
5.      Wardah Fazriyati, “Lima Langkah Pemulihan Diri Paska Perselingkuhan”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/08/06/16231354/5.Langkah.Pemulihan.Diri.Paska.Perselingkuhan
6.      Kristi Poerwandari, “Menata Hubungan Setelah Selingkuh”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/02/28/02561750/Menata.Hubungan.Setelah.Selingkuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar