Rabu, 25 Juli 2012

Selingkuh dari Kacamata Pria

PERSELINGKUHAN DARI SUDUT PANDANG PRIA
Selingkuh adalah sebuah kata yang sangat ditakuti saat orang hendak membangun sebuah relasi. Bukan hanya relasi cinta suami-istri atau relasi pacaran saja, melainkan relasi koalisi dalam dunia politik. Dalam dunia politik sering kali terdengar istilah pecah kongsi, di mana awalnya berkoalisi namun akhirnya berpisah karena adanya salah satu partai yang berselingkuh atau tidak setia pada komitmen. Karena itu, dalam dunia politik dikenal adagium ini: tak ada teman yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Namun apakah dengan demikian berarti juga dalam relasi suami – isteri?

Minggu lalu kita sudah melihat ulasan umum tentang selingkuh. Kali ini kami akan menurunkan tulisan soal selingkuh dari aspek kaum laki-laki. Mengapa laki-laki selalu diidentikkan sebagai tukang selingkuh? Apa konsep selingkuh bagi laki-laki? Bagaimana sikap pria jika pasangannya yang selingkuh? Tak lupa bagian akhir tulisan ini kami menawarkan solusi yang sedikit berguna.

1.    Pria Suka Selingkuh

Selingkuh kini sudah bersifat universal. Tak hanya kaum eksekutif yang memiliki banyak uang yang bisa melakukan selingkuh. Profesi apa pun, bahkan tukang becak sekalipun, bisa melakukan selingkuh. Namun, karena kaum eksekutif kadang merupakan public figure, perselingkuhan yang dilakukannya pun menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat.

Seperti survei dilakukan oleh majalah Eksekutif terhadap 500 pria eksekutif di Jakarta untuk mengamati masalah perselingkuhan. Hasil survei yang dipublikasikan melalui Facebook rupanya mendapat respons dari ribuan orang. Banyaknya pro dan kontra ini menunjukkan antusiasme masyarakat memperbincangkan masalah perselingkuhan. Banyak pula yang mempertanyakan keakuratan data karena contoh yang diambil belum tentu mewakili kaum eksekutif. Namun, survei ini terbukti menarik perhatian masyarakat untuk berkomentar.

Dari perbincangan santai bertema "3 dari 2 Eksekutif Selingkuh" yang dihadiri beberapa pria eksekutif di Brewhouse Resto, Senayan City, Rabu (27/7/2011), Kompas Female menemukan fakta-fakta baru tentang hal ini. Perselingkuhan ternyata sudah dianggap sebagai hal yang biasa, yang menurut para tokoh ini tak perlu terlalu diperdebatkan.

2.    Meski Selingkuh Pria Tetap Cinta Pasangannya

“Tiga dari dua pria selingkuh!” begitu kesimpulan sebuah survei yang dilakukan oleh majalah Eksekutif  terhadap 500 pria eksekutif di Jakarta beberapa waktu lalu. Judul tersebut menjadi semacam sarkasme, yang ingin menunjukkan bahwa pada dasarnya hampir semua laki-laki gemar selingkuh. Benarkah demikian?

Yang pasti, sebuah survei yang dilakukan sosiolog Amerika, Eric Anderson ini, menunjukkan bahwa meskipun mencintai pasangan dan tidak berniat meninggalkannya, pria tetap selingkuh karena menginginkan seks lebih sering. Sedangkan pria yang tidak selingkuh sebenarnya tengah mengatur dirinya sendiri untuk "pemenjaraan seksual akibat desakan sosial".

Pengajar dari University of Winchester di Inggris ini mengatakan, monogami telah mengucilkan pria dari kegiatan yang paling mereka inginkan. Dalam bukunya, The Monogamy Gap: Men, Love, and the Reality of Cheating, Anderson menyebut bahwa selingkuh adalah norma, dan orang mulai menerima relasi yang terbuka secara seksual, yang hidup berdampingan tanpa hierarki atau hegemoni.

Untuk mendapatkan kesimpulannya ini, Anderson mensurvei 120 pria pra sarjana, baik yang normal maupun gay. Ia mendapati bahwa 78 persen pria yang memiliki pasangan ternyata selingkuh, "Meskipun mereka mengatakan mencintai (pasangannya) dan berniat tetap bersama pasangannya," kata Anderson. Kalau begitu, mengapa harus selingkuh? Jawabannya sederhana: karena pria menyukai seks.

Mungkin otak pria seperti ini

Secara emosional, pria sebenarnya ingin tetap bersama satu pasangan. Sayangnya, tubuh mereka rupanya mendambakan seks bersama orang lain. Berkaitan dengan keinginan membentuk keluarga, misalnya, sisi emosional lah yang berperan. "Hasrat fisik kita tidak mati; hanya berubah dari pasangan kita ke orang lain. Ketika hasrat seks itu padam, hubungan baru mulai," lanjutnya.

Pria lebih memilih untuk selingkuh dan menyesalinya, karena tak mungkin bagi mereka untuk mengakui hal tersebut pada pasangannya. Bila dilakukan, relasi yang dibangun bersama pasangan pasti buyar. Ketika pria selingkuh dan melakukan seks rekreasi, mereka tak mengaitkan perasaan karena mereka masih mencintai pasangan. Jika tidak, mereka pasti sudah mengakhiri hubungan tersebut. Buat kaum pria, seks di luar relasi dengan pasangan sah-sah saja. Lucunya, mereka tidak ingin pasangannya melakukan hal yang sama.

Hal ini memang tidak fair, namun monogami hanya akan mendorong pria untuk mengejar seks dengan orang lain dalam kesempatan lain. Menyedihkan, tetapi demikianlah hasil penelitian Eric Anderson. Media Research Centre Network sendiri meragukan ukuran sampel dan kelompok yang menjadi sasaran survei, karena pria-pria yang belum lulus kuliah umumnya masih mengeksplorasi diri mereka, dan mendorong batas-batas yang ada.

3.    Selingkuh Tak Berarti Cinta

Kalau Anda terbuai dalam perselingkuhan, jangan pernah berharap perselingkuhan tersebut berubah menjadi cinta sejati. Pasalnya, umumnya pria tak akan mengubah kisah selingkuhnya menjadi catatan cinta yang berarti bagi dirinya.

Psikolog Dr Sam J Buser, yang juga penulis The Guys-Only Guide, mengatakan, umumnya perempuan mulai menanyakan pasangan selingkuhnya mengenai arah hubungan. Padahal, kebanyakan pria jelas hanya ingin berselingkuh dan tak ingin membawa hubungan ke tahapan yang lebih serius. Ada sejumlah alasan yang menguatkan pria memiliki pendirian semacam itu:

Relasi perselingkuhan tak pernah lama
Sejumlah riset menunjukkan, perselingkuhan nyaris tak pernah berubah menjadi hubungan jangka panjang. Hanya satu dari 10 perselingkuhan yang kemudian berubah menjadi komitmen serius. Kalaupun hubungan beralih menjadi kisah cinta, pada akhirnya komitmen ini berakhir pada perceraian. Mengapa? Ini karena pasangan kehilangan rasa percaya. Pasangan yang berkomitmen setelah menjalani perselingkuhan tak akan saling percaya karena didasari pada pengalaman sebelumnya bahwa mereka pun pernah berselingkuh.

Perselingkuhan adalah hubungan yang maya, bukan nyata
Banyak pria yang meninggalkan karier, anak, dan keluarga demi mengejar perempuan seksi yang menjadi pasangan selingkuhnya. Namun pada akhirnya, pria melakukan konseling dengan profesional untuk memperbaiki hidupnya yang berantakan. Pria menyadari bahwa berselingkuh hanya membawa hidupnya semakin tak terarah. Perselingkuhan menjadi pelarian dari kondisi pernikahan yang kacau.

Dr Buser mengatakan, saat pria melakukan konseling, hal yang kemudian direkomendasikan pakar adalah mencari solusi atas masalah pernikahannya. Jika tak ada titik temu untuk menyelamatkan pernikahan, perceraian memang menjadi jawaban, tetapi melanjutkan hubungan dengan teman selingkuh tak lantas jadi solusi berikutnya.

"Pernikahan dan perselingkuhan ibarat apel dan jeruk. Dalam perselingkuhan, Anda tak berkomunikasi dengan orang tuanya, tidak membayar tagihan bersama, dan tidak membesarkan anak bersama. Anda tidak akan tahu rasanya menikah dengan seseorang hingga Anda menikahinya," ujar Dr Buser.

Anak-anak tak akan menyetujui pasangan selingkuh
Pria cenderung tak melanjutkan perselingkuhan menjadi hubungan berkomitmen karena meyakini anak-anaknya tak akan menerima pasangan selingkuhnya. Dr Buser mengatakan, Anda tak akan pernah bisa menyembunyikan perselingkuhan selamanya dari anak-anak. Saat anak beranjak dewasa, mereka akan membaca terjadinya perubahan dengan kehidupan orang tuanya. Jarang melihat orang tua bermesraan menjadi pertanda yang bisa dipahami anak. Anak yang semakin dewasa juga bisa mengenali gelagat orang tua yang tak lagi berhubungan seks. Anak perempuan juga cenderung sulit memaafkan ayah yang berselingkuh.

"Anak perempuan akan merasa dikhianati jika mengetahui ayahnya berselingkuh," kata Dr Buser.

Jika pria bisa tegas untuk tidak melanjutkan perselingkuhan menjadi hubungan jangka panjang, Anda, sebagai perempuan, tentu juga punya kekuatan yang sama.

4.    Pria Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh

Saat ditemui wartawan di kediamannya, Johannes Subrata alias Joesoef, suami Cut Tari, tampak sangat tenang menanggapi beredarnya video porno dengan bintang mirip sang istri. Ia mengaku percaya dengan apa pun yang dikerjakan istrinya.

Apakah bintang video tersebut memang Cut Tari atau bukan, memang belum dapat dibuktikan. Terlepas dari hal tersebut, sikap pria ini terkesan sangat bijak dan di luar dugaan. Maklum saja, umumnya pria sangat responsif dengan aksi perselingkuhan yang dilakukan pasangannya, terutama istri. Pria juga cenderung lebih sulit memaafkan perselingkuhan pasangannya. Hal ini kebalikan dengan apa yang terjadi bila istrilah yang menemukan affair suaminya.

Sejak dulu, perempuan selalu dikondisikan untuk memaafkan ketidaksetiaan suaminya, tetapi pria tampaknya cenderung tidak melakukan hal yang sama untuk istrinya.

"Pria bisa memaafkan diri mereka karena kecerobohan mereka, tapi sulit memaafkan pasangan mereka karena hal yang sama," ujar terapis Phillip Hodson, partner di British Association for Counselling and Psychotherapy.

Bagi perempuan yang dikhianati, affair pasangan bisa sangat menyinggung harga dirinya. Sedangkan bagi pria yang dikhianati, perselingkuhan istri akan sangat menghina kelaki-lakiannya. Hal itu akan langsung menusuk pusat identitasnya. Terlihat jelas suatu ketidakadilan dan sikap pengecut di sini.

5.    Lima Langkah Pemulihan Diri Paska Perselingkuhan

Perselingkuhan merusak kepercayaan yang sudah dibangun bersama pasangan, bahkan rasa percaya diri bisa terkoyak. Menurut Asosiasi Terapi Pernikahan dan Keluarga Amerika (American Association for Marriage and Family Therapy), seseorang yang menjadi korban perselingkuhan mengalami gangguan psikis yang sama dengan gejala traumatik akibat stres. Seperti mudah gelisah, berilusi, dan selalu melihat masa lalu.

Sebaiknya pulihkan diri Anda dari perasaan menyakitkan paska perselingkuhan melalui cara ini:

Ini bukan salah Anda
Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan Anda. Meskipun Anda menyadari tak sepenuhnya sempurna dalam menjalani hubungan, namun bukan berarti Anda berhak dipersalahkan atau mempersalahkan diri karena pasangan berselingkuh. Ingatkan diri Anda bahwa pasangan yang berselingkuh telah berlaku tidak adil terhadap komitmen dan perasaan Anda.

"Pasangan berselingkuh karena telah mengabaikan Anda dan komitmen serta perasaan yang dibangun, jadi jangan salahkan diri Anda karenanya," kata Janis Abrahms Spring, psikolog dan pengarang buku After the Affair.

Luangkan waktu untuk lebih mengenal diri
Cobalah kenali kembali diri Anda, dengan belajar dari pengkhianatan dan pupusnya hubungan. Michele Weiner-Davis, Direktur Pusat Penyelesaian Perceraian Colorado, mengatakan rasa sakit karena perselingkuhan memberikan pengalaman lain. Dari perasaan inilah, Anda bisa belajar mendorong kembali sensitivitas diri, empati, rasa menyayangi, dan membekali diri agar tak terjebak dalam hubungan serupa di kemudian hari.

Menjalin hubungan baru setelah diri Anda pulih
Tak perlu terburu-buru menjalin hubungan baru usai mengalami perselingkuhan. Jika Anda terbawa emosi, lalu mulai berkomitmen dengan seseorang padahal perasaan sakit dari pengalaman lalu belum teratasi, ini akan mengganggu hubungan yang baru dibangun tersebut.

"Lebih baik pulihkan diri Anda lebih dahulu sampai siap untuk memulai kembali membangun hubungan baru," kata Rich Nicastro, psikolog spesialisasi pernikahan dan hubungan berpasangan.

Eksplorasi pengalaman baru dalam hubungan
Cobalah keluar dari zona nyaman dalam memilih pasangan. Anda tak perlu mematok tipe pasangan yang sama seperti sebelumnya. Sebaiknya eksplorasi berbagai tipe orang dalam menjalani hubungan. Anda bisa memulainya dengan mengenal berbagai karakter pasangan sebelum memutuskan membangun komitmen bersamanya. Carilah juga kualitas diri dari pasangan yang tidak Anda temukan pada pasangan yang mengkhianati sebelumnya.

"Tanda hubungan yang sehat di antaranya lebih spontan dan lebih terbuka satu sama lain," kata terapis hubungan berpasangan, Jef Gazley. Anda bisa menggali karakter pasangan dari kriteria yang diberikan Gazley ini.

Belajar membangun kembali rasa percaya
Pengkhianatan dari orang yang Anda cintai memang menyakitkan, namun Anda perlu mengatasi perasaan ini dengan tidak mencurigai setiap lawan jenis yang mulai mendekati Anda. Jika Anda tak bisa membangun kembali rasa percaya terhadap orang lain, Anda cenderung akan berperilaku tanpa alasan yang jelas. Gazley menambahkan, hubungan baru yang akan dibangun juga terganggu tanpa adanya rasa percaya. Berikan kesempatan kepada pasangan baru untuk menunjukkan bahwa dia bisa dipercaya. Caranya, bangun rasa percaya dalam diri Anda lebih dulu, dan jangan pernah bandingkan dengan mantan yang mengkhianati Anda.


6.    Menata Hubungan Setelah Selingkuh

Tertarik kepada orang lain mungkin sulit dihindari, tetapi seyogianya tidak dilanjutkan sebagai permainan, atau menjadi hubungan lebih dalam. Perselingkuhan sering menghancurkan kepercayaan pasangan dan dapat mengacaukan hidup keluarga.

N seorang ibu berusia 32 tahun menulis:

”Dua tahun lalu suami saya berselingkuh dengan pembantu. Begitu terguncang saya karena tidak pernah berpikir suami akan melakukan hal itu. Perbuatan suami sangat meluluhlantakkan setiap sendi kehidupan saya.

Saya terpojok karena gosip ini menyebar ke seluruh kompleks perumahan. Belum lagi ibu-ibu usil membicarakan, menyalahkan, bahkan sampai ada yang memusuhi saya. Tekanan masyarakat sekitar tertuju kepada saya karena saya dianggap tidak becus mengurus suami sampai harus pergi ke pelukan pembantu.

Saya tertekan karena selama ini saya korbankan semua hidup saya, kesempatan untuk berkarier, sampai kesempatan bersekolah ke luar negeri demi keutuhan rumah tangga dan keberhasilan suami dan anak-anak. Saya merasa ditikam dari belakang.

Suami minta maaf dan memohon saya untuk tidak meninggalkan dia karena pertimbangan anak. Akhirnya saya mau bertahan walaupun hari-hari dipenuhi dengan ke-bete-an yang entah kapan berakhir. Bayang-bayang perselingkuhan itu selalu tergambar dalam benak saya.

Dua tahun ini saya berusaha untuk menumbuhkan kepercayaan lagi. Tetapi, apa yang terjadi, minggu lalu saya menemukan SMS di HP suami dengan mantan teman tapi mesranya. Saya marah dan merasa dikhianati karena seharusnya sudah tidak ada kebohongan di antara kami. Saya berpikir hubungan ini harus diakhiri dengan perceraian karena saya sudah tidak percaya kepada suami dan saya tidak melihat dia berniat untuk berubah. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak kami? Saya tidak ingin anak-anak bernasib seperti ayahnya (anak korban perceraian).”

Meneliti kehidupan perkawinan
Perasaan N mungkin dialami oleh orang lain yang pasangannya berselingkuh. Marah dan terkejut, belum sembuh dari luka yang lama, dan mendapati pasangan ternyata masih menjalin hubungan dengan orang lain.

Untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik di antara berbagai pilihan yang tidak ideal, kita perlu meneliti kehidupan perkawinan dan relasi dengan pasangan. Sisi apa dari pasangan yang dulu menarik atau membuat jatuh hati? Apakah sisi-sisi itu merefleksikan tanggung jawab dan kematangan ataukah justru kekurangmampuan bertanggung jawab? Misal: genit, tebar pesona; menarik tetapi sangat tergantung dan rapuh; atau sebaliknya, memaksakan kepentingan sendiri dan egois?

Bagaimana N melihat tanggung jawab suami saat ini sebagai suami dan ayah, selain perselingkuhannya? Apakah ia bertanggung jawab dan jujur soal nafkah, bersedia berbagi peran mendidik anak? Bagaimana karakteristik pribadi N dan suami, dan bagaimana gambaran relasi yang ada? Apakah N selalu berkorban dan mengalah, sementara suami justru mempersepsi N mendominasi dan kurang menghargai? Apakah suami sungguh menyesal atau hanya di mulut saja?

Terlepas dari karakteristik pribadi pembantu, kita perlu menyadari posisi pembantu yang tidak memiliki posisi tawar dan sangat rentan: mudah mengalami eksploitasi seksual (mungkin dari majikan pria) dan jadi kambing hitam. Sudah jadi korban masih dipersalahkan (mungkin oleh majikan perempuan ataupun majikan laki-laki).

Mengapa suami sampai berhubungan dengan pembantu? Apakah merefleksikan karakteristik pribadi suami yang sangat lemah (misal: merasa diri kecil dan tak berharga karena mempersepsi istri sangat dominan), atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan seksual dan egoisme sebagai laki-laki? (memang terobsesi mencari kesenangan seksual, mengobyekkan dan tidak menghormati perempuan, tidak peduli norma serta tanggung jawab).

Menata masa depan
Memprihatinkan bahwa kegagalan rumah tangga cukup sering dipersalahkan kepada pihak perempuan atau istri, termasuk ketika suami melakukan tindakan tidak pantas terhadap (dengan) pembantu. Tetapi kita juga perlu merefleksi, apakah memang benar orang-orang lain menyalahkan dan memusuhi ataukah itu perasaan kita sendiri yang sangat malu dengan kejadian yang dianggap aib sehingga jadi sensitif dan mudah curiga?
Mungkin teman dan tetangga mendengar kasus itu, sangat terkejut dan bingung harus bereaksi bagaimana karena takut menambah persoalan. Sementara itu kita sendiri minder dan bingung sehingga hubungan yang sebelumnya akrab berubah kaku bahkan tak berlanjut.

Setelah meneliti diri sendiri, pasangan, relasi dengan pasangan, serta semua pihak terkait (kepentingan anak dan lainnya), kita lebih mengerti dan dapat mengambil keputusan. Seyogianya kita melanjutkan hubungan karena menganggap ada cukup banyak hal baik yang masih dapat dipertahankan dan terus dikembangkan. Terlalu cepat memutuskan berpisah belum tentu merupakan solusi yang baik, tetapi mempertahankan perkawinan yang terlalu buruk juga belum tentu positif bagi kepentingan anak.

Bagaimana anak dapat belajar dengan tenang, mengembangkan rasa bangga dan aman dalam keluarga, jika relasi ayah-ibu tidak memberikan contoh pembelajaran yang baik? Keputusan harus diambil dengan kepala dingin setelah mempertimbangkan berbagai hal penting terkait, jika perlu dengan melibatkan pihak yang dianggap bijaksana dan dapat memfasilitasi kita menemukan solusi yang tepat.

Perselingkuhan menghancurkan berbagai hal indah yang pernah dibangun bersama. Semua pihak perlu bersabar dan memberi waktu bagi diri dan pasangannya untuk dapat menyatukan kembali keping-keping yang pecah. Suatu hal sulit, tetapi masih mungkin dilakukan apabila ada ketulusan dan niat baik dari semua.

7.    Penutup

Kita sudah melihat soal selingkuh dari aspek laki-laki. Ada beberapa hal yang mendorong kaum pria untuk berselingkuh. Dorongan terbesar adalah soal seks. Hal ini dapat dipahami karena memang pria lebih berorientasi pada seks. Namun perlu juga disadari bahwa selingkuhnya kaum pria hanya sebatas seks, tidak melangkah lebih dalam. Tidak ada cinta dalam perselingkuhan yang dibangun oleh pria.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua pria ternyata menyukai selingkuh. Ada yang menginginkan kesetiaan. Selingkuh menunjukkan adanya sikap egois dalam hidup. Karena itu, untuk menghindari terjadinya perselingkuhan, langkah awal yang harus dilakukan adalah menghilangkan sikap egois tersebut.

Perselingkuhan dapat membawa kehancuran bagi kepercayaan pasangan dan keluarga serta kehancuran bagi keluarga itu sendiri. Karena perselingkuhan selalu berujung pada perceraian. Keindahan dan kebahagian yang pernah dibangun seakan musnah tak berguna.

Sikap yang harus dibentuk dalam diri kita bila mengetahui pasangan kita selingkuh adalah memaafkan atau mengampuni. Sikap ini dengan sangat baik dicontohi oleh nabi Hosea. Sekalipun istrinya sering berselingkuh, Hosea tetap kembali merangkul istrinya dan memaafkannya. Memang untuk membangun sikap memaafkan membutuhkan kekuatan yang sangat luar biasa besar. Memaafkan itu merupakan ciri ilahi, bukan manusiawi. Karena itulah, agar bisa memaafkan, kita perlu minta bantuan kekuatan dari Tuhan.

Minggu depan kita akan membahas masalah selingkuh ini dari sisi kaum wanita.

Editor: adrian

Sumber bacaan:
1.      Tenni Purwanti, “Tiga dari Dua Pria Eksekutif Selingkuh!” dalam http://female.kompas.com/read/2011/07/28/13274447
2.      Felicitas Harmandini, “Mengapa Pria Selingkuh Meski Cinta Pasangannya?” dalam http://female.kompas.com/read/2012/01/10/08525883
3.      Wardah Fazriyati, “Buat Pria, Selingkuh Tak Berarti Cinta.” dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/22/13280021/Buat.Pria.Selingkuh.Tak.Berarti.Cinta
4.      Felicitas Harmandini , “Pria Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/06/08/18440856/Pria.Sulit.Memaafkan.Istri.yang.Selingkuh
5.      Wardah Fazriyati, “Lima Langkah Pemulihan Diri Paska Perselingkuhan”, dalam http://female.kompas.com/read/2010/08/06/16231354/5.Langkah.Pemulihan.Diri.Paska.Perselingkuhan
6.      Kristi Poerwandari, “Menata Hubungan Setelah Selingkuh“, dalam http://female.kompas.com/read/2010/02/28/02561750/Menata.Hubungan.Setelah.Selingkuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar