Kamis, 06 Desember 2018

MEMBACA BUKU “YESUS DAN MUHAMMAD”

Tak diragukan lagi, Yesus dan Muhammad adalah dua tokoh yang paling berpengaruh yang pernah hidup. Yesus berpengaruh bagi tumbuh dan berkembangnya kekristenan, dan Muhammad bagi tumbuh dan berkembangnya agama islam. Dua agama ini termasuk agama terbesar di dunia, dan keduanya selalu terlihat saling bersaing.
Persaingan islam dan Kristen, yang biasa sering juga berujung pada konflik, sebenarnya tak perlu terjadi, jika kedua pihak memperhatikan titik temu yang ada pada Yesus dan Muhammad. Inilah yang hendak dibahas dalam buku “Yesus dan Muhammad: Kesamaan yang Mengejutkan”. Penulisnya adalah mantan professor Sejarah Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Buku ini terdiri dari 4 bagian dengan 20 bab, ditambah dengan 4 lampiran. Pada bagian pertama (bab 1 – 3) sedikit mengulas riwayat hidup penulis dan bagaimana dia melihat kehidupan Yesus dan Muhammad secara berdampingan. Bagian kedua (bab 4 – 9) penulis menyajikan fakta parallel menarik dari kedua tokoh berpengaruh ini. Sedangkan dalam bagian ketiga (bab 10 – 18) penulis menampilkan warisan yang disampaikan oleh Muhammad dan Yesus ini untuk pada pengikutnya, baik itu berupa pengajaran maupun teladan hidup. Bagian terakhir merupakan ringkasan dari fakta penting mengenai Yesus dan Muhammad.
Dapat dikatakan terjemahan bahasa Indonesianya lumayan bagus, dan uraiannya pun singkat dan sangat sederhana sehingga tidak bosan membacanya. Malah sangat sayang bila tidak membacanya hingga tuntas. Dengan membaca buku ini kita dapat mengetahui kesamaan yang mengejutkan antara Yesus dan Muhammad sehingga dari sini antara umat islam dan Kristen dapat terjalin persaudaraan.
Untuk dapat membaca (atau juga men-download) buku ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!
by: adrian

Rabu, 05 Desember 2018

SEPUTAR LITURGI SABDA

Dalam perayaan ekaristi atau ibadat sabda, setelah upacara pembukaan disusul dengan liturgi sabda. Bagian akhir dari upacara pembukaan adalah Doa Pembuka, sedangkan bagian pertama dari liturgi sabda adalah Bacaan Pertama. Untuk misa harian, ada dua bacaan (bacaan pertama dan Injil), sedangkan misa hari Minggu dan hari raya ada 3 bacaan (bacaan pertama, kedua dan Injil). Setelah bacaan pertama ada Mazmur Tanggapan (MT). Dalam misa harian sesudah MT langsung diikuti dengan Bait Pengantar Injil lalu Bacaan Injil; sementara dalam misa hari Minggu atau hari raya, sesudah MT ada Bacaan Kedua lalu Bait Pengantar Injil dan Bacaan Injil. Setelah Bacaan Injil ada Homili, lalu diikuti Credo atau Aku Percaya. Liturgi Sabda ditutup dengan Doa Umat. Semua kegiatan ini berlangsung di mimbar (PUMR no. 309). Untuk misa harian, dua bagian terakhir sering ditiadakan.
Misa Harian
Misa Hari Minggu/Hari Raya
1.    Bacaan Pertama
2.    Mazmur Tanggapan
3.    Bait Pengantar Injil
4.    Bacaan Injil
5.    Homili

1.    Bacaan Pertama
2.    Mazmur Tanggapan
3.    Bacaan Kedua
4.    Bait Pengantar Injil
5.    Bacaan Injil
6.    Homili
7.    Aku Percaya (credo)
8.    Doa Umat
Lektor membacakan bacaan pertama dan kedua dengan suara nyaring, dengan jelas dan penuh penghayatan (OLM no. 14). PUMR meminta agar sesudah bacaan (baik pertama maupun kedua) diadakan saat hening sejenak agar umat dapat merenungkan apa yang mereka dengar (no. 56, 128, 130; bdk. OLM no. 28). Bagaimana lektor memulai tugasnya? Ordo Lectionum Missae mengatakan, “Selalu hendaknya dikatakan: Pembacaan dari ... atau Pembacaan dari surat...” (no. 121.1). Setelah bacaan pertama disusul dengan mazmur tanggapan. PUMR menganjurkan supaya mazmur tanggapan ini dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan umat (no. 61, bdk. OLM no. 20). Jika tidak dilagukan, mazmur tanggapan hendaknya didaraskan (no. 61).

KETIKA KEBENARAN MELAWAN KEBIASAAN


Suatu pola hidup atau sikap perilaku yang dihayati secara rutin bertahun-tahun akan menjadi suatu kebiasaan. Baik diri sendiri maupun orang lain sudah terbiasa dengan pola, gaya atau sikap hidup tersebut. Dan tak jarang kebiasaan itu menciptakan kenyamanan. Ketika  orang sudah nyaman dengan kebiasaan, maka perubahan akan sulit terjadi. Inilah yang dikenal dengan istilah stagnan. Maka, sekalipun ada sesuatu yang tidak benar dalam kebiasaan itu, tetap saja orang tidak mau berubah.
Tulisan “Bertahan demi Kebiasaan” merupakan sebuah refleksi bagus soal pertentangan antara kebenaran versus kebiasaan. Penulis mengungkapkan refleksinya dalam bentuk cerita fiktif sehingga sangat menarik untuk dibaca. Dalam cerita tersebut ditampilkan sosok Ibu Yulia yang menghadapi orang-orang yang sudah bertahan dalam kebiasaan. Memang penulis tidak memberikan penilaian secara tegas mana yang baik dan benar. Semuanya diserahkan kepada penilaian para pembaca.
Tentang melawan kebiasaan ini, sangat menarik juga untuk membaca tulisan di blog ini: Paus Fransiskus, Manusia yang Tak Mau Terikat Kebiasaan. Sepertinya tulisan tentang Paus Fransiskus ini dapat menjadi penunjang refleksi orang dalam membaca tulisan “Bertahan demi Kebiasaan”. Lebih lanjut mengenao tulisan ini, silahkan klik dan baca di sini. Selamat membaca!