Kamis, 15 Juni 2017

Acara Bebas Pesta HUT Paroki Koba



Paroki St. Fransiskus Xaverius Koba berkesempatan merayakan ulangtahunnya yang ke-15. Masih relatif muda. Namun, meski masih terbilang usia muda, tantangan pastoralnya lumayan besar. Ibarat pepatah “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, seberat apapun masalah dan persoalannya, jika ditangani bersama, maka akan terasa ringan. Untuk itu, umat harus mewujudkan visi keuskupan, yang adalah juga visi paroki, yaitu menjadi Gereja Partisipatif.
Ulangtahun ke-15 ini menjadi saat penting untuk merefleksi perjalanan pastoral. Apakah seusia itu partisipasi umat dalam hidup menggereja sudah tumbuh? Apakah semangat cinta kasih, solidaritas dan damai sudah bersemi dalam sanubari umat. Apakah pastoral berdasarkan kebutuhan umat atau memuaskan selera tenaga pastoral. Masih banyak hal yang perlu direfleksikan, termasuk persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan umat.
Pesta ulangtahun bisa juga menjadi momen untuk sejenak meninggalkan beban. Saatnya untuk bersuka cita. Maka, bertemankan irama musik yang menggelegar, umat tumpah ruah pada lantai dansa. Tua muda, pria dan wanita bersuka cita bergoyang ria.

Selasa, 13 Juni 2017

PAUS FRANSISKUS: TUHAN BUKAN PANGLIMA PERANG YANG HAUS KEMENANGAN

Jika sulit menemukan Tuhan di dunia ini, itu disebabkan karena Dia memilih untuk bersekutu dengan yang lemah, yang ditolak, dan di tempat yang menjijikkan bagi kebanyakan orang, ungkap Paus Fransiskus. “Tuhan tidak suka dicintai sama seperti seorang panglima perang yang memaksa orang untuk meraih kemenangan, melemparkan mereka ke kolam darah para musuh,” kata Paus Fransiskus dalam audensi di Basilika St. Petrus pada 24 Mei 2017.
Audensi itu dimulai segera setelah Paus Fransiskus bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Melania Trump di Vatikan. “Tuhan kita seperti lampu yang menyala suram di cuaca dingin dan berangin, dan sama seperti kehadiran-Nya yang tidak diduga, Dia memilih tinggal di tempat yang dianggap hina oleh semua orang,” tegas Paus Fransiskus kepada kerumunan massa di basilika.
“Yesus berjalan bersama mereka yang dilecehkan, yang berjalan dengan kepala tertunduk lesu, sehingga Ia bisa memberikan mereka harapan baru,” kata Paus Fransiskus. Bagi yang sering membaca Kitab Suci, mereka tidak akan menemukan kisah tentang kepahlawanan yang mudah, kampanye kemenangan yang luar biasa. Harapan yang sesungguhnya tidak didapatkan dengan mudah, selalu didapatkan melalui kekalahan.
Paus Fransiskus juga menambahkan bahwa harapan yang dirasakan oleh mereka yang tidak pernah mengalami penderitaan barangkali bukan harapan sama sekali. Gereja perlu seperti Yesus, tidak tinggal di dalam benteng yang megah, tapi di tempat-tempat dimana semuanya hidup dan bergerak, seperti di jalanan.
“Di situlah [Gereja] bertemu dengan orang-orang, dengan harapan dan kekecewaan mereka, mendengar dengan penuh kesabaran akan apa yang muncul dari kesalahan dan hati nurani mereka, dan memberikan sabda yang menghidupkan dan menjadi saksi cinta Tuhan,” papar Paus Fransiskus. Demikianlah cara untuk menghidupkan kembali orang-orang dengan harapan sesungguhnya.
sumber: UCAN Indonesia

Sabtu, 10 Juni 2017

KETIKA IMAN DIJUAL DEMI LEMBARAN RUPIAH

Tulisan ini jauh dari niat untuk menjelek-jelekkan agama tertentu. Ini hanyalah ungkapan keprihatinan pada suatu peristiwa. Dari keprihatinan ini lahirlah sebuah refleksi. Refleksi adalah ibarat bercermin. Siapa saja bisa bercermin pada kaca yang sama, karena yang dilihat adalah diri sendiri.
Berawal dari Cerita
Minggu, 19 Maret 2017, pukul 17.45 WIB. Baru beberapa detik meninggalkan rumah umat menuju mobil, yang diparkir di pinggir jalan depan rumah, saya kembali dipanggil. Kebetulan ada seorang ibu, tetangga depan rumah, datang. Setelah tiba di hadapan mereka, mulailah mereka bercerita. Ada kemarahan, kejengkelan dan juga kecemasan dalam cerita mereka.
Inti dari cerita mereka adalah: tentang satu keluarga yang belum lama ini masuk islam. Isterinya orang Maumere dan suaminya dari Kupang. Dua-duanya awalnya katolik. Mereka menikah sekitar bulan Oktober lalu, diberkati oleh pastor paroki. Namun kini mereka sekeluarga (dua anak) sudah masuk islam. Karena menjadi mualaf, mereka selalu mendapat uang (entah dari mana dan dari siapa). Kepada salah satu ibu, yang bercerita itu, dikatakan oleh isteri mualaf itu, bahwa enak jadi islam karena dapat duit gratis.
Mendengar cerita tersebut, saya langsung teringat akan rumor tentang dana mualaf dari Pemda Kabupaten Bangka Tengah. Dana mualaf adalah dana yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang memutuskan menjadi islam. Konon katanya, setelah selesai masa kampanye pilkada lalu, di akhir Januari, Bupati Bangka Tengah, yang adalah juga kandidat Gubernur Babel waktu itu, akhirnya mengesahkan dana mualaf itu. Artinya, dana mualaf itu memang ada. Cerita dua ibu di atas seakan membenarkan keberadaan dana mualaf itu.