Senin, 21 Oktober 2013

(Inspirasi Hidup) Buah Kebaikan

Segelas susu
Hari nampak begitu terik. Nampak seorang bocah kecil sedang berjalan menyisir jalan di sebuah perumahan. Terdengar lirih teriakannya menjajakkan kue buatan ibunya. Rupanya si bocah kecil ini kelaparan, karena semenjak pagi belum sarapan. Ingin rasanya dia mencicip satu kue dagangan milik ibunya, namun dia tidak berani. Maka diputuskannyalah untuk meminta makan di  salah satu penduduk perumahan tersebut.

Dilangkahkan kakinya menuju rumah yang ada. Dia mengetuk pintunya. Tiba saat sang pemiliki rumah keluar, bocah kecil ini kaget dan ketakutan untuk menyampaikan niatnya meminta makan.

“Iya, ada apa bocah kecil?”

Dengan muka pucat si bocah menjawab, “Tuan, bolehkah saya meminta segelas air putih? Saya haus.”

“Oh, bisa… Siapa namamu nak?”

“Kelly tuan, Howard Kelly.”

Melihat raut muka bocah kecil tersebut si pemilik rumah tidak sekedar memberi segelas air putih. “Ah, sepertinya bocah itu tidak sekedar haus,” gumam pemilik rumah. Maka dibuatkanlah segelas air susu. Menerima pemberiaan tersebut Howard Kelly kecil nampak bingung. Namun dia tidak terlalu menghiraukannya. Diminumnya dengan segera air susu tersebut, setelah selesai dia berterimakasih kemudian berpamitan.

***
20 tahun berlalu, si pemilik rumah pensiun dari pekerjaannya. Tetapi di masa tuanya tersebut dia harus memikul beban hutang yang besar. Karena tidak kuat membayar, akhirnya rumahnya disita. Hal ini semakin diperburuk dengan kondisi keluarganya yang carut marut. Hingga akhirnya si pemilik rumah ini tidak sadarkan diri dan harus masuk rumah sakit. Ternyata si pemilik rumah ini tadi harus menjalani operasi besar. Dan ketika sadar, begitu takutnya dia saat ada seorang suster masuk ke dalam kamarnya membawa map besar. Dengan tangan gemetaran dia membuka map besar tersebut, namun dia hanya menemukan secarik kertas bertuliskan,

“Terbayar lunas oleh segelas air susu,

ttd


Howard Kelly”


sumber:  http://insancoach.wordpress.com/category/kisah-inspiratif/  (21 Juni 2012, jam 22: 30)

Renungan Hari Senin Biasa XXIX-C

Renungan Hari Senin Biasa XXIX, Thn C/I
Bac I   : Rom 4: 20 – 25;  Injil      : Luk 12: 13 – 21

Dalam Injil hari ini Yesus mau mengajarkan tentang sikap terhadap kekayaan. Yesus menghendaki agar kita mempunyai sikap lepas bebas terhadap kekayaan. Sekalipun kita memiliki banyak kekayaan, hendaklah hidup kita tidak tergantung pada kekayaan itu (ay. 15). Karena itu, haruslah dihindari sikap tamak atau serakah. Lebih baik kita memiliki sikap berserah diri atau bergantung kepada Tuhan.

Sikap inilah yang dimiliki Abraham, sebagaimana disampaikan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus melihat bahwa Abraham sangat bergantung pada Allah. Abraham yakin “bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” Karena itulah, ketika Allah meminta putera tunggalnya untuk diserahkan kepada Allah, Abraham mengikuti perintah Allah itu.

Manusia dewasa ini sudah dirasuki oleh materialisme sehingga menyebabkan ketergantungan dalam hidup manusia. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersikap lepas bebas dari kekayaan itu. Tuhan menghendaki agar kita tidak dikendalikan oleh nafsu kekayaan sehingga kita lupa akan Tuhan. Bukan berarti kita lantas anti kepada benda materi. Dengan memiliki sikap lepas bebas, kita dapat menggunakan kekayaan itu untuk kemuliaan Allah.


by: adrian

Minggu, 20 Oktober 2013

Menghadirkan Wajah Kristus yang Baru

Hari ini adalah peringatan Hari Misi sedunia ke-87. Pada hari misi ini umat kristiani diajak untuk mengenang jasa para misionaris, baik dulu maupun sekarang. Mereka telah meninggalkan kampung halamannya untuk pergi ke tempat yang jauh demi mewartakan Kristus. Selain itu, pada hari ini juga umat kembali disadarkan akan tugas perutusannya sebagai “misionaris” di tengah-tengah kehidupannya.

Setiap umat katolik, yang karena sakramen baptis yang diterimanya, terpanggil untuk bermisi, menghadirkan Kristus di tengah kehidupan (Ad Gentes, 37; Redemptoris Missio, 2). Paus Emeritus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa hingga kini masih ada orang yang belum mendengarkan kabar gembira keselamatan Kristus. Hal ini kembali diulang oleh Paus Fransiskus dalam pesannya di Hari Minggu Misi sedunia yang ke-87 ini. Oleh karena itulah, tugas kita untuk mewartakannya.

Akan tetapi ada satu hal yang perlu dicermati berkaitan peringatan hari misi ini. Dulu, sumber misi adalah Eropa. Dari sana iman akan Kristus menyebar. Asia, Amerika, Afrika dan Australia adalah lahan misi. Indonesia, yang berada di kawasan Asia, termasuk daerah misi. Kita hanya menerima pewartaan misionaris Eropa tentang Kristus. Dan akhirnya kita hanya menerima wajah Kristus yang Eropa.

Sekarang Eropa mulai sepi. Banyak umat mulai meninggalkan Gereja; dan tak sedikit orang sudah mulai melupakan wajah Kristus yang dulu sangat populer. Gereja Eropa, dalam istilah Paus Fransiskus, sudah menjadi Gereja Tua. Sementara di kawasan Asia, seperti Indonesia, umat masih semangat dengan iman yang mereka terima dari misionaris Eropa. Masih banyak orang yang gandrung akan wajah Kristus Eropa.

Karena itulah, tak heran bila sekarang banyak misionaris Asia, khususnya Indonesia, yang berkarya di Eropa. Dan tak sedikit juga orang Amerika menjadi misionaris di Eropa. Sekarang Eropa menjadi lahan misi. Hal ini sangat diharapkan. Bagi Paus Fransiskus, dalam pesannya di Hari Minggu Misi sedunia yang ke-87, hal ini bisa menjadi semacam jalan untuk “mengembalikan” iman dengan membawa kesegaran Gereja-gereja muda, supaya Gereja-gereja Tua menemukan kembali antusiasme dan kegembiraan dalam berbagi iman.

Namun ada satu pertanyaan yang mengganggu: wajah Kristus yang mana yang akan diwartakan misionaris Asia dan Amerika ke Eropa? Apakah mereka tetap membawa wajah Kristus Eropa kembali ke Eropa? Jika demikian, maka akan menjadi sia-sialah pewartaan itu. Mewartakan Kristus yang Eropa sama saja berarti mengembalikan “barang bekas” yang sudah tak laku lagi. Bukankah wajah Kristus yang Eropa sudah mulai ditinggalkan? Orang Eropa sudah “merasa jenuh” dengan wajah Kristus yang Eropa. Karena itu, harapan agar Gereja Tua menemukan antusiasme dalam iman menjadi sia-sia.

Gereja perlu melakukan perubahan, bukan saja dalam hal cara, media, spiritualitas, dll, melainkan juga dalam subyek pewartaan, yaitu Kristus. Subyek pewartaan bukan lagi Kristus yang Eropa, melainkan Kristus Asia atau Kristus Amerika. Yah, para misionaris Asia dan Amerika harus menampilkan wajah Kristus yang bercorak Asia dan Amerika. Ini merupakan hal yang baru bagi orang Eropa. Vatikan jangan memaksakan wajah Kristus Eropa sebagai subyek pewartaan dan melarang munculnya wajah Kristus yang baru. Vatikan harus membuka diri untuk berani menerima wajah Kristus yang berbeda dengan wajah Kristus yang sudah berabad-abad dilihatnya.
Pangkalpinang, 20 Okt 2013

by: adrian