Selasa, 19 Februari 2013

Renungan Hari Selasa Prapaskah I-C

Renungan Hari Selasa Prapaskah I, Thn C/I
Bac I : Yes 55: 10 – 11; Injil       : Mat 6: 7 – 15

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengajar para murid-Nya doa dan bagaimana berdoa yang baik. Salah satu yang mau ditekankan Yesus dalam pengajaran-Nya tentang doa dan cara berdoa ini adalah sikap batin/hati pendoa, bukan soal banyaknya kata-kata dan bukan juga soal indahnya doa yang diucapkan. Sikap batin/hati yang ditekankan Yesus adalah sikap rendah hati, tidak serakah, hidup penuh syukur dan sikap mengampuni.

Doa yang ditunjang dengan sikap hati/batin yang demikianlah yang dikehendaki Tuhan. Tuhan akan mencurahkan rahmat dan berkatnya yang telah disediakan-Nya. Rahmat dan berkat Tuhan ibarat "hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan." (Yes 55: 10).

Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita agar mengubah sikap hati/batin kita saat berdoa kepada Tuhan supaya doa kita berkenan pada-Nya. Sikap hati/batin itu haruslah sesuai dengan kehendak Allah.

by: adrian

Senin, 18 Februari 2013

(Inspirasi Hidup) Kejarlah Mimpimu!

MENGEMBANG BAKAT, MENGEJAR MIMPI
Setiap manusia pasti mempunyai mimpi atau cita-cita. Dan tentu mimpi yang dimiliki oleh setiap orang tidak hanya satu. Apakah mimpi itu terwujud atau tidak, itu persoalan lain. Yang jelas, setiap kita mempunyai mimpi. Untuk membuat mimpi itu menjadi nyata, dibutuhkan kemauan dan keberanian. Walt Disney pernah berkata, "Semua mimpi kita dapat terwujud, asalkan kita punya keberanian untuk mewujudkannya."

Semua orang diciptakan istimewa oleh Tuhan dengan bakatnya masing-masing. Bandingkanlah dengan perumpamaan talenta dari Yesus Kristus dalam Injil Matius 25: 14 – 30. Setiap orang memiliki talenta, namun ada yang mengembangkannya dan ada juga yang tidak. Hambatan untuk mengembangkan bakat atau talenta ini terkadang berasal dari pikirannya sendiri.

Zig Ziglar, motivator dunia mengategorikan orang-orang  yang tidak mengembangkan bakatnya ke dalam 4 golongan. Pertama adalah yang menyangkal dirinya memiliki bakat. "Ah, saya tidak punya bakat apa-apa," sangkalnya. Ia merasa tidak perlu berbuat sesuatu  atau berkontribusi bagi orang lain atau kehidupan umat manusia.

Orang kedua suka menunda-nunda. "Saya memang punya bakat. Tapi, tidak sekarang mengembangkannya. Mungkin besok, lusa atau nanti sajalah." Begitu alasannya.

Orang ketiga adalah yang merasa takut. "Sebetulnya saya ingin mengembangkan bakat saya. Tapi takut gagal, daripada saya ditertawakan orang, lebih baik saya diam saja, bukankah lebih aman?" Itu selalu yang dikatakannya.

Orang keempat tidak mau bertanggung jawab. Dia selalu berdalih bahwa orang lain atau keadaanlah yang salah. "Bagaimana saya dapat mengembangkan bakat saya kalau orang di sekitar saya dan keadaan tidak mendukung," katanya menyalahkan keadaan.

Tentulah Anda tidak termasuk dalam keempat tipe orang di atas. Bakat Anda terlalu sayang untuk disia-siakan, karena artinya Anda menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Menyia-nyiakan anugerah Tuhan berarti Anda tidak bertanggung jawab kepada Tuhan dan diri Anda sendiri. Tuhan telah mendesain dan menciptakan manusia dengan keistimewaannya masing-masing. Kembangkan bakatmu, kejarlah mimpimu.

dikembangkan dari email Anne Ahira
Baca juga refleksi lainnya:

Orang Kudus 18 Februari: St. Flavianus

SANTO FLAVIANUS, USKUP & MARTIR
Flavianus dikenal sebagai Patriark Konstantinopel (sekarang: Istambul) pada tahun 447. Ia memimpin Gereja selama dua tahun yang sarat dengan banyak masalah.

Suatu ketika, Chrysapius, seorang pegawai kepercayaan Kaisar Teodosius, mengajukan permohonan kepada Flavianus agar menyerahkan kepada kaisar sejumlah perhiasan dan intan berlian dari harta kekayaan Gereja. Flavianus terkejut mendengar permintaan yang aneh itu dan dengan tegas menolak memenuhinya. Sebagai gantinya ia mengirimkan satu bingkisan roti yang telah diberkati untuk menunjukkan kepada kaisar kedalaman cinta kasihnya kepada Yesus. Penolakan Flavianus ini menimbulkan pertentangan antara Flavianus dengan Chrysapius dan kaisar sendiri.

Sementara perkara ini belum tuntas, Flavianus dihadapkan lagi pada bidaah yang diajarkan Eutyches, seorang petapa. Eutyches menyangkal adanya kodrat Kristus yang ilahi sekaligus manusiawi. Flavianus bereaksi keras terhadap ajaran bidaah ini. ia segera mengundang satu sinode di Konstantinopel pada tahun 448 untuk mengekskomunikasikan Eutyches. Paus Santo Leo I mendukung Flavianus dengan mengirimkan sepucuk surat dogmatik yang berisi penjelasan tentang kodrat Kristus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, seperti diwariskan para Rasul.

Pada tahun yang sama pula, Dioscorus, Patriark Aleksandria, memimpin sebuah sinode tandingan di Efesus untuk membela Eutyches dan menghukum Flavianus. Karena Flavianus dengan keras menentang sinode gelap itu, ia diserang dan disiksa dengan kejam, lalu dibuang ke Lydia hingga kematiannya. Jenasahnya dimakamkan di Konstantinopel oleh kaisar pengganti Teodosius. Sedangkan Chrysapius dihukum mati oleh kaisar baru itu karena ia sering menyalahgunakan kuasanya untuk menindas Gereja.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun