Kamis, 16 Oktober 2014

Orang Kudus 16 Oktober: Margaretha Maria Alacoque

SANTA MARGARETHA MARIA ALACOQUE, PERAWAN
Margaretha Maria Alacoque lahir pada tanggal 22 Juli 1647 di kota Janots Burgundia, Lhautecour, Perancis. Nama ‘Maria’ yang dikenakannya adalah nama krismanya. Ayahnya, Alacoque, adalah seorang notaris. Ibunya bernama Filibertha Lamyn. Pasangan saleh ini dikaruniai tujuh orang anak, yang hampir semuanya mati dalam usia muda. Hanya Margaretha yang hidup agak lebih lama.

Margaretha berwatak tenang, manis dan saleh. Ia lebih suka akan kesunyian daripada bermain-main dan berhura-hura. Oleh karena itu ia sangat dikasihi bahkan dimanjakan oleh ibu-bapaknya. Tetapi Tuhan rupanya mempunyai suatu rencana khusus atas dirinya. Untuk memperkuat mental dan imannya dalam rangka rencana rahasia itu, Tuhan mencobai dia dengan berbagai peristiwa yang menekan batin. Ayahnya meninggal dunia, dan ibunya jatuh sakit berat. Dalam situasi demikian, nenek dan bibinya sendiri tidak bersikap ramah padanya. Namun semua perlakuan itu tidak dipedulikannya karena ia tidak mau menyakiti hati ibunya yang sedang sakit. Sementara itu kesukaannya dalam kesunyian semakin membawa dia ke dalam kebiasaan untuk berdoa lebih khusuk lagi. Besar cinta bakti dan hormatnya kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang hadir di dalam Sakramen Mahakudus. Untuk memperkuat kehidupan rohaninya ia menjalankan matiraga yang keras dan tanpa memahami benar-benar apa artinya sebuah kaul, ia selagi masih muda telah menjanjikan kemurniannya sepanjang hidup kepada Allah.

Ketika masih kecil, ia dididik oleh Suster-suster Klaris di Charolles, Perancis. Dari usia 11 – 15 tahun, ia menderita sakit reumatik yang hebat sehingga terpaksa harus terus berbaring di atas tempat tidur. Semua peristiwa yang menimpa dirinya boleh dikatakan merupakan penyelenggaraan ilahi atas dirinya, karena sesudah sembuh dari sakit, ia mengalami penampakan-penampakan Tuhan Yesus.

Dalam penampakan-penampakan itu, Yesus biasanya tampak dalam keadaan bermahkota duri atau disalibkan. Pengalamannya akan penampakan-penampakan itu seolah terus mendesak dia untuk memasuki cara hidup membiara demi bakti yang menyeluruh kepada Allah. Oleh karena itu, pada tahun 1671, ia masuk biara Visitasi di Paray le Monial. Di sini Tuhan menampakkan diri kepadanya dan menyampaikan wahyu tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus. Pada bulan Desember 1673, ia mendapat wahyu pertama berkenaan dengan penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Mulai saat itu, hatinya sendiri dipenuhi cinta ilahi Yesus. Selama 18 bulan Yesus terus-menerus menampakkan diri kepadanya untuk menjelaskan apa yang telah dikatakan-Nya pada wahyu pertama.

Inilah isi ringkas pesan Tuhan itu: “Orang harus menghormati Hati-Nya yang Mahakudus.” Bentuk Hati Yesus itu – sebagaimana tergambar jelas dalam penampakan yang dialami Suster Margaretha Maria – ialah sebuah hati manusia yang bermahkota duri, tergores luka, dengan api dan cahaya kemilau. Yesus mengatakan bahwa kendatipun Ia sungguh-sungguh mencintai manusia, tetapi manusia membalas cinta-Nya dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Secara khusus Ia mengingatkan umat akan bahaya ajaran sesat Yanssenisme yang telah berkembang luas di seluruh Perancis. Adalah tugas Margaretha untuk mengimbangi semua kelemahan dan kekurangan umat manusia. Margaretha harus seringkali menerima Komuni Kudus, teristimewa pada hari Jumat Pertama setiap bulan selama Sembilan bulan berturut-turut. Selain itu, ia harus berjaga di hadapan Sakramen Mahakudus pada setiap malam Jumat sebagai kenangan akan penderitaan-Nya di Taman Getsemani pada hari Kamis Putih.”

Pada Oktaf Hari Raya, Tubuh Kristus tahun 1675, Tuhan sekali lagi menampakkan diri kepada Margaretha untuk memberikan kepadanya wahyu Hati Kudus yang terakhir dan yang terpenting: “Ingatlah akan Hati-Ku yang begitu mencintai manusia hingga habis-habisan; bahkan menjadi lelah dan habis terbakar oleh cinta itu. Sebagai pengganti terimakasih, Aku menerima dari banyak orang hanya sikap acuh tak acuh, ketidaksopanan dan dosa sakralegi, sikap dingin dan caci maki.”

Meskipun Margaretha memberi kesaksian tentang penampakan-penampakan Tuhan padanya, rajin dan tabah dalam menghormati Hati Kudus Yesus, namun devosi khusus terhadap Hati Kudus – sebagaimana diminta langsung oleh Yesus – tidak ditanggapi serius dan tidak diakui oleh Gereja dalam kurun waktu yang cukup lama sesudah kematian Margaretha. Ia sendiri mendapat perlakuan yang kurang simpatik dari rekan-rekan susternya, karena mereka menganggap semua penampakan yang diceritakannya sebagai berita bohong belaka. Untunglah bahwa tidak semua rohaniwan bersikap demikian.

Dalam penyelenggaraan Ilahi-Nya, Tuhan mengirim Pastor Clude de la Clombiera, SJ menjadi Bapa Pengakuan untuk Suster-suster Visitasi di biara Paray-le-Monial. Dialah orang pertama yang menaruh perhatian besar kepada cerita-cerita Suster Margaretha tentang penampakan-penampakan Tuhan serta pesan-pesan-Nya itu. Beliau menunjukkan sikap simpatik dan memberi dukungan besar kepada Margaretha. Sepeninggal Suster Margaretha, Pastor Claude, melalui tulisan-tulisannya dan kotbah-kotbahnya di Inggris dan Perancis, menyebarluaskan berita penampakan-penampakan Tuhan yang dialami Suster Margaretha. Seluruh umat tertarik pada peristiwa itu. Dan sejak itu mulai digalakkan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Jam Suci di hadapan Sakramen Mahakudus sebagaimana dipesankan Tuhan kepada Margaretha. Tak lama kemudian pada tahun 1765, pesta Hati Kudus Yesus direstui oleh Paus, dan Margaretha menjadi teladannya. Margaretha Maria Alacoque meninggal dunia di biara Paray-le-Monial pada tanggal 17 Oktober 1690. Ia dinyatakan ‘santa’ pada tahun 1920.

sumber: Iman Katolik
Baca juga riwayat orang kudus 16 Oktober:
2.      St. Hedwig

Tidak ada komentar:

Posting Komentar