Minggu, 18 Mei 2014

Renungan Hari Minggu Paskah V - A

Renungan Hari Minggu Paskah V, Thn A/I
Bac I : Kis 6: 1 – 7; Bac II :            1Ptr 2: 4 – 9;
Injil       : Yoh 14: 1 – 12;

Dalam Injil hari ini Filipus meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Dari sinilah Yesus mulai mengajari para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Apa yang dikatakan Yesus bukan berasal dari diri-Nya sendiri, melainkan dari Bapa. Demikian pula pekerjaan Yesus adalah juga pekerjaan Bapa. Yesus hendak melaksanakan karya Bapa bagi umat manusia. Salah satu karya-Nya adalah membangun Kerajaan Allah. Subyek dari Kerajaan Allah adalah manusia. Jadi, dengan kata lain, Yesus (Allah Bapa) membutuhkan manusia untuk membangun Kerajaan-Nya.

Manusia sebagai bahan bangunan inilah yang disampaikan Petrus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama, Petrus mengatakan bahwa Allah, melalui mereka, hendak membangun rumah rohani. Dan dalam pembangunan itu, dibutuhkan bahan dasar, seperti membangun rumah yang membutuhkan batu. Bagi Petrus, manusia adalah batunya. Karena itu, Petrus meminta umat untuk memberi diri “dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.” (ay. 5). Sikap yang dibutuhkan di sini adalah sikap berserah diri, membiarkan diri dipakai sepenuhnya oleh Allah demi bangunan rohani itu.

Sikap berserah sebagaimana yang diharapkan dalam bacaan kedua, tidak terlihat pada diri jemaat perdana yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Dikatakan bahwa terjadi sungut-sungut di antara jemaat, salah satunya disebabkan karena terabaikannya pelayanan terhadap janda-janda. Hal ini bisa terjadi karena ada sebagian jemaat yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya sehingga mengabaikan kepentingan bersama.

Hari ini sabda Tuhan, melalui bacaan liturgi, mau menyampaikan bahwa Allah berencana membangun bangunan rohani dengan menggunakan manusia sebagai bahan dasarnya. Tuhan membutuhkan diri kita. Hal ini perlu disadari: Tuhan membutuhkan kita demi pembangunan tersebut. Sekalipun Allah Mahakuasa, Dia membutuhkan kita. Karena itu, hendaklah kita mau memberikan diri kita untuk pembentukan bangunan itu. Namun yang perlu diingat adalah agar kita mengutamakan kehendak Allah yang terjadi, karena Dia-lah arsitek bangunan itu.

by: adrian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar