Rabu, 28 Mei 2014

Bahaya TV

MATIKAN TELEVISIMU: SEBUAH TANGGAPAN
Membaca tulisan-tulisan tentang seruan untuk mematikan televisi, kita dapat menyimpulkan bahwa televisi itu tidak baik bagi kehidupan kita. Televisi yang seharusnya menjadi media informasi dan edukasi, selain hiburan, justru menjadi “candu” yang merusak moral kepribadian kita. Tulisan-tulisan tersebut benar-benar mau menyatakan bahwa televisi itu berbahaya. Oleh karena itulah mereka berseru: ”Matikan televisimu sekarang juga!!!”

Benarkah televisi itu jahat dan tidak baik? Berbahayakah ia untuk kehidupan kita? Bila kita menyimak tulisan-tulisan itu, kita akan berani mengambil satu kesimpulan tegas bahwa televisi memang berbahaya. Data dan fakta sudah ada dan terbukti serta teruji. Jadi, kita mau apa lagi? Di beberapa daerah malah ada yang berani memasang spanduk larangan menonton sinetron dan juga tv (baca KOMPAS, 8 Feb 2009).

Mau mematikan tv? Beranikah kita?

Buah Simalangkama
Mematikan televisi bukanlah pekerjaan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bila televisi itu benar-benar sudah merasuk ke dalam kehidupan kita dan menjadi kebutuhan primer bagi kita. Sungguh, jaman sekarang ini televisi tak bisa dilepaskan dari kehidupan kebanyakan manusia. Karena itu, wajar saja bila tugas itu sangat berat. Kita ibarat memakan buah simalangkama

Akan tetapi, ada satu pertanyaan masih mengusik pikiran saya: apakah televisi benar-benar jahat dan buruk?

TIDAK!!! Televisi itu, dari dirinya sendiri, sebenarnya netral. Ia tidak baik juga tidak jahat. Ia bisa membawa kebaikan, bisa juga malapetaka. Itu semua tergantung pada manusia yang menggunakannya. Man behind the guns. Manusialah yang menentukan apakah televisi itu baik atau buruk; membawa berkat atau bencana. Dan sungguh ironis bahwa manusia sendiri yang membuat televisi itu buruk dan membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sungguh amat tragis!!!

Manusia adalah kata kuncinya. Dialah penentu atas televisi, bukan sebaliknya. Dasarnya dapat kita lihat dari kisah penciptaan (bdk. Kej 1: 26 – 28). Manusia diciptakan untuk menjadi tuan atas ciptaan Allah dan (sudah pasti) atas ciptaan manusia sendiri. Jadi, terhadap televisi manusia sudah seharusnya dan sepantasnya menjadi pengendali televisi karena dia adalah ”tuan” atas televisi. Semestinya televisi yang melayani manusia bukan manusia yang melayani televisi.

Gnoti se auton, bunyi sebuah tulisan di sebuah gua di daerah Yunani yang berarti jadilah dirimu sendiri. Kalimat ini mau mengajak manusia untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri agar bisa menjadi dirinya sendiri. Manusia terlebih dahulu harus mampu mengendalikan dirinya sendiri baru kemudian mengendalikan orang lain dan/atau sesuatu di luar dirinya.

Dalam relasinya dengan televisi, ajaran di atas bisa diterapkan. Memang kita diajak untuk bisa mengendalikan televisi. Nah, bila kita sudah bisa mengendalikan diri kita sendiri, maka otomatis kita bisa mengendalikan televisi. Kitalah yang menentukan kapan mau menonton televisi, acara apa saja yang mau ditonton, kapan kita berhenti, dll. Jadi, tidak akan terjadi kita berada di depan televisi mulai dari pagi hingga larut malam, bahkan sampai pagi lagi. Atau malah terkadang kita menonton televisi sampai televisi yang menonton diri kita (karena kita tidur di depan televisi yang masih menyala).

Bagaimana kita bisa mengendalikan diri? Pertama-tama adalah dengan mengikuti aturan-aturan yang ada, baik di asrama, sekolah ataupun di jalanan. Hidup kita tentu tak lepas dari peraturan. Nah, menjalani aturan dengan disiplin merupakan salah satu sarana latihan untuk mengendalikan diri. Contoh: ada aturan bangun tidur jam 04.30. Saat dibangunkan pada jam itu, ada keinginan kita untuk tetap terus di tempat tidur. Nah, kalau kita mau bisa mengendalikan diri, maka kekanglah keinginan untuk terus tidur dan segeralah bangun. Demikian pula dengan aturan lainnya, seperti jam belajar, saatnya berhenti olah raga dan waktunya mandi, dll.

Cara kedua adalah menumbuhkan kesadaran. Kesadaran merupakan aktivitas akal (ratio) dan hati. Untuk bisa menumbuhkan kesadaran ini, yang harus dilakukan adalah dengan cara ”mematikan keinginan” (bdk. Titus 2: 12). Sebab, seperti kata Yakobus dalam suratnya, ”Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yak 1: 14 – 15). Menumbuhkan kesadaran merupakan proses yang cukup panjang. Dan lagi-lagi mengikuti peraturan adalah langkah awal untuk itu, asal menjalani peraturan bukan karena aturan, rutinitas dan takut dimarah serta ingin dipuji, melainkan karena nilai.

Kenapa Saya Tidak Suka Televisi: Sebuah Sharing
Ketika saya masih SD saya sama sekali tak pernah menikmati televisi. Memang di rumah ada televisi, namun jarang sekali saya menontonnya. Paling cuma film Si Unyil, kartun seperti Tom & Jerry, Donal Bebek, Scobi Doo, dll. Dunia saya waktu itu adalah dunia bermain. Segala permainan anak-anak kami mainkan. Dan itu semua dilakukan di luar rumah, bahkan sampai jauh dari rumah. Mungkin sudah sifat saya suka berpetualang. Tak ada rasa takut.

Namun ada hal positif yang muncul saat itu, yaitu adanya kreativitas, persaudaraan dan inovasi. Meskipun kami anak-anak, semangat pertemanan dan kekompakan mendorong untuk berkreativitas pada hal-hal yang baru.

Waktu saya SMP dan Seminari Menengah, saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan televisi. Dunia saya adalah belajar dan bekerja. Selingan dari itu, sekedar hiburan adalah mendengarkan radio, khususnya siaran BBC London dan ABC Australia. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menonton televisi, kecuali film. Maka, satu-satunya hiburan waktu ini adalah nonton film dengan alat slide dan sesekali video. Mungkin 2 x setahun.

Nah, saat saya di Seminari Tinggi-lah minat nonton televisi itu muncul. Setiap ada kesempatan nonton, pasti saya sudah ada di depan televisi. Malah kalau hari libur acara nonton itu bisa sampai puas. Akan tetapi, sekalipun saya menonton sampai larut malam (apalagi acara sepak bola), tetap peraturan seminari tidak terlanggarkan. Dan satu hal lain lagi adalah bahwa acara lama (membaca dan mendengar siaran radio) tidak berhenti, meski sudah ada televisi.

Akan tetapi, setelah saya memasuki tahun terakhir di STFT (PS-2), saya mulai mendapat pencerahan. Suatu ketika saya pergi kerasulan di suatu tempat terpencil. Listrik tak ada, apalagi televisi. Waktu itu saya sedang mengikuti acara serial film di salah satu pemancar televisi. Begitu gelisahnya hati saya. Dari sinilah saya akhirnya sadar, kalau saya sudah tergantung pada televisi. Di sini saya disadarkan bahwa masih ada tepat yang belum punya televisi. Karena itu, saya mulai mengurangi ketergantungan pada televisi. Cara yang saya tempuh adalah dengan disiplin pada peraturan seminari. Karena, bagi saya, dengan mengikuti aturan hidup, saya sudah berusaha untuk mengalahkan keinginan.

Akhirnya berhasil. Ketika saya bertugas di beberapa tempat terpencil di keuskupan saya, yang semuanya belum ada listrik dan televisi, saya bisa mencurahkan perhatian saya kepada umat. Sama sekali saya tidak berpikir soal televisi. Saya bisa berkreasi dalam tugas kerasulan. Dan itu benar-benar membahagiakan.

Sampai sekarang pun saya bisa hidup tanpa televisi. Sama sekali saya tidak punya niat untuk menonton, kecuali nonton video. Tapi saya benar-benar tidak tergantung. Saya bisa ”mematikan” televisi. Apalagi dengan tidak menonton televisi berarti saya turut serta dalam proses penyelamatan planet ini dari bahaya pemanasan global serta penghematan.

Kalau tidak nonton televisi, lalu mau buat apa? Dengan apa menghibur diri? Ada banyak jalan menuju Roma. Televisi bukanlah satu-satunya sarana hiburan. Bagi orang yang tidak biasa berkreatif, tentulah menganggap televisi satu-satunya sarana hiburan. Sehingga dia akan berusaha agar di mana ia berada selalu ada televisi dan pematian televisi merupakan ”kiamat” kecil baginya. Dan untuk menggantikan perannya, saya mengembangkan budaya membaca, menulis dan mendengarkan.

Saya memang tidak suka televisi, tapi bukan berarti saya anti dengannya. Terkadang saya menonton televisi. Namun yang jelas adalah sayalah yang menentukan diri saya sendiri, bukan televisi yang menentukan saya. Ada beberapa tips baik untuk menonton dan tips ini sudah saya terapkan dalam hidup saya:
  1. pertama-tama, tentukan dahulu untuk apa kita menonton dan mau menonton apa. Ini penting agar jelas tujuannya, sehingga bila tujuan sudah tercapai, kita bisa tinggalkan televisi. Waktu saya masih di Bangka, setiap jam tanyang Naruto saya selalu berada di depan televisi; selebihnya di kamar. Sesudah itu, mulai jam 21.00 saya di depan televisi untuk menonton Bioskop TransTV.
  2. Jangan suka pindah-pindah channel. Bila kita buka dan sedang nonton acara di salah satu statiun tv, berusahalah untuk tidak menggantikan channel saat jedah iklan. Nikmatilah iklan itu sebagai huburan. Ini untuk melatih kesetiaan dan mengendalikan keinginan diri. Maka, kalau saya sedang nonton film di TransTv, maka sampai film itu selesai, saya tidak akan pernah ganti channel.
  3. cobalah untuk mencari informasi film yang akan ditayangkan.
  4. berusahalah untuk tetap mengikuti suatu acara, misalnya film. Pakailah juga otakmu untuk berpikir, menganalisa dan menilai, bukan sekedar menikmati saja. Untuk itu sangat dibutuhkan konsentrasi saat menonton dan konsentrasi identik dengan diam dan tenang serta perhatian.
  5. yakinkan dirimu bahwa iklan itu menipu agar kamu tidak terpancing dan tergoda.
Perlukah kita mematikan televisi kita? Tak perlu diragukan lagi: matikanlah televisimu sekarang juga. Jangan tunda sampai Anda menjadi budak televisi. Toh, apa yang dianjurkan dalam tulisan-tulisan itu bukanlah berarti mematikan total. Intinya adalah kita yang menentukan dan memegang kendali apakah menonton atau tidak, apa saja yang mau ditonton, sekaligus diri kita menjadi filter dalam menerima pengaruh negatif dari televisi. Persoalannya: apakah kita bisa dan mau?
Waena, 4 Feb 2009
by: Adrian



Tidak ada komentar:

Posting Komentar