Rabu, 17 Oktober 2012

Anak Belum Pantas Main Facebook

ANAK BELUM PANTAS BERMAIN FACEBOOK
Dewasa ini, melihat anak kecil memegang HP bukanlah suatu hal yang aneh. Bukan cuma anak SD saja, melainkan juga anak TK pun sudah terbiasa memengang dan mengutak-atik HP. Malah ada anak yang mempunyai HP jauh lebih canggih dari orang tuanya. Memang awalnya orang tua memberikan HP kepada anaknya agar mudah berkomunikasi dan memudahkan orang tua “mengontrol” anaknya.

Namun sayang orang tua tidak memperhatikan efek lanjut dengan adanya HP itu. Dengan HP itulah anak bisa melakukan apa saja yang dia sukai tanpa kontrol dari orang tua. Salah satunya adalah mengakses facebook.

Apakah facebook itu buruk? Bagaimana dampaknya bagi anak-anak? Berikut ini akan disajikan tulisan yang mengulas soal facebook dan anak-anak. Tulisan ini diambil dari beberapa tulisan yang ada di kompas.com. Tujuan tulisan ini agar para orang tua dapat menyadari akan dampak dari facebook itu dan dapat mengambil sikap demi tumbuh kembangnya anak-anaknya.

Anak Harus Berhenti Main Facebook
Demam jejaring sosial Facebook saat ini memang bukan hanya melanda orang dewasa. Tak jarang kita jumpai, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pun sudah sangat paham menggunakan situs pertemanan di dunia maya tersebut.

Melihat fenomena ini, psikolog anak Dra Rose Mini, MSi mengaku prihatin. Ia  menilai, facebook sebenarnya bukanlah untuk konsumsi anak-anak. Pasalnya, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang tidak memperbolehkan seorang anak mengakses situs yang sangat populer itu.

"Facebook bukan konsumsi anak SD. Dalam ketentuan, facebook harus 17 tahun ke atas," tegas wanita yang akrab dipanggil Bunda Romi ini saat ditemui dalam seminar "Aku Anak Sehat" di Jakarta, Kamis, (5/5/2011).

Dia juga menyayangkan, banyak orang tua yang justru membuat akun facebook untuk anak mereka. "Saya heran kenapa orang tua mengizinkan. Sebenarnya nggak pake facebook bisa hidup kok," lanjutnya.

Menurut Rose, seorang anak di usianya yang masih sangat belia seharusnya mendapatkan pengajaran dan pengalaman bagaimana cara berteman dalam bentuk nyata, bukan malah berteman dalam dunia maya.

"Si anak harus belajar bagaimana bisa mengambil hati temannya, berinteraksi dengan teman, itu harus dipelajari dalam bentuk nyata, nggak bisa dalam dunia maya," tambahnya.

Bunda Romi mengungkapkan, salah satu alasan mengapa dirinya melarang anak-anak menggunakan facebook adalah karena kondisi jiwa anak yang belum stabil, terutama dalam mengontrol statement (pernyataan). 

Dalam facebook, setiap ungkapan, baik berupa status maupun pesan, dapat disampaikan melalui teks ataupun gambar secara bebas sehingga rentan menimbulkan kesalahpahaman. Komentar ataupun pernyataan sangat berpotensi memicu konflik dan memengaruhi kejiwaan anak.

"Ada beberapa kasus, ini anak mencela temannya, si anak yang dicela sakit hati, lalu mengadu ke orang tuanya. Akhirnya perang di facebook. Tapi bukan anak lagi yang perang, tapi orang tua sama orang tua," jelas wanita yang juga berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas negeri di Jakarta tersebut.

Lebih lanjut, Bunda Romi mengingatkan, apa yang dikonsumsi untuk khalayak umum atau publik harus ada batasannya. Oleh sebab itu, dia mengimbau anak-anak yang belum menginjak usia 17 tahun tidak menggunakan fasilitas jejaring sosial.

Facebook dan Narsistik
Dalam ilmu psikologi, mereka yang memiliki kepribadian narsistik merupakan orang yang jauh lebih mencintai dirinya daripada orang lain. Akibatnya seringkali mereka sulit berempati kepada orang lain.

Kecuali narsis, orang yang tidak mampu mencintai juga egois, mau enak sendiri dan kurang percaya diri. Mereka juga sulit terikat dalam komitmen jangka panjang dengan satu pasangan. Makanya orang tipe ini sulit mengikatkan diri pada perkawinan monogami.

Menurut para ahli dari American Psychiatric Association, pada umumnya orang narsistik juga memiliki gangguan kepribadian lainnya, seperti histrionic personality disorder yang sangat ekspresif dalam menunjukkan emosinya.

Meski sebagai awam sulit mengenali ciri-ciri orang yang narsistik, namun sebuah penelitian yang dilakukan para ahli dari University Georgia, Amerika, menyebutkan bahwa laman profil di situs jejaring sosial facebook bisa mengungkap kepribadian narsis seseorang.

Dalam studi yang mereka lakukan terhadap 130 pengguna facebook ditemukan jumlah teman dan postingan dinding (wall post) berkaitan erat dengan tingkat kenarsisan seseorang. Orang yang narsis biasanya memiliki jumlah teman yang banyak namun sebenarnya tidak punya relasi yang dalam dengan orang-orang tersebut.

"Dalam kehidupan nyata juga demikian, mereka punya banyak teman tapi tidak ada yang dekat secara personal. Yang penting untuk mereka adalah kuantitas, bukan kualitas," kata Laura Buffardi, Ph.D, ketua peneliti yang risetnya dipublikasikan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin.

Facebook juga dipakai sebagai sarana untuk mempromosikan diri orang yang narsis. Karena itu mereka suka memasang foto profil yang menarik dan berbeda untuk membuat orang lain terpesona.

"Orang yang narsistik mungkin terlihat sebagai orang yang menarik hati namun sebenarnya mereka merasa diri lebih hebat. Mereka juga suka menggunakan orang lain untuk keuntungannya sendiri, dalam jangka panjang mereka akan melukai orang lain dan dirinya sendiri," kata W.Keith Campbell, salah seorang peneliti.

Meski begitu, Campbell mengatakan bukan berarti penggemar facebook adalah orang yang narsis. "Orang yang narsistik menggunakan facebook seperti mereka menggunakan relasi sosial lainnya, hanya untuk mempromosikan dirinya," katanya.

Apakah Salah Berlaku Narsis?
Narsis di jejaring sosial facebook dengan memasang foto-foto pribadi dan keluarga sah-sah saja. Hanya saja, jangan sampai hal itu mengundang polemik politik, apalagi seputar agen rahasia.

Foto liburan dan keterangan rinci mengenai Kepala Dinas Intelijen Inggris, MI6, yang baru telah dihapuskan dari halaman jejaring sosial facebook setelah sebuah surat kabar memberi tahu pemerintah mengenai hal itu. Foto di facebook itu dipublikasikan di harian The Mail, Minggu (5/7), dan memperlihatkan bos baru MI6, John Sawers, mengenakan topi sinterklas sedang bermain Frisbee bersama anak-anaknya di sebuah pantai.

Surat kabar tersebut mengatakan, informasi itu ditampilkan istri Sawers di facebook. Tampilan itu lengkap dengan foto-foto liburan, nama ketiga anak mereka, dan lokasi rumah mereka di London.

Akhirnya, halaman Shelley Sawers dihapuskan dari facebook walaupun masih ada halaman yang memperlihatkan foto istri petinggi intelijen itu. Beberapa politikus mengatakan, hal itu merupakan kecerobohan, sedangkan yang lainnya mengatakan hal itu tidak mengungkapkan apa pun kecuali masalah rumah tangga sang bos intelijen.

”Mengenakan pakaian renang merek Speedo bukanlah rahasia negara. Cobalah dewasa sedikit,” ujar Menteri Luar Negeri David Miliband.

Akan tetapi, anggota dari kubu konservatif, Patrick Mercer, yang mengepalai subkomite antiterorisme, mengatakan, hal tersebut membuka peluang bagi Sawers menerima kritik dan pemerasan. Juru bicara Liberal Demokrat, Edward Davy, mengatakan akan mengadakan dengar pendapat seputar ”kebocoran” tersebut.

”Biasanya, saya selalu menginginkan keterbukaan yang lebih besar dari para pejabat pemerintah, tetapi keterbukaan semacam ini sungguh merupakan suatu kecerobohan,” ujarnya kepada The Mail menanggapi foto keluarga itu. John Sawers baru bulan lalu diangkat menjadi kepala baru MI6.

Dia adalah bekas mata-mata, diplomat, dan penasihat hubungan luar negeri mantan Perdana Menteri Tony Blair. Hingga tahun 1990-an, Pemerintah Inggris merahasiakan identitas pemimpin agen rahasia dan hanya mengidentifikasinya sebagai ”C”.

Hingga tahun 1992, pemerintah masih juga enggan mengonfirmasikan bahwa organisasi itu eksis. Perlahan, pemerintah mulai terbuka mengenai organisasi intelijen MI6 dan organisasi intelijen domestik MI5, hingga akhirnya keluarga pemimpin intelijen terbuka identitasnya melalui facebook. Facebook memang dahsyat.

Facebook dan Nikah Dini
Facebook atau situs jejaring sosial diduga memberikan dampak terhadap angka pernikahan dini di wilayah pedesaan seperti di Gunung Kidul. Ini terbukti saat Pengadilan Agama Wonosari menyatakan adanya lonjakan data permohonan nikah dini pada tahun 2010, di mana pada tahun tersebut facebook mulai merambah masyarakat pedesaan.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Wonosari, Siti Haryanti, membenarkan bahwa meningkatnya permohonan pernikahan dini tersebut disebabkan oleh facebook. Menurutnya, situs yang yang saat ini mudah diakses tersebut turut menjadi pemicu kehamilan di luar nikah.

"Setiap ada permohonan nikah, khususnya yang masih di bawah umur, selalu saya tanyakan, apakah awalnya kenal melalui facebook, dan ternyata benar dan akhirnya berlanjut," kata Siti Haryanti di ruang kerjanya, Kamis (31/3/2011).

Lebih lanjut dikatakan, belakangan dispensasi nikah kerap kali diajukan anak usia 14 hingga 16 tahun karena faktor keterpaksaan. Dari data yang ada, tercatat sembilan pasangan mengajukan dispensasi nikah dini pada bulan Januari 2011, dan bulan Februari mencapai 16 pasangan.

Data tahunan di Pengadilan Agama Wonosari mencatat, pada tahun 2008 terdapat 19 permohonan untuk pernikahan dini, tahun 2009 ada 60 permohonan, dan pada tahun 2010 tercatat 112 permohonan, yang rata-rata berusia 14 sampai 16 tahun, yang rata-rata hamil di luar nikah.

"Kami telah mengajukan kepada Pemkab Gunung Kidul terkait meningkatnya angka pernikahan dini tersebut agar segera menyikapi hal ini dengan sosialisasi dan pencegahan pernikahan dini. Bagaimanapun, pernikahan dini merupakan salah satu faktor terjadinya perceraian," ujar Siti Haryanti.

Facebook Penyebab Depresi?
Menggunakan situs jejaring sosial seperti facebook kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat modern. Facebook  diyakini telah memberi pengaruh besar pada banyak aspek kehidupan, baik yang sifatnya positif maupun negatif.

Penggunaan jejaring sosial di kalangan remaja dan anak-anak pun dinilai sangat membantu. Tetapi di balik manfaatnya, para dokter anak di Amerika Serikat memperingatkan akan kemungkinan dampak buruknya. 

Sekelompok dokter yang tergabung dalam American Academy of Pediatrics memperingatkan para orang tua akan munculnya risiko depresi akibat penggunaan situs jejaring sosial ini. Mereka menyebut gejala "Facebook Depression" dapat mengancam para remaja akibat terobsesi dengan situs online tersebut.

Sebelumnya, para pakar menyatakan ketidaksetujuannya kalau facebook berkaitan langsung dengan depresi pada beberapa anak. Mereka menilai, untuk menyimpulkan hubungan antara situs pertemanan dengan gejala depresi pada anak tidaklah mudah. Demikian pula untuk membedakan kondisi psikis yang berhubungan dengan penggunaan situs ini.

Tetapi Gwenn O'Keeffe, dokter anak di Boston yang menulis panduan penggunaan jejaring sosial untuk American Academy of Paediatrics menyatakan, terdapat aspek unik dari facebook yang dapat menimbulkan kesulitan bagi anak-anak dengan rasa percaya diri rendah.

Sebagai media untuk ajang bereksperesi di mana seseorang dapat berbagi isi hati, meng-update status, atau memasang foto-foto pribadi saat bersenang-senang, laman facebook menurut  O'Keeffe justru dapat membuat sebagian anak merasa lebih buruk. Mereka yang percaya dirinya rendah ini berpikir kalau mereka tidak bernasib sama.

"Ini bisa lebih menyakitkan ketimbang duduk sendiri di keramaian saat makan siang di sekolah atau peristiwa hidup nyata lainnya yang bisa membuat anak-anak terpukul," terang O'Keeffe.

Ia menilai, facebook memberikan pandangan yang sempit dari apa yang terjadi sesungguhnya, sebab di online tidak ada cara untuk melihat ekspresi wajah atau membaca bahasa tubuh untuk memberikan konteks.

Dengan panduan yang diberikan American Academy of Paediatrics, kata O'Keefe para dokter diharapkan menyampaikan pesan kepada para orang tua agar mereka mau mengawasi anak-anaknya. Orang tua dapat menyampaikan kepada anak-anaknya tentang cara menggunakan internet yang baik dan mewaspadai depresi atau risiko penggunaan online lainnya seperti cyberbullying dan sexting.

Penutup
Dari uraian di atas sangat jelas bahwa tidaklah baik memperkenalkan facebook kepada anak yang masih kecil. Mereka hendaknya diarahkan untuk membangun relasi dalam dunia nyata, bermain bersama dan bergerak bersama. Facebook hanya akan membuat anak membangun dunianya sendiri, yang ujung-ujungnya menciptakan generasi a-sosial.

editor: adrian
Sumber: Bramirus Mikail , Asep Candra , Lusia Kus Anna, A. Wisnubrata dlm kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar