Jumat, 10 Maret 2017

SEMALAM DI KM BUKIT SIGUNTANG: Sebuah Cerpen

Ada kesan bahwa cerpen “Semalam Di KM Bukit Siguntang” hanyalah sebuah cerita pengalaman. Mungkin pengalaman penulis, yang sempat menjadi salah satu penumpang kapal PELNI itu, atau juga pengalaman orang lain yang ditangkap penulis. Yang jelas, setting ceritanya ada di atas kapal, dalam pelayaran dari pelabuhan Kijang (Pulau Bintan) menuju pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta).
Akan tetapi, cerpen ini menyuguhkan segudang pesan kehidupan. Yang begitu kuat adalah pesan moral. Terlihat adanya tarik menarik antara moralitas dan kemunafikan. Tokoh utama cerita ini, yaitu seorang pelacur bernama Vera, mencoba membongkar kemunafikan kaum moralis. Di sini penulis cerpen ini mencoba menampilkan tokoh anak manusia yang mau tampil apa adanya: jujur tanpa topeng kemunafikan.
Cerpen ini seakan hendak menampar muka kita. Uraian kehidupan apa adanya seakan menelanjangi kita. Bayangkan, kehidupan “dunia” di atas kapal saja sudah begitu, apalagi dalam dunia sebenarnya. Memang cerpen ini tidak memberi pesan tegas kepada pembacanya. Hingga kalimat terakhir, kita tidak menemukan pesan utamanya. Malah kita dapat terperangkap bahwa cerpen ini mau mengatakan bahwa cinta tak selamanya berakhir dengan pernikahan; sebuah lagu lama. Sepertinya penulis hendak menyampaikan agar pembaca menemukan sendiri pesan untuk dirinya sendiri.
Tentu kita penasaran. Lebih lanjut mengenai cerpen ini silahkan baca di: Budak Bangka: (C E R P E N) Semalam di KM Bukit Siguntang

Rabu, 08 Maret 2017

MEMUPUK KASIH SAYANG DALAM KELUARGA

Ungkapan kasih sayang orangtua amat penting bagi perkembangan psikologis anak. Ini bisa menjadi bekal saat anak beranjak dewasa; dia akan memiliki kekuatan, harga diri dan kebahagiaan. Dalam buku The First Love Language of Children karya Gary Chapman dan Rosa Campbell, ada lima hal yang dapat menjadi acuan dasar dalam mengungkapkan dan memahami kasih sayang antara anak dengan orangtua. Kelimanya adalah sentuhan fisik, kata-kata menenangkan, waktu berkualitas, hadiah dan tindakan melayani.
Sentuhan fisik dapat diwujudkan dengan membelai anak penuh kasih sayang atau menepuk pundaknya untuk memberi dukungan. Memeluk atau merangkul juga masuk dalam kategori ini. Sentuhan fisik membuat relasi anak dan orangtua seakan dekat. Sementara kata-kata menenangkan terwujud dalam pujian atau permintaan maaf bila salah. Pada prinsipnya, hendaknya orangtua tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan keras kepada anak.
Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga menjadi hal penting, yang terasa sangat berharga bagi orangtua yang bekerja. Meluang waktu bersama anak, sekalipun hanya sebentar tapi sungguh berkualitas, membuat anak merasa diperhatikan. Akhir pekan perlu dinikmati bersama anak sekaligus memberikan afeksi dan perhatian yang tulus. Saat ini dapat dipakai bagi setiap anggota keluarga untuk lebih saling mengenal, mendengarkan dan berbagi cerita. Bapak dan ibu pun jadi lebih memahami kondisi yang sedang dialami anaknya.
Jadi, waktu berkualitas ini bertujuan untuk menikmati kebersamaan. Hal ini dapat dilakukan bukan hanya di rumah atau komplek rumah, melainkan juga di luar rumah seperti pantai, gunung atau tempat rekreasi lainnya. Sangat bagus jika sedini mungkin anak tidak tergantung pada permainan elektronik.
Memberi hadiah kepada anak atas prestasinya merupakan bentuk perhatian dan apresiasi orangtua. Prestasi di sini bukan sebatas prestasi bangku sekolah saja, melainkan perilaku, sikap dan kehidupan yang positif yang diperlihatkan anak. Hadiah tidak selamanya berwujud barang. Ucapan terima kasih, pujian dan memenuhi keinginan anak, sejauh masih dalam batas wajar, dapat menjadi bentuk hadiah.

Senin, 06 Maret 2017

GAK NYAMBUNG

Karena semua imam di paroki sudah punya jatah tugas, Pastor Paroki akhirnya mendatangkan imam tamu dari luar untuk melayani misa di komunitas. Umat yang mau dilayani adalah umat perkotaan. Kepada rekan imamnya tersebut, Pastor Paroki memberitahukan bahwa jadwal misa di komunitas adalah jam 19.00.
Selain memberitahu soal waktu, Pastor Paroki juga menyampaikan bahwa misa akan berlangsung di rumah Bapak Iwan, lengkap dengan alamat dan nomor HP. Setelah mempunyai gambaran lokasinya, Romo Tamu langsung meluncur ke rumah Bapak Iwan. Tiba di tempat tujuan sekitar jam 18.45. Romo Tamu langsung disambut oleh tuan rumah. Umat lain belum berdatangan.
Bpk Iwan     : Maklum Romo, umat di sini pada ngaret.
Romo Tamu : Loh, Romo Paroki bilang di sini umatnya pada pedagang.
Bpk Iwan     : Emang sih, kami semua pedagang. Tapi kalau misa, banyak yang pada ngaret.
Romo Tamu : Kebum karetnya dimana?
Bpk Iwan     : #^%$!*&^)^&%????
Toboali, 5 Maret 2017
by: adrian
Baca juga humor lainnya: