Rabu, 26 Februari 2020

PANTANG SESAAT VS PANTANG SEHAYAT


Masa pra-paskah sering dikenal dengan istilah retret agung, karena retret ini diikuti oleh semua umat katolik seluruh dunia dan waktunya juga panjang, yaitu 40 hari. Ada beberapa kegiatan yang sering diisi selama masa retret agung ini. Salah satunya adalah puasa dan pantang. Karena itu juga masa ini dikenal dengan sebuatan masa puasa.
Pantang adalah penolakan terhadap sesuatu yang menjadi kelekatan tiap individu. Soal apa saja yang dapat dipantangi tergantung tiap-tiap orang, karena tiap-tiap orang memiliki kelekatan dalam hidupnya yang berbeda satu dengan yang lain.
Di sini kami akan menampilkan satu cerita pantang. Cerita ini merupakan kisah fiksi, namun jamak terjadi di manapun. Karena itu, bila ada kesamaan cerita, bukan maksud kami untuk mempromosi, melecehkan atau hal lainnya. Alangkah bijak jika pembaca mencoba pada pantang yang lain; atau dengan kata lain mengganti pantang yang ada dalam cerita ini dengan pantang yang lain.
Pada umumnya kaum pria punya kelekatan pada rokok. Karena itu, sering terdengar atau terlihat ungkapan dan aksi penolakan selama masa pra-paskah. Ada banyak kaum Adam berjuang untuk tidak merokok selama masa pra-paskah. Jika bisanya sehari ia bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus rokok, kini ada yang hanya 2 hingga 3 batang rokok saja dalam sehari. Malah ada yang sama sekali tidak merokok selama masa pra-paskah (40 hari). Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa.

Tak sedikit pujian dilemparkan kepada mereka-mereka ini atas keberhasilannya. Sebuah prestasi luar biasa. Tak jarang juga, ada yang lantas membanggakan diri atas keberhasilannya tidak merokok selama 40 hari. Hal ini dilihat sebagai kemenangan, sama seperti kemenangan Yesus mengalahkan godaan setan di padang gurun. Kalau Yesus langsung dilayani oleh para malaikat, para pemenang ini biasanya langsung mendapat hadiah rokok satu slop, entah itu dari rekan, keluarga, kenalan atau sahabat.
Akan tetapi, mari kita lihat apa yang terjadi setelah masa pra-paskah selesai. Tak sedikit dari mereka kembali ke pola hidup yang lama. Bahkan ada juga, yang dalam beberapa bulan ke depan, melakukan “aksi balas dendam” dengan menghabiskan rokok 5 hingga 6 bungkus sehari, sebelum akhirnya kembali ke pola “normal”.
Inilah yang dinamakan “pantang sesaat”, yaitu melakukan pantang hanya di saat masa pra-paskah. Orang melakukan pantang pada masa pra-paskah, umumnya karena aturan. Bukankah pada masa pra-paskah umat katolik yang sudah dewasa wajib melakukan pantang. Karena aturan inilah, maka orang berusaha mencari kelekatan dalam dirinya dan berusaha untuk dipantangi. Bagi perokok, rokok adalah pantang yang wajib dilakukan.
Selain karena aturan, pantang pada masa pra-paskah juga dilakukan karena “tekanan” sosial. Pada masa pra-paskah semua umat katolik wajib berpantang. Tanpa disadari ada semacam kontrol sosial jika saya tidak melakukan pantang. Orang sudah tahu kalau saya punya kelekatan dengan rokok. Oleh karena itu, saya akan pantang rokok. Dan pasti orang cepat akan tahu, karena tidak merokok dilihat sebagai sesuatu di luar kebiasaan saya. Ini terjadi di alam bawah sadar kita.
Jadi selama masa pra-paskah orang akan menekan hasrat untuk merokoknya. Semakin kuat motivasinya, semakin kuat juga tekanannya. Namun hasrat itu ibarat pegas. Semakin ditekan, semakin kuat daya dorongnya. Jika ditekan, ia memang akan turun atau mengecil. Akan tetapi, jika dilepaskan, maka ia akan mental kuat. Demikianlah dengan pantang rokok tadi. Selama masa pra-paskah orang hanya menekan hasrat merokoknya. Namun ketika masa pra-paskah selesai, tak ada lagi alasan untuk menekan hasrat itu, sehingga ia menendang ke permukaan, bahkan dapat melewati batas normal.
Ada kesan usaha pantang sesaat ini kurang bernilai. Alasannya, kita hanya menekan hasrat yang merupakan kelekatan tadi cuma untuk waktu sesaat saja. Lepas dari waktunya, kita kembali kepada kelekatan tadi. Padahal, jika memang kelekatan itu dirasakan buruk, bukankah lebih baik kelekatan itu dihilangkan; minimal dikurangi.
Di sinilah kita membutuhkan pantang sepanjang hayat. Pantang sepanjang hayat berarti kita menolak keletakan dalam diri kita sepanjang hayat. Bukan lantas berarti pantang dalam masa pra-paskah tidak dibutuhkan lagi. Pantang pada masa pra-paskah dijadikan sebagai batu loncatan untuk pantang sehayat.
Misalnya, jika kita berhasil untuk tidak merokok selama masa pra-paskah (40 hari), maka itu merupakan langkah awal untuk memasuki pantang sepanjang hayat. Mungkin tidak langsung menolak sama sekali. Mungkin sebungkus rokok dihabiskan dalam sehari sebagai langkah awal untuk seminggu dan kemudian sebulan. Bukan tidak mungkin, pada titik tertentu kita akan berhasil menghentikan kelekatan tersebut.
Jadi, selepas masa pra-paskah, bukannya kembali kepada kenormalan pada kelekatan, melainkan kita memulai berjuang untuk meneruskan pantang masa pra-paskah. Sekalipun suatu saat kita jatuh, hal itu adalah wajar. Yang penting kita bangkit lagi. Bukankah selama masa prapaskah kita sudah merenungkan jalan salib, di mana Yesus jatuh sampai tiga kali, namun Ia bangkit dan terus meneruskan perjalanan salib-Nya.
diolah kembali dari tulisan 6 tahun lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar