Senin, 11 Juni 2012

Tinjauan atas "Injil" Barnabas


Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas
Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp
PENDAHULUAN
Sering ada orang bertanya, "Apa sih itu injil Barnabas, yang disebut-sebut orang? Kalau kita buka kitab suci Perjanjian Baru, ternyata injil itu tidak dimuat!"

Buku kecil ini ditulis dengan maksud untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut di atas. Dalam buku kecil ini akan diuraikan pokok-pokok sebagai berikut:
  • Bagaimanakah "injil" itu ditemukan? Terjemahan manakah yang kini beredar, dan naskah-naskah kuno manakah yang dipakai oleh para penterjemahnya? (Bab 1 );
  • Kapan "injil" itu dikarang? (Bab 2);
  • Siapakah pengarangnya dan di manakah "injil" itu ditulis? (Bab 3);
  • Selanjutnya akan ditinjau isi "injil" itu dalam garis besarnya (Bab 4);
  • Akhirulkalam akan dikemukakan beberapa kesimpulan (Bab 5), disusul dengan daftar kepustakaan.
Buku kecil ini disusun oleh Drs. B.F. Drewes berdasarkan bahan-bahan penelitian ilmiah yang sebagian besar dikerjakan oleh Drs. J. Slomp. Alihbahasa ditangani Galih Resi.

Kitab itu disebut injil, namun kata itu akan ditempatkan antara tanda kutip ("injil"), karena kitab itu bukan Injil dalam arti kitab-kitab Injil yang terdapat dalam kitab suci Perjanjian Baru. Sebab Barnabas jauh lebih muda usianya, dan dikarang oleh seseorang berdasarkan kitab-kitab Injil yang asli yang terdapat daIam kitab suci Perjanjian Baru.

Besar harapan kami semoga buku kecil ini dapat memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul di sana-sini sekitar kitab '"injil" Barnabas.

NASKAH-NASKAH KUNO MANAKAH YANG KITA MILIKI TENTANG "INJIL BARNABAS"?
Terbitan Barnabas dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan Barnabas yang sudah beredar dalam bahasa asing. Menurut penelitian kami ada tiga terbitan Barnabas dalam bahasa Indonesia:
  • Indjil Barnaba terdjemahan J. Bachtiar Affandie, Djilid ke-I (1969)1;
  • Indjil Barnabas, terdjemahan dari bahasa Arab, oleh Husein Abubakar dan Abubakar Basjmeleh2; yang berisi a.l. banyak catatan pinggir ayat-ayat Alkitab, yang diambil dari terjemahan Lonsdale and Laura Ragg (lihat di bawah);
  • Terjemah Injil Barnabas, dengan diberi notasi ayat-ayat Qur'an, oleh Rahnip M, B.A.3
Berhubung terjemahan Barnabas yang dilakukan oleh J. Bachtiar Affandie tidak dapat kami peroleh, penelitian kami secara khusus diarahkan pada kedua terjemahan yang lain. Terlebih dahulu perlu dikemukakan bahwa terjemahan Husein Abubakar dan Abubakar Basjmeleh jauh lebih baik dibandingkan dengan terjemahan Rahnip (periksa Catatan nomor 2 dan 3).

Jelaslah buku-buku tersebut merupakan terjemahan dari bahasa asing. Karena kami berusaha untuk mencari naskah Barnabas yang paling tua, kami bertanya-tanya terbitan Barnabas manakah yang dipakai sebagai dasar terjemahan Indonesia.

Abubakar/Basjmeleh menggunakan terbitan Barnabas dalam bahasa Arab. Tentu saja terbitan bahasa Arab itu pun merupakan terjemahan pula. Bagaimanakah terjadinya terjemahan bahasa Arab ini? Besar kemungkinannya terbitan bahasa Arab merupakan terjemahan dari terbitan Barnabas dalam bahasa Inggris. Dan terbitan bahasa Inggris itu pun merupakan terjemahan dari naskah Barnabas dalam bahasa Italia yang kita miliki. Yang belum jelas bagi kita ialah apakah untuk terjemahan bahasa Arab dipakai juga naskah bahasa Italia.

Terjemahan Rahnip didasarkan atas terbitan Barnabas dalam bahasa Inggris yang merupakan terjemahan dari naskah bahasa Italia, seperti dikemukakan dalam "Kata Pengantar" dari buku Rahnip.

Mungkin anda agak bingung dengan segala macam terjemahan Barnabas, karena itu pada bagan di bawah ini digambarkan apa yang diuraikan lebih dahulu:

          Naskah "injil Barnabas" dalam bahasa Italia
                     |                        |
                     |                        |
                     |?            Terjemahan Inggris
                     |                  |     |
                     |                  |     |
             Terjemahan Arab <----------+     |
                     |                        |
                     |                        |
           Terjemahan Indonesia     Terjemahan Indonesia
                     |                        |
                     |                        |
            Abubakar/Basjmeleh              Rahnip

Jadi jelaslah terbitan-terbitan bahasa Indonesia tersebut merupakan terjemahan dari terjemahan. Semua terbitan itu bersumber pada naskah bahasa Italia dan terjemahannya dalam bahasa Inggris yang turut dibubuhkannya. Terbitan naskah bahasa Italia dan terjemahan bahasa Inggris dilakukan oleh Lonsdale Ragg dan Laura Ragg pada tahun 1907 (di Oxford, At the Clarendon Press). Memang baru sesudah tahun 1907 banyak orang menaruh perhatian kepada Barnabas.

Dengan demikian semua terbitan yang kita kenal bersumber pada naskah bahasa Italia yang dicetak pada tahun 1907 dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris, disertai kata pengantar yang kritis, dalam mana dibuktikan kepalsuan "injil Barnabas". (Yang menarik, meskipun terbitan Lonsdale Ragg dan Laura Ragg tersebut digunakan oleh berbagai pihak sebagai dasar terjemahan mereka, namun kata pengantar yang kritis itu tidak ikut diterjemahkan). Naskah Barnabas bahasa Italia yang dipakai oleh Lonsdale Ragg dan Laura Ragg kini disimpan di dalam perpustakaan negara di Wina, Austria.

Marilah kita tinjau naskah Barnabas tersebut. Naskah itu terdiri dari 222 pasal. Kalau diperiksa cara penulisannya, kertas yang dipakai dan cara naskah itu dijilid ternyata naskah itu tidak lebih tua dari pertengahan kedua abad ke-16 sesudah Masehi, karena cara menulis, macam kertas yang dipakai dan cara menjilid tidak dikenal sebelum masa itu.

Bahasa Italia yang digunakan memperlihatkan banyak kesalahan. Sering kali huruf "h", misalnya, ditambahkan; padahal sebetulnya dalam bahasa Italia sama sekali tidak perlu. Contoh: "anno" (tahun) menjadi "hanno". Demikian pula kata "Chrissto" ditulis dengan dua huruf "s" padahal cukup satu saja. Boleh dikata bahasa yang dipakai dalam naskah itu merupakan campuran dari dua dialek Italia, yakni dialek Tuska dan dialek Venezia. Lagipula terdapat banyak salah ejaan yang tak dapat dibenarkan, baik dari sudut dialek Tuska maupun dialek Venezia. Kedua dialek tersebut digunakan di kota universitas Bologna (Italia). Di kota itu ada mahasiswa yang berasal dari Spanyol. Seorang cendekiawan Spanyol, Prof. M. de Epalza, membuktikan bahwa banyaknya kesalahan ejaan dalam "injil Barnabas"' adalah khas bagi seseorang yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa ibu. Selanjutnya masih dapat dikemukakan bahwa kemungkinan besar Barnabas bukan terjemahan ke dalam bahasa Italia dari bahasa lain. Sebab apabila suatu buku diterjemahkan sering kali bahasa aslinya masih nampak samar-samar dalam susunan kalimatnya, gaya bahasanya, dan lain-lain. Hal itu tidak kelihatan pada Barnabas, sehingga boleh dikatakan bahwa naskah "injil Barnabas" yang asli dikarang dalam bahasa Italia. (Bahasa Italia sendiri belum ada pada masa hidup Yesus, dan baru pada abad ke-13 merupakan bahasa tulisan).

Selanjutnya yang menyolok ialah bahwa pada pinggiran banyak halaman naskah tersebut di sana-sini dibubuhi catatan dalam bahasa Arab. Mutu bahasa Arabnya pun buruk, lagipula pengarang membuat banyak kesalahan. Jelaslah bahwa catatan itu ditulis oleh orang yang sama yang mengarang naskah Barnabas tersebut.4

Bagaimanakah naskah itu sampai tersimpan di perpustakaan negara di Wina. Untuk mengetahui asal-usulnya kita harus kembali dalam sejarah. Pada tahun 1718, diterbitkan buku karangan John Toland berjudul "Nazarenus". Dalam buku itu ditulis:

"Dalam karangan ini terlebih dahulu dimuat sejarah singkat tentang injil yang baru, yang saya temukan di kota Amsterdam pada tahun 1709, yakni sebuah Injil Islam yang belum pernah dikenal dan diketahui di antara orang Kristen. Adapun orang yang memberitahukannya kepada saya (Tuan Cramer, konsul raja Prusia yang tinggal di Amsterdam), menerimanya dari perpustakaan pribadi seorang yang mulia dan berwibawa di kota tersebut, yang selama hidupnya sering mengemukakan penghargaannya atas kitab tersebut."

Siapakah gerangan orang yang "mulia dan berwibawa" itu? Yang menarik perhatian ialah bahwa sejarawan berkebangsaan Italia, Gregorio Leti (meninggal tahun 1701), pernah tinggal dan bekerja di Amsterdam. Dia adalah penulis biografi Paus Sixtus V (1585-1590). Leti berganti agama dan memeluk agama Kristen Protestan, kemudian melarikan diri ke negeri Belanda dan menjadi sejarawan kota Amsterdam. Menantunya, seorang ahli teologi bernama Jean le Clerc (1637-1736), dalam tahun 1718 menulis analisis tentang Barnabas yang dimuatnya dalam kumpulan karangan yang diterbitkannya.

Gregorio Leti inilah yang dimaksudkan oleh Toland dengan "orang yang mulia dan berwibawa". Setelah Leti meninggal perpustakaannya dilelang. Dari ungkapan negarawan Cramer dia memperoleh kitab Barnabas dari perpustakaan seorang yang baru meninggal. Cramer kemudian menjual kitab itu kepada Pangeran Eugene dari Savoye. Dan dari perpustakaan Pangeran Eugene kitab Barnabas akhirnya pindah ke perpustakaan negara di Wina dan tersimpan sampai hari ini.

Tentang sejarah naskah Barnabas dari akhir abad ke-16 sampai tahun 1700 tidak diketahui orang.

Di samping naskah Barnabas dalam bahasa Italia ada juga naskah dalam bahasa Spanyol. Apakah yang kita ketahui tentang naskah itu? Pada tahun 1734 diterbitkan Qur'an dalam bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Sale. Dalam kata pengantar dan catatan oleh Sale antara lain disebut Barnabas. Ia tahu tentang buku karangan John Toland yang kami sebut di atas. Dan dari Dr. Holmes dipinjamnya Barnabas dalam terjemahan bahasa Spanyol. (Dari karangan Dr. White kami tahu sedikit tentang terjemahan bahasa Spanyol itu). Lama sekali kami mengetahui adanya terjemahan Barnabas dalam bahasa Spanyol hanya dari kutipan-kutipan yang diberikan oleh Sale dan Holmes. Namun beberapa tahun yang lampau diketemukan naskah Barnabas dalam bahasa Spanyol, yakni di Sydney (Australia), yang berisi sebagian besar dari "injil" Barnabas. Naskah tersebut berasal dari abad ke-18, dan entah dipakai oleh Sale, entah merupakan salinan dari naskah yang dipergunakan oleh Sale5. Naskah bahasa Spanyol adalah terjemahan dari bahasa Italia yang dilakukan oleh seorang Muslim berkebangsaan Spanyol bernama Mustafa de Aranda. Dalam kata pendahuluan naskah bahasa Spanyol dikemukakan bahwa naskah bahasa Italia oleh seorang rahib Kristen bernama Fra Marino diketemukan dan dicuri dari perpustakaan Paus Sixtus V (1585-1590), ketika Paus sedang tidur sejenak di perpustakaannya. Setelah naskah itu dibacanya, Fra Marino menganut agama Islam. Ada alasan untuk menduga bahwa ceritera tentang diketemukannya dan dicurinya naskah itu hanya merupakan isapan jempol belaka, sebab dalam Barnabas sendiri dimuat ceritera semacam itu, yakni pasal 191 dan 192. Dalam pasal-pasal tersebut oleh seorang ahli taurat diceriterakan kepada Yesus bahwa ia pernah melihat kitab yang sungguh-sungguh merupakan kitab Musa, ditulis oleh Musa dan Yosua, yang di dalamnya dinyatakan bahwa Ismael adalah ayah Sang Mesias; akan tetapi imam agung yang menyaksikan percakapan itu melarangnya untuk membaca kitab tersebut. Ada kemungkinan bahwa pasal 191 dan 192 memberikan gambaran pribadi tentang pengarang Barnabas! Apalagi pengarang kitab Barnabas adalah seorang kelahiran Spanyol dan dalam kata pendahuluan naskah bahasa Spanyol disinggung tentang Paus Sixtus V (akhir abad ke-16), jadi besar kemungkinannya kedua naskah tersebut dikarang oleh orang yang sama.

Kesimpulannya ialah: ada dua naskah kuno Barnabas; yang satu isinya lengkap, dikarang dalam bahasa Italia dan berasal dari abad ke-16; yang lain tidak lengkap dan merupakan terjemahan dalam bahasa Spanyol dari abad ke-18.

Perlu kita perhatikan bahwa dari kitab-kitab yang terkumpul dalam Perjanjian Baru, kita miliki ratusan naskah dalam bahasa Yunani yang jauh lebih-tua dari kedua naskah Barnabas itu!

Setelah kita selidiki penanggalan naskah-naskah Barnabas, dalam bab yang berikut akan dijawab pertanyaan: Kapankah Barnabas dikarang?

KAPAN “INJIL” BARNABAS DITULIS
Para pembaca tentu mengerti bahwa dengan ditetapkannya penanggalan naskah-naskah Barnabas yang dikenal itu, belum dijawab secara tuntas pertanyaan kapan sebenarnya naskah aslinya dikarang. Sebab ada kemungkinan naskah Barnabas yang tertua yang kita kenal berasal dari abad ke-16, sedangkan naskah aslinya lebih tua lagi. Karena itu dalam bab ini akan dicari jawaban atas pertanyaan apakah dapat diselidiki kapan Barnabas dikarang?

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sesudah keempat Injil yang dimuat dalam Perjanjian Baru, beredarlah bermacam-macam kitab di dalam Gereja Purba yang dalam beberapa hal menyerupai Injil-Injil, akan tetapi tidak diakui oleh Gereja sebagai kitab berwibawa (kitab kanonik). Kitab-kitab itu disebut injil apokrif. misalnya injil Thomas, injil Petrus, dan sebagainya. Kitab-kitab tersebut tidak dikarang oleh Thomas, Petrus dan lain-lain. Kitab-kitab itu ditulis jauh kemudian daripada keempat Injil dan tidak diakui oleh Gereja. Begitulah dalam Gereja Purba pernah disebut adanya sebuah "injil Barnabas". "Injil" itu untuk pertama kalinya dicantumkan dalam apa yang disebut Decretum Pseudo-Gelasianum (Decretum = surat keputusan Paus; pseudo = yang tidak asli). Dalam surat keputusan Paus itu dicantumkan daftar buku-buku yang oleh Gereja tidak diakui sebagai kanonik (= berwibawa); dalam daftar itu disebut juga "'injil" Barnabas. Daftar itu berasal dari abad keenam sesudah Masehi. Berita yang lebih tua tentang "injil" itu tidak ada!1

Lagipula dari zaman Gereja Purba tidak pernah diketemukan satu ayat pun atau sebagian dari "injil" Barnabas. Dalam suatu tulisan2 hanya terdapat ungkapan: "Rasul Barnabas bersabda: dalam pertikaian yang buruk, pihak yang menanglah yang paling menderita, sebab ia meninggalkan pertempuran dengan dibebani dosa yang lebih besar." Namun tidak dinyatakan bahwa ungkapan itu berasal dari sebuah "'injil" Barnabas. Ungkapan tersebut dapat pula merupakan tradisi lisan yang turun-temurun. Apalagi ungkapan itu sama sekali tidak terdapat dalam Barnabas! Bahkan beberapa ahli meragukan tentang adanya sebuah "injil apokrif Barnabas". Tidak ada tanda bahwa sebuah "injil" Barnabas dipakai di Gereja sampai masa Dekrit Gelasius. Apalagi perlu kita ingat bahwa bahasa Italia pada waktu itu belum ada. Memang ada sebuah "surat apokrif Barnabas" yang menurut para ahli tidak berasal dari Barnabas. Ada pula kitab apokrif "Kisah Rasul Barnabas", suatu pemalsuan dari abad kelima, yang ditulis dengan maksud untuk memuliakan pulau Siprus, di mana menurut keyakinan para penduduknya terdapat makam rasul Barnabas.

Sebagaimana tadi dikemukakan ada ahli yang meragukan apakah dalam Gereja Purba memang pernah ada sebuah injil apokrif Barnabas. Mungkin pada masa silam timbul gagasan tentang sebuah injil apokrif Barnabas, karena di dalam kitab "Kisah Rasul Barnabas" terdapat ungkapan yang diartikan salah. Dalam "Kisah Rasul Barnabas" kita baca: "Sesudah Barnabas mengabar injil yang diterimanya dari kawan sepelayanannya Matius, ia mulai mengajar orang-orang Yahudi." Menurut legenda yang muncul kemudian uskup-uskup Siprus menemukan kembali jenazah Barnabas dengan Injil Matius yang disalin oleh Barnabas di atas dadanya. Kalau ceritera itu dituturkan tanpa menyebut nama Matius, timbullah kesan seolah-olah Barnabas sendiri mengarang sebuah Injil.3

Jadi tidak terdapat bukti apa pun bahwa injil apokrif Barnabas, yang tercantum dalam dekrit Pseudo-Gelasianum itu, sama dengan Barnabas!

Jadi melalui jalan ini tidak dapat diteliti kapan Barnabas ditulis. Kita harus menyelidiki isi Barnabas untuk menelusuri apakah ada tanda-tanda yang dapat menerangkan tanggal terjadinya Barnabas. Apakah yang menarik perhatian kita kalau isinya diselidiki?

1. Pengarang Barnabas pasti bukan orang semasa Yesus, yang mengikuti Yesus sebagai murid. Hal itu terbukti antara lain sebagai berikut:

a) Dalam judul Barnabas, dan juga di tempat-tempat lain Yesus disebut "Kristus", akan tetapi dalam pasal 96 Yesus menolak bahwa Dia adalah Mesias. Jadi pengarang tidak mengetahui bahwa "Kristus" adalah terjemahan bahasa Yunani dari kata Ibrani/Aram "Messias" yang sama artinya!4
b) Menurut pasal 3 Yesus dilahirkan pada waktu Pilatus memerintah atas Yudea, namun sebenarnya Pilatus menjadi gubernur pada tahun 26 atau 27 sesudah Masehi ketika Yesus berusia ± 30 tahun
c) Dalam pasal 20 diceriterakan bahwa Yesus "berlayar" ke Nazaret; itu mustahil, sebab Nazaret tidak dapat dicapai dengan kapal.
d) Dalam pasal 91 dikemukakan bahwa di wilayah Yudea ada 600.000 tentara; hal itu pun mustahil, sebab di seluruh daerah jajahan Romawi jumlah tentaranya tidak melebihi 300.000 orang.
e) Selama 40 hari Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke bukit Sinai untuk melakukan syariat puasa 40 hari; dikemukakan seolah-olah masa puasa semacam itu sudah menjadi adat-istiadat (pasal 91 dan 92). Padahal pada waktu Yesus hidup puasa 40 hari itu belum merupakan kebiasaan.

2. Jelaslah pengarang bukan orang sejaman dengan Yesus. Bahkan dapat kita buktikan bahwa pengarang hidup sesudah Nabi Muhammad. Muhammad yang hidup beberapa abad sesudah Yesus, oleh Yesus disebut dan ditunjuk sebagai Mesias. Hal itu nampak dalam dua pasal. Dalam pasal 44 kita baca ungkapan Yesus:

"Ya Muhammad, semoga Allah besertamu dan menjadikan aku layak untuk membuka tali kasutmu, karena apabila aku memperoleh itu, aku akan menjadi seorang nabi yang besar serta seorang kudus Allah."

Dalam pasal 97 kita baca percakapan antara seorang imam dengan Yesus sebagai berikut:

"Maka imam itu bertanya, 'Bagaimanakah Mesias itu akan dinamakan, dan tanda apakah yang akan menunjukkan kedatangannya?'

Yesus menjawab, 'Sesungguhnya nama Mesias itu terpuji; karena nama itu diberikan oleh Allah sendiri, tatkala rohnya diciptakan Allah dan diletakkan-Nya dalam kemegahan surgawi. Allah berfirman: Sabarlah Muhammad; karena untukmu Aku akan menciptakan firdaus, dunia dan sejumlah besar makhluk, yang Kuhadiahkan kepadamu, sehingga barangsiapa yang memberkati engkau akan diberkati; dan barangsiapa yang mengutuk engkau akan dikutuk. Apabila Aku mengutus engkau ke dunia engkau akan menjadi rasul keselamatan-Ku dan firmanmu itu benar, bahwasanya langit dan bumi akan gagal, tetapi imanmu tidak pernah akan gagal.' Muhammad adalah namanya yang diberkati."

Ayat-ayat semacam itu (juga pasal 54) membuat Yesus semacam Yohanes Pembaptis, yang memaklumkan Sang Mesias. Karena itu Yohanes Pembaptis tidak pernah disebut-sebut dalam Barnabas!

Sebagaimana kita tahu nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memberikan ramalan yang terperinci sambil menyebut nama-nama oknum yang kelak akan datang; nama-nama orang tidak pernah diramalkan. Jadi Barnabas dikarang sesudah datangnya Muhammad!

Juga dalam pasal-pasal lain terlihat pengaruh Agama Islam. Menurut pasal 39 kalimat syahadat ("Tiada Tuhan melainkan Allah" dan "'Muhammad Rasul Allah") ditulis pada kedua kuku ibu jari tangan Adam, setelah kalimat syahadat itu dilihatnya tertulis di angkasa.

Dalam hal-hal lain pun ada hubungan yang menyolok antara Barnabas dengan pandangan Islam. Menurut Barnabas Yesus bukan Anak Allah (pasal 48, 98 dan 222). Yesus diutus hanya kepada Israel saja, sedangkan amanat Muhammad adalah untuk segala bangsa (pasal 82). Barnabas menegaskan pandangan Islam bahwa kelak akan dikarang kitab suci yang akan membersihkan kitab suci yang lebih dulu ditulis dari segala kerusakan (pasal 124, bandingkan pasal 44, 191 dan 192). Anak Abraham yang harus dipersembahkannya sebagai korban penyembelihan adalah Ismael dan bukan Ishak (pasal 44). Pada bagian akhir Barnabas kita baca bahwa Yudaslah yang disalibkan, bukannya Yesus. Soal ini perlu ditekankan oleh Barnabas (pasal 221).

Dengan demikian jelaslah bahwa pengarang Barnabas hidup sesudah Muhammad yang wafat tahun 632 itu.

3. Bahkan kita dapat melangkah lebih jauh lagi dan dapat kita tegaskan bahwa Barnabas pasti dikarang sesudah tahun 1300. Apakah buktinya?

Dalam pasal 82 Yesus berbicara dengan wanita Samaria tentang tahun Yobel, yang dirayakan sekali dalam 100 tahun. Soal ini disinggung juga dalam pasal 83. Menurut Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55 dan 27:16-25) tahun Yobel dirayakan sekali dalam 50 tahun. Ketentuan itu tidak diubah oleh Yesus. Baru pada tahun 1300 sesudah Masehi oleh Paus Bonifacius VIII diperintahkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan sekali dalam 100 tahun! Akan tetapi oleh Paus Clemens VI pada tahun 1343 ditetapkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan tiap 50 tahun. Jadi pengarang Barnabas tahu tentang ketentuan masa 100 tahun untuk merayakan tahun Yobel, dan dengan tidak disadarinya dinyatakannya seolah-olah oleh Yesus sendiri ditetapkan bahwa tahun Yobel harus dirayakan sekali dalam 100 tahun. Jadi dapat kita pastikan bahwa Barnabas dikarang sesudah tahun 1300!5

Kesimpulan itu sesuai dengan ciri-ciri lain dalam Barnabas, yang mengingatkan kita akan jaman sekitar tahun 1000-1500, antara lain:

Dalam sembahyang di malam hari (pasal 61) Yesus memakai ungkapan dari 1 Petrus 5:8 "... si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya", sebagaimana sudah lazim dipakai dalam sembahyang malam pada Abad Pertengahan.

Dalam pasal 3 kita baca bahwa Yesus dilahirkan oleh Maria "tanpa merasa sakit"; ini tidak tertulis dalam Perjanjian Baru, namun mendapat perhatian besar pada Abad Pertengahan.

Dalam pasal 194 Lazarus dan kedua adiknya perempuan digambarkan memiliki dua desa. Hal itu pun merupakan gambaran keadaan masa Abad Pertengahan, akan tetapi pada jaman Yesus mustahil seorang memiliki desa.

Tambahan pula masih dapat ditunjuk panjang dan sifat Barnabas. Kitab Barnabas dapat disebut semacam Diatessaron, artinya sebuah kitab yang menyatukan bahan-bahan dari keempat Injil Perjanjian Baru, sehingga isinya lebih tebal dibandingkan dengan Injil-Injil yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Adapun usaha untuk menyatukan dan menggabungkan keempat Injil mulai timbul pada abad kedua sesudah Masehi. Kita kenal beberapa Diatessaron dalam bahasa Italia dari Abad Pertengahan. Satu di antaranya berasal dari abad ke-14 yang mengandung ciri-ciri dialek TuskaVenezia (jadi dialek vang sama seperti Barnabas), dan di dalamnya terdapat bermacam-macam ceritera dalam urutan yang sama seperti dalam Barnabas; dan urutan yang sama itu tidak terdapat dalam keempat Injil Perjanjian Baru.

Jadi dapat kita pastikan bahwa Barnabas dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16 yakni waktu naskah berbahasa Italia ditulis. Dengan demikian jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan Injil-Injil Perjanjian Baru.

Apakah waktu penulisan Barnabas dapat kita tentukan lebih tepat lagi? Besar kemungkinan Barnabas dikarang semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Coba perhatikan hal-hal sebagai berikut: sudah kita lihat bahwa pada tahun 1300 ditentukan agar tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun; kemudian pada tahun 1349 diambil keputusan untuk merayakannya sekali dalam 50 tahun; dan pada tahun 1470 diputuskan untuk merayakannya sekali dalam 25 tahun. Pada tahun 1585 Paus Sixtus V merayakan tahun Yobel, bukannya karena sudah tiba waktunya, melainkan karena pada tahun itu ia dipilih sebagai Paus dan ingin memberikan perhatian khusus kepada tahun tersebut. Apakah kejadian itu menjadi alasan bagi pengarang Barnabas --yang masih ingat bahwa sesudah 1300 tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun-- untuk menyatakan bahwa pada masa Mesias tiap tahun merupakan tahun Yobel?

Selanjutnya, dalam kata pendahuluan naskah berbahasa Spanyol dikemukakan bahwa kitab Barnabas ditemukan dalam perpustakaan Paus Sixtus V meskipun kebenaran ceritera itu masih dipersoalkan. Memang Barnabas cocok dengan suasana penindasan yang merajalela di Spanyol dan Italia Utara pada akhir abad ke-16, ketika orang Yahudi dan penganut agama Islam dianiaya oleh Inkuisisi. Apakah mungkin kitab itu ditulis semasa Paus Sixtus V oleh seorang yang dalam hatinya bersikap pro-Islam, akan tetapi tidak dapat mempraktekkannya?

Soal tersebut akan dibahas dalam bab berikut. Namun sekarang sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa Barnabas dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16, dan kemungkinan besar pada masa Paus Sixtus V.

SIAPAKAH PENGARANG BARNABAS DAN DI MANAKAH DITULIS?
Sekarang harus kita selidiki siapakah gerangan pengarang Barnabas. Bahan-bahan keterangan apakah yang tersedia? Kita harus mencari seorang yang hidup antara tahun 1300 dan 1600. Orang itu mengenal isi baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, meskipun pengetahuannya tidak sempurna.1

Agaknya orang itu mengenal juga ajaran agama Islam. Hal itu antara lain terbukti bukan saja karena disebutnya nama Nabi Muhammad, tetapi juga karena dikemukakannya pandangan-pandangan yang dianut oleh agama Islam (bandingkanlah “Kapan Injil Barnabas Ditulis”).

Keterangan yang penting pula adalah tentang bahasanya, yakni dialek Tuska-Venezia (jadi dari wilayah Italia bagian Utara), dengan kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pengaruh bahasa Spanyol. Agaknya pengarang hidup di Spanyol dan di Italia dan mempunyai hubungan dengan Gereja dan dengan agama Islam.
Apakah di samping bahan-bahan yang agak samar itu masih ada keterangan lain yang lebih jelas? Dapatkah ditunjuk keadaan, dalam mana kitab semacam itu dikarang oleh seorang yang mengetahui seluk-beluk Gereja dan agama Islam?

Marilah kita lihat keadaan pada zaman itu di Spanyol dan di Italia. Pada masa itu keadaan orang Yahudi dan orang Islam sangat menyedihkan karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi. Banyak orang Yahudi dan penganut agama Islam dipaksa menjadi Kristen. Dan mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius. Penganiayaan itu mencapai puncaknya pada akhir abad ke-16!

Apakah ada kemungkinan pemalsuan injil itu dikarang oleh seorang yang dipaksa masuk agama Katolik Roma serta harus mengikuti pendidikan Katolik Roma, dan dengan demikian ia "membalas dendam" atas segala sesuatu yang dideritanya dari pihak Gereja Katolik Roma? Anggapan tentang bentuk pemalsuan itu tidak begitu jauh dari sasarannya. Sebab pada akhir abad ke-16 beberapa pemalsuan injil beredar di Spanyol. Kitab-kitab itu dikarang dalam bahasa Arab dan dikatakan berasal dari rasul-rasul Yesus. Spanyol digemparkan oleh kitab-kitab tersebut, akan tetapi ternyata pemalsuan belaka!

Naskah-naskah itu dikarang oleh dua orang, yakni Alonso de Castillo dan Miguel de Luna, kedua-duanya juru bahasa dari golongan Morisko2. Kelompok Morisko adalah pemeluk agama Islam yang dipaksa berganti agama dan masuk agama Katolik Roma. Namun hal itu dilakukannya lahiriah saja, tidak dalam lubuk hatinya. Di samping kelompok Morisko terdapat pula golongan Marrano, yakni orang-orang Yahudi yang dipaksa masuk agama Katolik Roma, namun secara batin tidak dianutnya.

Perlu dikemukakan juga bahwa banyak orang di Spanyol, yang pada akhir abad ke-16 dipaksa berganti agama, melarikan diri ke Italia. Dapat ditambahkan pula bahwa Fra Felice Peretti de Montalto yang kemudian menjadi Paus Sixtus V, sangat giat menganiaya orang yang belum berganti agama di Venezia (Italia) pada tahun-tahun 1558-1568. Apakah mungkin pengarang Barnabas berasal dari golongan Morisko atau Marrano?

Adapun latar belakang pengarang yang berbau Spanyol jelas terbukti dari Barnabas pasal 54. Dalam pasal itu dikemukakan tentang sekeping uang "denarius" (Abubakar/Basjmeleh: "sekeping emas", Rahnip: "sepotong emas") yang terbagi dalam 60 "minuti" (Abubakar/ Basjmeleh: "filis", Rahnip: "bagian"). Yang dimaksud adalah sekeping mata uang Spanyol kuno!

Selanjutnya harus kita lihat apakah yang diungkapkan di dalam Barnabas pasal 191 dan 192. Dalam pasal-pasal itu diceriterakan bagaimana kitab Musa yang benar diketemukan oleh Nikodemus di perpustakaan Bait Allah. Dalam kitab Musa itu "tersurat bahwa Ismael adalah ayah Mesias, dan Ishak adalah "ayah utusan Mesias", dan seterusnya. Kemudian Nikodemus mengemukakan", "Kitab itu tidak sempat saya baca seluruhnya, karena Imam Agung --saya berada di ruang perpustakaannya-- melarang saya, sambil berkata bahwa kitab itu dikarang oleh seorang Ismaeli."

Dari ayat itu jelas pula pengaruh agama Islam atas Barnabas. Menarik sekali kalau bagian Barnabas tersebut dibandingkan dengan bagian kata pendahuluan naskah berbahasa Spanyol. Dalam kata pendahuluan naskah yang berbahasa Spanyol (yang tidak termasuk Barnabas) dikemukakan bahwa naskah Barnabas bahasa Italia dicuri oleh seorang rahib bernama Fray Marin (atau Fra Marino) dari perpustakaan Paus Sixtus V (1585-1590). Menurut ceritera Fray Marin adalah teman Paus Sixtus V. Ketika mereka berdua sedang bekerja bersama-sama di perpustakaan Vatikan Roma, tertidurlah Paus dan Fray Marin menemukan Barnabas. Kemudian Barnabas disembunyikannya dalam lengan bajunya dan dibawanya ke luar perpustakaan. Sesudah dibacanya dia memeluk agama Islam. Menurut kata pendahuluan tersebut Barnabas diterjemahkan oleh Mustafa de Aranda dari bahasa Italia ke dalam bahasa Spanyol.

Apabila kita pertimbangkan bahwa a) Barnabas mempunyai latar belakang Spanyol seperti terbukti oleh nama sekeping mata uang; b) ejaan bahasa Italia dipengaruhi oleh bahasa Spanyol: c) orang-orang yang berganti agama dan memeluk agama Islam sering kali menggantikan namanya; dan d) banyak orang Marrano dan Morisko melarikan diri dari Spanyol ke Italia, sehingga kemungkinan besar Fray Marin dan Mustafa de Aranda adalah orang yang sama. Dan orang itulah pengarang Barnabas, sehingga hal itu patut dipertimbangkan. Memang kepastiannya tak dapat dikuatkan. Namun dapat dikemukakan bahwa Paus Sixtus V sangat giat menganiaya orang yang belum masuk agama Katolik Roma; dan pada akhir abad ke-16 beredar beberapa pemalsuan Injil. Jadi ada kemungkinan kitab Barnabas dikarang oleh orang tersebut karena kegeramannya atas penganiayaan dan dengan demikian secara diam-diam mendukung agama Islam.

Dalam naskah bahasa Spanyol diungkapkan pula bahwa Mustafa de Aranda melarikan diri ke Istambul (Turki). Peristiwa itu mungkin dapat memberi kejelasan atas fakta bahwa catatan-catatan dalam bahasa Arab yang terdapat pada pinggiran naskah yang berbahasa Italia memperlihatkan pengaruh Turki, sebagaimana ditetapkan oleh para ahli.

Apakah dalam keseluruhannya masih dapat ditempatkan juga unsur-unsur Yahudi yang terdapat dalam Barnabas? Salah satu unsur Yahudi ialah penyangkalan bahwa Yesus adalah Mesias (Barnabas pasal 42 dan 96). Bahwa Yesus adalah Mesias (Almasih) tidak disangkal dalam Alkitab dan tidak disangkal dalam Quran, melainkan oleh orang Yahudi. Kisahnya mungkin begini: seorang Yahudi berkebangsaan Spanyol dipaksa memeluk agama Katolik Roma dan harus mengikuti pendidikan Katolik Roma, kemudian ia berkenalan dengan agama Islam lalu memeluk agama ini; sebagaimana banyak orang lainnya dia meninggalkan Spanyol dan pergi ke Bologna (Italia), dan di kota itu dikarangnya Barnabas baik dalam bahasa Italia maupun dalam bahasa Spanyol.3 Walaupun uraian di atas tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara mutlak" namun bermacam-macam unsur dalam Barnabas dapat dijelaskan olehnya.

ISI “INJIL” BARNABAS
Kitab Barnabas tebal sekali bila dibandingkan dengan kitab-kitab Injil yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Jumlah fasalnya adalah 222. Banyaknya fasal itu mengingatkan kita akan kitab-kitab Diatessaron yang timbul sepanjang sejarah Gereja. Dalam kitab Diatessaron bahan-bahan dari keempat Injil digabungkan dan dijadikan satu. Dan memang ada kitab-kitab Diatessaron yang dikarang dalam bahasa Venezia dan dalam dialek Tuska. Nah, Barnabas pun untuk sebagian terdiri dari bahan-bahan yang terdapat dalam keempat Injil Perjanjian Baru. Kaitannya dengan beberapa Diatessaron bahasa-bahasa Italia sangat jelas kalau kita periksa isi Barnabas pasal 1-9. Dalam Barnabas 1-9 berturut-turut kita baca tentang: -- pemberitahuan tentang kelahiran Yesus -- mimpi Yusuf -- sensus penduduk -- kelahiran Yesus -- para gembala -- Yesus disunat -- para majus -- mimpi para majus -- Yesus diserahkan kepada Tuhan di Bait Allah -- pembunuhan kanak-kanak di Betlehem -- pengungsian ke Mesir -- tindakan Yesus di Bait Allah.

Para pembaca yang mengenal isi Perjanjian Baru melihat bahwa bahan-bahan tersebut merupakan gabungan dari Injil Matius dan Injil Lukas. Yang menarik perhatian ialah bahwa dalam sebuah Diatessaron dialek Tuska (pasal 3; 5-9; 12) peristiwa-peristiwa tersebut di atas diceriterakan dalam urutan yang sama; sedangkan peristiwa-peristiwa dalam Barnabas pasal 3-9 sejajar dengan pasal 6-11 dalam Diatessaron dialek Venezia. Demikian juga masih dapat ditunjuk persamaan lain antara Barnabas dengan kedua Diatessaron tersebut.

Dalam pasal 9 kita baca tentang segala macam kejadian lain dari hidup Yesus dan ajaran Yesus dengan tekanan pada ajaran Yesus. Isinya kurang lebih dua pertiga diambil dari keempat Injil. Misalnya, Yesus menyembuhkan seorang kusta (pasal 11); Yesus memilih 12 rasul (pasal 14); Perlukah membayar pajak (pasal 31); dan seterusnya.

Ada juga bagian-bagian yang sama sekali tidak mempunyai ikatan dengan Injil-Injil Perjanjian Baru" misalnya judul pasal 22 yang berbunyi, "Keadaan yang menyedihkan dari orang yang tidak disunat: seekor anjing lebih baik daripada mereka", atau percakapan antara Abraham dengan ayahnya (pasal 26). Dalam pasal 35 kita baca tentang terjadinya pusat: setan meludahi manusia, dan Gabriel membuang ludah itu dan terjadilah pusat.

Peranan Ismael amat menonjol pula: di antara 10 orang kusta yang disembuhkan terdapat seorang Ismaeli (pasal 19); Abraham harus mengorbankan anaknya Ismael (pasal 44); kitab Torah dikarang oleh seorang Ismaeli (pasal 192), dan Allah adalah Allah Abraham, Ishak dan Ismael (pasal 212).

Isi pasal-pasal terakhir banyak bedanya dengan keempat Injil. Sesudah perjamuan Paskah dan pengkhianatan Yudas, Yesus mau ditangkap. Ketika serdadu-serdadu mendekati Yesus "tibalah para malaikat kudus dan diambilnya Yesus dari jendela yang menghadap ke sebelah selatan. Diangkatnya Yesus dan diletakkannya di surga yang ketiga di tengah-tengah para malaikat yang memuji-muji Allah untuk selama-lamanya" (pasal 215). "Dan berubahlah wajah Yudas menjadi wajah Yesus, sehingga Yudas ditangkap dan disalibkan, padahal disangka Yesus yang dibunuh! Ketika Yudas meninggal dan dikubur, para murid Yesus datang dan mencari mayat Yudas, karena disangkanya tubuh Yesus" (pasal 218). Dalam pasal 219 Yesus menampakkan diri kepada ibunya dan beberapa orang lain. Dalam pasal yang berikutnya (pasal 220) Yesus berbicara kepada Barnabas, katanya, "Meskipun aku tiada bersalah di dunia, aku disebut 'Allah' dan 'Anak Allah', maka supaya aku tidak akan diejek oleh setan-setan pada hari kiamat, Allah berkehendak agar aku diejek oleh manusia dengan matinya Yudas yang dikira akulah yang telah mati di kayu salib. Dan ejekan itu akan terus berlangsung sampai datangnya Muhammad Rasul Allah, yang apabila ia datang akan mengungkapkan penipuan kepada mereka yang percaya akan syariat Allah". (Ayat ini aneh sekali. Andaikata Barnabas dikarang pada abad pertama, pengarangnya sudah tahu bahwa kitabnya akan tersembunyi sampai datangnya Muhammad. Lalu mengapa kitabnya itu ditulisnya?) Yesus diangkat ke surga oleh empat malaikat (pasal 221). Pasal 222 merupakan pasal terakhir yang berisi serangan atas mereka yang menyebut Yesus Anak Allah seperti dilakukan oleh Paulus.

Yang menyolok dalam isinya ialah bahwa Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan Yesus (periksalah dalam keempat Injil: Matius 3, Markus 2, Lukas 3 dan Yohanes 1) sama sekali tidak disebut-sebut dalam Barnabas. Mungkin hal itu disebabkan karena Yesus, yang dalam Barnabas disebut Mesias, bertindak sebagai perintis jalan, semacam Yohanes Pembaptis bagi Muhammad. Padahal Yohanes Pembaptis disebut dalam Al-Quran (Surah 19:12-15). Tentu saja timbul berbagai-bagai pertanyaan apa sebabnya Barnabas membungkam tentang Yohanes Pembaptis.

Menyolok pula bahwa, berbeda dengan isi Injil-Injil, Barnabas merupakan salah seorang dari 12 murid (pasal 14:100), bahkan seorang murid yang dengannya Yesus mengadakan percakapan-percakapan khusus (pasal 112:221). Dalam Perjanjian Baru Barnabas tidak termasuk orang-orang di sekitar Yesus. Baru dalam kitab Kisah Para Rasul (4:36, dan seterusnya) sesudah kebangkitan Yesus, kita dengar tentang seorang bernama Barnabas, namun orang itu tidak disebut dalam keempat Injil. Jadi di sini pun kita lihat adanya kekeliruan sejarah dalam Barnabas.

KESIMPULAN
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Barnabas sudah pasti tidak dikarang oleh seorang yang mengenal Yesus atau salah seorang Rasul. Kitab Barnabas pasti tidak berasal dari abad-abad pertama sesudah Masehi. Dari Gereja Purba, yakni abad-abad pertama sesudah Masehi, kita sama sekali tidak memiliki satu naskah pun dari Barnabas, dan tidak ada bukti bahwa naskah Barnabas pernah dikenal oleh Gereja Purba. Karena kurun jaman antara Barnabas dengan abad pertama sesudah Masehi sedemikian jauhnya, tidak ada satu alasan pun untuk menempatkan Barnabas sederajat bahkan melebihi Injil-Injil Perjanjian Baru.

Pengarang Barnabas hidup lebih dari sepuluh abad sesudah Masehi, sekurang-kurangnya sesudah tahun 1300 dan kemungkinan besar dalam abad ke-16.

Ada kemungkinan sebagai orang Yahudi yang menjadi korban inkuisisi Gereja Katolik Roma dan dipaksa hidup sebagai orang Kristen, Kemudian dia berkenalan dengan agama Islam dan agaknya merasa tertarik kepada agama ini. Lalu dikarangnya Barnabas untuk menunjukkan kepada orang akan arti Muhammad.1

Jadi meskipun Barnabas mengandung banyak bahan dari Injil-Injil Perjanjian Baru, jelaslah arah pokoknya dan tujuan utama Barnabas berlainan sekali dengan arah dan tujuan keempat Injil.

Sumber: 
Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas
oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp
Cetakan Pertama 1983
PENERBIT YAYASAN KANISIUS
Jl. P. Senopati 24, Telepon 2309. Telex 25143, Yogyakarta
Nihil obstat: F. Heselaars SJ
Imprimatur: A. Djajasiswaja Pr. Vik.

Catatan kaki “Naskah-naskah Kuno....” :
1 Penerbit C.V. Jasana, Djakarta.
2 C.V. Pelita, Bandung (1970).
Dalam terjemahan ini dimuat banyak catatan yang berasal dari Ragg bersaudara yang menunjuk pada Perjanjian Baru. Ditambah dengan pembagian menurut fasal dan ayat yang tidak terdapat dalam naskah aslinya.
Kalau terjemahan itu kita bandingkan dengan naskah bahasa Italia atau dengan terjemahan Ragg, ternyata ada beberapa kekeliruan. Misalnya:
Pasal8: Roma, seharusnya Ramah (mungkin salah cetak?)
Pasal 14 dan 19: Bahasa Italia: iessu dan Jesu; Ragg: Jesus; Abubakar: Al-Masih (seharusnya Yesus)
Pasal 145 Bahasa Italia: nosstro signore; Ragg: our Lord; Abubakar: Bapak kita (seharusnya: Tuhan kita)
Pasal 152:Bahasa Italia: pero poriamo uedere d nosstro DIO in hoggni loch; Ragg: wherefore we can see our God in every place; Abubakar: Dari itu tidak mungkin kami melihat-Nya di tiap tempat (seharusnya: sebab itu kami dapat melihat Allah kami d i tiap tempat).
Mungkin berbagai-bagai kesalahan ini disebabkan karena Abubakar/Basjmeleh menggunakan naskah Barnabas bahasa Arab untuk terjemahan mereka.
3 Penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya (1980)
Dalam catatan-catatan yang dibuat oleh Rahnip sering kali diberi penunjukan kepada Quran.
Menurut hemat kami terjemahan Abubakar/Basjmeleh lebih baik daripada terjemahan Rahnip. Sayang sekali terdapat banyak kekeliruan oleh Rahnip dalam menterjemahkan naskah bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
Berikut ini beberapa contoh:
Pasal 5: before he was conceived, diterjemahkan: setelah ia dikandung, (seharusnya: sebelum ia dikandung).
Pasal 35:... knew that God of that mass of earth was to take one hundred and forty and four thousand signed with the mark of prophesy ..., diterjemahkan: ... telah tahu, bahwa Allah dari Massa bumi itu untuk mengambil 144.000 isyarat dengan perlambang Nubuat ... (lebih baik diterjemahkan ... telah tahu bahwa Allah dari massa bumi itu akan mengambil 144.000 orang yang ditandai dengan perlambang nubuat.
Pasal 82: the year of Jubilee, diterjemahkan: tahun (Yubilee) hari peringatan, lebih baik diterjemahkan: tahun Yobel.
Pasal 97: Unworthy though I am to untie his hosen, diterjemahkan: Tiada selayaknya walaupun aku adalah membuka ikatan kaus kaki (sepatu)nya, lebih baik diterjemahkan: Walaupun saya tidak layak untuk melepaskan kaus kakinya.
Pasal 98: ... none should call Jesus the Nazarene, prophet of the Jews, either God or son of God, diterjemahkan: ... tidak seorang pun akan menyebut Yesus orang Nazareth itu Nabi orang-orang Yahudi; tidak juga Allah atau Putra Allah, lebih baik diterjemahkan: ... tidak seorang pun akan menyebut Yesus orang Nazaret" nabi orang-orang Yahudi itu dengan Allah atau anak Allah.
Pasal 152: kata-kata bahasa Aram Adonai Sabaoth diterjemahkan dengan Keributan Sabbath! Lebih baik kata-kata itu tidak diterjemahkan (sebagaimana dilakukan pula oleh Rahnip dalam fasal 20: ungkapan Elohim Sabaoth tidak dialihbahasakan). Apabila Adonai Sabaoth mau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kiranya dapat dialibbahasakan dengan Tuhan semesta alam.
Pasal 194:... possessing with his sisters Magdala and Bethany ... diterjemahkan: ... mempunyai saudari perempuan Magdala dan Bethani..., seharusnya ... mempunyai bersama saudari-saudarinya, Magdala dan Betani...
Membingungkan pula kalau Christ diterjemahkan dengan Almasih, dan Messiah dengan Messiah, kata terakhir ini bukan kata Indonesia. Lebih baik kalau Christ (yang memang berarti Al-Masih, namun kemungkinan besar tidak diketahui oleh pengarang Barnabas.) dialihbahasakan dengan Kristus, dan Messiah dengan Al-Masih atau Mesias.
4 Lihat L. Cirillo, L'Evangeli de Barnabe, Recherches sur la composition et l'origine, Texte et traduction, Paris, 1977. Namun buku ini banyak kekurangannya, periksa J. Slomp, Islamochristiana, IV, 1978 (Centre of studies for Muslim-Christian Dialogue, Roma), hlm. 67-111.
5 Lihat J.E. Fletcher, "The Spanish Gospel of Barnabas, Novum Testamentum, Vol. XVIII (1976), hlm, 314-320.

Catatan kaki “Kapan Injil Barnabas Ditulis”:
1 Tentang Decretum Gelasianum periksa E. Hennecke-W. Schneemelcher, New Testament Apocrypha, London, 1973, hlm. 46-49 juga E. Schwartz, Zeitschrift fur Neuestestamentliche Wissensehaft, 29 (1930), hlm. 161-168. Dekrit itu untuk sebagian berasal dari jaman Paus Gelasius (492-496), akan tetapi berbagai-bagai bagian, a.l. justru daftar dengan buku-buku yang ditolak, berasal dari permulaan abad ke-6.
2 Codex Baroc. 39 dalam Bibliotheca Bodleiana yang termasyhur di Oxford (Inggris).
3 Periksa Indjil Barnabas, terjemahan Abubakar/Basjmeleh, dalam "Sepatah Kata Penjalin" diberi kesan seakan-akan Injil Barnabas ditemukan di atas dada jenazah, Periksa pula L. and L. Ragg, The Gospel of Barnabas, hlm. XIV.
4 Memang mengherankan, sebagaimana sudah dikemukakan pada catatan nomor 2), dalam terjemahan Abubakar/Basjmeleh fasal 14 dan 19 Yesus disebut Al-Masih, padahal dalam naskah bahasa Italia dan dlm terjemahan Ragg bersaudara kita temukan nama Yesus. Periksa pula bagian terakhir catatan nomor 3).
5 Dalam terjemahan Abubakar/Basjmeleh pada halaman 257 oleh kedua penterjemah diberi catatan sebagai berikut perihal ungkapan seratus tahun: "Mungkin kekeliruan di atas terdjadi karena kealpaan penulis yang mencampuraduk antara L (jang berarti 50) dengan C (jang berarti 100). Kemungkinan itu bisa terdjadi karena tidak djelasnya suatu tulisan ta ngan". Perlu kiranya dikemukakan bahwa dalam naskah bahasa Italia tidak tertulis huruf c, melainkan kata cento (yang artinya: seratus)!

Catatan kaki “Siapa Pengarang Injil Barnabas....” :
1 Dalam fasal 80 dinyatakan bahwa Daniel berumur 2 tahun ketika dia ditangkap oleh Nebukadnezar. Akan tetapi menurut Perjanjian Lama, kitab Daniel fasal 2 ayat l, tertulis bahwa Daniel diminta nasihatnya oleh raja Nebukadnezar "Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar..." Setelah itu Daniel berkuasa atas sebuah propinsi. Kalau begitu, hal itu terjadi ketika Daniel berumur 3 atau 4 tahun?! Mustahil!
Perihal pengetahuan pengarang Barnabas tentang Perjanjian Baru periksalah catatan mengenai Barnabas pada akhir bab 4 buku ini.
2 Lihat T.D. Kendrick, St. James in Spain, London, 1960, bab V, dan Peter Dressendorfer, Islam unter der Inquisition. Die Morisco Prozesse in Toledo, 1575-1610, Wiesbaden, l971.
3 Khalil Saadah pun menarik kesimpulan sebagai berikut "bahwa penulis asli dari Indjil ini adalah seorang Jahudi dari Spanjol jang telah memeluk agama Islam", periksa Indjil Barnabas, terjemahan Abubakar/Basjmeleh" hlm. XXIV.

Catatan kaki “Kesimpulan” :
1 Periksa Jan Slomp. Pseudo Barnabas in the context of Muslim-Christian Apologetics, dalam Al-Mushir XVl (1474). hlm. 123-126.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar