Allah swt sudah berkata bahwa alquran merupakan kitab atau keterangan yang jelas. Allah sendiri sudah memudahkan ayat-Nya sehingga memudahkan umat islam untuk memahaminya. Menjadi pertanyaan, benarkah alquran itu kitab yang jelas? Sungguh jelaskah wahyu Allah dalam ayat-ayat alquran? Video berikut ini mencoba memberi sedikit jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Minggu, 13 November 2022
STUDI ALQURAN: SURAH MUHAMMAD AYAT 8
Jumat, 11 November 2022
KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANAM AYAT 104
Sungguh, bukti-bukti
yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka
(manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat
kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga(mu).
(QS 6: 104)
Publik
sudah tahu kalau Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah
satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam. Hal ini disebabkan karena
Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung
berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad kemudian meminta pengikutnya untuk
menuliskannya. Karena itu, umat islam yakin dan percaya apa yang tertulis di
dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga
sebagai wahyu Allah. Karena Allah itu maha benar, maka benar pula apa yang
tertulis di dalam Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an dinilai suci karena Allah
adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an berarti juga penghinaan terhadap
Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi bentuk hukuman bagi mereka yang menghina-Nya (QS al-Maidah: 33).
Al-Qur’an
dikenal juga sebagai kitab atau keterangan yang jelas. Kata “jelas” di sini
dimaknai bahwa apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an harus dimaknai secara lugas.
Dengan kata lain, ketika Allah berbicara, Allah tidak menggunakan kata-kata
kias. Karena itu, kata “membunuh” harus dipahami dengan tindakan menghilangkan
nyawa seseorang, tidak ada makna lain. Demikian pula dengan kata “perang” atau
“jihad”. Memang tidak semua perkataan Allah itu selalu bermakna lugas. Ada
beberapa yang memiliki makna kias, terlebih kata-kata yang berkonotasi seksual.
Misalnya, kata “bercampur” dimaknai dengan bersetubuh. Sekalipun memakai makna
kias, tetap saja perkataan Allah itu mudah dipahami, karena Allah sendiri sudah
berfirman bahwa diri-Nya telah memudahkan Al-Qur’an supaya mudah dipahami.
Berangkat dari premis-premis di atas, dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa kutipan di atas tidaklah sepenuhnya merupakan perkataan Allah. Tulisan yang berada di dalam tanda kurang harus diakui sebagai tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Dengan perkataan lain, kata-kata yang ada dalam tanda kurung tidak pernah diucapkan oleh Allah. Karena itu, aslinya wahyu Allah ini berbunyi sebagai berikut: “Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat, maka bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta, maka dialah yang rugi. Dan aku bukanlah penjaga.”
Kamis, 10 November 2022
SELALU ADA RUANG MISTERI DALAM AGAMA
Dari etimologinya, kata “agama” memiliki beberapa arti. Ada yang mengatakan
bahwa kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata A yang
berarti tidak dan GAMA yang berarti kacau. Secara
sederhana agama dipahami tidak kacau; dan ini mengarah pada tradisi. Biasanya
tradisi ini mengacu pada relasi manusia dengan Sang Pencipta, sesamanya dan
juga alam. Jika agama ini dipelihara maka terciptalah harmoni.
Istilah lain yang sering dipakai untuk pengertian agama adalah RELIGI.
Istilah ini berasal dari Bahasa Latin “religio”, yang diambil dari akar kata RE
yang berarti kembali, dan LIGARE yang berarti mengikat.
Jadi, religi berarti mengikat kembali; karena istilah ini biasa digunakan dalam
hubungan antara manusia dengan Tuhan, maka istilah religi dipahami mengikat
kembali relasi dengan Tuhan.
Apapun pengertiannya, istilah agama ini biasanya dikaitkan dengan Tuhan. Karena itu, orang sering mendefinisikan agama sebagai penghambaan manusia kepada Tuhannya. Relasi manusia dengan Tuhan adalah relasi hamba – tuan. Dan untuk mengatur relasi itu, muncullah agama.
