Sabtu, 30 November 2013

Renungan Pesta St. Andreas Rasul - C

Renungan Pesta St. Andreas Rasul, Thn C/I
Bac I   : Rom 10: 9 – 18; Injil       : Mat 4: 18 – 22

Hari ini adalah pesta Santo Andreas, Rasul. Bacaan Injil mengisahkan panggilan Andreas menjadi murid Yesus. “Mari, ikutilah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (ay. 19). Ini berarti Andreas dan rasul lain yang dipanggil Yesus memiliki tugas untuk keselamatan manusia. Keselamatan itu datang dari Yesus; dan tugas para rasul adalah mewartakan Dia.

Inilah yang diungkapkan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus mengatakan bahwa keselamatan datang dari iman kepada Yesus. Artinya orang harus percaya kepada-Nya. Namun, agar orang lain bisa percaya maka harus ada yang mewartakan Dia (ay. 14). Inilah dasar ke-rasul-an Paulus. Dia harus mewartakan Yesus agar orang lain mendengar dan percaya sehingga mereka mendapat keselamatan. Sebab “iman timbul dari pendengaran...” (ay. 17).

Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita akan tugas perutusan kita sebagai ‘rasul’ Kristus. Kita juga punya tugas untuk mewartakan Kristus. Inilah yang dikehendaki Tuhan lewat sabda-Nya. Kita diajak untuk mewartakan hidup dan perkataan Yesus agar orang lain mendapat keselamatan. Di sini tampak jelas bahwa kita yang sudah mendapat keselamatan karena sudah percaya kepada-Nya, dipanggil untuk membagikan keselamatan itu kepada sesama lewat pewartaan. Jadi, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita janganlah dinikmati sendiri.

by: adrian

Jumat, 29 November 2013

Retret Di Kabanjahe dan Kisaran (1994 - 1995)

 saya, Dion dan Polly





 Cuci piring bersama
 Kemas-kemas
 Tetap semangat setelah olah rohani
Foto dulu sebelum pulang

Orang Kudus 29 Novermber: St. Fransiskus Antonius Fasani

SANTO FRANSISKUS ANTONIUS FASANI, PENGAKU IMAN
Antonius Fasani lahir pada tahun 1681. Semasa kecil ia biasa dipanggil Johnny. Ia adalah putera seorang petani Italia. Ayahnya meninggal dunia sebelum usianya mencapai sepuluh tahun. Suami-kedua ibunya bersikap baik kepadanya. Ia mengirim anak itu agar mendapatkan pendidikan dari para Fransiskan.

Ketika usianya limabelas tahun, Johnny minta agar diperkenankan bergabung dengan ordo Fransiskan. Ia menjadi Frater Fransiskus Antonius. Ia berhasil amat baik dalam seluruh pelajaran dan ditahbiskan menjadi seorang imam. Fransiskus Antonius menjadi terkenal sebagai seorang guru dan pengkhotbah. Di kemudian hari, ia juga diangkat sebagai superior. Ia berusaha semaksimal mungkin menjadi pelayan kasih bagi segenap biarawan.

Fransiskus Antonius secara istimewa menaruh perhatian pada para tahanan. Penjara-penjara di masa itu sungguh merupakan tempat yang mengerikan. Dengan segala daya upaya ia berusaha membantu para tahanan yang malang. Kasihnya mengalir bagi siapa saja yang membutuhkan. Dialah yang memulai kebiasaan mengumpulkan hadiah-hadiah di masa Natal untuk dibagikan kepada keluarga-keluarga miskin. Di Lucera, di kota di mana ia melewatkan hidupnya, orang biasa mengatakan, “Jika engkau ingin melihat Santo Fransiskus dari Assisi, lihat saja Pater Fransiskus Antonius!”

Fransiskus Antonius memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria. Ia biasa menyampaikan penghormatan istimewa kepada Santa Perawan Maria dengan gelarnya Yang Dikandung Tanpa Dosa. Pada permulaan novena menyambut hari raya inilah ia wafat. Beberapa waktu sebelumnya, kala kesehatannya masih prima, ia mengatakan bahwa ia akan segera meninggal dunia. Ia bahkan mengatakan kepada seorang rekan imam bahwa ia akan ikut bersamanya. Rekan imam yang baik ini dengan agak terperanjat menjawab, “Dengar, Pater, jika engkau hendak meninggalkan dunia ini, itu urusanmu, tetapi aku tidak akan tergesa-gesa!”

Akan tetapi Fransiskus Antonius menjawab, “Kita berdua harus melakukan perjalanan ini. Aku dulu dan engkau menyusul.” Dan tepat inilah yang terjadi. Rekan imam itu hidup hanya dua bulan setelah Fransiskus Antonius pergi mendapatkan ganjaran abadinya. Fransiskus Antonius wafat pada tahun 1742 dan dimaklumkan sebagai “beato” oleh Paus Pius XII pada tahun 1951 dan sebagai “santo” pada tahun 1986 oleh Paus Yohanes Paulus II.